Welcome to Kavtania's Blog

Melewati sisi waktu yang tak terhenti, bernaung dalam ruang yang tak terbatas, untuk sebuah pemahaman yang tak berujung ...
Follow Me

ANTARA SENDAL JEPIT, BALAS BUDI DAN MATAHARI



By  Rudi B. Rosidi     08:36    Labels:, 
Kita semua mungkin pernah mendengar riwayat atau sejarah kejadian masa lampau, khususnya pada zaman nabi-nabi yang banyak memberikan hikmah dalam perjalanan hidup kita. Ada kejadian yang menyenangkan, ada kejadian yang memilukan dan ada kejadian yang berlaku baik bagi para nabi, umatnya, dan para penguasa atau tokoh masyarakat saat itu.

Tengok saja riwayat Musa as dan Fira'un, Ibrahim as dan ayahnya, Nuh as dan anaknya, Luth as dan istrinya, atau Muhammad saw dan para paman-pamannya seperti Abu Lahab. Banyak pelajaran yang sesungguhnya bisa kita petik dari setiap riwayat tersebut.

Mari kita ulas misalnya riwayat Musa as dan Fir'aun.

Kita tahu bahwa Musa as adalah anak angkat dari Fir'aun atas usulan istrinya yang ingin membesarkan Musa kecil karena khawatir akan dibunuh oleh Fir'aun yang saat itu memerintahkan pembunuhan terhadap setiap anak laki-laki yang baru lahir akibat dari tafsir mimpinya. Tentu saja, sebagai anak angkat seorang raja, banyak kemudahan dalam hidup Musa yang didapatkan di dalam istana megah.

Namun setelah Musa tumbuh besar dan mulai memperhatikan kedzaliman Fir'aun dan dinastinya, nurani beliau mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Fir'aun ayah angkatnya adalah tidak benar. Selama dalam istana beliau tak henti-hentinya mencegah prajurit Fir'aun yang berbuat aniaya pada rakyat Mesir. Hingga pada suatu saat beliau harus memilih keluar dari istana, kemudian diangkat menjadi nabi, dan akhirnya melakukan perlawanan terhadap kelaliman Fir'aun dan sekutunya.

Jika kita ulas dari budi dan kemanusiaan, maka seharusnya dalam hati Musa ada keengganan melakukan kritik bahkan perlawanan terhadap Fir'aun. Bagaimana tidak, banyak fasilitas yang pernah beliau dapatkan selama hidup di istana yang tidak didapatkan oleh rakyat banyak di Mesir saat itu. Namun Musa as tidak bergeming. Hati nuraninya mengatakan bahwa Fir'aun salah dan banyak manusia tertindas. Dan beliau harus 'berbuat' untuk merubah keadaan itu.

Cerita ini similar dengan budi (kebaikan) yang diterima oleh Ibrahim as dari ayahnya atau Muhammad saw dari Abu Lahab. Mereka adalah anggota keluarga sendiri yang banyak menyokong kehidupan para nabi. Dan sejarah mencatat bahwa mereka berakhir dengan pertentangan terhadap nilai-nilai kebenaran.

Kesemua riwayat tersebut seharusnya memberikan hikmah dalam buat kita semua bahwa berbalas budi tak mesti harus membenarkan kesalahan atau kekeliruan. Kita bisa menjaga berbuat baik kepada siapapun orang yang pernah berbuat kebaikan untuk kita dan itu wajib, namun kita tak harus membenarkan kekeliruan mereka. Terlebih lagi kekeliruannya sudah masuk ke wilayah akidah.

Baik Fir'aun, ayah Ibrahim, dan paman Rasulullah Muhammad saw kesemuanya mengungkit-ungkit budi baik mereka pada masing-masing nabi. Mereka berprinsip bahwa karena para nabi sudah mendapatkan budi baik dari mereka, maka para nabi harus taat pada mereka untuk segala hal yang mereka lakukan, walau bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan ketauhidan.

Maka dalam hal melakukan budi baik pada orang lain, ada baiknya kita belajar dari nilai-nilai 'keikhlasan' sendal jepit dan matahari.

Sendal jepit walaupun dibuat dengan apik oleh manusia, namun hidupnya selalu diinjak-injak oleh sang pembuat atau penggunanya. Sendal jepit tak pernah protes selama 'dianiaya' tersebut. Sendal jepit sudah 'merasa' berterima kasih pada sang pembuat dan 'bersyukur' sudah memberikan manfaat pada manusia dari tusukan duri atau kotoran jalanan. Bahkan walau ia harus diganti lagi dengan sendal jepit baru dan dibuang ke tong sampah, sendal jepit tak pernah protes.

Matahari ..., ia bukan buatan manusia. Diciptakan oleh Tuhan hanya untuk 'berbuat baik' demi manfaat yang diperoleh manusia dan makhluk lain. Sinarnya setiap pagi selalu memapari bumi agar kita tidak kegelapan bahkan ketika manusia menyangka ia tidak ada ketika malam. Matahari memberikan energi kehidupan melalui hijau daun dan melalui kehangatan sinarnya. Banyak manfaat yang kita terima dari matahari yang bukan buatan kita.

Apakah matahari protes ketika manusia Fir'aun, ayah Ibrahim, dan Abu Lahab ternyata banyak berbuat dzalim pada manusia yang lain? Mereka memanfaatkan energi matahari melalui makanan yang dimakan untuk berbuat aniaya pada sesama. Ternyata matahari tak pernah 'ngambek'. Seandainya matahari melakukan perlawanan untuk menjunjung kebenaran seperti Musa as kepaa Fir'aun, Ibrahim as kepada ayahnya, dan Muhammad saw kepada Abu Lahab dengan cara tidak 'nongol' barang sebulan saja, maka habislah sudah umat manusia.

Maka, mari belajar budi kebaikan dari sendal jepit dan matahari, dan belajar berani menyuarakan dan membela kebenaran dari riwayat para nabi kepada orang-orang yang pernah berbuat baik pada kita namun dzalim kepada sesama.

Janganlah pula kita menungkit-ungkit budi baik pada orang lain apalagi meminta mereka mengikuti kekeliruan dan kesalahan kita. Karena itu sama saja mengurangi nilai keikhlasan, bahkan bisa menghilangkannya dan menjemerumuskan bersama-sama pada jurang kebatilan.

"Balas budi adalah berbuat baik kembali tanpa harus mengabaikan nilai-nilai kebenaran".

Fir'aun menjawab: "Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas guna. (QS. as-Syu’ara [26]: 18-19).


Berkata Musa: "Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf. Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu serta Dia menjadikanku salah seorang di antara rasul-rasul. Budi yang kamu limpahkan kepadaku itu adalah (disebabkan) kamu telah memperbudak Bani Israil". (QS. as-Syu’ara [26]: 20-22).

Wallahu a'lam


About Rudi B. Rosidi

Skills: Multimedia Learning, Information Technology, Numerical Analysis. - Occupation: Business, Lecturer. - Employment: PT Softchip Computama Indonesia, CEO. - Official Website: www.kliksci.com. - Communities: IT Development, Midwifery Industries, Fatinistic.

No comments:

Post a Comment


Contact Form

Name

Email *

Message *

Follow by Email

Labels

Translate

Revolusi Akal dan Hati

Melewati sisi waktu yang tak terhenti, bernaung dalam ruang yang tak terbatas, untuk sebuah pemahaman yang tak berujung ...

Total Pageviews