Welcome to Kavtania's Blog

Melewati sisi waktu yang tak terhenti, bernaung dalam ruang yang tak terbatas, untuk sebuah pemahaman yang tak berujung ...
Follow Me

BELAJAR DARI TELUR AYAM DAN KUPU-KUPU



By  Rudi B. Rosidi     15:33    Labels: 
Khalifah pertama Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. pernah berkata:

"Aku bukanlah orang terbaik di antara kalian. Oleh karena itu, jika aku melakukan hal yang baik maka bantulah. Sebaliknya, jika aku melakukan tindakan yang menyeleweng maka luruskanlah. Kebenaran itu adalah amanah, sedangkan kebohongan adalah pengkhianatan."

Salah satu yang seringkali menjadi persoalan berlarut dalam upaya nasehat-menasehati adalah ketika orang yang memberi nasehat dipandang bukanlah orang yang sempurna oleh yang diberi nasehat, sementara di sisi lain orang yang diberi nasehat dipandang tidak mengambil materi nasehat oleh yang memberi nasehat.

Logika dan sikap terbalik antara yang menerima nasehat dan yang memberi nasehat seperti inilah yang pada akhirnya membuat upaya saling menasehati sebagai sesuatu yang baik malah menjadi berujung pada hasil yang tidak baik. Bahkan tidak jarang menjadi pertengkaran dan permusuhan.

Ajaran yang menyatakan: "Sampaikanlah kebenaran walau satu ayat" dan "Sungguh amat celaka orang yang memberikan nasehat sementara dirinya belum melakukan" adalah persis seperti ajaran: "Jangan menyia-nyiakan makanan karena mubazir adalah temannya setan" dan "Berhentilah makan sebelum kenyang".

Terlihat bahwa kedua ajaran itu sepertinya bertentangan, Padahal menurut pendapat saya, tidak. Ajaran itu adalah ajaran preventif-antisipatif. Sebuah ajaran agar kita berhati-hati dalam melakukan sesuatu.

Jangan menjadi bingung ketika kita makan dan masih tersisa makananan sementara kita sudah merasa kenyang, apakah kita akan 'memaksakan' diri menghabiskan makanan tersebut karena mengikuti ajaran "Jangan menyia-nyiakan makanan karena mubazir adalah temannya setan" atau kita menghentikan makan karena mengikuti ajaran"Berhentilah makan sebelum kenyang".

Dalam kasus ini, sesungguhnya kita diajarkan untuk preventif-antisipatif agar sebelum makan kita dapat mengukur seberapa banyak kebutuhan makanan yang akan kita konsumsi sehingga kita tidak akan menemui kondisi tadi, sebelum makanan habis kita sudah merasa kenyang.

Begitu pula dengan ajaran "Sampaikanlah kebenaran walau satu ayat" dan "Sungguh amat celaka orang yang memberikan nasehat sementara dirinya belum melakukan". Ajaran ini bukan berarti mencegah kita untuk saling berbagi nasehat sebelum kita menjadi orang yang sempurna atau membuat kita menggampangkan  'menggurui' orang lain sementara kita sendiri tidak banyak belajar dari nasehat yang kita berikan pada orang lain tersebut.

Ajaran itu sesungguhnya mengajarkan kita untuk preventif-antisipatif agar ketika kita akan memberi nasehat, kita menjadi mawas diri, sedapat mungkin sudah melakukan nasehat tersebut. Dan bahwa berbagi nasehat itu utamanya adalah upaya untuk introspeksi pada diri sendiri, bukan sekedar kebutuhan agar orang lain mengerjakan nasehat-nasehat kita.

Al-Hasan Al-Bashri juga pernah mengatakan, “Wahai sekalian manusia sungguh aku akan memberikan nasihat kepada kalian padahal aku bukanlah orang yang paling shalih dan yang paling baik di antara kalian. Sungguh aku memiliki banyak maksiat dan tidak mampu mengontrol dan mengekang diriku supaya selalu taat kepada Allah. Andai seorang mukmin tidak boleh memberikan nasihat kepada saudaranya kecuali setelah mampu mengontrol dirinya niscaya hilanglah para pemberi nasihat dan minimlah orang-orang yang mau mengingatkan.” (Tafsir Qurthubi, 1/410).

Maka dalam konteks berbagi nasehat marilah kita belajar dari Telur Ayam dan Kupu-Kupu.

Bagi kita yang Mendapatkan Nasehat maka belajarlah dari Telur Ayam. Jika materi nasehat itu baik, maka 'makanlah' nasehat itu, sebaliknya jika nasehat itu buruk maka buanglah jauh-jauh. Abaikan dulu dari siapa pun nasehat itu dikeluarkan. Bukankah kIta menyukai telur ayam walau ia berasal dari anus seekor binatang. Tapi kita tidak menyukai kotoran walau ia berasal dari anus seorang raja?

Namun bagi kita yang Memberi Nasehat belajarlah dari Kupu-Kupu. Walau masih berbentuk ulat atau kepompong yang dipandang tidak indah, namun ia berasal dari telur yang indah dan selalu berusaha untuk menjadi lebih indah hingga menjadi kupu-kupu. Metamorfosis adalah upaya tak lelah untuk berbagi pemandangan indah kepada yang melihat walau pernah melalui berbentuk seekor ulat yang terlihat buruk rupa untuk kemudian berujung pada bentuk kupu-kupu yang indah dipandang mata.

Maka benar seperti apa yang disampaikan oleh Sang Khalifah di awal bahwa sesungguhnya upaya berbagi nasehat itu bukan dalam rangka mendefinisikan bahwa diri kita adalah sudah baik dan sempurna. Jika ada yang belum baik pada diri kita bukan berarti kita menutup diri untuk tidak berbagi nasehat kepada yang lain.

Nasehatilah orang lain untuk memperbaiki diri sendiri, dan terimalah nasehat kebaikan dalam rangka memperbaiki diri sendiri pula.

Semoga kita semua tidak terhenti untuk terus saling nasehat menasehati. Sebab nasehat menasehati adalah nilai dasar bagi setiap manusia untuk menuju kepada perbaikan. Bahkan Tuhan pun mengambil sumpah "Demi Masa" untuk mengisyaratkan bahwa berbagi nasehat dalam kebenaran dan kesabaran haruslah sepanjang hayat.

Wallahu a'lam ...



About Rudi B. Rosidi

Skills: Multimedia Learning, Information Technology, Numerical Analysis. - Occupation: Business, Lecturer. - Employment: PT Softchip Computama Indonesia, CEO. - Official Website: www.kliksci.com. - Communities: IT Development, Midwifery Industries, Fatinistic.

No comments:

Post a Comment


Contact Form

Name

Email *

Message *

Follow by Email

Labels

Translate

Revolusi Akal dan Hati

Melewati sisi waktu yang tak terhenti, bernaung dalam ruang yang tak terbatas, untuk sebuah pemahaman yang tak berujung ...

Total Pageviews