Showing posts with label Bisnis. Show all posts
Showing posts with label Bisnis. Show all posts
Saat ini Indonesia sudah punya media sosial sendiri bernama PAZIIM. Mendaftar dan aktif di Media Sosial PAZIIM adalah sama saja dengan mendukung upaya kemandirian bangsa sehingga kita tidak terus menerus bergantung pada media sosial milik asing.
Banyak fitur-fitur di PAZIIM yang tidak dimiliki oleh media sosial yang kita kenal selama ini, seperti misalnya di PAZIIM memungkinkan kita untuk bisa posting file, audio dan product. Fitur ini sangat cocok bagi rekan-rekan yang terbiasa berjualan online di medsos.
Buat rekan-rekan yang ingin membuat akun di Medsos PAZIIM, berikut langkah-langkahnya:
1. Buka Browser menggunakan PC atau HP.
2. Ketikkan www.paziim.com di Address bar.
3. Pilih Sign Up yang ada pada sudut kanan atas layar.
4. Entry form pendaftaran yang disediakan:
- Username (tak boleh ada spasi), contoh: atikahcantik
- Alamat email yang digunakan, contoh: atikah@gmail.com
- Password yang unik, contoh: atikaH-186
- Jenis kelamin (male atau female)
5. Klik Let's Go.
Akan muncul keterangan registrasi sudah berhasil dan konfirmasi aktivasi PAZIIM melalui email.
6. Buka email dan pilih tombol konfirmasi aktivasi yang berwarna merah. (jika email masuk ke folder spam atau junk, pindahkan terlebih dahulu ke folder inbox atau primary).
7. Anda akan secara otomatis masuk ke medsos PAZIIM atau lakukan Login melalui browser.
Proses bisnis, baik secara manual maupun komputerisasi, perlu dilakukan audit. Audit diperlukan untuk memastikan semua data yang digunakan adalah benar. Data yang benar akan membuat proses bisnis berjalan dengan benar pula.
Dulu audit dikerjakan dengan menggunakan informasi statis dalam periode waktu tertentu. Pada saat ini data begitu dinamis karena hampir semua data sudah merupakan hasil digitalisasi. Audit secara manual akan banyak memakan effort, inefisiensi, dan memungkinkan terjadinya banyak kesalahan.
Solusinya adalah melakukan audit dengan aplikasi. Software IDEA adalah jawabannya. Aplikasi ini sudah banyak dipakai di banyak negara di seluruh dunia.
IDEA adalah aplikasi desktop yang mudah digunakan untuk melakukan analisa audit. IDEA ini memberi kekuatan bagi auditor/ analis secara langsung tanpa perantara, karena hasil IDEA sangat independen dalam memberikan laporan.
IDEA sudah dikembangkan sejak 20 tahun lalu. IDEA merupakan sebuah konsep baru karena dapat menggunakan komputer PC, padahal biasanya untuk melakukan pengujian audit hanya bisa dilakukan oleh aplikasi yang dijalankan di komputer server mainframe.
Awalnya IDEA berjalan di sistem operasi DOS, kemudian dikembangkan untuk dapat dioperasikan di Windows 16 bit dan 32 bit.
Semula IDEA dikembangkan dan dipasarkan oleh CICA (Canadian Institute of Chartered Accountants), namun pada tahun 2000 diambil alih oleh CaseWare yang memiliki banyak resource untuk mengembangkannya.
Sistem Manajemen Audit IDEA dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan yang terkait dengan audit, di antaranya:
- Untuk investigasi penipuan/penggelapan, misalnya dalam aktitifas pembelian/ pengadaan material, penggajian, money laundering, dan lain-lain.
- Dalam bidang keuangan dan analisa lainnya
- Dalam bidang keamanan (jaringan, telepon, firewall logs)
- Dalam bidang audit operasional (penyimpangan terhadap peraturan/ kebijakan perusahaan, value for money)
- Dalam bidang audit sistem (keabsahan data, kelemahan sistem)
Beberapa keunggulan yang dimiliki IDEA adalah:
- IDEA melindungi sumber data dengan hanya membolehkan akses read-only pada data klien, sehingga menghindari perubahan data yang tidak diinginkan dan menjaga integritas data.
- IDEA dapat mengeskpor dan mengimpor data dalam berbagai format, termasuk data asli dari komputer mainframe yang besar dan software akuntansi yang sudah ada.
- IDEA memudahkan pengaturan file dan hasil analisanya serta menunjukkan sumber dari hasil audit.
- IDEA dapat membaca dan memproses jutaan data dalam waktu cepat (hitungan detik). Tidak ada batasan jumlah data yang bisa diproses.
Pendahuluan
Semua proyek pengembangan software profesional, menghasilkan sejumlah dokumentasi yang tidak kecil. Oleh karena itu, manajer dan software engineer harus memperhatikan permasalahan dokumentasi dan biaya-biaya yang timbul karenanya, disamping pengembangan software itu sendiri.Dokumen-dokumen yang berkaitan dengan proyek software dan sistem yang dikembangkan memiliki beberapa persyaratan:
1. Harus bisa menjadi media komunikasi antara anggota-anggota tim pengembang
2. Harus bisa menjadi gudang informasi tentang sistem yang dapat dipergunakan untuk kepentingan maintenance.
3. Harus bisa menyediakan informasi bagi manajemen yang dapat membantu dalam membuat perencanaan, pembiayaan dan penjadwalan dalam proses pengembangan software
4. Harus bisa memberitahu user bagaimana cara menggunakan dan mengoperasikan sistem tersebut.
Software engineer yang biasanya bertanggungjawab atas pembuatan hampir semua jenis dokumentasi yang ada pada pengembangan software walaupun kadang dibantu oleh penulis teknis profesional untuk memoles dokumen sebelum dirilis.
Di sini akan dijelaskan beberapa tipe dokumen yang mungkin ada dalam proyek pembuatan/pengembangan software, lalu pentingnya kualitas dari dokumen yang dihasilkan dan struktur, standar serta gaya penulisan yang tepat untuk suatu dokumen.
Dokumentasi Proses dan Dokumentasi Produk
Pada proyek software yang besar, beberapa dokumen biasanya telah dihasilkan bahkan sebelum proses pengembangan/pembuatan dimulai. Seperti adanya proposal untuk pembuatan sistem/software tertentu sebagai jawaban dari permintaan klien ataupun strategi bisnis. Berikutnya adalah dokumen requirement yang komprehensif yang mendefinisikan fitur-fitur yang dibutuhkan atau perilaku sistem yang diharapkan dari suatu sistem.
Selama proses pengembangan sendiri, ada banyak jenis dokumen yang dapat dihasilkan, rencana proyek, spesifikasi desain, rencana pengetesan, dan lain-lain. Beberapa dokumen yang diproduksi dalam proyek dapat dikategorikan dalam 2 kelas yang berbeda:
1. Dokumentasi proses; Dokumen-dokumen ini merekam proses pengembangan dan maintenance. Rencana-rencana, jadwal-jadwal, dokumen kualitas proses, standar organisasi dan standar proses merupakan dokumentasi proses.
2. Dokumentasi produk; Dokumentasi ini menggambarkan produk yang sedang dikembangkan. Dokumentasi sistem menjelaskan produk dari sudut pandang teknis dalam mengembangkan dan memelihara sistem. Dokumentasi user menyediakan penjelasan produk yang berorientasi pada user.
Dokumentasi proses dibuat agar pengembangan suatu sistem/software dapat di manajemen dengan baik. Dokumentasi produk digunakan setelah sistem/software selesai atau operasional tetapi juga dapat berguna bagi manajemen proses pengembangan sistem, dalam kasus perbaikan atau revisi suatu sistem/software.
1. Dokumentasi Proses
Agar manajemen dapat efektif, dibutuhkan suatu kejelasan pada proses-proses yang akan dikelola. Karena software merupakan suatu hal yang non fisik dan proses pembuatan software juga merupakan tugas-tugas pemikiran yang tidak terlihat fisik, salah satu cara agar membuat jadi jelas adalah dengan menggunakan dokumentasi.
Ada beberapa kategori dokumentasi proses:
1. Perencanaan, perkiraan dan penjadwalan. Merupakan dokumen yang dibuat oleh manajer yang digunakan untuk memprediksi dan mengontrol proses software.
2. Laporan / Reports . Merupakan dokumen yang mencatat bagaimana sumber dayasumber daya digunakan selama proses pengembangan.
3. Standar. Dokumen – dokumen ini menentukan bagaimana seharusnya suatu proses diimplementasikan. Ada berbagai macam standar mulai dalam lingkup organisasi, nasional bahkan internasional.
4. Lembar kerja/ working paper. Sering kali merupakan dokumen komunikasi teknis utama dalam suatu proyek. Mereka merekam ide-ide dan pikiran-pikiran para engineer yang bekerja dalam proyek, yang merupakan dokumentasi produk versi sementara yang menjelaskan strategi pengimplementasian dan penentuan masalah yang telah diidentifikasi. Seringkali dokumen ini mencatat alasan-alasan pemilihan suatu keputusan dalam desain.
5. Memo dan surat/pesan elektronik. Dokumen yang merekam rincian komunikasi sehari-hari antara manajer dan development engineer.
Karakteristik utama dari dokumentasi proses adalah hampir semuanya akan menjadi kadaluarsa. Banyak informasi yang akan menjadi tidak berguna apabila telah terlewati dan normalnya tidak ada kepentingan untuk tetap menyimpannya setelah sistem/software telah jadi, seperti jadwal / perencanaan pembuatan. Bagaimanapun juga tetap ada beberapa dokumentasi proses yang berguna apabila ada perubahan software yang diinginkan, seperti hasil testing dan lembar kerja yang mencatat alasan-alasan kenapa suatu desain dipilih dalam pembuatan suatu sistem.
2. Dokumentasi Produk
Dokumentasi produk berkenaan dengan gambaran suatu produk software/sistem yang telah jadi. Tidak seperti dokumentasi proses, dokumentasi produk biasanya berguna untuk waktu yang lebih lama, selama produk tersebut masih digunakan. Dokumentasi produk melingkupi user documentation yang memberitahu pengguna bagaimana cara mengoperasikan produk software, dan system documentation yang utamanya diperuntukkan bagi teknisi maintenance.
Pengguna dari suatu software/sistem tidaklah dapat disamaratakan. Merupakan suatu hal yang penting untuk membedakan antara end-user dengan system administrator.
1. End-user menggunakan software sebagai alat bantu untuk mengerjakan suatu tugas, menulis sebuah buku, mengelola keuangan, bahkan menerbangkan pesawat. Mereka ingin tahu seberapa software dapat memudahkan pekerjaan mereka tetapi tidak ingin tahu detail teknis tentang software tersebut.
2. System administrator bertanggung jawab mengelola dan memelihara software yang digunakan oleh end-user. Dapat berupa operator, network manager, hingga master teknis yang memecahkan segala permasalahan end-user berkaitan dengan software, atau juga penghubung antara user dengan software developer.
![]() |
| Gambar 1. Tipe-tipe User Documentation |
1. Functional description of software/system
- Secara singkat menggambarkan kebutuhan sistem untuk menjalankan program
- Servis-servis yang dimiliki (fitur2) aplikasi
- Gambaran umum dr aplikasi (abstraksi)
- User dapat menentukan apakah aplikasi benar-benar dibutuhkan hanya dengan membaca functional description dan introductory manual.
2. The system installation document
- Diperuntukan bagi system administrator.
- Menyediakan informasi mendetail bagaimana cara menginstall system di lingkungan system yang spesifik.
- Mencantumkan gambaran file-file apa yang membentuk suatu sistem/aplikasi.
- Persyaratan minimum dari hardware yang dibutuhkan.
- File-file(aplikasi) yang harus ada sebelum sistem diinstall
- Cara memulai system/aplikasi
- Cara mengkonfigurasi aplikasi agar berjalan dengan system yang telah ada
- Adanya installer otomatis untuk aplikasi-aplikasi sekarang membuat para pembuat S/W memandang tidak perlu adanya dokumen ini, padahal pada kenyataannya dokumen instalasi ini masih dibutuhkan agar para System manager dapat menemukan dan memecahkan sumber masalah jika ada problem pada waktu instalasi.
3. The introductory manual
- Menyediakan pengenalan tentang system/aplikasi yang menggambarkan fungsi/penggunaan umum dari system/aplikasi tersebut.
- Menjelaskan cara memulai menggunakan program
- Menjelaskan bagaimana para user dapat menggunakan fungsi-fungsi umum yang dimiliki aplikasi disertai ilustrasi dan contoh bebas.
- Mencantumkan kesalahan-kesalahan yang umum/sering dilakukan oleh user dan cara menyelesaikannya.
4. The system reference manual
- Menjelaskan semua kegunaan dan fungsi yang dimiliki system/aplikasi
- Mencantumkan semua pesan kesalahan yang dimiliki sistem dan cara mengatasinya secara lengkap dan detail
- Penggunaan bahasa resmi dan teknik bisa digunakan
- Mencantumkan secara lengkap fitur dan cara operasional dari system/aplikasi
5. System administrator guide
- Installation + system reference manual.
System Documentation mencakup semua gambaran sistem itu sendiri mulai dari spesifikasi kebutuhan hingga hasil pengetesan yang dapat diterima (final acceptance test plan). Dokumen-dokumen yang menggambarkan bagaimana desain, implementasi dan pengetesan suatu sistem merupakan dokumen penting untuk bisa memahami dan memaintain software tersebut.
Untuk suatu sistem besar yang dikembangkan dalam rangka memenuhi spesifikasi kebutuhan dari pelanggan, sistem documentation harus mencakup:
1. Dokumen yang mencatat kebutuhan pelanggan dan alasan-alasannya.
2. Dokumen yang menggambarkan arsitektur dari sistem
3. Untuk setiap program yang ada pada sistem, gambaran arsitektur dari program tersebut.
4. Untuk setiap komponen sistem, gambaran dari fungsionalitas/kegunaan dan interfaceinterfacenya.
5. Listing kode program. Harus disertai komentar-komentar yang dapat menjelaskan bagian-bagian program yang kompleks beserta alasan penggunaan metode pengkodean tersebut. Apabila penamaan yang baik dan struktur pemrograman yang baik telah digunakan, listing kode tersebut akan lebih mudah dipahami tanpa memerlukan komentar tambahan.
6. Dokumen validasi. Menjelaskan bagaimana setiap program divalidasi dan kaitannya dengan spesifikasi kebutuhan yang diinginkan oleh pelanggan.
7. Panduan sistem maintenance, yang menjelaskan permasalahan-permasalahan yang telah diketahui dapat terjadi pada sistem.
![]() |
| Gambar 2. Klasifikasi dokumentasi software / system |
Kualitas Dokumen
Banyak sekali dokumentasi sistem komputer ditulis dengan kualitas yang rendah, yaitu sulit dimengerti, out of date dan tidak lengkap. Kualitas dokumen merupakan hal yang sama pentingnya dengan kualitas software. Tanpa adanya informasi bagaimana suatu software dapat digunakan atau dipahami, kegunaan suatu software akan menurun. Untuk mendapatkan dokumentasi yang berkualitas dibutuhkan komitmen pada desain dokumen, standar dan proses penjaminan kualitas. Membuat dokumen yang baik tidak mudah dan murah, serta banyak software engineer yang kesulitan untuk membuat dokumentasi yang berkualitas.
1. Struktur Dokumen
Struktur dokumen adalah suatu cara di mana materi dalam dokumen diorganisasikan dalam bab-bab, sub bab – sub bab, dan sub sub bab – sub sub bab. Struktur dokumen memiliki dampak yang besar dalam daya guna dokumen dan sangat penting untuk didesain terlebih dahulu dalam pembuatan suatu dokumen. Sama seperti sistem software, kita harus mendesain struktur dokumen sedemikian rupa sehingga bagian-bagian yang berbeda benar –benar independent. Sehingga setiap bagian dapat dibaca sebagai item tunggal secara terpisah.
Struktur dokumen yang baik dan benar juga dapat memudahkan pembaca untuk mencari informasi yang benar-benar diperlukan. Berdasarkan standar IEEE untuk user documentation, struktur dokumentasi sebaiknya memiliki komponen-komponen antara lain:
a. Identifikasi data; data seperti judul dan identifier dapat mengidentifikasikan dokumen secara unik.
b. Daftar isi; berisi nama bab/sub bab dan nomor halaman.
c. Daftar Ilustrasi; berisi nomor ilustrasi dan nomor halamannya.
d. Introduction/pengantar; menjelaskan tujuan dari dokumen dan ringkasan singkat tentang isi dari dokumen.
e. Informasi penggunaan dokumen; saran bagi berbagai macam pembaca tentang bagaimana menggunakan dokumen secara efektif.
f. Konsep operasi; penjelasan latarbelakang konseptual untuk menggunakan software.
g. Prosedur; petunjuk penggunaan software.
h. Informasi perintah dalam software; penjelasan tiap perintah yang ada pada software.
i. Pesan kesalahan dan pemecahannya; penjelasan bagaimana suatu error/kesalahan yang dapat terjadi pada program ditampilkan dan bagaimana cara mengatasinya.
j. Glossary; definisi dari penggunaan istilah khusus.
k. Sumber informasi terkait; referensi ke dokumen lain yang dapat menyediakan informasi tambahan
l. Fitur navigasi; fitur yang dapat digunakan pembaca lokasi yang sedang dibaca dan bagaimana berpindah ke bagian lain dari dokumen.
m. Index; daftar kata-kata kunci dan halaman dimana kata tersebut dipakai.
n. Kemampuan pencarian; pada dokumen elektronik /digital , suatu cara mencari kata yang digunakan dalam dokumen.
Dari berbagai macam metode strukturisasi dokumen, ada pedoman minimal dalam struktur dokumen yang sebaiknya diikuti:
1. Semua dokumen, tidak peduli seberapa pun banyaknya, harus memiliki halaman kover yang mengidentifikasikan proyek, nama dan jenis dokumen, pengarang, tanggal pembuatan dokumen, informasi penjaminan kualitas, peruntukan dokumen dan tingkat kerahasiaan dokumen.
2. Dokumen yang lebih dari beberapa halaman, harus dibagi menjadi bab-bab dan sub bab. Memiliki daftar isi, menggunakan penomoran bab dan sub bab yang konsisten. Setiap bab memiliki penomoran halaman terpisah, sehingga memudahkan apabila ada perubahan di salah satu bab saja, tidak perlu melakukan perubahan nomor halaman di keseluruhan dokumen.
3. Apabila dokumen memiliki banyak penjelasan detil, informasi referensi harus diberi index.
4. Apabila dokumen diperuntukkan pembaca yang memungkinkan pengetahuannya berbeda, glossary perlu ditambahkan untuk menjelaskan istilah-istilah teknis dan akronim yang digunakan di dokumen.
Struktur dokumen sering kali ditentukan di awal dan dimasukkan dalam standar dokumentasi. Hal ini memudahkan dalam konsistensi pembuatan dokumen dalam suatu proyek.
![]() |
| Gambar 3. Contoh halaman kover dokumen |
2. Standar Dokumen
Standar dokumen merupakan dasar untuk melakukan penjaminan kualitas suatu dokumen. Dokumen yang dibuat berdasarkan standar yang benar akan memiliki tampilan, struktur dan kualitas yang konsisten. Standar yang digunakan pada proses dokumentasi adalah:
1. Standar proses. Mendefinisikan proses yang harus diikuti untuk menghasilkan dokumen yang berkualitas tinggi.
2. Standar produk. Standar yang mengatur dokumen itu sendiri.
3. Standar pertukaran / interchange standards. Merupakan hal yang penting untuk dapat bertukar dokumen melalui email dan menyimpannya dalam suatu database. Standar pertukaran menjaga agar setiap dokumen dapat kompatibel.
a. Standar Proses
Standar proses mengatur pendekatan / metode yang harus dilakukan dalam membuat suatu dokumen. Secara umum hal ini biasanya dengan menentukan software yang digunakan dalam menulis suatu dokumen dan prosedur penjaminan kualitas yang dapat dilakukan untuk mengukur kualitas dokumen yang dihasilkan.
Standar penjaminan kualitas dokumen harus fleksibel dan dapat mencakup semua tipe dokumen yang ada dalam proyek. Dalam beberapa kasus memang tidak perlu diterapkan standar penjaminan kualitas dokumen, seperti pada dokumen lembar kerja atau memo.
b. Standar Produk
Produk standar berlaku untuk semua dokumen yang diproduksi oleh pengembang software. Dokumen harus memiliki tampilan yang konsisten, dan setiap jenis/kategori dokumen harus memiliki struktur yang konsisten.
Beberapa standar yang seharusnya diperhatikan :
1. Document Identification standard
Proyek-proyek besar biasanya memproduksi sampai ribuan dokumen. Setiap dokumen harus memiliki identifikasi yang unik yang mengikuti aturan yang ditetapkan organisasi.
2. Document structure standard
Setiap kategori dokumen yang dihasilkan suatu organisasi harus memiliki struktur yang tetap/konsisten yang telah ditetapkan. Termasuk didalam struktur dokumen adalah penggunaan format penomoran halaman, header dan footer, penomoran bab dan sub-bab dan lain-lain.
3. Document presentation standards
Mengatur style tampilan dari dokumen, termasuk di dalamnya jenis huruf yang digunakan, cover, pewarnaan, penggunaan logo dan nama perusahaan dan lain-lain.
4. Document update standards
Dokumen dapat berubah dalam perkembangannya, cara yang konsisten dalam suatu update harus diatur dalam suatu proses dokumentasi. Perubahan harus teridentifikasi dan tercatat, penggunaan versi harus ada untuk mengetahui sejarah perubahan.
c. Interchange Standar
Standar pertukaran dokumen semakin penting seiring dengan semakin banyaknya dokumentasi yang dibuat dalam format elektronik / digital selain dengan media cetak atau kertas.
Pembuatan dokumen elektronik menggunakan Adobe Portable Document Format (PDF) semakin umum digunakan. Bagaimanapun juga, pertukaran dokumen antar anggota tim pengembang dalam satu organisasi/perusahaan sering kali menggunakan format word processor umum (Microsoft Word atau Open Office Word).
Dengan asumsi penggunaan standar dari word processor atau graphic editor telah ditentukan pada standar proses, yang ditentukan dalam standar pertukaran adalah konvensi/kaidah-kaidah yang harus digunakan dalam penulisan dokumen menggunakan word processor atau graphic editor tersebut. Seperti logo/simbol tertentu untuk menyatakan suatu hal, pembatasan font, penggunaan style tertentu dalam word processor, dan penggunaan macro standar.
3. Gaya Penulisan
Secara umum, untuk menghasilkan dokumentasi yang berkualitas, beberapa pedoman dalam gaya penulisan dokumen yang dapat diikuti adalah sebagai berikut :
1. Penggunaan kalimat aktif
2. Penggunaan tata bahasa dan ejaan yang tepat
3. Kurangi kalimat-kalimat yang panjang
4. Kurangi paragraf yang panjang
5. Tidak bertele-tele
6. Gunakan dan definisikan istilah secara tepat
7. Ulangi penjelasan untuk hal yang rumit dengan bahasan yang berbeda
8. Gunakan judul bab dan sub bab
9. Menggunakan bullets/items dibanding penjelasan dengan kalimat
10. Tidak mereferensikan informasi hanya dengan nomer referensi saja
4. Dokumentasi Online
Saat ini sudah banyak ditemui pemberian dokumentasi online bersama-sama dengan pelepasan suatu produk sistem/software. Dokumentasi online tersebut bisa dalam bentuk file ‘read me’ yang berisi informasi terbatas dan sederhana, sampai dalam bentuk dokumentasi interaktif berbasis hypertext yang menginformasikan secara lengkap segala sesuatu tentang software yang bersangkutan. Yang paling umum dijumpai tentang dokumentasi online suatu software adalah dalam bentuk sistem bantuan berbasis hypertext.
Keuntungan utama penggunaan dokumentasi online tentunya adalah dari sisi aksesibilitas/kemudahan akses informasi. User tidak perlu lagi mencari-cari dokumen yang tepat untuk mencari informasi, menghilangkan kemungkinan mengambil dokumen yang tidak up-to-date, dan kalau ada fasilitas pencarian bisa digunakan untuk menemukan informasi yang tepat dalam waktu yang cepat. Bagaimanapun ada beberapa kerugian pada sistem dokumentasi hypertext sehingga seharusnya mereka tidak sepenuhnya mengganti dokumen cetak, tetapi cukup sebagai pelengkap dokumen cetak. Antara lain karena pada sistem dokumentasi hypertext:
- Tidak memiliki kemudahan pembacaan, sehingga pembaca tidak gampang membaca sepintas keseluruhan isi dokumen untuk mencari informasi yang dicari. Karena pembaca sering kali mempunyai kesulitan untuk mengkategorikan/mengkarakterisasi informasi yang mereka inginkan dari suatu dokumentasi, walaupun pada saat menemukannya /membacanya mereka tahu bahwa informasi itulah yang mereka cari. Pembacaan sepintas terhadap keseluruhan dokumentasi adalah mekanisme kunci untuk solusi pembaca yang seperti ini, bahkan seringkali secara kebetulan pembaca juga menemukan fasilitas lain dari software yang juga dapat mereka gunakan dengan cara pembacaan sepintas tapi menyeluruh seperti ini.
- Menggunakan layar monitor/lcd, yang memiliki resolusi yang lebih rendah bila dibandingkan dengan dokumentasi cetak/fisik. Pembaca juga seringkali merasakan kesulitan dan cepat lelah bila membaca secara online.
- Pembaca sering kali ‘tersesat’ dalam sistem dokumentasi berbasis hypertext, tanpa ada navigasi sistem yang jelas.
Oleh karena itu pada saat kita mendesain suatu dokumentasi online, harus memperhatikan permasalahan-permasalahan tersebut di atas. Walaupun dokumentasi cetak dan online sama-sama harus memperhatikan penulisan, desain yang untuk dokumentasi cetak dan online harus berbeda. Karena perbedaan karakteristik yang dibutuhkan untuk dokumentasi cetak dan online, konversi sederhana dari dokumen yang dibuat dalam word processor ke dalam bentuk HTML jarang sekali langsung menghasilkan dokumentasi online berkualitas tinggi.
Persiapan Dokumen
Persiapan Dokumen adalah suatu proses pembuatan dokumen dan proses pemformatan dokumen tersebut untuk publikasi. Pada gambar 4 dapat dilihat proses persiapan dokumen yang dibagi menjadi 3 tahap: pembuatan dokumen (document creation), penyempurnaan (polishing), dan produksi (production).
![]() |
| Gambar 4. Proses Persiapan Dokumen |
Software word processing yang modern saat ini sudah banyak yang menyediakan perangkat lengkap untuk menyelesaikan keseluruhan proses tersebut. Tetapi untuk menghasilkan kualitas tertinggi dari suatu dokumen, sebaiknya kita tidak hanya menggunakan satu software saja untuk menyelesaikan keseluruhan tahap dalam proses persiapan dokumen.
Tahap-tahap proses persiapan dokumen dibagi menjadi 3, yaitu:
1. Document creation.
Merupakan masukan informasi awal pada dokumen. Bisa dilakukan dengan menggunakan word processor, table and equation processor, drawing and art packages.
2. Document polishing.
Proses yang melakukan perbaikan dalam penulisan dan penampilan suatu dokumen agar menjadi lebih mudah dimengerti dan dibaca. Melibatkan proses perbaikan kesalahan tulis dan tata bahasa, pencarian frase-frase yang janggal, dan penghapusan perulangan teks yang tidak perlu. Bisa dilakukan dengan software online dictionaries, spelling checker, grammar and style checker.
3. Document production
Merupakan proses yang mempersiapkan dokumen untuk siap dicetak secara profesional.
Penulis: Arief Prasetyo
Ramadhan telah tiba. Yang sulit bangun ketika sahur dapat menggunakan alarm untuk membantu membangunkan. Buat rekan-rekan yang ingin merubah ringtone alarm pada Windows 10, bisa menyimak langkah-langkahnya seperti pada video berikut:
Pastikan tipe file yang digunakan untuk ring tone alarm berekstensi *.wav. Semoga bermanfaat.
Pastikan tipe file yang digunakan untuk ring tone alarm berekstensi *.wav. Semoga bermanfaat.
Apakah yang di maksud dengan Service Management?
Service atau layanan merupakan sarana penyampaian nilai kepada pelanggan dengan memfasilitasi hasil yang ingin pelanggan untuk mencapai tanpa kepemilikan biaya dan risiko spesifik.sementara itu,Manajemen adalah seni menyelesaikan pekerjaan dengan cara mengatur, membimbing, mengarahkan orang lain untuk mencapai suatu tujuan organisasi.Service Manajemen adalah seperangkat kemampuan organisasi khusus untuk memberikan nilai kepada pelanggan dalam bentuk layanan. fungsi dan peran yang menggunakan penyedia layanan dalam memberikan layanan kepada pelanggan mereka, serta kemampuan untuk membangun struktur organisasi yang cocok, mengelola pengetahuan, dan memahami bagaimana memfasilitasi hasil yang menciptakan nilai. Service Management (Layanan Manajemen) dapat dikatakan sebagai suatu profesi yang memerlukan ketrampilan dan kedisiplinan yang cukup tinggi.
Selain itu, profesi berusaha untuk menggunakan pengaruhnya melalui pengembangan pedoman praktek yang baik dan saran untuk meningkatkan standar kinerja di bidangnya diberikan.Service Manajemen memiliki hak yang jelas untuk menganggap dirinya sebagai sebuah profesi karena didukung oleh komunitas global ditarik dari semua sektor pasar. Ada tubuh yang kaya pengetahuan dan pengalaman termasuk skema formal untuk pendidikan individu.
ITIL Framework
ITIL atau Information Technology Infrastructure Library (Bahasa Inggris, diterjemahkan Pustaka Infrastruktur Teknologi Informasi), adalah suatu rangkaian konsep dan teknik pengelolaan infrastruktur, pengembangan, serta operasi teknologi informasi (TI). ITIL diterbitkan dalam suatu rangkaian buku yang masing-masing membahas suatu topik pengelolaan TI. Nama ITIL dan IT Infrastructure Library merupakan merek dagang terdaftar dari Office of Government Commerce (OGC) Britania Raya. ITIL memberikan deskripsi detail tentang beberapa praktik TI penting dengan daftar cek, tugas, serta prosedur yang menyeluruh yang dapat disesuaikan dengan segala jenis organisasi TI.ITIL memberikan panduan tentang bagaimana aspek yang berbeda dari solusi dapat dikembangkan.Organisasi Internasional untuk Standardisasi (ISO) dan Kantor Kabinet, dengan kerjasama dari kelompok pengguna independen ITSMF (IT Service Management Forum), mereka telah berkomitmen untuk menjaga standar dan kerangka kerja agar lebih selaras.Namun, pada dasarnya tetap saja terdapat tujuan yang berbeda sehingga tidak mungkin standar dan kerangka kerja akan benar benar selarsas.ITIL memiliki komponen-komponen berikut:
- ITIL Core: Publikasi menggambarkan praktek terbaik generik yang berlaku untuk semua jenis organisasi yang memberikan layanan kepada bisnis.
- ITIL Pelengkap Bimbingan: Satu set publikasi dengan bimbingan khusus untuk sektor industri, jenis organisasi, model operasi dan arsitektur teknologi.
- Service Support: yaitu aktifitas yang dilaksanakanminimal setiap hari
- Service Delivery: kegiatan yang dilakukan miminal dalam jangka waktu yang lebih lama setahun atau sebulan
Tujuan ITIL
Kelima hal berikut merupakan petunjuk dalan manajemen layanan teknologi informasi1. Service Strategy
Perencanaan untuk membangun kemampuan service management dan penyelarasan layanan dan strategi bisnis. berikut merupakan proses-proses yang dicakup dalam Service Strategy adalah:
- Service Portfolio Management
- Financial Management
- Demand Management
2. Service Design
Tahap ini berisi prinsip dan metode desain untuk mengkonversi tujuan strategis s organisasi TI umumnya dapat menjadi portofolio/koleksi layanan TI serta aset-aset layanan, seperti server, storage dan sebagainya.Ruang lingkup Service Design tidak hanya merancang dan mengembangkan layanan TI yang sesuai, termasuk arsitektur, proses, kebijakan dan dokumen, namun juga proses-proses perubahan maupun peningkatan kualitas layanan, kontinyuitas layanan maupun kinerja dari layanan.
Proses-proses yang dicakup dalam Service Design yaitu:
- Service Catalog Management
- Service Level Management
- Supplier Management
- Capacity Management
- Availability Management
- IT Service Continuity Management
- Information Security Management
3. Service Transition
Mengembangkan kemampuan dalam transisi layanan baru dan layanan modifikasi desain untuk dijadikan produksi.Proses-proses yang dicakup dalam Service Transition yaitu:
- Transition Planning and Support
- Change Management
- Service Asset & Configuration Management
- Release & Deployment Management
- Service Validation
- Evaluation
- Knowledge Management
4. Service Operation
Tahap pencapaian untuk mendukung efektivitas dan efisiensi dalam memberikan layanan agar dapat memastikan adanya nilai bagi pelanggan dan penyedia layanan.
5. Continual Service Improvement
Fase menciptakan dan memelihara nilai bagi pelanggan dengan perbaikan desain, dan pengenalan layanan dan operasi.
Service Management sebagai Aset Strategis
Penggunaan ITIL dapat merubah Service Management menjadi aset strategis, dengan memberikan Service Management menjadi dasar bagi kompetensi inti, kinerja khusus dan keuntungan tahan lama, serta meningkatkan potensi penyedia layanan dari:- Kapabilitas: kemampuan penyedia layanan untuk mengkoordinasikan, mengendalikan dan menyebarkan sumber daya.
- Sumber daya: pemasukan langsung untuk memproduksi layanan, misalnya keuangan, modal, infrastruktur, aplikasi, informasi dan orang‐orang
Sumber:
IT ServIce ManageMenT A Guide for ITIL® Foundation Exam Candidates Second Edition Ernest Brewster, Richard Griffiths, Aidan Lawes and John Sansbury
https://artxmarket.wordpress.com/2010/03/24/information-technology-infrastructure-library-itil/
https://id.wikipedia.org/wiki/ITIL
http://hornhoward.blogspot.co.id/?zx=6f4b6e3d48b972cf
Control Objective for Information & Related Technology (COBIT) adalah sekumpulan dokumentasi best practice untuk IT Governance yang dapat membantu auditor, pengguna (user), dan manajemen, untuk menjembatani gap antara resiko bisnis, kebutuhan kontrol dan masalah-masalah teknis IT (Sasongko, 2009).
COBIT mendukung tata kelola TI dengan menyediakan kerangka kerja untuk mengatur keselarasan TI dengan bisnis. Selain itu, kerangka kerja juga memastikan bahwa TI memungkinkan bisnis, memaksimalkan keuntungan, resiko TI dikelola secara tepat, dan sumber daya TI digunakan secara bertanggung jawab (Tanuwijaya dan Sarno, 2010).
COBIT merupakan standar yang dinilai paling lengkap dan menyeluruh sebagai framework IT audit karena dikembangkan secara berkelanjutan oleh lembaga swadaya profesional auditor yang tersebar di hampir seluruh negara. Dimana di setiap negara dibangun chapter yang dapat mengelola para profesional tersebut.
1. KERANGKA KERJA COBIT
Kerangka kerja COBIT terdiri atas beberapa arahan/pedoman, yakni:
Control Objectives
Terdiri atas 4 tujuan pengendalian tingkat-tinggi (high-level control objectives) yang terbagi dalam 4 domain, yaitu : Planning & Organization , Acquisition & Implementation , Delivery & Support , dan Monitoring & Evaluation.
Audit Guidelines
Berisi sebanyak 318 tujuan-tujuan pengendalian yang bersifat rinci (detailed control objectives) untuk membantu para auditor dalam memberikan management assurance dan/atau saran perbaikan.
Management Guidelines
Berisi arahan, baik secara umum maupun spesifik, mengenai apa saja yang mesti dilakukan, terutama agar dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut :
- Sejauh mana TI harus bergerak atau digunakan, dan apakah biaya TI yang dikeluarkan sesuai dengan manfaat yang dihasilkannya.
- Apa saja indikator untuk suatu kinerja yang bagus.
- Apa saja faktor atau kondisi yang harus diciptakan agar dapat mencapai sukses ( critical success factors ).
- Apa saja risiko-risiko yang timbul, apabila kita tidak mencapai sasaran yang ditentukan.
- Bagaimana dengan perusahaan lainnya, apa yang mereka lakukan.
- Bagaimana mengukur keberhasilan dan bagaimana pula membandingkannya.
2. MANFAAT dan PENGGUNA COBIT
Secara manajerial target pengguna COBIT dan manfaatnya adalah :
Direktur dan Eksekutif
Untuk memastikan manajemen mengikuti dan mengimplementasikan strategi searah dan sejalan dengan TI.
Manajemen
- Untuk mengambil keputusan investasi TI.
- Untuk keseimbangan resiko dan kontrol investasi.
- Untuk benchmark lingkungan TI sekarang dan masa depan.
Pengguna
Untuk memperoleh jaminan keamanan dan control produk dan jasa yang dibutuhkan secara internal maupun eksternal.
Auditors
- Untuk memperkuat opini untuk manajemen dalam control internal.
- Untuk memberikan saran pada control minimum yang diperlukan.
2. FRAME WORK COBIT
COBIT dikeluarkan oleh IT Governance Institute (ITGI). COBIT digunakan untuk menjalankan penentuan atas IT dan meningkatkan pengontrolan IT. COBIT juga berisi tujuan pengendalian, petunjuk audit, kinerja dan hasil metrik, faktor kesuksesan dan maturity model.
Lingkup kriteria informasi yang sering menjadi perhatian dalam COBIT adalah:
Effectiveness
Menitikberatkan pada sejauh mana efektifitas informasi dikelola dari data-data yang diproses oleh sistem informasi yang dibangun.
Efficiency
Menitikberatkan pada sejauh mana efisiensi investasi terhadap informasi yang diproses oleh sistem.
Confidentiality
Menitikberatkan pada pengelolaan kerahasiaan informasi secara hierarkis.
Integrity
Menitikberatkan pada integritas data/informasi dalam sistem.
Availability
Menitikberatkan pada ketersediaan data/informasi dalam sistem informasi.
Compliance
Menitikberatkan pada kesesuaian data/informasi dalam sistem informasi.
Reliability
Menitikberatkan pada kemampuan/ketangguhan sistem informasi dalam pengelolaan data/informasi.
Sedangkan fokus terhadap pengelolaan sumber daya teknologi informasi dalam COBIT adalah pada :
- Applications
- Information
- Infrastructure
- People
Dalam menyediakan informasi yang dibutuhkan perusahaan untuk mencapai tujuan organisasi, COBIT memiliki karakteristik :
- Business-focused
- Process-oriented
- Controls-based
- Measurement-driven
COBIT mengelompokkan semua aktivitas bisnis yang terjadi dalam organisasi menjadi 34 proses yang terbagi ke dalam 4 buah domain proses, meliputi :
Planning & Organization
Domain ini menitikberatkan pada proses perencanaan dan penyelarasan strategi TI dengan strategi perusahaan, mencakup masalah strategi, taktik dan identifikasi tentang bagaimana TI dapat memberikan kontribusi maksimal terhadap pencapaian tujuan bisnis organisasi sehingga terbentuk sebuah organisasi yang baik dengan infrastruktur teknologi yang baik pula.
Domain ini mencakup :
- PO1 – Menentukan rencana strategis
- PO2 – Menentukan arsitektur informasi
- PO3 – Menentukan arah teknologi
- PO4 – Menentukan proses TI, organisasi dan hubungannya
- PO5 – Mengelola investasi TI
- PO6 – Mengkomunikasikan tujuan dan arahan manajemen
- PO7 – Mengelola sumber daya manusia
- PO8 – Mengelola kualitas
- PO9 – Menilai dan mengelola resiko TI
- PO10 – Mengelola proyek
Acquisition & Implementation
Domain ini berkaitan dengan implementasi solusi IT dan integrasinya dalam proses bisnis organisasi untuk mewujudkan strategi TI, juga meliputi perubahan dan maintenance yang dibutuhkan sistem yang sedang berjalan untuk memastikan daur hidup sistem tersebut tetap terjaga.
Domain ini meliputi:
- AI1 – Mengidentifikasi solusi yang dapat diotomatisasi.
- AI2 – Mendapatkan dan maintenance software aplikasi.
- AI3 – Mendapatkan dan maintenance infrastuktur teknologi
- AI4 – Mengaktifkan operasi dan penggunaan
- AI5 – Pengadaan sumber daya IT.
- AI6 – Mengelola perubahan
- AI7 – Instalasi dan akreditasi solusi dan perubahan.
Delivery & Support
Domain ini mencakup proses pemenuhan layanan IT, keamanan sistem, kontinyuitas layanan, pelatihan dan pendidikan untuk pengguna, dan pemenuhan proses data yang sedang berjalan.
Domain ini meliputi :
- DS1 – Menentukan dan mengelola tingkat layanan.
- DS2 – Mengelola layanan dari pihak ketiga
- DS3 – Mengelola performa dan kapasitas.
- DS4 – Menjamin layanan yang berkelanjutan
- DS5 – Menjamin keamanan sistem.
- DS6 – Mengidentifikasi dan mengalokasikan dana.
- DS7 – Mendidik dan melatih pengguna
- DS8 – Mengelola service desk dan insiden.
- DS9 – Mengelola konfigurasi.
- DS10 – Mengelola permasalahan.
- DS11 – Mengelola data
- DS12 – Mengelola lingkungan fisik
- DS13 – Mengelola operasi.
Monitoring and Evaluation
Domain ini berfokus pada masalah kendali-kendali yang diterapkan dalam organisasi, pemeriksaan intern dan ekstern dan jaminan independent dari proses pemeriksaan yang dilakukan.
Domain ini meliputi:
- ME1 – Mengawasi dan mengevaluasi performansi TI.
- ME2 – Mengevaluasi dan mengawasi kontrol internal
- ME3 – Menjamin kesesuaian dengan kebutuhan eksternal.
- ME4 – Menyediakan IT Governance.
3. COBIT MATURITY MODEL
COBIT menyediakan parameter untuk penilaian setinggi dan sebaik apa pengelolaan IT pada suatu organisasi dengan menggunakan maturity models yang bisa digunakan untuk penilaian kesadaran pengelolaan (management awareness) dan tingkat kematangan (maturity level). COBIT mempunyai model kematangan (maturity models) untuk mengontrol proses-proses IT dengan menggunakan metode penilaian (scoring) sehingga suatu organisasi dapat menilai proses-proses IT yang dimilikinya dari skala nonexistent sampai dengan optimised (dari 0 sampai 5), yaitu: 0: Non Existen, 1: Initial, 2: Repetable, 3: Defined, 4: Managed dan 5: Optimized (Purwanto dan Saufiah, 2010; Setiawan, 2008; Nurlina dan Cory, 2008).
Sumber: Hendra Fajar Himawan, Mengenal COBIT
Sependek ingatan saya, pada tahun 90-an dulu frasa gamis syar’i belum ada. Gamis ya syar’i lah. Apalagi? Frasa gamis syar’i waktu itu mungkin setara dengan frasa jomblo ngenes sekarang. Jomblo ya sudah tentu ngenes. Mau bagaimana lagi? Jadi, kata ‘syar’i’ itu inheren dalam kata gamis, seperti halnya kata ‘ngenes’ dalam jomblo. Semacam oksimoron.
Pada tahun 90-an itu, jilbab dan gamis itu pasti panjang, tebal, warna kalem atau gelap, longgar dengan model sederhana. Itu-itu saja. Rasanya ada aura ruhiyah tertentu saat mengenakannya. Rasanya lho, ya. Namun, belakangan ini perasaaan itu lebih mirip seperti ilusi saja.
Masa itu jilbab dan gamis adalah ekspresi dari ketundukan dalam hati pada titah Sang Pencipta. Simbol lahiriah dari esensi batiniah. Mengenakannya adalah ibadah, menetapi perintah menutup aurat. Tak lain tak bukan, tak lebih tak kurang. Hingga kemudian, sampailah kini kita di zaman yang sedemikian rupa berbeda.
Inilah zaman di mana mengenakan jilbab dan gamis tak jauh berbeda seperti soal memilih menu makanan. Mana yang disuka dimakan, mana yang bosan ditinggalkan. Tak ada bobot ruhiyah atau nuansa spiritualitas apapun di sana. Tak ada urusan hidayah di situ. Apa lagi getaran hati yang menggoncang-goncang jiwa ketika memutuskannya. Tak ada.
Pakai gamis tak lebih dari ganti koleksi isi lemari. Hal yang bisa dilakukan tanpa perlu menjemput hidayah datang. Hal yang sama yang akan dilakukan oleh para korban kebakaran dan banjir bandang, mengganti isi lemari. Yang pertama dilakukan penuh sukacita karena terpuaskan nafsu belanja, yang kedua dilakukan dengan terpaksa karena baju hangus dan hanyut di kali.
Hari gini, memakai gamis dan jilbab, juga bisa terjadi hanya karena tak enak pada tetangga dan teman sejawat. Peer pressure. Terpesona pada artis-artis dan model peraga busana muslim di sebuah fashion show. Ngiler pada manekin-manekin butik-butik nan mahal di mal-mal. Apa sajalah pemantik nafsu konsumtif. Tak ada pergumulan batin apapun di sana. Pergumulan isi dompet, iya. Urusannya seenteng ganti sepatu, tas, menu makanan bahkan pacar, karena bosan saja. Impulsif.
Tentu saja, tetaplah ada jilbaber dan gamis user yang melalui proses panjang dan mengharu biru ketika mengenakannya. Hal seperti itu selalu akan ada. Sebab hidayah tak pernah bosan menjemput orang-orang yang berhijrah di tiap zaman.
Tak seperti Hayati, hidayah tak pernah lelah, Bang.
Setelah potensi bisnis gamis syar’i terendus oleh kapitalis industri mode, situasi tak lagi sama. Segala sesuatu jika sudah tersentuh industrialisasi, biasanya memang bakal berganti dimensi. Film sebagai karya seni dan film sebagai industri, logikanya berbeda. Beternak ayam sebagai kegiatan pendukung kehidupan dan beternak sebagai industri, filosofinya berbeda. Menulis sebagai hobi dan menulis karena tuntutan industri, output-nya berbeda. Begitu juga gamis syar’i saat tercelup industri, auranya pun menjadi berbeda.
Yang tadinya bersimpel-simpel, jadi berimpel-rimpel. Yang tadinya tebal menutup bisa jadi tipis menerawang. Yang tadinya longgar semriwing jadi ketat membentuk. Pendeknya yang tadinya dimaksudkan untuk menutupi pesona, jadi menebar pesona.
Duhai ukhti, kemana gerangan engkau mengambil teladan?
Esensi gamis syar’i sebagai ekspresi penghambaan auranya itu kesunyian. Sedangkan konsekuensi gamis syar’i sebagai industri, auranya adalah kemeriahan dan tepuk tangan. Menjadi paradoks yang begitu banal jika kedua hal itu dikawinkan. Yang terjadi kemudian adalah kawin paksa dengan banyak KDRT di dalamnya.
Hedonisme sebagai suplier energi industri mode adalah sesuatu yang bersebrangan dengan nilai-nilai kesederhanaan sebagai salah satu esensi ajaran Islam paling sublim. Enggak nyambung di level substansi, tapi di level permukaan, bisa disulap jadi serasi. Ini dampak dahsyat ketika jargon bisnis akhirat telah tersemat. Logika dan nalar sehat dipersilakan beristirahat.
Mari kita lihat.
Ketika ingin mewarnai industri mode, muslimah diprovokasi untuk terbiasa berhias, tabarruj, menebar pesona demi layak dilihat publik mode. Tampak memalukan, norak, dan ndeso jika datang–apalagi berpartisipasi–dalam sebuah fashion show dengan muka polos, pucat dan berkilat-kilat karena muka berminyak kena cahaya lampu. Itu wajah apa wajan, sih, sebenarnya?
Riasan yang sudah susah payah ditempel-tempel ke wajah, bisa sayang dihapus waktu berwudlu. Ikhtilat, campur baur laki-laki dan perempuan yang wangi-wangi bukan muhrim dalam fashion show adalah hal biasa. Fashion show busana muslim sekalipun. Substansi ajaran Islam yang mengatur gaya hidup, diperkosa oleh misi kapitalis yang mempromosikan hidup gaya.
Inilah salah satu KDRT dalam perkawinan Islam dan kapitalis. Sebuah kekalahan telak yang malah ditepuktangani si pecundang dengan meriah.
Sebuah label besar bahkan menjadikan salah satu oknum terindikasi LGBT sebagai ikon dan desainernya. Dia tampil percaya diri dan advis-advis modenya diamini oleh para penganut keyakinan yang menentang keras orientasi seksual si idola. Para pemuja brand tertentu konon ada yang nangis-nangis karena kalah cepat rebutan koleksi limited yang diincarnya. Ieu teh kumaha, Iteung?
Bagi industri mode sendiri, istilah gamis gaul dan gamis syar’i tak ada beda substansi. Masalahnya hanya perbedaan lini dan segmentasi. Keduanya sama-sama pengumpul pundi-pundi. Satu pabrikan bisa membuat beberapa label untuk masing-masing lini, dan semua laris manis diserap pasar nan hedonis dan gigantis. Urusan menginventarisasi nama-nama label dan share pasarnya, serahkan saja pada Kalis Mardiasih.
Tapi tentu saja, selalu ada pengecualian atas segala sesuatu. Tetap ada para pengusaha gamis dan busana muslim yang rela menempuh jalan sunyi memproduksi perlengkapan muslim tanpa memprovokasi orang untuk berlebihan berkonsumsi. Saya sangat percaya itu dan respek sepenuh hati pada mereka ini. Semoga bisnisnya senantiasa diberkahi. Aamin.
Akhirul kalam wahai para keponakan, dengarkan Tante Gober bersabda :
Jika gamismu lebaran nanti adalah gamismu sepuluh tahun lalu, hidupmu akan baik-baik saja. Lebaran akan tetap jatuh pada 1 Syawal dan takbirnya tetap Allahu Akbar. Sadarlah, tak ada tim hisab dan rukyat ormas manapun yang memperhitungkan keberadaan gamis barumu sebagai dasar pengambilan keputusan.
Tak ada yang berani mengganti bunyi takbir jadi Innalillahi hanya karena kau tak punya gamis OSD pujaan para ukhti.
Ditulis oleh: Siti Maryamah
Sumber Tulisan
What is a sufi in your mind, my dear friend?
Coba saya tebak. Orang yang menghitung tasbih setiap langkahnya? Orang yang berpakaian lusuh dari bulu domba? Orang aneh yang senantiasa berpuisi dan berfilsafat tentang Tuhan dan malaikat? Orang yang mencoba mengambil jarak sejauh-jauhnya pada kehidupan dunia, berkata “haram!” pada dunia? Well, my friend, it’s a jadoel stereotype! Prasangka jaman dulu tentang para sufi.
Kini coba bayangkan, apa jawaban seorang sufi ketika ditanya oleh seorang anak muda tentang bisnis, yang akan mengambil kelas di sebuah business school. Berikut ini lagi-lagi dari Bawa Muhaiyaddeen (nggak ada yang lain, Tung?), seorang sufi kontemporer asal Srilanka, diterjemahkan secara bebas dan kurang beradab dari sebuah online pamphlet milik BMF.
Don’t be surprised. ;-)
* * * *
Banyak orang berputar-putar pada satu pikiran ini, “Bisnis itu menyakiti orang lain. Bisnis itu merampok harta dan memperbudak mereka. Aku tak ingin seperti itu. Lalu bagaimana aku menjadi seorang pebisnis?” Apa yang tak disadarinya adalah bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah bisnis pada dasarnya. Petani melakukan bisnis. Penceramah, imam dan para pemimpin agama pun berbisnis. Para dokter mengutip biaya dari para pasiennya, bukankah begitu? Coba tunjukkan padaku seseorang yang tidak berbisnis di dunia ini. Selama kita memerlukan sandang, pangan dan papan, kita melakukan suatu bisnis.
Hanya mereka yang lalai dan bodoh lah yang jatuh pada penyiksaan dan perbudakan terhadap orang lain. Orang yang bijak, melalui hikmah dan rahmat-Nya, akan memperoleh hasil yang cukup bagi diri dan keluarganya. Mereka memiliki kendali pada dunia ini.
Jangan terpikir untuk berhenti belajar bisnis. Pelajaran ini sangat bermanfaat bagimu dan kehidupanmu. Orang yang mampu menjalani kehidupan di dunia ini tanpa menjadikan dunia itu hidup di dalam dirinya adalah orang yang sangat cakap. Sangatlah mudah untuk memperoleh keuntungan yang banyak dari menipu pelanggan, atau memotong setengah gaji pekerja dan memaksa mereka bekerja dua kali lebih keras, memperbudak mereka. Sangat mudah. Namun seseorang yang bijak akan menemukan jalan untuk memenuhi sang pemilik perusahaan dengan apa yang diinginkannya, karyawan dengan apa yang diinginkannya, pelanggan dengan harga yang pantas, juga dirinya dengan apa yang diperlukan tubuh dan pikirannya.
Bila tak ada yang berbisnis, maka tak seorang pun akan memperoleh sandang pangan bagi kebutuhan hidupnya. Bila bisnis dapat dijalankan dengan cinta, keadilan, kebijaksanaan, dan kecakapan, beriman pada Tuhan semata — bukan pada dunia, maka bisnis itu akan berujung pada kesuksesan baik di dunia ini maupun di akhir nanti. Dengan cara inilah engkau harus menjalankan suatu bisnis, sehingga menjadi rahmat yang besar bagi seluruh umat manusia.
Engkau harus belajar bagaimana berbisnis dengan baik. Jadilah yang pertama dan terdepan di bidang bisnis yang engkau geluti, lalu jalanilah dengan cinta dan keadilan. Jika engkau melakukan yang demikian, maka itu akan menguntungkan bagimu dan semua orang. Jangan malas. Belajarlah dengan benar. Agar mampu menjalankan suatu bisnis dengan adil, engkau musti tahu lebih banyak dibandingkan mereka yang belajar hanya demi memenuhi nafsu dan keserakahannya pada kekuasaan, sex, kepemilikan, dan titel. Engkau harus mengasah pikiranmu dua kali lebih tajam dari mereka, sehingga engkau mampu memiliki kendali terhadap mereka, menahan mereka agar tak menyakiti diri mereka sendiri dan orang lain.
Engkau harus menyerahkan segala hasil dan tanggungjawab kepada Allah, lalu lakukan apa yang menjadi tugasmu. Dengan kebijaksanaan, cinta, keadilan, dan kecakapan yang terasah dengan baik, jalankan bisnis yang adil. Janganlah malas. Orang yang mampu menjalankan bisnis dengan cara seperti ini akan sungguh-sungguh menjadi pebisnis yang tangguh dan luarbiasa. Ia akan menjadi wali dan ulama bagi dunia ini.
Jangan terpikir bahwa bisnis yang dijalankan dengan adil akan menyakiti orang lain. Engkau harus belajar tentang bisnis, dan engkau pun harus belajar tentang Tuhan, sifat-sifat-Nya, dan kasih sayang-Nya. Belajarlah dengan benar, juga lakukan tugasmu kepada-Nya. Itu akan sangat baik. Engkau musti memberikan usahamu yang terbaik dan serahkan hasil serta tanggungjawabnya kepada Allah semata. Maka semuanya akan berjalan baik.
Saudara-saudaraku, permata hatiku, kalian hadir sebagai cinta di dalam cintaku, sebagai kehidupan di dalam kehidupanku. Semoga Allah menganugerahkan bagimu hikmah dan apa yang terbaik bagimu di dunia ini dan akhir nanti. Semoga Ia mengaruniaimu keimanan yang kokoh, kesucian, sifat-sifat kasih sayang-Nya, kehendak-Nya, dan melindungimu serta memelihara dirimu dan keluargamu dan teman-teman, selama-lamanya. Semoga Ia menganugerahkanmu dengan kebijaksanaan yang tinggi. Sampaikan cinta dan salamku bagi semua. Semoga Allah melindungi dan memelihara kita semua. Amin.
* * * *
P.S.: Ada satu point penting, tentang para sufi, kaum Muslim yang penuh semangat ini (yang sebentar tampak “anti-duniawi”, sebentar tidak):
Orang yang mampu menjalani kehidupan di dunia ini tanpa menjadikan dunia itu hidup di dalam dirinya adalah orang yang sangat cakap. - Bawa Muhaiyaddeen
Thanks to Mas Watung, Guru Spiritual Dumay
Rating adalah hidup-mati stasiun televisi. Semakin tinggi rating, semakin banyak pemasang iklan. Harga jual slot siaran niaga pun semakin mahal. Ini berarti semakin besar pemasukan. Sebaliknya, jika ratingnya terus-menerus rendah, dapat dipastikan sebuah stasiun televisi takkan bisa bertahan.
Penyelenggaraan survai rating televisi di tanah air dirintis oleh Survai Research Indonesia (SRI) semenjak 1990. Pada tahun 1994 AC Nielsen — perusahaan riset pemasaran terkemuka asal Amerika Serikat — mengakuisisi SRI, sehingga namanya berubah menjadi AC Nielsen-SRI. Selanjutnya beberapa kali perusahaan ini berganti nama. Pertama, AC Nielsen Media International, kemudian Nielsen Media Research. Terakhir pada tahun 2004 ia menjadi AGB Nielsen Media Research.
Sebelum pemeringkatan, Nielsen mengadakan TV Establishment Survey guna mengetahui persentase kepemilikan televisi pada tingkat rukun tetangga. “Tingkat panetrasi TV Indonesia lumayan tinggi,” kata Irawati Pratignyo, Direktur Pelaksana AGB Nielsen Media Research. Ia menyebutkan angka delapan puluh persen.
Pelaksanaan metodologi, jelas Irawati, mengacu Panduan Global Pengukuran Khalayak Televisi (Global Guidelines for TV Audience Meausurement), yaitu prosedur standar pengukuran rating Nielsen di dunia.
Pengukuran kemudian dilakukan di sepuluh kota besar, yaitu Jakarta dan sekitarnya (Bogor, Tangerang, Bekasi), Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya (dan Gerbangkertasila), Denpasar, Makasar, Medan, Palembang, dan Banjarmasin.
Penyebaran sampel tidak sama di setiap kota, yaitu Jakarta 55 persen, Surabaya 20 persen, Bandung 5 persen, Yogyakarta 5 persen, Medan 4 persen, Semarang 3 persen, Palembang 3 persen, Makassar 2 persen, Denpasar 2 persen, dan Banjarmasin 1 persen. Angka ini proporsional berdasarkan populasi kepemilikan televsisi di tiap-tiap kota itu. Kepemilikan televisi di Jakarta, misalnya, 55 persen terhadap total 10 kota, maka jumlah sampelnya 55 persen.
Batasan populasi, kata Irawati, “adalah semua penduduk kota yang terdaftar dalam Kartu Keluarga, berusia berusia lima tahun atau lebih, dan tinggal di rumah tangga yang memiliki pesawat televisi dengan keadaan baik.” Lantas, ujarnya, sampel ditentukan berdasarkan teknik acak berjenjang (stratified random).
“Di televisi responden dipasang peoplemeter,” jelas Irawati. Peoplemeter adalah alat yang mampu mengukur jumlah penonton — paling tidak selama satu menit, atau minimum 17 detik — pada sebuah acara. Alat ini mampu melacak pilihan frekuensi teleivsi sampai 999 saluran dan mendeteksi frekuensi, modulasi gambar, dan modulasi audio-video. “Tapi, ia tidak memperhitungkan preferensi (suka, tidak suka), tidak juga kualitas program (apakah baik atau buruk),” jelas Irawati.
Pada peoplemeter tersambung sebuah gagang (handset) yang terprogram untuk mencatat jati diri setiap anggota keluarga. Bila hendak menonton, sebagai contoh, mereka menekan salah satu tombol pada gagang itu terlebih dahulu. Secara otomatis alat itu mengumpulkan data tentang acara apa saja yang dipirsa setiap anggota keluarga dalam hitungan menit. Jadi, responden tidak perlu lagi mengisi kuesioner semenjak memulai menonton televisi sampai selesai. “Dengan begitu, sistem ini mengurangi kesalahan manusiawi (human error),” kata Irawati.
Jika terdapat dua televisi dalam sebuah rumah, jumlah peoplemeter yang dipasang juga dua. Yang jelas, aktivitas menonton pembantu ataupun satpam — kalau ada — tidak direkam. Begitu juga, televisi khusus untuk pembantu dan satpam tidak dipasang peoplemeter.
Pengukuran oleh peoplemeter berlangsung secara seketika (online) dan tunda (offline). Pada cara tunda, data tentang perilaku menonton direkam terlebih dahulu ke disket yang terletak dalam slot peoplemeter. Disket itu kemudian setiap minggu diambil oleh seorang petugas Nielsen.
Pada cara seketika, data terkumpul pada saat responden menonton. Pada cara ini peoplemeter – yang tersambung dengan telepon rumah — dikoneksi pusat data Nielsen pada sekitar jam dua dini hari. “Persoalannya, Telkom melakukan perbaikan pada jam-jam ini. Jadi, seringkali tidak terhubung,” kata Irawati. Itulah sebab, tambahnya, data peringkat di Indonesia baru dapat dikeluarkan secara mingguan, belum harian.
Irawati mengungkapkan, panjang program televisi ikut mempengaruhi rating. Misalnya, sebuah program berdurasi tiga puluh menit pada awalnya berating sepuluh persen. Ketika diperpanjang menjadi enam puluh menit, ratingnya turun menjadi delapan peratus karena angka pembagi — yaitu jumlah khalayak — semakin besar.
Selain itu, kualitas gambar mempengaruhi rating. Jika kualitas gambar buruk, penonton akan cenderung meninggalkan saluran itu, tak peduli betapa bagusnya program acara.
Pada saat jam-jam puncak (peak hour), penonton memiliki pilihan terbatas karena setiap saluran menyajikan jenis program yang sama. Adapun acara-acara kagetan seperti Piala Dunia, liburan sekolah, bencana alam, bom, dan sejenisnya mampu mendongkrak rating.
Membaca Rating Nielsen
Pemeringkatan dengan peoplemeter juga tidak dilakukan di desa-desa, lantaran, “di desa kehidupan berjalan tidak sedinamis di kota,” kata Irawati. Kalaupun ada, responden di desa hanya membuat catatan harian tentang aktivitas menonton mereka. Itulah sebab, ujar Irawati, “Kami tidak pernah mengklaim hasil rating kami bisa digeneralisasi secara nasional.”
Memang survai rating Nielsen memiliki validitas internal yang baik: ia menggunakan alat ukur canggih yang mampu mengurangi kesalahan masukan data sekecil-kecilnya. Akan tetapi, validitas eksternalnya terlalu lemah untuk sampai bisa megatakan bahwa hasil rating ini mewakili gambaran umum se-Indonesia.
Hasil rating harus dibaca lebih spesifik, hanya berlaku untuk kota besar di barat negeri yang tercakup pengukuran ini. Lagipula, sampel tidak meliputi wilayah pedesaan yang justru didiami delapan puluh persen masyarakat Indonesia.
Selain itu, 55 persen sampel adalah khalayak Jakarta. Jadi, boleh dibilang masyarakat Jakarta “sangat berkuasa” mempengaruhi jenis tayangan televisi, karena hasil rating menjadi acuan siaran stasiun televisi Jakarta, yang daya pancarnya menjangkau hampir seluruh Nusantara.
Sepuluh kota dipilih sebagai sampel berdasarkan riset Nielsen tentang “kebutuhan pengguna data” seperti industri, iklan, biro iklan, dan stasiun televisi. Pertimbangannya, distribusi barang dan jasa terkonsentrasi di kota itu. Jadi, rating sebenarnya melayani kepentingan industri untuk mempromosikan barang dan jasa mereka yang distribusinya terkonsentrasi di kota-kota besar itu, bukan mengungkapkan perilaku-menonton khalayak secara umum.
Fenomena ini mencerminkan ketimpangan penyebaran kemakmuran di tanah air. Sayangnya, ketimpangan ini justru memunculkan dominasi budaya tertentu (misalnya gaya hidup kota besar yang konsumtif), yang berdaya mendiktekan tayangan televisi, dan menyeragamkan budaya Indonesia yang majemuk.
Pada akhirnya, kualitas sebuah acara tetap bergantung pada kebijakan stasiun televisi, bukan rating. Acara berating tinggi tidak benar-benar mengindikasikan bahwa acara itu disukai. Sebab, ada faktor lain semisal pilihan khalayak terbatas (karena homogenisasi acara tadi, atau karena stasiun televisi sering latah ikut-ikutan).
Sekarang berpulang kepada stasiun televisi, apakah kebijakan penayangan mereka sangat mempertimbangkan kualitas, kesusilaan, dan norma-norma masyarakat dengan semangat pencerahan, ataukah asumsi-asumsi tafsiran rating yang sebaliknya.
Sumber:
Junarto Imam Prakoso
Penyelenggaraan survai rating televisi di tanah air dirintis oleh Survai Research Indonesia (SRI) semenjak 1990. Pada tahun 1994 AC Nielsen — perusahaan riset pemasaran terkemuka asal Amerika Serikat — mengakuisisi SRI, sehingga namanya berubah menjadi AC Nielsen-SRI. Selanjutnya beberapa kali perusahaan ini berganti nama. Pertama, AC Nielsen Media International, kemudian Nielsen Media Research. Terakhir pada tahun 2004 ia menjadi AGB Nielsen Media Research.
Sebelum pemeringkatan, Nielsen mengadakan TV Establishment Survey guna mengetahui persentase kepemilikan televisi pada tingkat rukun tetangga. “Tingkat panetrasi TV Indonesia lumayan tinggi,” kata Irawati Pratignyo, Direktur Pelaksana AGB Nielsen Media Research. Ia menyebutkan angka delapan puluh persen.
Pelaksanaan metodologi, jelas Irawati, mengacu Panduan Global Pengukuran Khalayak Televisi (Global Guidelines for TV Audience Meausurement), yaitu prosedur standar pengukuran rating Nielsen di dunia.
Pengukuran kemudian dilakukan di sepuluh kota besar, yaitu Jakarta dan sekitarnya (Bogor, Tangerang, Bekasi), Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya (dan Gerbangkertasila), Denpasar, Makasar, Medan, Palembang, dan Banjarmasin.
Penyebaran sampel tidak sama di setiap kota, yaitu Jakarta 55 persen, Surabaya 20 persen, Bandung 5 persen, Yogyakarta 5 persen, Medan 4 persen, Semarang 3 persen, Palembang 3 persen, Makassar 2 persen, Denpasar 2 persen, dan Banjarmasin 1 persen. Angka ini proporsional berdasarkan populasi kepemilikan televsisi di tiap-tiap kota itu. Kepemilikan televisi di Jakarta, misalnya, 55 persen terhadap total 10 kota, maka jumlah sampelnya 55 persen.
Batasan populasi, kata Irawati, “adalah semua penduduk kota yang terdaftar dalam Kartu Keluarga, berusia berusia lima tahun atau lebih, dan tinggal di rumah tangga yang memiliki pesawat televisi dengan keadaan baik.” Lantas, ujarnya, sampel ditentukan berdasarkan teknik acak berjenjang (stratified random).
![]() |
| Peoplemeter |
“Di televisi responden dipasang peoplemeter,” jelas Irawati. Peoplemeter adalah alat yang mampu mengukur jumlah penonton — paling tidak selama satu menit, atau minimum 17 detik — pada sebuah acara. Alat ini mampu melacak pilihan frekuensi teleivsi sampai 999 saluran dan mendeteksi frekuensi, modulasi gambar, dan modulasi audio-video. “Tapi, ia tidak memperhitungkan preferensi (suka, tidak suka), tidak juga kualitas program (apakah baik atau buruk),” jelas Irawati.
Pada peoplemeter tersambung sebuah gagang (handset) yang terprogram untuk mencatat jati diri setiap anggota keluarga. Bila hendak menonton, sebagai contoh, mereka menekan salah satu tombol pada gagang itu terlebih dahulu. Secara otomatis alat itu mengumpulkan data tentang acara apa saja yang dipirsa setiap anggota keluarga dalam hitungan menit. Jadi, responden tidak perlu lagi mengisi kuesioner semenjak memulai menonton televisi sampai selesai. “Dengan begitu, sistem ini mengurangi kesalahan manusiawi (human error),” kata Irawati.
![]() |
| Teknik Survei rating TV |
Jika terdapat dua televisi dalam sebuah rumah, jumlah peoplemeter yang dipasang juga dua. Yang jelas, aktivitas menonton pembantu ataupun satpam — kalau ada — tidak direkam. Begitu juga, televisi khusus untuk pembantu dan satpam tidak dipasang peoplemeter.
Pengukuran oleh peoplemeter berlangsung secara seketika (online) dan tunda (offline). Pada cara tunda, data tentang perilaku menonton direkam terlebih dahulu ke disket yang terletak dalam slot peoplemeter. Disket itu kemudian setiap minggu diambil oleh seorang petugas Nielsen.
Pada cara seketika, data terkumpul pada saat responden menonton. Pada cara ini peoplemeter – yang tersambung dengan telepon rumah — dikoneksi pusat data Nielsen pada sekitar jam dua dini hari. “Persoalannya, Telkom melakukan perbaikan pada jam-jam ini. Jadi, seringkali tidak terhubung,” kata Irawati. Itulah sebab, tambahnya, data peringkat di Indonesia baru dapat dikeluarkan secara mingguan, belum harian.
Irawati mengungkapkan, panjang program televisi ikut mempengaruhi rating. Misalnya, sebuah program berdurasi tiga puluh menit pada awalnya berating sepuluh persen. Ketika diperpanjang menjadi enam puluh menit, ratingnya turun menjadi delapan peratus karena angka pembagi — yaitu jumlah khalayak — semakin besar.
Selain itu, kualitas gambar mempengaruhi rating. Jika kualitas gambar buruk, penonton akan cenderung meninggalkan saluran itu, tak peduli betapa bagusnya program acara.
Pada saat jam-jam puncak (peak hour), penonton memiliki pilihan terbatas karena setiap saluran menyajikan jenis program yang sama. Adapun acara-acara kagetan seperti Piala Dunia, liburan sekolah, bencana alam, bom, dan sejenisnya mampu mendongkrak rating.
Membaca Rating Nielsen
Pemeringkatan dengan peoplemeter juga tidak dilakukan di desa-desa, lantaran, “di desa kehidupan berjalan tidak sedinamis di kota,” kata Irawati. Kalaupun ada, responden di desa hanya membuat catatan harian tentang aktivitas menonton mereka. Itulah sebab, ujar Irawati, “Kami tidak pernah mengklaim hasil rating kami bisa digeneralisasi secara nasional.”
Memang survai rating Nielsen memiliki validitas internal yang baik: ia menggunakan alat ukur canggih yang mampu mengurangi kesalahan masukan data sekecil-kecilnya. Akan tetapi, validitas eksternalnya terlalu lemah untuk sampai bisa megatakan bahwa hasil rating ini mewakili gambaran umum se-Indonesia.
Hasil rating harus dibaca lebih spesifik, hanya berlaku untuk kota besar di barat negeri yang tercakup pengukuran ini. Lagipula, sampel tidak meliputi wilayah pedesaan yang justru didiami delapan puluh persen masyarakat Indonesia.
Selain itu, 55 persen sampel adalah khalayak Jakarta. Jadi, boleh dibilang masyarakat Jakarta “sangat berkuasa” mempengaruhi jenis tayangan televisi, karena hasil rating menjadi acuan siaran stasiun televisi Jakarta, yang daya pancarnya menjangkau hampir seluruh Nusantara.
Sepuluh kota dipilih sebagai sampel berdasarkan riset Nielsen tentang “kebutuhan pengguna data” seperti industri, iklan, biro iklan, dan stasiun televisi. Pertimbangannya, distribusi barang dan jasa terkonsentrasi di kota itu. Jadi, rating sebenarnya melayani kepentingan industri untuk mempromosikan barang dan jasa mereka yang distribusinya terkonsentrasi di kota-kota besar itu, bukan mengungkapkan perilaku-menonton khalayak secara umum.
Fenomena ini mencerminkan ketimpangan penyebaran kemakmuran di tanah air. Sayangnya, ketimpangan ini justru memunculkan dominasi budaya tertentu (misalnya gaya hidup kota besar yang konsumtif), yang berdaya mendiktekan tayangan televisi, dan menyeragamkan budaya Indonesia yang majemuk.
Pada akhirnya, kualitas sebuah acara tetap bergantung pada kebijakan stasiun televisi, bukan rating. Acara berating tinggi tidak benar-benar mengindikasikan bahwa acara itu disukai. Sebab, ada faktor lain semisal pilihan khalayak terbatas (karena homogenisasi acara tadi, atau karena stasiun televisi sering latah ikut-ikutan).
Sekarang berpulang kepada stasiun televisi, apakah kebijakan penayangan mereka sangat mempertimbangkan kualitas, kesusilaan, dan norma-norma masyarakat dengan semangat pencerahan, ataukah asumsi-asumsi tafsiran rating yang sebaliknya.
Sumber:
Junarto Imam Prakoso
Bagi yang terbiasa online menggunakan PC melalui tethering koneksi internet dari handphone atau Bolt, mungkin di antara kita pernah mengalami tiba-tiba kuota habis. Padahal kita merasa tidak menggunakan banyak kuota ketika online baik download maupun upload. Lalu mengapa kuota tiba-tiba habis?
Salah satu faktor yang menyebabkan kuota habis adalah kita melakukan setting update windows secara otomatis. Jika file update Windows yang didownload berukuran besar, maka tentu saja akan 'memakan' stok kuota kita.
Berikut adalah tips sederhana agar services update Windows kita tidak berjalan otomatis atau kita matikan fungsinya.
1. Tekan Windows + R untuk membuka program Run.
2. Ketik services.msc
3. Cari service Windows Update dan buka service nya dengan cara klik 2x
4. Pilih Disabled pada Startup Type
Salah satu faktor yang menyebabkan kuota habis adalah kita melakukan setting update windows secara otomatis. Jika file update Windows yang didownload berukuran besar, maka tentu saja akan 'memakan' stok kuota kita.
Berikut adalah tips sederhana agar services update Windows kita tidak berjalan otomatis atau kita matikan fungsinya.
1. Tekan Windows + R untuk membuka program Run.
2. Ketik services.msc
3. Cari service Windows Update dan buka service nya dengan cara klik 2x
4. Pilih Disabled pada Startup Type
5. Klik OK dan Restart komputer.
Demikian tips singkat dari saya. Semoga bermanfaat.
Salah satu budaya di desa saya ketika kondangan adalah beras dijadikan 'transaksi angpao kondangan' oleh para undangan dan pemilik hajat. Beras ini akan dikembalikan dengan jumlah yang sama ketika para undangan pada suatu saat nanti menjadi sebagai pemilik hajat. Dengan kata lain, proses 'kondangan beras' di desa saya bisa dikatakan sebagai bentuk arisan.
Ada satu hal menarik yang kita bisa cermati dari pola kondangan beras tersebut. Mengapa mereka memilih beras, bukan uang sebagai 'media arisan kondangan'. Hal ini bisa jadi karena dilatarbelakangi oleh para orang terdahulu sudah meyakni bahwa nilai beras tidak akan berubah sementara nilai uang sebagai alat tukar bisa berubah.
Ketika Si A memberikan 100 kg beras sebagai kondangan saat diundang hajatan oleh Si B, maka ketika Si A mengadakan hajatan semisal 5 tahun kemudian, Si B pun akan memberikan kondangan 100 kg beras pula dengan kualitas yang sama.
Coba kita bayangkan jika Si A memberikan uang senilai Rp 500.000 sebagai pengganti 100 kg beras saat kondangan itu, dan si B pun memberikan Rp 500.000 pada 5 tahun kemudian di hajatan Si A. Maka 'nilai uang 500 ribu' si B pasti lebih rendah dari Si A.
Namun sepertinya pada kalangan remaja atau generasi zaman sekarang justru nilai-nilai kepahaman dari generasi terdahulu di kampung tentang uang sebagai sekedar alat tukar ternyata mulai berubah. Generasi sekarang hanya ingin berfikir praktis, tidak mau repot membawa beras. Padahal justru perubahan dari beras ke uang dalam sistem kondangan arisan di kampung malah akan menjadi persoalan baru dalam berkehidupan masyarakat.
Tragedi Yunani adalah salah satu dari dampak global akibat uang dijadikan sebagai komoditi bukan sebagai alat tukar sementara. Uang kertas yang tak bernilai dicetak untuk dibungakan. Bahkan alat tukar pun seharusnya senilai dengan barang atau jasa yang kita transaksikan.
Uang terus menerus dicetak dan ditambahkan berlipat-lipat sementara produktivitas barang dan jasa menurun. Akibatnya Yunani terjerat oleh 'perdagangan utang atau pengkomoditian uang' yang harus dibayarkan oleh negara kepada lembaga pemberi utang. Sungguh memprihatinkan.
Video berikut menjelaskan tentang gagalnya sistem ekonomi berbasis Uang Fiat.
Mari kita kembali pada suasana 'zaman dulu' dimana barang dijadikan sebagai sesuatu yang lebih berharga daripada uang. Uang hanya lembaran kertas yang difungsikan sebagai alat tukar. Bukan komoditi. Maka jangan sekali-kali membuat nilai uang menjadi bertambah mengikuti waktu, karena uang bukan 'barang' yang harus dijual-belikan. Dan melipatgandakan nilai uang sangat dekat dengan aktiitas riba atau bahkan riba itu sendiri. Terkecuali uang tersebut dicetak dalam bentuk barang yang berharga seperti kepingan dinar atau logam berharga lain.
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabb-nya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan melipat-gandakan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang senantiasa berbuat kekafiran / ingkar, dan selalu berbuat dosa.” (QS. al-Baqarah [2]: 275-276)
wallahu a'lam
Zen Noh Koperasi Agrikultur Terbesar di Dunia
Zen Noh Jepang merupakan koperasi terbesar dari 300 koperasi yang diranking ICA. Dengan basis pertanian, jejaring Zen Noh telah merambah ke berbagai bisnis, yang menjangkau banyak negara. Padahal, koperasi ini baru dibentuk pada 1972, jauh lebih muda ketimbang koperasi-koperasi raksasa di Eropa dan Amerika Serikat.
Para petani Jepang, memiliki rebut tawar (bargaining position) yang luar biasa kuat, dalam konstelasi ekonomi dan politik di negaranya. Sudah menjadi pengetahuan umum, kalau berbagai komoditi pertanian yang dihasilkan petaninya, jauh lebih mahal ketimbang komoditi sejenis di negara lain. Tapi, pemerintah Jepang tidak bisa sembarangan mengimpor komoditi tersebut, tanpa persetujuan petani. Jatuhnya menteri pertanian karena mengabaikan aspirasi petani, bukan hal yang aneh terjadi di Jepang.
Kekuatan luar biasa dimiliki petani Jepang, antara lain karena mereka solid berhimpun dalam koperasi pertanian. Tapi, soliditas itu bukan cuma ditunjukkan untuk menekan (pressure group), melainkan juga dalam mengembangkan jaringan bisnis. Dan, ini yang terpenting, semuanya memungkinkan lantaran para petani Jepang berhimpun dalam koperasi.
Koperasi pertanian Jepang, membentang dalam sebuah jaringan yang kokoh, dari tingkat primer hingga sekunder, yang berpuncak pada Zen Noh sebagai ferederasi koperasi pertanian di tingkat nasional. Dengan perputaran omset mencapai 63.449 dolar AS, atau Rp 583,73 triliun) pertahun, saat ini Zen Noh menempati urutan tertinggi dalam ICA Global 300, yang dirilis International Co-operative Alliance (ICA) pada Oktober 2007 lalu.
Zen Noh berdiri pada 30 Maret 1972, hasil penggabungan dua sekunder koperasi pertanian level nasional, yaitu Zenkoren (yang bergerak dalam pengadaan kebutuhan pertanian) dan Zenhanren (bergerak di bidang pemasaran produk pertanian). Kedua sekunder koperasi ini berdiri pada 1948.
Secara keseluruhan, Zen Noh menghimpun 1.173 koperasi pertanian, 1.010 di antaranya merupakan primer koperasi pertanian. Sisanya merupakan sekunder koperasi pertanian tingkat provinsi, federasi koperasi lain yang terkait dengan bidang pertanian dan peternakan. Hampir semua kebutuhan petani Jepang, dipenuhi melalui koperasi (umumnya disebut JA atau Nohkyo). Mulai dari pengadaan berbagai peralatan dan input pertanian, permodalan, sampai pemasaran produk pertanian. Bahkan, kebutuhan barang sehari-hari pun, diperoleh lewat koperasi.
Dengan jaringannya, koperasi pertanian Jepang menangani sektor pertanian dari hulu sampai hilir, termasuk sektor pendukungnya seperti keuangan dan asuransi. Pada awalnya, tanaman pertanian yang menjadi perhatian adalah padi. Total produksi beras yang dihasilkan, rata-rata mencapai 1,58 juta ton per tahun.
Namun, pada perkembangan selanjutnya, koperasi juga mengarahkan petani untuk melakukan diversivikasi tanaman. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi over supply beras sehingga harganya jatuh. Koperasi selalu mengupayakan agar harga setiap komoditi di tingkat petani tetap tinggi, sesuai dengan standar hidup di Jepang, yang termasuk paling tinggi di dunia.
Tidak seperti negara berkembang yang pada umumnya mengorbankan sektor pertanian untuk membangun industri, yaitu dengan memperkecil nilai tukar hasil pertanian di hadapan barang produk industri, di Jepang nilai tukar keduanya selalu diusahakan setara. Dengan begitu, tingkat kesejahteraan para petani, tidak ketinggalan dengan masyarakat yang bekerja di sektor industri.
Strategi tersebut, bukan tanpa risiko. Semula, Jepang memang bisa menerapkan kebijakan untuk melarang impor komoditi pertanian yang banyak dihasilkan petaninya, kendati harganya jauh lebih mahal di banding pasar dunia. Namun, pada 1993, Jepang dipaksa membuka keran impor, melalui Kesepakatan Umum tentang Tarif dan Perdagangan (GATT). Berdasarkan kesepakatan itu, mulai 1995 Jepang membuka impor beras, meskipun dibatasi hanya 4 persen dari kebutuhan beras dalam negeri. Memasuki tahun 2000, batasan itu diberbesar menjadi 4,8 persen.
Namun, Pemerintah Jepang tetap melindungi petaninya, antara lain dengan menetapkan bea masuk cukup tinggi, di samping tetap memberikan subsidi pada input pertanian. Melalui koperasi, petani Jepang memang mempunyai lobi yang kuat di pemerintahan. Bahkan di Partai Demokrat Liberal (LDP) yang merupakan partai besar, banyak orang koperasi yang berkiprah. Mereka mampu meyakinkan pemerintah, bahwa membatasi impor komoditi pertanian dalam jangka panjang bakal menumbulkan ketergantungan yang bisa berakibat fatal. Dalam jangka pendek, melindungi pertanian di dalam negeri juga terkait dengan stabilitas politik nasional.
Lantas, apakah pertanian Jepang menjadi pasif berlindung di balik proteksi pemerintah? Tentu saja, tidak. Koperasi pertanian Jepang aktif melakukan kampanye yang mengusung tema “Produk Lokal untuk Konsumen Lokal”. Upaya untuk menjaga loyalitas penduduk Jepang pada produk pertanian dalam negeri ini, tidaklah semata-mata mengandalkan unsur emosional, tapi juga rasional.
Kendati harganya relatif lebih tinggi, koperasi pertanian menjamin bahwa seluruh komoditi pertanian yang dihasilkan anggotanya, memenuhi standar higienis tinggi. Dengan label dengan system bar-code di setiap kemasan pertanian yang dibeli di toko koperasi, konsumen dengan jelas mengetahui siapa petani yang menanam produk yang mereka beli. Maka, jika terjadi sesuatu, komplain lebih mudah di lakukan. Agar produk pertanian itu bisa dijual lebih murah, koperasi membangun jaringan toko sendiri, sehingga bisa memotong jalur distribusi.
Perkembangan bisnis setiap koperasi pertanian di Jepang, pada gilirannya, mendorong Zen Noh untuk terus melebarkan sayap bisnisnya, dengan jaringan yang tersebar di 26 negara, termasuk Indonesia, dan memiliki afiliasi dengan 249 perusahaan. Jumlah karyawannya mencapai 12,5 ribu orang lebih.
Berikut data Top 300 Koperasi di dunia dengan revenue terbesar di seluruh dunia menurut data ICA.
1. 10 Revenue Terbesar
2. Koperasi dengan Revenue Terbesar Berdasarkan Sektor Usaha
3. Distribusi Revenue Berdasar Sektor Usaha
4. 10 Negara dengan Total Revenue Terbesar
Sementara itu Indonesia pada tahun 2014 kemarin baru menargetkan masuk 300 elite koperasi dunia. Mari kita kembali kepada soko guru ekonomi bangsa, yakni koperasi.
Sumber:
http://ica.coop/en/media/resources
http://www.thenews.coop/49090/news/general/view-top-300-co-operatives-around-world/
http://atanitokyo.blogspot.com/2009/02/zen-noh-koperasi-terbesar-di-dunia.html
https://rivaldiligia.wordpress.com/2011/01/08/73/
http://www.depkop.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1370:2014-dua-koperasi-ditargetkan-masuk-300-elite-dunia&catid=50:bind-berita&Itemid=97
Zen Noh Jepang merupakan koperasi terbesar dari 300 koperasi yang diranking ICA. Dengan basis pertanian, jejaring Zen Noh telah merambah ke berbagai bisnis, yang menjangkau banyak negara. Padahal, koperasi ini baru dibentuk pada 1972, jauh lebih muda ketimbang koperasi-koperasi raksasa di Eropa dan Amerika Serikat.
Para petani Jepang, memiliki rebut tawar (bargaining position) yang luar biasa kuat, dalam konstelasi ekonomi dan politik di negaranya. Sudah menjadi pengetahuan umum, kalau berbagai komoditi pertanian yang dihasilkan petaninya, jauh lebih mahal ketimbang komoditi sejenis di negara lain. Tapi, pemerintah Jepang tidak bisa sembarangan mengimpor komoditi tersebut, tanpa persetujuan petani. Jatuhnya menteri pertanian karena mengabaikan aspirasi petani, bukan hal yang aneh terjadi di Jepang.
Kekuatan luar biasa dimiliki petani Jepang, antara lain karena mereka solid berhimpun dalam koperasi pertanian. Tapi, soliditas itu bukan cuma ditunjukkan untuk menekan (pressure group), melainkan juga dalam mengembangkan jaringan bisnis. Dan, ini yang terpenting, semuanya memungkinkan lantaran para petani Jepang berhimpun dalam koperasi.
Koperasi pertanian Jepang, membentang dalam sebuah jaringan yang kokoh, dari tingkat primer hingga sekunder, yang berpuncak pada Zen Noh sebagai ferederasi koperasi pertanian di tingkat nasional. Dengan perputaran omset mencapai 63.449 dolar AS, atau Rp 583,73 triliun) pertahun, saat ini Zen Noh menempati urutan tertinggi dalam ICA Global 300, yang dirilis International Co-operative Alliance (ICA) pada Oktober 2007 lalu.
Zen Noh berdiri pada 30 Maret 1972, hasil penggabungan dua sekunder koperasi pertanian level nasional, yaitu Zenkoren (yang bergerak dalam pengadaan kebutuhan pertanian) dan Zenhanren (bergerak di bidang pemasaran produk pertanian). Kedua sekunder koperasi ini berdiri pada 1948.
Secara keseluruhan, Zen Noh menghimpun 1.173 koperasi pertanian, 1.010 di antaranya merupakan primer koperasi pertanian. Sisanya merupakan sekunder koperasi pertanian tingkat provinsi, federasi koperasi lain yang terkait dengan bidang pertanian dan peternakan. Hampir semua kebutuhan petani Jepang, dipenuhi melalui koperasi (umumnya disebut JA atau Nohkyo). Mulai dari pengadaan berbagai peralatan dan input pertanian, permodalan, sampai pemasaran produk pertanian. Bahkan, kebutuhan barang sehari-hari pun, diperoleh lewat koperasi.
Dengan jaringannya, koperasi pertanian Jepang menangani sektor pertanian dari hulu sampai hilir, termasuk sektor pendukungnya seperti keuangan dan asuransi. Pada awalnya, tanaman pertanian yang menjadi perhatian adalah padi. Total produksi beras yang dihasilkan, rata-rata mencapai 1,58 juta ton per tahun.
Namun, pada perkembangan selanjutnya, koperasi juga mengarahkan petani untuk melakukan diversivikasi tanaman. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi over supply beras sehingga harganya jatuh. Koperasi selalu mengupayakan agar harga setiap komoditi di tingkat petani tetap tinggi, sesuai dengan standar hidup di Jepang, yang termasuk paling tinggi di dunia.
Tidak seperti negara berkembang yang pada umumnya mengorbankan sektor pertanian untuk membangun industri, yaitu dengan memperkecil nilai tukar hasil pertanian di hadapan barang produk industri, di Jepang nilai tukar keduanya selalu diusahakan setara. Dengan begitu, tingkat kesejahteraan para petani, tidak ketinggalan dengan masyarakat yang bekerja di sektor industri.
Strategi tersebut, bukan tanpa risiko. Semula, Jepang memang bisa menerapkan kebijakan untuk melarang impor komoditi pertanian yang banyak dihasilkan petaninya, kendati harganya jauh lebih mahal di banding pasar dunia. Namun, pada 1993, Jepang dipaksa membuka keran impor, melalui Kesepakatan Umum tentang Tarif dan Perdagangan (GATT). Berdasarkan kesepakatan itu, mulai 1995 Jepang membuka impor beras, meskipun dibatasi hanya 4 persen dari kebutuhan beras dalam negeri. Memasuki tahun 2000, batasan itu diberbesar menjadi 4,8 persen.
Namun, Pemerintah Jepang tetap melindungi petaninya, antara lain dengan menetapkan bea masuk cukup tinggi, di samping tetap memberikan subsidi pada input pertanian. Melalui koperasi, petani Jepang memang mempunyai lobi yang kuat di pemerintahan. Bahkan di Partai Demokrat Liberal (LDP) yang merupakan partai besar, banyak orang koperasi yang berkiprah. Mereka mampu meyakinkan pemerintah, bahwa membatasi impor komoditi pertanian dalam jangka panjang bakal menumbulkan ketergantungan yang bisa berakibat fatal. Dalam jangka pendek, melindungi pertanian di dalam negeri juga terkait dengan stabilitas politik nasional.
Lantas, apakah pertanian Jepang menjadi pasif berlindung di balik proteksi pemerintah? Tentu saja, tidak. Koperasi pertanian Jepang aktif melakukan kampanye yang mengusung tema “Produk Lokal untuk Konsumen Lokal”. Upaya untuk menjaga loyalitas penduduk Jepang pada produk pertanian dalam negeri ini, tidaklah semata-mata mengandalkan unsur emosional, tapi juga rasional.
Kendati harganya relatif lebih tinggi, koperasi pertanian menjamin bahwa seluruh komoditi pertanian yang dihasilkan anggotanya, memenuhi standar higienis tinggi. Dengan label dengan system bar-code di setiap kemasan pertanian yang dibeli di toko koperasi, konsumen dengan jelas mengetahui siapa petani yang menanam produk yang mereka beli. Maka, jika terjadi sesuatu, komplain lebih mudah di lakukan. Agar produk pertanian itu bisa dijual lebih murah, koperasi membangun jaringan toko sendiri, sehingga bisa memotong jalur distribusi.
Perkembangan bisnis setiap koperasi pertanian di Jepang, pada gilirannya, mendorong Zen Noh untuk terus melebarkan sayap bisnisnya, dengan jaringan yang tersebar di 26 negara, termasuk Indonesia, dan memiliki afiliasi dengan 249 perusahaan. Jumlah karyawannya mencapai 12,5 ribu orang lebih.
Berikut data Top 300 Koperasi di dunia dengan revenue terbesar di seluruh dunia menurut data ICA.
1. 10 Revenue Terbesar
2. Koperasi dengan Revenue Terbesar Berdasarkan Sektor Usaha
3. Distribusi Revenue Berdasar Sektor Usaha
4. 10 Negara dengan Total Revenue Terbesar
Sementara itu Indonesia pada tahun 2014 kemarin baru menargetkan masuk 300 elite koperasi dunia. Mari kita kembali kepada soko guru ekonomi bangsa, yakni koperasi.
Sumber:
http://ica.coop/en/media/resources
http://www.thenews.coop/49090/news/general/view-top-300-co-operatives-around-world/
http://atanitokyo.blogspot.com/2009/02/zen-noh-koperasi-terbesar-di-dunia.html
https://rivaldiligia.wordpress.com/2011/01/08/73/
http://www.depkop.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1370:2014-dua-koperasi-ditargetkan-masuk-300-elite-dunia&catid=50:bind-berita&Itemid=97
Selama tujuh bulan Jokowi menguasai pemerintahan, semakin banyak masyarakat yang berkesimpulan tetap bahwa Jokowi tak laik untuk memimpin negara ini. Salah satu indikatornya adalah Jokowi seringkali Cacat Merencanakan Total (Cacat Mental) dalam mengambil kebijakan.
Kebijakan yang sebenarnya belum matang seringkali terlalu terburu-buru dikeluarkan oleh pemerintah. Kematangan ini bisa menyangkut perencanaan dan koordinasi antar lembaga pemerintahan. Dampak dari Kebijakan Cacat Mental yang prematur ini diantaranya adalah seringkali tidak sinkronnya pernyataan dari antara presiden, wapres atau menteri, dan pelanggaran kebijakan oleh pemerintah itu sendiri.
Mari kita perhatikan beberapa kebijakan berikut:
1. Kebijakan Pembekuan PSSI yang berakibat pemberlakuan sanksi FIFA.
Dampak dari kebijakan ini adalah 'nganggurnya' pemain, pelatih, dan manajemen FC. Bahkan para pecinta bola harus terhenti untuk bisa menikmati tontonan murah persepakbolaan Indonesia yang bisa meringankan kepenatan hidup.
Dan pemerintah sampai saat ini belum memberikan solusi terkait dampak yang telah terjadi tersebut. Siapa yang dirugikan? Tentu saja rakyat sepakbola. Siapa yang diuntungkan? Entahlah.
2. Kebijakan pelarangan rapat di hotel bagi aparat pemerintahan yang kemudian dianulir oleh pemerintah sendiri.
Dampak dari kebijakan ini adalah para aparat pemerintah harus bersusah payah merancang ulang desain teknis pelaksanaan program kegiatan yang berkaitan karena desain anggaran yang sudah dibuat harus disesuaikan dengan adanya kebijakan tersebut. Tentu saja bisa mengurangi kualitas pencapaian program. Dampak lain yang dirugikan adalah para pebisnis hotel dan semua stakeholder yang terkait. Lagi-lagi rakyat dan aparat pemerintah di level bawah yang dirugikan.
Dan pemerintah dengan mudahnya menganulir kebijakan tersebut tanpa rasa bersalah sedikitpun.
3. Kebijakan pelarangan mengundang lebih dari 400 tamu undangan jika ada aparatur negara atau pejabat yang mengadakan resepsi hajatan.
Dapak dari kebijakan ini adalah tidak leluasanya aparatur pemerintah untuk dapat mengundang keluarga, teman, dan relasinya untuk bersama-sama mendoakan dan mensyukuri acara hajatan tersebut. Rakyat yang kebetulan menjadi aparatur pemerintah di level bawah lagi-lagi menjadi korban.
Dan kebijakan ini dilanggar sendiri oleh Jokowi dengan mengundang lebih dari 400 undangan dalam resepsi pernikahan anaknya. Bahkan memanfaatkan sekretariat negara untuk kepentingan pribadinya.
4. Pemblokiran situs Islam.
Dampak dari kebijakan ini adalah agenda dakwah umat Islam melalui media internet menjadi terganggu. Masyarat Indonesia muslim tidak lagi leluasa mengakses informasi keislaman melalui situs-situs yang di blokir tersebut. Siapa yang dirugikan? Tentu saja masyarakat muslim pada umumnya dan pemilik media, karyawan dan stakeholder pemilik media tersebut.
Setelah diprotes keras oleh masyarakat, pemerintah akhirnya mencabut blokir situs-situs Islam tersebut. Terlihat sekali kebijakan yang dikeluarkan sangat grasa-grusu.
5. Kenaikan Harga BBM
Pada awal menjabat, Jokowi menaikan harga BBM tanpa berhitung lebih matang terhadap dampak ekonomi yang diakibatkan.
Dampak kenaikan harga BBM ini yang dirasakan paling berat karena tidak hanya berdimensi persoalan ekonomi yang berat, namun juga sosial dan stabilitas keamanan.
Dan alih-alih harga BBM diserahkan ke mekanisme pasar. Pemerintah menjadi kapitalis dan liberal. Sampai saat ini pemerintah belum mengeluarkan analisis kuantitatif yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat terkait kebijakan BBM ini.
a) Bagaimana pemerintah mengantisipasi gejolak ekonomi yang diakibatkan dari kenaikan harga BBM tersebut?
b) Berapa lama masyarakat harus berhemat akibat kenaikan pendapatan semakin tidak bisa diimbangi oleh pengeluaran rumah tangga yang semakin besar akibat melonjaknya harga barang-barang?
c) Bagaimana pemerintah mengatasi dampak goyahnya keseimbangan rumah tangga produksi dan rumah tangga konsumsi?
d) Bagaimana strategi pemerintah dalam mengontrol proyek-proyek pengalihan dana subsidi BBM tersebut? Belakangan ada perundangan-undangan baru yang memberikan jaminan proteksi hukum untuk pelaksana anggaran proyek infrastruktur dari gugatan masyarakat.
e) Berapa lama efek pengalihan subsisi BBM tersebut? Kapan proyek infrastruktur dinikmati dan apakah ketika infrastruktur tersebut sudah selesai dibangun, sektor rill produksi bisa mengimbanginya? Atau malah sebagian sektor riil sudah keburu terpuruk akibat resesi?
f) Kapan return on iveststment bisa dicapai oleh pemerintah dari dana subsidi BBM yang menjadi hak rakyat pasal kepemilikan sumber daya alam UUD 1945 tersebut? 120 Triliyun yang kata sang presiden 'dibakar habis' akan kembali kapan?
g) Bagaimana cara pemerintah menghitung secara simultan sehingga memunculkan angka-angka alokasi 120 T dana subsidi BBM tersebut diperuntukan 11,7 T Dana Desa, 11,9 T Pmebangunan Kapal dan Pelabuhan, 14,3 T Kartu Keluarga Sejahter dan Keluarga Harapan, 16,9 T Subsidi pertanian, 19,7 Dana Alokasi Khusus, 2,6 T Kartu Indonesia Sehat, 3,3 Armada perbatasan, sistem informasi dan logistik kelautan, 33,2 T Proyek Infrastruktur waduk, air minum, jalan dan jalan tol, dan 6,4 T Kartu Indonesia Pintar? Berapakah indeks atau koefisisen masing-masing variabel pengalihan dana akan memberikan kontribusi bagi sektor ekonomi lain?
h) Dan yang paling penting lagi, bagaimana rakyat bisa memastikan bahwa Jokowi dan rezimnya tidak sedang BERBOHONG mengelabui rakyat atas apa-apa yang disampaikan berkaitan kebijakan kenaikan harga BBM tersbut?
Yang pasti, dampak yang dirasakan oleh rakyat dalam hanya 7 bulan ini sudah begitu hebat. Pencapaian asumsi dan target RAPBN belum nampak. Dollar naik, inflasi meningkat, pengangguran meningkat, sektor produksi menurun, kredit macet, produktivitas bank dan lembaga keuangan semakin lesu, harga-harga barnag melonjak naik dan daya beli menurun.
Selain 5 hal yang disebut di atas, masih banyak lagi kebijakan rezim Jokowi yang memperlihatkan Cacat Mental tadi. Padahal perencanaan amatlah penting. Tanpa perencanaan yang matang, maka pemerintah hanya akan melahirkan kebijakan yang berdampak fatal. Persis seperti apa yang sering disampaikan oleh para filusuf dan praktisi:
"Planning without action is futile, Action without planning is fatal"
Semoga saja Jokowi dan teamnya semakin sadar bahwa mengurus negara dengan slogan "kerja...kerja...kerja..." tersebut bukan berarti tak didampingi oleh sebuah perencanaan yang matang dan total. Jika Jokowi enggan untuk berubah dan masih 'cacat mental' maka Indonesia bisa semakin fatal. Dan prediksi Jusuf Kalla bisa saja menjadi kenyataan: "Indonesia akan hancur jika Jokowi jadi presiden".
Wallahu a'lam





















