Welcome to Kavtania's Blog

Melewati sisi waktu yang tak terhenti, bernaung dalam ruang yang tak terbatas, untuk sebuah pemahaman yang tak berujung ...
Follow Me

ANTARA RADIOISOTOP, KELEBIHAN WANITA, DAN TUQSITU-TA'DILU



By  Rudi B. Rosidi     16:35    Labels:, 
Dalam sebuah kesempatan diskusi selepas mengikuti mata kuliah Fisika Atom semasa kuliah dulu, saya mencoba mengawali pembicaraan dengan melontarkan ide filosofi isotop dalam kehidupan sosial.

Kita tahu bahwa atom terdiri dari elektron (muatan negatif) dan inti atom. Inti atom sendiri terdiri dari proton (muatan positif) dan neutron (tak bermuatan). Neutron diciptakan oleh Tuhan agar kumpulan proton yang saling bermuatan positif tersebut tidak saling tolak menolak dalam inti atom.

Pada inti atom yang stabil, jumlah proton dan neutron akan sama. Namun ada atom yang memiliki kelebihan neutron, dan isotop diistilahkan dengan inti atom (nuklida) yang mempunyai jumlah proton sama tetapi jumlah neutron berbeda.  

Contoh isotop adalah Karbon-12 dan Karbon-14. Karbon-12 adalah isotop stabil karena memiliki jumlah proton dan neutron yang sama, masing-masing 6 partikel. Sedangkan Karbon-14 merupakan isotop tidak stabil karena memiki kelebihan neutron (8 neutron dan 6 proton). 

Isotop yang tidak stabil akan memancarkan radiasi dan dinamakan dengan radioisotop. Secara alamiah, isotop yang tidak stabil akan menuju kestabilan dengan melakukan peluruhan dengan memancarkan sinar radiasi tersebut. Untuk mencapai kestabilan tersebut ada yang membutuhkan waktu hanya beberapa menit saja, namun ada yang membutuhkan waktu sampai beratus-ratus tahun lamanya.

Saat itu saya mengilustrasikan bahwa jika proton diumpamakan sebagai seorang pria dan neutron adalah seorang wanita, maka dalam sebuah komunitas masyarakat akan mencapai kestabilan jika jumlah pria dan wanita adalah sama. Seorang wanita (neutron) akan dijaga seorang pria (proton) sebagai penyeimbang. Maka jika kita ilustrasikan seperti Karbon-12, akan ada 6 orang wanita (6 neutron) yang masing-masing berpasangan dengan 6 orang pria (6 proton).

Namun tidak demikian jika jumlah wanita menjadi lebih banyak. Hampir dipastikan masyarakat menjadi tidak stabil. Banyak pemicu kejahatan yang muncul dari meluapnya jumlah wanita dibandingkan pria. Jika kita ilustrasikan dengan radioisotop Karbon-14 tadi, maka ada 2 neutron yang akan memancarkan radiasi karena tidak memiliki pasangan proton. Dengan kata lain akan ada 2 wanita yang 'liar' memancarkan 'pesona' nya karena tidak mendapatkan pasangan pria.

Jika demikian adanya, apakah radioisotop menjadi berbahaya? Jika tidak dikendalikan maka radiasi dari radioisotop akan sangat berbahaya. Sinar alfa, beta dan gamma bisa merusak jaringan tubuh misalnya. Namun tidak demikian jika jika radioisotop tersebut mampu 'dikendalikan' oleh manusia untuk sesuatu yang bermanfaat. Sebagai misal, Karbon-14 sangat berguna untuk membantu arkeolog dalam menghitung usia fosil. Maka radioisotop justru menjadi sangat berguna bagi kehidupan.

Jika kembali dikaitkan dengan filosofi kehidupan tadi, apakah kelebihan wanita dalam sebuah komunitas akan menjadi sangat berbahaya? Tentu saja iya jika wanita tersebut tidak mampu 'dikendalikan' oleh para pria dan sesama wanita tentunya. Apa bentuk aktivitas pria dan wanita dalam mengendalikan 'kelebihan' wanita tadi? Atau adakah Tuhan memberikan solusi terhadap kenyataan kelebihan jumlah populasi wanita dalam dunia?

Tentu saja ada. Salah satunya adalah dengan mengamalkan anjuran kepada pria untuk bisa menikahi lebih dari seorang wanita: dua, tiga atau empat. Dalam mengamalkan anjuran tentunya harus ada syarat yang dipenuhi, yakni TA'DILU atau berlaku adil.

Dalam pemahaman saya, keadilan hakiki hanya milik Allah SWT. Manusia hanya mampu mendekati nilai-nilai keadilan tersebut. Keadilan antar manusia bisa terwujud jika dan hanya jika obyek yang mendapatkan perlakuan dapat menerima dengan ikhlas apapun yang ditetapkan oleh subyek yang memberikan keputusan. Tidak akan tercapai sebuah keadilan jika salah satu dari obyek yang diperlakukan merasa tidak adil dengan menerimanya ikhlas. Empat orang istri yang menerima apapun perlakuan kebijakan dari seorang suami maka akan tercapailah keadilan tersebut. Namun jika ada salh satu istri saja yang menolak perlakuan sang suami, maka keadilan menjadi tidak terwujud.

Keadilan bagi rata (komutatif) atau keadilan bagi kebutuhan (distributif) hanyalah sebuah pendekatan untuk memudahkan sang subyek atau pelaku kebijakan untuk mendekati nilai-nilai keadilan hakiki. Itulah mungkin mengapa Allah SWT dalam Surat An-Nisa memberikan dua istilah keadilan, yakni TUQSITU dan TA'DILU. Tu'situ bisa saja dicapai oleh manusia dengan melakukan perlakuan komutatif dan distributif tadi, namun ta'dilu bisa jadi akan sulit dipenuhi karena hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui mana dari manusia di dunia yang bisa berlaku adil.

Maka, bukan pada jumlah pembagian hari yang membuat keadilan terwujud diantara pada istri, namun pada kemauan istri untuk berbaik sangka dan menerima dengan ikhlas pada kebijakan suami lah yang dapat menjadikan suasana keadilan bisa terwujud. Dan tentu saja kebijakan itu harus muncul dari seorang suami yang memiliki syarat-syarat dasar dalam memahami dan terbiasa mengamalkan nilai-nilai keadilan dalam perjalanan hidupnya.

“Dan jika kamu khawatir tidak dapat berbuat adil (TUQSITU) terhadap anak-anak atau perempuan yatim (jika kamu mengawininya), maka kawinlah dengan perempuan lain yang menyenangkan hatimu; dua, tiga, atau empat. Jika kamu khawatir tidak dapat berbuat adil (TA’DILU) (terhadap istri yang terbilang), maka kawinilah seorang saja, atau ambillah budak perempuan kamu. Demikian ini agar kamu lebih dekat untuk tidak berbuat aniaya”  (TQS An-Nisa [4]: 3)

wallahu a'lam



About Rudi B. Rosidi

Skills: Multimedia Learning, Information Technology, Numerical Analysis. - Occupation: Business, Lecturer. - Employment: PT Softchip Computama Indonesia, CEO. - Official Website: www.kliksci.com. - Communities: IT Development, Midwifery Industries, Fatinistic.

2 comments:


Contact Form

Name

Email *

Message *

Follow by Email

Labels

Translate

Revolusi Akal dan Hati

Melewati sisi waktu yang tak terhenti, bernaung dalam ruang yang tak terbatas, untuk sebuah pemahaman yang tak berujung ...

Total Pageviews