Manusia tidak hanya diciptakan dari bumi berupa saripati tanah yang membutuhkan konsumsi makhluk-makhluk yang berasal dari 'bumi' seperti makan minum, beli mobil, atau mempercantik diri dengan luluran yang berasal dari bahan-bahan di bumi.
Namun manusia juga diciptakan dari 'komponen' langit berupa ruh. Oleh karenanya manusia seyogyanya membutuhkan konsumsi yang berasal dari langit, seperti nasihat, pencerahan fikiran, ketenangan batin, rasa cinta, dan semua hal yang mempercantik jiwa dengan luluran dari bahan langit.
Maka, jika kita sangat betah berjam-jam nyalon untuk memanjakan dan mempercantik diri di 'Salon Bumi', maka memanjakan dan mempercantik diri dengan 'Nyalon Langit' di tempat-tempat yang mendamaikan hati seperti majelis ilmu seharusnya pula membuat kita betah berlama-lama hadir di dalamnya.
Berikut adalah tulisan bagus tentang manusia yang saya kutip dari web www.sangpencerah.com. Selamat menyimak.
MANUSIA DALAM AL-QUR’AN : Memahami Terminologi Al-Insan Dalam Al-Qur’an Artikel
Oleh: Anggota Kajian Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Mesir (PCIM MESIR)
Ada beberapa pendapat tentang pengertian al-insan secara etimologis. Dalam kamus al-Wâfî karya Abu ‘Amru, al-insan berasal dari akar kata anasa atau nasiya yang berarti lupa Adapula yang menyebutkan bahwa al-insan berasal dari kata nâsa-yanusu yang artinya berguncang.
Sedangkan dalam Mufradât Alfâdzi’l-Qur’an, al-Ashfahani berkata, “sebagian berpendapat bahwa manusia disebut insan karena ia tidak bisa hidup sendiri, ia saling menopang kehidupan manusia lainnya. Atau, karena ia berbuat lembut kepada siapa yang berlemah lembut kepadanya. Ada juga yang berpendapat, insan berasal dari kata insiyan, dinamakan demikian karena ia telah diberi amanah oleh Allah tapi melupakannya”.
Hal yang perlu diperhatikan ketika membahas tentang manusia dalam Al-Qur’an adalah terma yang biasa digunakan untuk menunjuk manusia. Paling tidak, ada tiga padanan kata al-insan dalam al-Qur’an;
1. Basyar.
Kata basyar berasal dari kata basyara yang berarti hasuna (baik), jamula (indah) atau bisa juga fariha (senang) . Mulanya ia adalah penampakan sesuatu dengan baik dan indah, kemudian dari akar kata yang sama lahir kata basyarah yang berarti kulit dan manusia disebut basyar karena kulitnya tampak jelas.
Dalam al-Qur’an basyar biasa digunakan untuk menunjuk manusia sebagai makhluq yang memiliki kebutuhan biologis; makan, minum, istirahat, tidur dan sebagainya (ya’kulu at-tha’âm wa yamsyi fi’l-aswâq). Kata ini tertera dalam Al-Qur’an sebanyak 35 kali. Sebagian ayat menjelaskan tentang sisi-sisi kemanusian para nabi dan rasul yang menyerupai seluruh manusia secara jelas (Al-Kahfi: 110) dan sebagian lain tidak dinyatakan dengan jelas, walau pada hakikatnya menunjukkan hal tersebut.
2. Kata yang terdiri dari huruf alif, nun dan sin, seperti; al-ins, an-nâs, unâs.
An-nas, dalam al-Qur'an tertera sekitar 240 kali, yang dengan jelas menunjuk kepada keturunan Adam As secara umum. Al-ins, adalah sinonim dari al-insan yang juga berasal dari anasa. Namun penggunaan keduanya dalam Al-Qur’an berbeda; al-ins selalu dihubungkan dengan al-jin dalam hubungan oposisi (kebalikan). Ia tertera dalam Al-Qur’an dalam 18 ayat. Mengapa hubungan oposisi? Karena kita adalah makhluk yang nyata, berbeda dengan jin yang abstrak, atau biasa kita sebut dengan makhluk halus, yang hidup di alam lain dan tidak tampak oleh mata kita.
Sedangkan al-insan adalah terma yang digunakan tidak terbatas pada manusia sebagai makhluk abstrak (ins), ataupun manusia yang memiliki kebutuhan-kebutuhan biologis (basyar), tapi ia digunakan untuk menunjuk manusia dengan segala totalitasnya, yang berbeda dengan makhluk lain dan diberi amanah untuk menjadi khalifatu’l-Lahfi’l-ardl.
3. Bani Adam dan Dzurriyat Adam Yaitu, seluruh keturunan dan anak cucu Adam As.
Asal Mula Penciptaan Manusia
فلينظر الانسان ممّ خلق
Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan. (QS. At-Thariq: 5)
Allah memerintahkan manusia untuk merenungi asal penciptaannya. Ia juga menjelaskan setiap priode hidup manusia dalam Al-Qur’an, sejak awal penciptaan hingga ia dibangkitkan kembali. Sebenarnya, ada pelajaran yang ingin disampaikan Allah kepada manusia. Tidak sekedar agar manusia tahu tahap demi tahap priode itu berlangsung, tapi agar saat mereka membaca ayat tersebut mereka dapat menyesuaikan apa yang dijelaskan oleh Al-Qur’an dengan priode hidup yang mereka jalani. Jadi ada usaha untuk memadukan antara teks dan realita. Saat hal itu mampu manusia lakukan, akan ada pengaruh dalam hati mereka, seakan-akan ayat itu berbicara khusus kepada mereka. [1]
يا أيها الناس ان كنتم في ريب من البعث فانا خلقناكم من تراب ثم من نطفة ثم من علقة ثم من مضغة مخلقة وغير مخلقة لنبين لكم و نقرّ في الأرحام ما نشاء الى أجل مسمّى ثم نُخرجُكم طفلاً ثم لتبلغوا أشدكم ومنكم من يتوفى ومنكم من يرد الى أرذل العمر لكيلا يعلم من بعد علم شيئاَ
“Wahai manusia, jika kamu masih meragukan hari kebangkitan, sesungguhnya Kami ciptakan kalian dari tanah kemudian dari tetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar kami jelaskan kepada kalian. Dan Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang telah ditentukan kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi kemudian(dengan berangsur-angsur) kalian sampai pada kedewasaan dan di antara kalian ada yang diwaftkatan dan(adapula) yang dipanjangkan umurnya sampai pikun supaya dia tidak mengetahui sesuatu yang dulu diketahuinya…” (QS. Al-Hajj: 5)
Adapun tentang asal mula penciptaan manusia, selain ayat di atas, ayat di bawah ini juga menjelaskan hal tersebut:
ولقد خلقنا الانسانَ من سلالةٍ من طينٍ* ثم جعلناه نطفةً في قرارٍ مكينٍ * ثم خلقنا النطفةَ علقةً فخلقنا العلقةَ مضغةً فخلقنا المضغةَ عظاماً فكسونا العظامَ لحماً ثم أنشأناه خلقاً آخرَ فتبارك الله أحسنُ الخالقينَ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati(berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani(yang disimpan) dalam tempat yang kokoh(rahim). Lalu air mani itu Kami jadikan segumpal darah, segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluq yang berbentuk lain. Maha suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik”.(QS. Al-Mu’minun: 12-14)
Fase Penciptaan Manusia Dari Tanah
Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa manusia dicipta dari sulâlâh min thin. Dalam menafsirkan ayat ini, ada beberapa pendapat ulama. Pertama, Alfarisi dan Ibnu Abbas mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-insan dalam ayat ini adalah nabi Adam As yang diciptakan dari saripati (sulâlâh) setiap jenis tanah. Kedua, pendapat Abu Shalih, yang mengatakan bahwa al-insan adalah bani Adam dan sulâlâhadalah nabi Adam. Ketiga, pendapat yang mengatakan bahwa sulâlâh min thin adalah sperma dan sel telur, keduanya berasal dari makanan, dan makanan asalnya adalah tanah. [2]
ولقد خلقنا الانسانَ من سلالةٍ من طين
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati(berasal) dari tanah”. (QS. Al-Mu’minun: 12)
Jika kita telaah ayat-ayat Al-Qur’an, ada beberapa kata yang digunakan untuk menunjukkan asal penciptaan manusia. Untuk itu beberapa mufassir mencoba berijtihad membuat urutan priode dari kata-kata tersebut sesuai dengan penciptaan Adam dan anak cucunya; [3]
- Debu(من تراب,) menunjukkan pada penciptaan awal.
- Tanah liat(من طين) menunjukkan pada bercampurnya tanah dan air.
- Lumpur hitam yang dibentuk (من حماء ٍمسنون) menunjukkan pada tanah liat yang sudah dibentuk dan sedikit berubah karena udara.
- Tanah yang lekat atau tetap (من طين لازب), menunjukkan pada tanah liat yang sudah memiliki bentuk yang tetap.
- Tanah liat yang kering ( من صلصالٍ من حماء ٍمسنون) menunjukkan bahwa tanah yang memiliki bentuk tetap tadi sudah kering dan bisa menimbulkan suara.
- Tanah kering seperti tembikar ( من صلصالٍ كالفخَّارِ,) yaitu yang sudah disempurnakan dengan memasukkannya ke dalam api, seperti porselen.
- Kemudian Allah Swt. mengabarkan tentang ditiupnya ruh kedalam jasad tadi dan sempurnalah penciptaannya.
Fase Penciptaan Dalam Rahim
يخلقكم في بطون أمهاتكم خلقاً من بعد خلق في ظلمات ثلاث
“Dialah (Allah) yang menjadikan kalian dalam perut ibu kalian kejadian demi kejadian, dalam tiga kegelapan”(QS. az-Zumar: 6)
1. An-Nuthfa
ثم جعلناه نطفةً في قرارٍ مكينٍ
“Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)”. (QS. Al-Mu’minun: 12-14)
Inilah fase awal terjadinya manusia. Nuthfah adalah air mani yang berasal dari sperma laki-laki dan sel telur wanita, dan masing-masing memiliki peran seimbang. Ayat di atas dimulai dengan sebuah kataثم yang mungkin tidak membutuhkan waktu lama untuk membahasnya. Tapi, berapa lama jarak antara penciptaan Adam dan penciptaan kita dari nuthfah?
Kata ini meski sederhana tapi memiliki makna yang dalam. Tsumma dalam ayat ini, menunjukkan hubungan antara permulaan species, Adam As.(sebagai manusia pertama), dan permulaan setiap manusia. Betapa antara Adam dan setiap manusia di dunia memiliki hubungan yang terus berkesinambungan dan tak pernah terpisah. Jika saja ada di antara hubungan itu yang terpisah, maka adakah manusia lain selain keturunan Adam? [4]
Nuthfah(zygote), yang merupakan hasil dari pembuahan ovum oleh sperma, terus berkembang dalam rahim ibu, membelah dan menjadi bagian-bagian yang lebih banyak. Ia bergerak dalam rahim ibu dan mendapatkan makanan dari sari-sari makanan ibu yang ada di dalamnya. Saat sel-sel tadi terbelah, ada kejadian di mana sel terbelah sempurna menjadi bagian-bagian yang sama dan berkembang menjadi 2 individu yang kita kenal dengan kembar identik. Nuthfah terus berkembang, ia mengelompok dan menjadi gumpalan darah yang disebut ‘Alaqoh. [5]
2. Al-’Alaqoh (Merula)[6]
ثم خلقنا النطفةَ علقةً
Lalu air mani itu Kami jadikan segumpal darah (QS. Al-Mu’minun: 14)
Pada awalnya ‘alaqoh bergerak bebas di dalam ovarium dan mendapatkan makanan dari sari makanan ibu. Kemudian secara perlahan, ia bergerak keluar dari ovarium dan mulai menempel di dinding rahim, untuk berproses menjadi mudghah.
3. Al-Mudghah
فخلقنا العلقةَ مضغةً
Maka segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging. (Al-Mu’minun: 14)
Mudghah adalah gumpalan daging yang manjadi wadah dari gumpalan darah. Fase ini dimulai pada minggu ke-4 masa kehamilan dan dikenal dengan fase awal tumbuhnya anggota vital dari tubuh manusia. [7]
Mudghah inilah yang kemudian membelah dirinya menjadi 2 lapisan, yaitu:
- Mukhallaqoh (Lapisan Dalam)
Mudghah Mukhallaqoh, yang sempurna kejadiannya, atau lapisan dalam dari mudghah inilah yang kemudian berproses menjadi embrio atau calon bayi
- Ghairu Mukhallaqoh (Lapisan Luar)
Mudghah Gairu Mukhallaqoh, yang tidak sempurna kejadiannya, atau lapisan luar dari mudghah, kemudian berproses menjadi plasenta atau ari-ari yang di antara fungsinya adalah untuk menyalurkan makanan kepada bayi. [8]
4. Al-’Idzâm dan Al-Lahm[9]
فخلقنا المضغةَ عظاماً فكسونا العظامَ لحماً
“Dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging”. (QS. Al-Mu’minun: 12-14)
Sebagian Mufassir mengatakan bahwa perubahan gumpalan daging menjadi tulang belulang bisa seluruhnya, bisa pula sebagian dari daging. Dan setelah diadakan penelitian ilmiah, proses perubahan menjadi tulang hanya melibatkan sebagian dari gumpalan daging.
Mengapa Al-Qur’an memisahkan fase gumpalan darah dan fase pembentukan tulang? Allah A’lam- karena Al-Qur’an mengidentifikasikan setiap fase sesuai proses terpenting yang terjadi, pada fase ini yang terpenting adalah pembentukan tulang, yaitu berubahnya mudghah menjadi ‘idzam, atau gumpalan kecil darah menjadi tulang belulang yeng merupakan rangka dari tubuh manusia.
Bersamaan dengan perubahan menjadi tulang, muncul pula daging lengket yang membungkus tulang. Menurut ilmu kedokteran, hal ini terjadi pada minggu ke-4, karena ilmu kedokteran tidak memisahkan antara fase mudghah, ‘idzam dan lahm. Tapi ada kesesuian dengan Al-Qur’an tentang urutan kejadian setiap fase pada minggu ke-4 ini.
5. Al-Khalq Al-Akhar
ثم أنشأناه خلقاً آخرَ فتبارك الله أحسنُ الخالقينَ
“Kemudian Kami jadikan dia makhluq yang berbentuk lain. Maha suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik”. (QS. Al-Mu’minun: 14)
Ayat ini menjelaskan tentang proses kejadian manusia dalam kandungan setelah melewati 4 bulan pertama, yang oleh sebagian ulama disebut dengan dzulumat tsalats (40 hari pertama di dalam ovarium, 40 hari kedua, sejak ‘alaqoh dalam ovarium berproses menjadi mudghah dan berpindah ke dalam rahim. 40 hari terakhir, saat embrio terbungkus kuat dalam suatu selaput yang disebut Tuba Fallopy (kulit ketuban). [10]
Kata ansya-a yang digunakan dalam ayat ini, menunjukkan ketelitian penciptaan manusia, karena kata insya’berarti mencipta sesuatu dan mengatur/mendidiknya. Adapun tentang khalq akhar, Ibnu Katsir mengatakan bahwa proses perubahan manusia menjadi khalq akhar adalah saat dimana Allah meniupkan ruh hingga ia menjadi makhluk yang memiliki pendengaran, penglihatan, pengetahuan gerakan dan sebagainya. Serupa dengan Ibnu Katsir, Al-Khudzri, Ibnu Jarir dan Ibnu Abi hatim menafsirkan ayat tersebut dengan penafsiran yang sama.
Ada pula yang menafsirkan ayat tadi dengan lahirnya manusia atau tumbuhnya rambut, tumbuhnya gigi atau perubahan keadaan setelah lahir ke dunia, dari sejak baru lahir kemudian menyusui, dan seterusnya hingga mati.[11]
Pada hakekatnya, pertumbuhan janin dalam rahim berbeda antara satu dan lainnya, sebagaimana perbedaan pertumbuhan manusia setelah dilahirkan. Maka, setelah memasuki bulan ketiga dari masa kehamilan, terjadi perbedaan perkembangan antar tiap janin. Tapi, setiap janin yang sudah memasuki bulan keempat, akan memasuki fase baru dalam pertumbuhannya, karena telah memiliki organ-organ vital dalam dirinya.
Demikian janin terus berkembang hingga saat memasuki usia 7 bulan, ia sudah dapat bertahan hidup dengan organ tubuh yang lengkap tapi belum sempurna. Setelah berusia 9 bulan, maka ia mulai siap dilahirkan ke dunia.
http://pcimmesir.com
[1] Dr. Muhammad Izzuddin Taufiq, Dalil’l-Anfus Baina Al-Qur’an wa Al-Ilmi’l-Hadits, Dâr el-Salâm, Cairo, cet. III, 2004, hal. 70.
[2] Ibid, hal. 71
[3] Ibid, hal. 73
[4] Ibid, hal. 75
[5] Dr. Muhammad Izzuddin Taufiq, Dalil’l-Anfus Baina Al-Qur’an wa Al-Ilmi’l-Hadits, Dâr el-Salâm, Cairo, cet. III, 2004, hal. 70.
[6] Muhammad Idris Jauhari, Membentuk Generasi Robbi Rodliyya, Pustaka Hikmah Perdana, Surabaya, Cet. I, 2005, hal.53-54
[7] Dr. Muhammad Izzuddin Taufiq, op. cit., hal. 118.
[8] Muhammad Idris jauhari, op. cit., hal. 55.
[9] Dr. Muhammad Izzuddin Taufiq, op. cit., hal. 121-122.
[10] Muhammad Idris jauhari, op. cit., hal. 53-55.
[11] Dr. Muhammad Izzuddin Taufiq, op. cit., hal. 138.
antara hati, gelang dan teh manis
malam ini ketika sunyi menghampiri
sesaat ada sapa menjelma tak sengaja dari sisi dunia
yang mungkin tlah hilang dalam berapa masa
namun terasa begitu lekat karena pernah ada jiwa yang menghampiri tak sengaja
kerling matanya mengiringi kepolosan alunan gerakan manis raganya
ketika secangkir teh manis menghangatkan hati
senyumnya begitu mengusik sukma yang bahkan tak mampu memendam tanya
dan ketika ia kusapa dengan bahasa kesunyian,
senyumnya meluruh bagai kembang nan harum di pagi hari
lalu,
tiba-tiba isyarat langit membangkitkan pesan agar dapat bersegera menguntai alasan untuk berpisah
karena mewujudkan lukisan hati ternyata tak mesti menyatu
dan jika ada rasa walau sekedar tuk menyematkan prasasti hati,
maka gelang mungil nan menyiratkan kesederhanaan jiwa mencoba mengurai pesan indah tentang sebuah ketulusan
karena warna hati tak mesti menemui sisi indah dalam lukisan kebersamaan,
biarlah warna itu datang sekedar mencukupkan kerinduan di kala musim-musim bergulir
yang perlahan mulai mengkusamkannya, walau tidak dengan ketulusannya ...
karena hati, gelang dan teh manis itu pernah saling menyapa
dan membuatnya indah dalam ketegasan kesunyian hati,
walau hanya hadir pada sedikit masa ...
malam ini ketika sunyi menghampiri
sesaat ada sapa menjelma tak sengaja dari sisi dunia
yang mungkin tlah hilang dalam berapa masa
namun terasa begitu lekat karena pernah ada jiwa yang menghampiri tak sengaja
kerling matanya mengiringi kepolosan alunan gerakan manis raganya
ketika secangkir teh manis menghangatkan hati
senyumnya begitu mengusik sukma yang bahkan tak mampu memendam tanya
dan ketika ia kusapa dengan bahasa kesunyian,
senyumnya meluruh bagai kembang nan harum di pagi hari
lalu,
tiba-tiba isyarat langit membangkitkan pesan agar dapat bersegera menguntai alasan untuk berpisah
karena mewujudkan lukisan hati ternyata tak mesti menyatu
dan jika ada rasa walau sekedar tuk menyematkan prasasti hati,
maka gelang mungil nan menyiratkan kesederhanaan jiwa mencoba mengurai pesan indah tentang sebuah ketulusan
karena warna hati tak mesti menemui sisi indah dalam lukisan kebersamaan,
biarlah warna itu datang sekedar mencukupkan kerinduan di kala musim-musim bergulir
yang perlahan mulai mengkusamkannya, walau tidak dengan ketulusannya ...
karena hati, gelang dan teh manis itu pernah saling menyapa
dan membuatnya indah dalam ketegasan kesunyian hati,
walau hanya hadir pada sedikit masa ...
Tidak banyak dari kita yang berkesempatan dan mencoba mengulas tentang bagaimana menterjemahkan hal-hal yang gaib dengan pendekatan ilmu fisika. Banyak sekali yang menganggap bahwa hal gaib tak kan mampu dicerna oleh logika pikir kita sehingga kita langsung berkesimpulan bahwa gaib adalah sesuatu yang tidak ilmiah. Ini pula yang menjadi pemicu sebagian manusia untuk tidak mempercayai agama. Sebagian manusia berkeyakinan bahwa agama hanyalah halusinasi manusia saja. Bahkan agama dianggap sebagai racun kehidupan karena banyak mengatur kehidupan manusia.
Padahal pada saat bersamaan, banyak ilmuwan seperti pakar fisika yang awalnya ateis atau beragama tertentu kemudian menjadi pemeluk Islam karena banyak menemui keterangan-keterangan dalam kitab suci yang sangat rasional dan sangat ilmiah. Banyak penemuan sains yang membenarkan keterangan yang ada dalam Alquran. Tengok saja misalnya soal proses kehamilan, penciptaan alam semesta, siklus air, dan sebagainya.
Semasa kuliah di Teknik Nuklir, saya pernah mengikuti kajian-kajian Nucleosophydi kampus. Sebuah kelompok kajian komunitas nuklir yang mencoba menterjemahkan keterangan-keterangan dalam Alquran dengan pendekatan ilmu alam atau ilmu kealaman seperti fisika klasik dan fisika kuantum. Pak Agus Mustofa yang juga alumni Teknik Nuklir termasuk salah seorang yang banyak mengulas ilmu agama dengan pendekatan ilmiah melalui kajian-kajian dan buku-buku tasawuf modern nya.
Salah satu yang dikaji adalah berkaitan dengan pertanyaan "Bagaimana cara Allah SWT merekam segala amalan kita. Bagaimana caraNya menuliskan 'buku' kehidupan kita yang akan dipertunjukkan kepada kita kelak di padang mahsyar? Dan bagaimana pula Malaikat Rakib Atid mencatat amalan-amalan kita?"
Salah satu hasil kajian tersebut adalah dengan pendekatan ilmiah yang menjelaskan metode pencatatan Rakib Atid tersebut adalah dengan pendekatan bahwa malaikat tercipta dari Nur Cahaya yang memiliki kecepatan sangat tinggi seperti yang sudah saya ulas dalam tulisan sebelumnya (Cara Kerja Rakib Atid Metode 1).
Pendekatan lain untuk menjelaskan bagaimana cara Allah SWT mancatat seluruh aktivitas manusia adalah dengan melakukan proses rekaman kehidupan. Dalam kajian tasawuf modern, Pa Agus Mustofa mengulas sebagai berikut.
Bahwa alam ini sebenarnya merekam seluruh aktivitas penghuninya. Ada tiga lokasi rekaman itu. Yang pertama ada di otak kita, sebagai memori alias ingatan. Karena rekaman itulah, Anda bisa mengingat berbagai peristiwa yang Anda alami. Dan bukan hanya Anda yang mengingat peristiwa itu, melainkan juga orang-orang dekat Anda yang hadir dalam peristiwa tersebut.
Yang kedua adalah genetika kita. Sistem informasi genetika yang berada di dalam inti sel tersebut selalu merekam segala informasi yang melibatkannya. Perbuatan yang terjadi berulang-ulang akan terekam di dalam genetika sebagai kecerdasan genetik. Karena itu, tubuh kita menjadi memiliki kebiasaan merespons kejadian secara khas. Mulai tingkat molekuler, seluler, sampai pada tataran organik secara utuh.
Karakter dan bahasa tubuh yang khas pada setiap orang merupakan perwujudan rekaman genetik itu. Kelak, rekaman genetik tersebut bisa menurun kepada anak-anak kita sebagai kecenderungan khas terhadap sesuatu. Termasuk, diwariskannya penyakit tertentu.
Yang ketiga, rekaman alam semesta. Dalam sudut pandang fisika gelombang, tubuh maupun alam sekitar tak lebih hanya lautan energi alias samudra frekuensi. Tubuh kita, mulai pikiran, perasaan, denyut jantung, dan triliunan sel tubuh, semua bekerja secara kelistrikan yang menghasilkan frekuensi elektromagnetik. Karena itu, tubuh kita selalu memancarkan medan elektromagnetik ke mana-mana. Setiap berbuat apa pun, pada dasarnya kita melakukan perubahan medan elektromagnetik yang menyelimuti tubuh kita.
Nah, perubahan medan itulah yang direkam alam sekitar. Sebagai ilustrasi, di mana pun Anda berada, di situ sebenarnya terdapat gelombang radio atau televisi dari berbagai belahan dunia. Ada CNN, Al Jazirah, ABC, BBC dan, sebagainya. Gelombang tersebut telah menempuh jarak ribuan kilometer dan tidak pernah lenyap. Mereka tetap ”mengambang” di alam semesta dan bisa ditangkap di mana pun kita berada dengan menggunakan peralatan yang sesuai.
Kalau seseorang tidak bisa menangkap atau melihat gelombang itu, masalahnya bukan karena gelombang tersebut tidak ada. Melainkan, dia tidak menggunakan alat yang tepat. Misalnya, menggunakan antena biasa. Cobalah menggunakan antena parabola dengan kualitas terbaik, berbagai macam gelombang yang berseliweran di sekitar kita bisa terdeteksi semua.
Suatu saat nanti ditemukan teknologi yang bisa menangkap gelombang dari berbagai kejadian yang sudah berlangsung ribuan tahun yang lalu. Itu bukanlah angan-angan yang tidak mungkin terjadi. Persoalannya hanyalah seberapa bagus kualitas peralatan yang kita gunakan untuk memutar kembali rekaman alam semesta tersebut. Karena itu, betapa mudahnya kelak Allah mengadili manusia karena segala perbuatannya memang sudah terekam lingkungan sekitar di mana pun dia berada…!
Setelah mencermati penjelasan tersebut, maka jangan pernah berfikir sedikit pun bahwa apa yang kita lakukan akan luput dari pengawasan Allah SWT dan Rakib Atid. Allah dan malaikat akan merekam setiap gelombang elektromagnetik yang diserap dan dipancarkan oleh hati, setiap gelombang cahaya yang dipantulkan oleh mata, dan setiap gelombang bunyi yang diserap oleh telinga dan dikeluarkan oleh mulut kita.
“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi.” (QS. Al-Hajj [52]: 70)
wallahu a'lam
Saat masih SD dan mengaji di surau desa, guru ngaji saya pernah mengajarkan bahwa salah satu rukun iman adalah mengimani adanya malaikat. Dijelaskan bahwa masing-masing malaikat memiliki tugas spesifik. Ribuan malaikat diciptakan Allah SWT untuk mengurus kehidupan di alam semesta, termasuk mencatat amal baik dan buruk kita yang ditugaskan kepada Malaikat RAKIB dan ATID.
Dengan kapasitas berfikir saya saat itu, tidak banyak pertanyaan yang saya ajukan pada guru ngaji saya tentang bagaimana cara malaikat RAKIB ATID yang hanya berdua bisa mencatat milyaran manusia yang ada di bumi. Saat itu saya hanya berfikir bahwa RAKIB dan ATID dibantu oleh ribuan malaikat lain untuk mencatat amal manusia. Sekilas yang ada dalam benak saya adalah bahwa mereka begitu cepat bergerak untuk mencatat seluruh amal manusia dan 'visualisasi' konvensional saya adalah karena mereka memiliki sayap atau menaiki kendaraan semacam buraq.
Ketika saya mendapatkan kesempatan kuliah di Jurusan Teknik Nuklir UGM, banyak hal yang merubah cara berfikir saya dalam menguatkan keimanan dalam Islam dan salah satunya adalah menerjemahkan metode RAKIB ATID dalam melaksanakan tugasnya.
Selama kuliah, banyak kajian kontemporer yang saya ikuti dalam memahami ajaran Islam. Menerjemahkan nilai-nilai keimanan dengan memaksimalkan potensi akal yang kita miliki. Pendalaman tentang penjelasan ayat-ayat kauliyah melalui ayat-ayat kauniyah menjadi 'menu' sangat spesial ketika masa kuliah dulu. Belajar agama menjadi tidak terbingkai lagi dengan pendekatan konvensional karena diperkaya dengan pendekatan kontekstual.
Hingga pada suatu saat, saya bertemu dalam kajian RAKIB ATID tadi.
Beberapa ulama kontemporer khususnya yang berlatar belakang ilmu eksakta seperti fisika dan matematika pernah mengkaji bahwa cara yang dilakukan RAKIB ATID dalam mencatat amal manusia di bumi ini sebenarnya bisa didekati dengan logika sederhana. Mereka memberikan ilustrasi sebagai berikut.
Malaikat adalah makhluk Allah SWT yang diciptakan dari nur atau cahaya. Jika kita menggunakan definisi cahaya yang manusia sepakati, kecepatan cahaya tampak adalah sebesar 300.000 km per detik. Atau dengan kata lain dalam satu detik, cahaya bisa bergerak menempuh jarak sepanjang 300.000 km.
Walau malaikat adalah makhluk gaib yang tidak bisa kita terjemahkan dengan keterbatasan kedzahiran kita, namun 'anggaplah' wujud malaikat adalah seperti cahaya tampak yang kita definisikan tadi. Jika demikian, maka dalam satu detik malaikat dapat bergerak menempuh jarak 300.000 km.
Sekarang mari mengingat kembali wujud bumi yang kita tinggali. Bumi berbentuk datar elips dan memiliki diameter terpanjang sebesar 12.756,274 km. Selebihnya, sebelah luar antartika dianggap infinite, tak terjangkau luasnya. Maka dengan rumus keliling lingkaran yang pernah kita dapatkan ketika SMP, keliling lingkaran bumi adalah = (phi) x (diameter) = 3,1415 x 12.756,274 km = 40.073,83 km. Atau kurang lebih 40.000 km.
Jika RAKIB ATID berduaan bergerak mengelilingi bumi, maka waktu yang dibutuhkan untuk mencapai satu putaran adalah sebesar 40.000 km/300.000 km per detik = 0,133 detik atau sekitar 1/10 detik.
Artinya, dalam satu detik, malaikat dapat mengitari bumi sebanyak 10 kali. Itu pun nur malaikat 'hanya' kita asumsikan dengan pendekatan kecepatan cahaya di dunia. Padahal kecepatan nur mereka sangat mungkin bernilai puluhan atau bahkan milyaran kali lipat dari kecepatan cahaya 300.000 km/detik yang selama ini digunakan oleh manusia dalam melakukan perhitungan fisika.
Bisa kita bayangkan, sebelum kita selesai mengedipkan mata, malaikat RAKIB ATID sudah mengelilingi bumi selama 10 putaran dan berada kembali di samping kita.
Dengan kata lain, kedua malaikat SELALU BERSAMA KITA setiap saat, termasuk ketika saya mengetik tulisan ini, mempostingnya, membaca komentar rekan-rekan, dan seterusnya selamanya.
Maka jika kedua malaikat tersebut begitu besarnya dan kecepatannya melebihi kecepatan cahaya, apakah kita masih berfikir bahwa aktivitas kita setiap saat akan luput dari pantauan RAKIB ATID?
Maka, jangan pernah berfikir sedikit pun bahwa hati, pikiran, ucapan, dan tindakan kita tak pernah terlihat oleh Allah SWT melalui para malaikat-Nya.
Sungguh, hindarilah merasa melakukan keburukan tanpa beban hanya karena manusia lain tidak melihat kita. Apalagi merasa puas dengan mencederai teman atau orang lain hanya karena mereka yang kita aniaya tak pernah melihat kita.
Yuk berhenti dari berperang dengan hati nurani sendiri. Berdamai lah dengan hati dengan cara mengakui kekeliruan kita dengan maksud setidaknya untuk keperluan menjaga kesucian hati dan memohon ampun pada Tuhan kita, ALLAH SWT.
wallahu a'lam
Dengan kapasitas berfikir saya saat itu, tidak banyak pertanyaan yang saya ajukan pada guru ngaji saya tentang bagaimana cara malaikat RAKIB ATID yang hanya berdua bisa mencatat milyaran manusia yang ada di bumi. Saat itu saya hanya berfikir bahwa RAKIB dan ATID dibantu oleh ribuan malaikat lain untuk mencatat amal manusia. Sekilas yang ada dalam benak saya adalah bahwa mereka begitu cepat bergerak untuk mencatat seluruh amal manusia dan 'visualisasi' konvensional saya adalah karena mereka memiliki sayap atau menaiki kendaraan semacam buraq.
Ketika saya mendapatkan kesempatan kuliah di Jurusan Teknik Nuklir UGM, banyak hal yang merubah cara berfikir saya dalam menguatkan keimanan dalam Islam dan salah satunya adalah menerjemahkan metode RAKIB ATID dalam melaksanakan tugasnya.
Selama kuliah, banyak kajian kontemporer yang saya ikuti dalam memahami ajaran Islam. Menerjemahkan nilai-nilai keimanan dengan memaksimalkan potensi akal yang kita miliki. Pendalaman tentang penjelasan ayat-ayat kauliyah melalui ayat-ayat kauniyah menjadi 'menu' sangat spesial ketika masa kuliah dulu. Belajar agama menjadi tidak terbingkai lagi dengan pendekatan konvensional karena diperkaya dengan pendekatan kontekstual.
Hingga pada suatu saat, saya bertemu dalam kajian RAKIB ATID tadi.
Beberapa ulama kontemporer khususnya yang berlatar belakang ilmu eksakta seperti fisika dan matematika pernah mengkaji bahwa cara yang dilakukan RAKIB ATID dalam mencatat amal manusia di bumi ini sebenarnya bisa didekati dengan logika sederhana. Mereka memberikan ilustrasi sebagai berikut.
Malaikat adalah makhluk Allah SWT yang diciptakan dari nur atau cahaya. Jika kita menggunakan definisi cahaya yang manusia sepakati, kecepatan cahaya tampak adalah sebesar 300.000 km per detik. Atau dengan kata lain dalam satu detik, cahaya bisa bergerak menempuh jarak sepanjang 300.000 km.
Walau malaikat adalah makhluk gaib yang tidak bisa kita terjemahkan dengan keterbatasan kedzahiran kita, namun 'anggaplah' wujud malaikat adalah seperti cahaya tampak yang kita definisikan tadi. Jika demikian, maka dalam satu detik malaikat dapat bergerak menempuh jarak 300.000 km.
Sekarang mari mengingat kembali wujud bumi yang kita tinggali. Bumi berbentuk datar elips dan memiliki diameter terpanjang sebesar 12.756,274 km. Selebihnya, sebelah luar antartika dianggap infinite, tak terjangkau luasnya. Maka dengan rumus keliling lingkaran yang pernah kita dapatkan ketika SMP, keliling lingkaran bumi adalah = (phi) x (diameter) = 3,1415 x 12.756,274 km = 40.073,83 km. Atau kurang lebih 40.000 km.
Jika RAKIB ATID berduaan bergerak mengelilingi bumi, maka waktu yang dibutuhkan untuk mencapai satu putaran adalah sebesar 40.000 km/300.000 km per detik = 0,133 detik atau sekitar 1/10 detik.
Artinya, dalam satu detik, malaikat dapat mengitari bumi sebanyak 10 kali. Itu pun nur malaikat 'hanya' kita asumsikan dengan pendekatan kecepatan cahaya di dunia. Padahal kecepatan nur mereka sangat mungkin bernilai puluhan atau bahkan milyaran kali lipat dari kecepatan cahaya 300.000 km/detik yang selama ini digunakan oleh manusia dalam melakukan perhitungan fisika.
Bisa kita bayangkan, sebelum kita selesai mengedipkan mata, malaikat RAKIB ATID sudah mengelilingi bumi selama 10 putaran dan berada kembali di samping kita.
Dengan kata lain, kedua malaikat SELALU BERSAMA KITA setiap saat, termasuk ketika saya mengetik tulisan ini, mempostingnya, membaca komentar rekan-rekan, dan seterusnya selamanya.
Maka jika kedua malaikat tersebut begitu besarnya dan kecepatannya melebihi kecepatan cahaya, apakah kita masih berfikir bahwa aktivitas kita setiap saat akan luput dari pantauan RAKIB ATID?
Maka, jangan pernah berfikir sedikit pun bahwa hati, pikiran, ucapan, dan tindakan kita tak pernah terlihat oleh Allah SWT melalui para malaikat-Nya.
Sungguh, hindarilah merasa melakukan keburukan tanpa beban hanya karena manusia lain tidak melihat kita. Apalagi merasa puas dengan mencederai teman atau orang lain hanya karena mereka yang kita aniaya tak pernah melihat kita.
Yuk berhenti dari berperang dengan hati nurani sendiri. Berdamai lah dengan hati dengan cara mengakui kekeliruan kita dengan maksud setidaknya untuk keperluan menjaga kesucian hati dan memohon ampun pada Tuhan kita, ALLAH SWT.
“Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,
(yaitu) ketika dua orang Malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.
Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir."
(QS. Qaf [50]: 16-18)wallahu a'lam
tentang diam
mungkin aku tak bisa berkata tentang sesuatu yang kau anggap sebuah keindahan
mungkin aku tak bisa bercerita tentang sesuatu yang kau anggap sebuah romansa
mungkin aku tak bisa menyusun kalimat tentang sesuatu yang kau anggap sebuah pengakuan
namun yang kutahu hanya:
aku merasa kehilangan ketika engkau tak ada di sisi,
dan hati yang merasa sepi ketika senyum indahmu beranjak pergi
jika engkau tlah mampu membaca hati,
inginku sekedar engkau setia menemani,
menuai makna hidup bersama,
baik ketika runtuhnya air mata maupun di saat senyuman kebahagiaan menghampiri ...
itu saja
karena cinta tak berwujud
maka mewujudkannya bagai menahan sinar mentari menyapa bumi
karena cinta tak berwujud
maka mewujudkannya bagai menggapai cakrawala yang tak bertepi
karena cinta tak berwujud
maka mewujudkannya bagai merindukan bintang datang di siang hari
karena cinta tak berwujud
maka mewujudkannya bagai memeluk nafas yang tak terhenti
karena cinta tak berwujud
maka mewujudkannya bagai mencari jawaban mengapa hati tak menampakkan diri?
karena cinta tak berwujud
maka mewujudkannya bagai menuai lelah dalam mengejar bayangan
karena cinta tak berwujud
maka mewujudkannya bagai menghadirkan cinta dalam cinta
karena cinta tak berwujud
maka mewujudkannya adalah sekedar menyapa semesta kebaikan dalam cinta
dan karena cinta tak berwujud
maka mewujudkannya adalah membuka jendela hati tuk merasakan kehadiran Sang Pemilik Cinta ....
Tuhan Semesta Alam Yang Maha Wujud ...
tentang ruang rindu dan lima kurva
di atas roda dalam genggaman malam
benakku bergulir ramah menyapa lima kurva
warna dan bentuk lekukannya berujar tentang kerinduan menepiskan sepi
dan titik-titik yang melukiskannya mengisyaratkan banyak makna
sesaat aku terhanyut dengan rona wajah pada sisi kota
semu merahnya bagai keluguan bidadari menjemput secuil rasa,
yang tak mampu mengimbangi kilauan biru langitnya gejolak hidup
hingga warna-warni lukisan kurva itu menepi pada satu titik
... dan lagi ...
titik itu bukanlah singularitas
titik itu bukan pula ledakan dahsyat
titik itu sekedar isyarat makna tanpa kekuatan berbagi dalam keikhlasan
lalu aku terhenti pada sudut kota itu
aku kembali mencoba menghitung hembusan nafas pada lima kurva itu
ketika lingkaran khilaf tak tertembus cahaya
maka menggulirkan butiran air mata terasa menjadi penyejuk hati,
dan tertunduk sunyi kembali menjadi teman sepi ..






