Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Saat ini Indonesia sudah punya media sosial sendiri bernama PAZIIM. Mendaftar dan aktif di Media Sosial PAZIIM adalah sama saja dengan mendukung upaya kemandirian bangsa sehingga kita tidak terus menerus bergantung pada media sosial milik asing.
Banyak fitur-fitur di PAZIIM yang tidak dimiliki oleh media sosial yang kita kenal selama ini, seperti misalnya di PAZIIM memungkinkan kita untuk bisa posting file, audio dan product. Fitur ini sangat cocok bagi rekan-rekan yang terbiasa berjualan online di medsos.
Buat rekan-rekan yang ingin membuat akun di Medsos PAZIIM, berikut langkah-langkahnya:
1. Buka Browser menggunakan PC atau HP.
2. Ketikkan www.paziim.com di Address bar.
3. Pilih Sign Up yang ada pada sudut kanan atas layar.
4. Entry form pendaftaran yang disediakan:
- Username (tak boleh ada spasi), contoh: atikahcantik
- Alamat email yang digunakan, contoh: atikah@gmail.com
- Password yang unik, contoh: atikaH-186
- Jenis kelamin (male atau female)
5. Klik Let's Go.
Akan muncul keterangan registrasi sudah berhasil dan konfirmasi aktivasi PAZIIM melalui email.
6. Buka email dan pilih tombol konfirmasi aktivasi yang berwarna merah. (jika email masuk ke folder spam atau junk, pindahkan terlebih dahulu ke folder inbox atau primary).
7. Anda akan secara otomatis masuk ke medsos PAZIIM atau lakukan Login melalui browser.
Selain matahari (syam) dan bulan (qomar), ada 7 kata yang digunakan dalam Alquran untuk menjelaskan tentang benda langit yang selama ini diterjemahkan oleh Depag sebagai "bintang".
Kata-kata tersebut adalah: Nujuum disebut 11x, Buruuj 3x, Kaukaab 3x, Kawaakib 2x, Masoobikha 2x, Khunsi 1x, dan Syi'ra 1x.
Masing-masing istilah benda langit menggambarkan keadaan yang khusus. Nujuum misalnya disebut sebagai benda langit yang digunakan sebagai petunjuk arah, begitu pula buruuj misalnya yang dideskripsikan sebagai benda langit yang membentuk gugusan.
Kajian ini jarang sekali ditemui dalam kajian-kajian ilmu kewahyuan yang kita dapatkan di bangku sekolah atau pun madrasah. Karena semua istilah tersebut diterjemahkan sama (sebagai bintang), maka dulu kita menganggap bahwa benda-benda langit itu memiliki gambaran yang sama persis, tidak spesifik. Padahal perintah Allah agar kita memikirkan penciptaan alam semesta agar kita yakin tentang kekuasaan Tuhan, sungguhlah banyak.
Namun yang jelas, 7 istilah benda langit tersebut berbeda sama sekali dengan istilah 'syam' yang merujuk pada matahari.
Artinya, dalam Alquran, bintang tak sama dengan matahari. Nujuum, Buruuj, Kaukaab, Kawaakib, Masoobikha, Khunsi, dan Syi'ra adalah berbeda sama sekali dengan syam.
Berseberangan dengan Alquran, justru dalam sains, matahari dianggap sebagai bintang yang memiliki ciri yang sama dengan bintang-bintang yang lain di alam semesta.
Lalu manakah yang mutlak kita yakini benar, Alquran atau Sains?
"Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya)," (QS 16: 12)
Catatan:
Penelusuran dibantu dengan aplikasi QuranCode yang dapat didownload di qurancode.codeplex.com
Dengan bantuan aplikasi QuranCode, ditemukan 7899 kata 'Bumi' (الارض) yang termuat dalam 425 ayat dan 80 surat di Alquran.
Dari sekian banyak ayat tersebut, ada beberapa ayat yang menjelaskan bentuk bumi. Istilah yang digunakan diantaranya Mihaada, Bisaatho', Sutihat, Fiirosyan, Thohaaha, Dahaaha, Madadnaaha, Mahdaa dan Barizatan.
Tidak ada satu pun dari sekian banyak istilah tersebut yang secara tekstual menyatakan bahwa bumi bulat, berselimut seperti bola atau berputar. Baru belakangan ini ada yang menafsirkan 'Dahaaha' sebagai 'telur burung unta'.
Sungguh, ada kekhawatiran ketika ayat tentang bentuk bumi yang jelas-jelas bersifat muhkamaat ini kemudian dibuat seolah-olah menjadi mutasyaabihaat akibat sudah terlanjur memperoleh informasi dari 'sains' yang mengklaim bentuk bumi bulat. Kata terhampar (spread out) kemudian 'dipaksakan' ditafsirkan sebagai 'bisa saja' berselimut seperti bola, 'bisa saja' karena sejauh mata memandang, 'bisa saja' karena saat ayat diturunkan pemahaman manusia tentang sains masih terbatas, dan 'bisa saja' 'bisa saja' yang lain.
Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami". Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS 3:7)
"Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari perilaku tersesat dan disesatkan ..."
Bagaimana Islam Meruntuhkan Teori Heliosentris:
https://blog.fe101.net/bagaimana-islam-meruntuhkan-teori-heliosentris/
Bumi Datar dan Keterangan dalam Alquran:
https://www.youtube.com/watch?v=fKjwWFTk-Ww&list=PLe9AesU9vkROul7AqtDUahX7iD7N5gXAq&index=1
Link download Aplikasi QuranCode: http://qurancode.codeplex.com/
Awalnya mereka bikin teori bumi mengelilingi matahari. Masalah muncul dengan teori ini, sebagian belahan bumi akan mengalami siang terus menerus dan sebagian belahan bumi lain akan mengalami malam terus menerus. Ini jelas tidak sesuai dengan fakta.
Lalu bikin teori baru: Bumi Berotasi pada porosnya. Sehingga siang dan malam memungkinkan terjadi. Namun masalah muncul kembali, air laut dan benda-benda di permukaan bumi akan terlempar akibat rotasi bumi tersebut. Dan saat lompat seharusnya kita tertinggal dari posisi awal. Ini juga tidak sesuai dengan fakta karena air di permukaan bumi tetap tenang tidak terpengaruh sedikitpun (terlempar) akibat rotasi bumi.
Putar otak, melalui Issac Newton mereka bikin lagi Teori Gravitasi. Bumi dan benda bermassa (saja) memiliki gaya tarik. Teori ini pun menimbulkan masalah dan pertanyaan baru, yakni benda-benda di atas permukaan bumi seharusnya akan tertarik ke bumi akibat besarnya gravitasi bumi seperti bulan yang tertahan pada orbitnya. Namun faktanya tidak demikian. Burung dan awan sama sekali tidak tertarik oleh kuatnya gaya gravitasi. Mekanisme kerja gaya gravitasi masih tidak bisa dijelaskan dan graviton masih sebatas hipotesis.
Maka direkayasalah sebuah Teori Inersia. Sebuah benda akan terus menerus mempertahankan kedudukannya. Atmosfir dianggap satu sistem inersia dengan bumi yang berotasi. Sayangnya, tidak ada eksperimen yang mampu membuktikan fluida di sekitar bola berputar akan ikut berotasi bersama bola dengan kecepatan yang sama. Ini pun tidak sesuai dengan fakta.
Saat ini mereka lagi mati-matian bikin percobaan untuk menemukan Gravitation Wave dan bikin Teori Cooliris demi menutup kelemahan teori gravitasi dan teori atmosfir berotasi bersama bumi.
Apa gak capek ya?
Neng Nabila Syafitri silakan dilengkapi dengan asal-usul Mas Newton.
Salāmun`alaikum wa raḥmatullâḥi wa barakātuh,
Segala puji hanya hak Allâhﷻ yang menjadikan manusia makhluk ketuhanan atas asbab tiupan Nūr-Nya yang menjadi ruh bagi kita. Selawat dan salam insyaAllâh senantiasa tercurah atas Nabi Muḥammad Rasūlullâhﷺ, keluarganya, para sahabatnya, dan seluruh pengikutnya, mu`minin wal mu`minat-muslimin wal muslimat, hingga akhir zaman. Āmīn, yā Rabb al-`alamīn.
Tulisan ini semacam surat terbuka yang merupakan tanggapan atas isi tausiyah Ustaż Felix Siauw bertajuk “Flat Earth Lucu Aja” sebagaimana dimuat pada video di bawah ini. Mudah-mudahan yang bersangkutan, Ustaż Felix Siauw, sudi hadir untuk bermuzakarah di sini.
Berikut ini tanggapan mengenainya poin demi poin.
PERNYATAAN UST. FELIX
Menit 1:49
“Dalam pembahasan baik dan buruk, maka dalilnya adalah Quran dan sunnah. Dalam pembahasan benar dan salah, maka dalilnya adalah bukti-bukti yang bersifat ilmiah”
TANGGAPAN:
Subhanallâḥ, Ustaż. Bagaimana Ustaż bisa ringan begitu mensekularisasi isi Quran? Sebenarnya cukup dengan status Mas Rudi Rosidi di bawah ini pun, punah sudah pandangan yang Ustaż sampaikan itu.
Kalau kita memandang isi Quran hanya sebatas baik dan buruk, itu artinya kita memandang keberislaman itu isinya hanya sebatas akhlak.
Menyatakan isi Quran hanya sebatas soal baik dan buruk, sangatlah menyesatkan. Justru yang dipakai dalam Quran pun ialah kata haq dan baṭil yang makna umumnya mengacu kepada benar dan salah.
Dalam bahasa Arab secara lugawi (harfiah):
haq berasal dari haqqa-yahiqqu-haqqan, yang artinya (ke-)benar(-an).
Antonimnya ialah baṭil yang artinya salah.
Dalam Q.S. Al-Ikhlās: 3, Allâhﷻ berkalam bahwa Diri-Nya tidak beranak dan tidak diperanakkan. Lalu jika ada orang yang menyatakan bahwa Tuhan itu beranak dan diperanakkan, ini masalah baik dan buruk atau masalah benar dan salah?
Jika ada orang yang menyatakan isi Quran hanya soal baik dan buruk, artinya ia orang yang lalai bahwa Kalam Allâhﷻ itu ada dua macam, yaitu
1. ayat qauliyah berupa firman yang tertulis dalam Quran
2. ayat kauniyah berupa kenyataan yang ada di alam [buka paling tidak Surah An-Nahl:89 tadi dan Al-Imran:190-191].
Bahkan, sebenarnya seisi Quran itu menjelaskan seisi alam semesta dunia sampai akhirat. Ini artinya isi Quran dengan isi alam semesta itu wajib selaras dan wajib berhubung-kait!
Untuk soal matematika √9=? jawabannya bisa benar dan salah, memang benar.
Namun, itu pengambilan analogi yang salah kaprah dan terlalu sempit jika dipertentangkan pada isi Quran. Kata siapa benar dan salah dalam soal matematika itu tidak ada kaitannya dengan Quran? Silakan cermati wawasan berikut:
Dari sisi manusia, kita menamai suatu benda dengan suatu sebutan/nama. Nah, dalam rangka menamai dan menyebut sesuatu itulah lalu timbul ilmu bahasa--yang paling dasar, kita pakai simbol aksara latin dari /a/ sampai /z/, atau pakai simbol aksara Arab dari /ا/ sampai /ى/. Inilah bukti bahwa ketika kita menamai benda dengan suatu sebutan artinya kita meng-iqra ayat kauniyah di alam.
Demikian pula tersusunnya ilmu matematika yang menggunakan bahasa simbol angka (0-9) lengkap dengan segala rerumus dan notasinya. Semua itu tidak lain adalah buah dari iqra atas ayat kauniyah di alam. Perhatikan gegambar berikut.
Jadi sudah jelas ya. Pernyataan Ustaż bahwa
“Dalam pembahasan baik dan buruk, maka dalilnya adalah Quran dan sunnah. Dalam pembahasan benar dan salah, maka dalilnya adalah bukti-bukti yang bersifat ilmiah”
sebaiknya dikoreksi karena sudah teranulir dan batal demi kebenaran Quran. Kalau kita mau saklek, pandangan sedemikian itu sama saja dengan memfitnah Quran.
Asal-usul alam semesta dalam Teori Big Bang mereka itu menyatakan bahwa segala sesuatu di alam ini, termasuk diri-diri kita, terjadi secara kebetulan. Kebetulan kosmik artinya tidak ada yang mengaturnya. Tidak ada yang mengaturnya artinya Tuhan itu tidak ada.
Jadi Ustaż, justru kosmologi Heliosentris dan Bumi Bulat yang sepaket dengan Teori Big Bang itulah pemahaman yang datang dari otak-otak munkar para sekuler, ateis, dan penyembah setan. Heliosentris, Bumi Bulat, dan Big Bang justru disebarkan para penyembah setan supaya umat manusia, baik sadar maupun tidak, jadi sama dengan mereka: 'memantati' Tuhan.
Justru kalangan Flat Earth sedunia sepakat bahwa Teori Bumi Bulat, Kosmologi Heliosentris, dan teori Big Bang itu digagas para penganut saintisme untuk menyembunyikan Tuhan dari kehambaan para manusia.
Jadi, meyakini bumi bulat jelas-jelas bisa jadi asbab kekafiran yang tidak disadari. Sampai di sini, saya yakin Ustaż memahami duduk permasalahannya ya.
وَهُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ۬ وَڪَانَ عَرۡشُهُ ۥ عَلَى ٱلۡمَآءِ لِيَبۡلُوَڪُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلاً۬ۗ
"Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah Ars-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya." (Q.S. Hūd: 7)
Juga dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Aż-Ż ahabi dari Abdullâh bin Amr, dia berkata, “Allâh telah menciptakan air di atas langit yang ke tujuh dan menjadikan di atas air adalah Arsy.”
PERTANYAANNYA: "DI KOSMOLOGI MANA YANG MENYEBUTKAN DI LANGIT ITU ADA AIR/LAUT?"
Adapun perbandingan jumlah ayat Quran yang mengacu pada bentuk bumi bisa dilihat pada gambar tabel berikut.
Bahkan, tafsir kata daḥāhā pada satu-satunya ayat yang dipaksakan untuk mendukung dalih bentuk Bumi sebagai bulat (lonjong telur burung onta) pun ternyata salah kaprah secara naḥwu ṣaraf.
Cukup kita lihat air. Sifat-sifat yang Allâhﷻ tetapkan atas diri air itu merupakan ayat kauniyah yang memudahkan kita membaca bentuk Bumi tanpa musti terbang tinggi, tanpa perlu alat bantu lain selain mata normal dan hati jujur atas pandangan mata kita itu.
Jadi untuk mengetahui bentuk bumi, cukup pandang air dan jujurlah pada hati. Jangan sampai air menertawakan kebulatan tekad kita meyakini bumi bulat. Ada yang pernah lihat air melengkung dan bisa manjat pohon?
Mohon jangan manja menuntut penjelasan berlebihan menanyakan perihal benda-benda langit. Kita ini semua kelas rakyat. NASA saja yang budget-nya triliunan, cuma bisa ngibul soal gerhana dan fenomena lelangit lainnya. Apalagi sains modern telah sengaja disalah arah selama 500 tahun. Maka perlu 500 tahun penelitian dari awal lagi oleh para saintis modern yang jujur.
Toh, siapa pun tidak percaya Bumi Datar juga tidak apa-apa. Kita tetap bersaudara, hanya sedikit perbedaan kualitas antara kita: kadar iqra dan pengakuan jujur atas kebenaran ayat kauniyah di depan mata.
Meski demikian, kalangan FE pun tidak berpangku tangan. Ada banyak ekperimen sederhana yang mereka lakukan untuk menjelaskan fenomena benda-benda langit dan itu semua ilmiah. Cek Zetetic Cosmogeny <~~ ini hasil pertemuan ilmiah para saintis jujur pada tahun 1800-an atau yang baru-baru ini sudah dilakukan para punggawa FE Indonesia secara serentak di 55 kota: pengukuran tinggi matahari yang laporan ilmiahnya bisa dicek di tautan ini.
Untuk tambahan informasi FE dalam Quran, silakan Ustaż Felix cermati dengan saksama infografik berikut:
Jangan juga tersalah paham. Yang dimaksud kalangan FE sebagai bumi datar itu tidak melayang-layang di angkasa:
Sumber Tulisan: ADAM TROY EFFENDY
Segala puji hanya hak Allâhﷻ yang menjadikan manusia makhluk ketuhanan atas asbab tiupan Nūr-Nya yang menjadi ruh bagi kita. Selawat dan salam insyaAllâh senantiasa tercurah atas Nabi Muḥammad Rasūlullâhﷺ, keluarganya, para sahabatnya, dan seluruh pengikutnya, mu`minin wal mu`minat-muslimin wal muslimat, hingga akhir zaman. Āmīn, yā Rabb al-`alamīn.
Tulisan ini semacam surat terbuka yang merupakan tanggapan atas isi tausiyah Ustaż Felix Siauw bertajuk “Flat Earth Lucu Aja” sebagaimana dimuat pada video di bawah ini. Mudah-mudahan yang bersangkutan, Ustaż Felix Siauw, sudi hadir untuk bermuzakarah di sini.
Berikut ini tanggapan mengenainya poin demi poin.
PERNYATAAN UST. FELIX
Menit 1:49
“Dalam pembahasan baik dan buruk, maka dalilnya adalah Quran dan sunnah. Dalam pembahasan benar dan salah, maka dalilnya adalah bukti-bukti yang bersifat ilmiah”
TANGGAPAN:
Subhanallâḥ, Ustaż. Bagaimana Ustaż bisa ringan begitu mensekularisasi isi Quran? Sebenarnya cukup dengan status Mas Rudi Rosidi di bawah ini pun, punah sudah pandangan yang Ustaż sampaikan itu.
![]() |
| Alquran menjelaskan segala sesuatu |
Kalau kita memandang isi Quran hanya sebatas baik dan buruk, itu artinya kita memandang keberislaman itu isinya hanya sebatas akhlak.
- Kalau Islam hanya sebatas akhlak, saudara-saudara kita yang Hindu, Buddha, Kristen, bahkan yang agnostik dan ateis pun banyak yang berakhlak baik.
- Kalau akhlak Islam itu sebatas baik-buruk moralitas, apa bedanya Islam dengan bukan Islam?
Menyatakan isi Quran hanya sebatas soal baik dan buruk, sangatlah menyesatkan. Justru yang dipakai dalam Quran pun ialah kata haq dan baṭil yang makna umumnya mengacu kepada benar dan salah.
Dalam bahasa Arab secara lugawi (harfiah):
haq berasal dari haqqa-yahiqqu-haqqan, yang artinya (ke-)benar(-an).
Antonimnya ialah baṭil yang artinya salah.
Dalam Q.S. Al-Ikhlās: 3, Allâhﷻ berkalam bahwa Diri-Nya tidak beranak dan tidak diperanakkan. Lalu jika ada orang yang menyatakan bahwa Tuhan itu beranak dan diperanakkan, ini masalah baik dan buruk atau masalah benar dan salah?
Ayat Qauliyah, Ayat Kauniyah, dan Hubung-kait di antara Keduanya
Lebih lanjut,Jika ada orang yang menyatakan isi Quran hanya soal baik dan buruk, artinya ia orang yang lalai bahwa Kalam Allâhﷻ itu ada dua macam, yaitu
1. ayat qauliyah berupa firman yang tertulis dalam Quran
2. ayat kauniyah berupa kenyataan yang ada di alam [buka paling tidak Surah An-Nahl:89 tadi dan Al-Imran:190-191].
Bahkan, sebenarnya seisi Quran itu menjelaskan seisi alam semesta dunia sampai akhirat. Ini artinya isi Quran dengan isi alam semesta itu wajib selaras dan wajib berhubung-kait!
Untuk soal matematika √9=? jawabannya bisa benar dan salah, memang benar.
Namun, itu pengambilan analogi yang salah kaprah dan terlalu sempit jika dipertentangkan pada isi Quran. Kata siapa benar dan salah dalam soal matematika itu tidak ada kaitannya dengan Quran? Silakan cermati wawasan berikut:
Dari sisi manusia, kita menamai suatu benda dengan suatu sebutan/nama. Nah, dalam rangka menamai dan menyebut sesuatu itulah lalu timbul ilmu bahasa--yang paling dasar, kita pakai simbol aksara latin dari /a/ sampai /z/, atau pakai simbol aksara Arab dari /ا/ sampai /ى/. Inilah bukti bahwa ketika kita menamai benda dengan suatu sebutan artinya kita meng-iqra ayat kauniyah di alam.
Demikian pula tersusunnya ilmu matematika yang menggunakan bahasa simbol angka (0-9) lengkap dengan segala rerumus dan notasinya. Semua itu tidak lain adalah buah dari iqra atas ayat kauniyah di alam. Perhatikan gegambar berikut.
![]() |
| Geometri elevasi |
![]() |
| Pengukuran horison |
![]() |
| Horison dan lapisan tanah |
![]() |
| Geometri Bayangan |
![]() |
| Golden Ratio |
Jadi sudah jelas ya. Pernyataan Ustaż bahwa
“Dalam pembahasan baik dan buruk, maka dalilnya adalah Quran dan sunnah. Dalam pembahasan benar dan salah, maka dalilnya adalah bukti-bukti yang bersifat ilmiah”
sebaiknya dikoreksi karena sudah teranulir dan batal demi kebenaran Quran. Kalau kita mau saklek, pandangan sedemikian itu sama saja dengan memfitnah Quran.
Flat Earth Pahaman dari Ateis?
Saya tidak tahu Ustaż Felix mendapat informasi tersebut dari mana. Adapun yang perlu Ustaż pertimbangkan adalah fakta-fakta sejarah sains berikut ini:- Heliosentris digagas oleh Nicolaus Copernicus <~~ penyembah setan
- Heliosentris didukung oleh Galileo Galilei <~~penyembah setan dari kalangan illuminati
- Teori Gravitasi digagas oleh Newton dan didukung Einstein <~~ keduanya penyembah setan berkedok Jesuit
- Teori Big Bang digagas oleh Lemaître <~~ seorang sekuler berjubah pastor dan dia dijadikan dasar keilmiahan oleh Hawking <~~ ateis
Asal-usul alam semesta dalam Teori Big Bang mereka itu menyatakan bahwa segala sesuatu di alam ini, termasuk diri-diri kita, terjadi secara kebetulan. Kebetulan kosmik artinya tidak ada yang mengaturnya. Tidak ada yang mengaturnya artinya Tuhan itu tidak ada.
Jadi Ustaż, justru kosmologi Heliosentris dan Bumi Bulat yang sepaket dengan Teori Big Bang itulah pemahaman yang datang dari otak-otak munkar para sekuler, ateis, dan penyembah setan. Heliosentris, Bumi Bulat, dan Big Bang justru disebarkan para penyembah setan supaya umat manusia, baik sadar maupun tidak, jadi sama dengan mereka: 'memantati' Tuhan.
Justru kalangan Flat Earth sedunia sepakat bahwa Teori Bumi Bulat, Kosmologi Heliosentris, dan teori Big Bang itu digagas para penganut saintisme untuk menyembunyikan Tuhan dari kehambaan para manusia.
Jadi, meyakini bumi bulat jelas-jelas bisa jadi asbab kekafiran yang tidak disadari. Sampai di sini, saya yakin Ustaż memahami duduk permasalahannya ya.
Soal Flat Earth Hanya ada di Al-Kitab Kristen?
Di sini jelas sekali Ustaż lupa adanya dedalil berikut:وَهُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ۬ وَڪَانَ عَرۡشُهُ ۥ عَلَى ٱلۡمَآءِ لِيَبۡلُوَڪُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلاً۬ۗ
"Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah Ars-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya." (Q.S. Hūd: 7)
Juga dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Aż-Ż ahabi dari Abdullâh bin Amr, dia berkata, “Allâh telah menciptakan air di atas langit yang ke tujuh dan menjadikan di atas air adalah Arsy.”
PERTANYAANNYA: "DI KOSMOLOGI MANA YANG MENYEBUTKAN DI LANGIT ITU ADA AIR/LAUT?"
Flat Earth dalam Quran
A. Ayat Qauliyah Bumi Datar
Ustaż Felix bilang di video bahwa pemaknaan “menghamparkan” itu bisa juga diterapkan pada bentuk bola? Gak salah tuh, Ustaż ??!! Kalau pada selain bidang datar, sebutannya membungkus atau mengikuti bentuknya dong (bisa membulatkan, mengkotakkan, dsb.), bukan menghamparkan.Adapun perbandingan jumlah ayat Quran yang mengacu pada bentuk bumi bisa dilihat pada gambar tabel berikut.
![]() |
| Perbandingan ayat Alquran tentang bentuk bumi |
![]() |
| Terjemahan daḥāhā |
B. Ayat Kauniyah Bumi Datar
Wahyu pertama, perintah pertama, syariat pertama itu bunyinya: Iqra! <~~ mungkin sudah banyak teman-teman yang bosan membaca kalimat saya ini. Sebenarnya untuk meyakini bentuk Bumi yang benar, kita-kita yang awam fisika dan astronomi, sudah diberi kemudahan oleh Allâhﷻ dengan kehendak-Nya pada Q.S. Al-Baqārāh:185, asal kita mau ber-iqra.Cukup kita lihat air. Sifat-sifat yang Allâhﷻ tetapkan atas diri air itu merupakan ayat kauniyah yang memudahkan kita membaca bentuk Bumi tanpa musti terbang tinggi, tanpa perlu alat bantu lain selain mata normal dan hati jujur atas pandangan mata kita itu.
![]() |
| Ayat Kauniyah pada air: selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah dan permukaanya selalu datar jika tertampung. |
![]() |
| Sifat alami permukaan air selalu datar |
Jadi untuk mengetahui bentuk bumi, cukup pandang air dan jujurlah pada hati. Jangan sampai air menertawakan kebulatan tekad kita meyakini bumi bulat. Ada yang pernah lihat air melengkung dan bisa manjat pohon?
Mohon jangan manja menuntut penjelasan berlebihan menanyakan perihal benda-benda langit. Kita ini semua kelas rakyat. NASA saja yang budget-nya triliunan, cuma bisa ngibul soal gerhana dan fenomena lelangit lainnya. Apalagi sains modern telah sengaja disalah arah selama 500 tahun. Maka perlu 500 tahun penelitian dari awal lagi oleh para saintis modern yang jujur.
Toh, siapa pun tidak percaya Bumi Datar juga tidak apa-apa. Kita tetap bersaudara, hanya sedikit perbedaan kualitas antara kita: kadar iqra dan pengakuan jujur atas kebenaran ayat kauniyah di depan mata.
Meski demikian, kalangan FE pun tidak berpangku tangan. Ada banyak ekperimen sederhana yang mereka lakukan untuk menjelaskan fenomena benda-benda langit dan itu semua ilmiah. Cek Zetetic Cosmogeny <~~ ini hasil pertemuan ilmiah para saintis jujur pada tahun 1800-an atau yang baru-baru ini sudah dilakukan para punggawa FE Indonesia secara serentak di 55 kota: pengukuran tinggi matahari yang laporan ilmiahnya bisa dicek di tautan ini.
Untuk tambahan informasi FE dalam Quran, silakan Ustaż Felix cermati dengan saksama infografik berikut:
![]() |
| Kiblat Masjidil Haram akan tepat jika bentuk bumi datar (tak ada bantahan dan multitafsir) |
Jangan juga tersalah paham. Yang dimaksud kalangan FE sebagai bumi datar itu tidak melayang-layang di angkasa:
![]() |
| Propaganda gegambar bumi datar untuk melemahkan konsep Flat Earth |
Bukti-bukti Satelit itu Hoax
Yang simpel, silakan Ustaż cermati gambar berikut:
![]() |
| Satelit Hoax |
Yang rinci, silakan Ustaż cermati video pendek berikut:
Adapun penjelasan Ustaż Felix soal naik pesawat membuktikan bumi itu bulat, saya tidak paham maksudnya bagaimana. Saya sendiri bukan sekali-dua lho naik pesawat udara.
Akhirul Kalam: Dahulukanlah Tabayyun Sebelum Berfatwa
Penafian Ustaż Felix terhadap fakta Bumi Datar sepanjang tausiyah di atas cukup memberi bukti bahwa Ustaż belum sempat ber-tabayyun secara paripurna. Hanya karena ada video “peneliti” Southern Hemisphere yang penampilannya saleh--lengkap dengan peci, janggut, dan bawa label “Islam”--lalu serta-merta yakin kalangan FE itu para pengkhayal?
Jangan-jangan sejak awal yang dicari itu memang uraian bantahan-bantahan terhadap FE dahulu tanpa sudi mencari tahu apa sebenarnya yang disebut Bumi Datar itu? Sampai-sampai di menit 8:43 Ustaz bilang, “Sumber-sumber yang dipercaya sudah banyak, Antum malah milih sumber-sumber yang tidak dipercaya.”
Maksudnya sumber yang bisa dipercaya itu salah satunya beliau di bawah ini?
![]() |
| Kebohongan ilmuwan sains |
atau yang ini?
![]() |
| Teori satelit yang tidak masuk akal |
Sebagai info, “gerak jatuh” yang disebut Dr. Thomas Djamaluddin di atas mengacu pada Teori Relativitas Khusus Einstein yang nyata-nyata tidak terbukti di eksperimen sederhana pada akhir video pendek berikut.
Sayang sekali jika sudah sadar akan makar-makar Dajjalis, tetapi Ustaż lalai meng-iqra lebih jauh sedikit lagi. Sebenarnya fakta-fakta Bumi Datar itu salah satu asbab bangkit dan tegaknya kembali khilafah di akhir zaman.
Demikian surat terbuka ini saya sampaikan, Ustaż Felix Siauw. Harap maklum jika uraian di sini njelimet. Ini semata agar segala celah kesangsian tertutupi. Mohon maafkan banyak hal yang kurang berkenan di hati Ustaż selama membaca ini. Mohon maaf zahir-batin. Wabillāhi tawfiq wal ḥidayah.
Wa salāmun`alaikum wa raḥmatullâḥi wa barakātuh.
“Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” (H.R. Bukhari & Muslim)
Sumber Tulisan: ADAM TROY EFFENDY
Elang adalah hewan berdarah panas, mempunyai sayap dan tubuh yang diselubungi bulu pelepah. Sebagai burung, elang berkembang biak dengan cara bertelur yang mempunyai cangkang keras di dalam sarang yang dibuatnya. Ia menjaga anaknya sampai mampu terbang.
Elang merupakan hewan pemangsa. Makanan utamanya hewan mamalia kecil seperti tikus, tupai, kadal, ikan dan ayam, juga jenis-jenis serangga tergantung ukuran tubuhnya. Terdapat sebagian elang yang menangkap ikan sebagai makanan utama mereka.Biasanya elang tersebut tinggal di wilayah perairan. Paruh elang tidak bergigi tetapi melengkung dan kuat untuk mengoyak daging mangsanya. Burung ini juga mempunyai sepasang kaki yang kuat dan kuku yang tajam dan melengkung untuk mencengkeram mangsa serta daya penglihatan yang tajam untuk memburu mangsa dari jarak jauh tak terkira.
Elang mempunyai sistem pernapasan yang baik dan mampu untuk membekali jumlah oksigen yang banyak yang diperlukan ketika terbang. Jantung burung elang terdiri dari empat bilik seperti manusia. Bilik atas dikenal sebagai atrium, sementara bilik bawah dikenali sebagai ventrikel.
Di dunia ini ada banyak sekali jenis burung elang, di Indonesia sendiri terdapat sekitar 21 jenis burung elang yang masuk ke dalam kategori hewan yang hampir punah. Berikut daftarnya:
- Elang Hitam
- Elang Brontok
- Elang Jawa
- Elang-ular Bido
- Elang-ular Jari Pendek
- Elang Buteo
- Elang Gunung
- Garuda
- Elang Sulawesi
- Elang Wallace
- Elang Flores
- Elang-laut Perut Putih
- Elang Bondol
- Elang-ikan Kepala Abu
- Elang-ikan Kecil
- Elang Perut Karat
- Elang Tikus
- Elang Paria
- Rajawali Kuskus
- Rajawali Tutul
- Elang emas
Elang dalam kehidupan manusia sering dijadikan simbol semangat pantang menyerah, perlindungan, kecepatan, kekuatan dan kekuasaan di udara. Beberapa negara bahkan menggunakan elang sebagai lambang negara.
Berikut 5 fakta tentang burung elang yang diambil dari beberapa sumber:
2. Elang memiliki mata yang tajam dan mampu terbang hingga ketinggian ribuan meter. Mata elang bersudut pandang 300 derajat dan mampu memperbesar penampakan benda enam hingga delapan kali dari penampakan awalnya. Pada ketinggian 4.300 meter, elang dapat melihat 30.000 hektar daerah di sekelilingnya. Pada ketinggian 1.500 meter, elang dapat melihat gerakan atau perbedaan warna benda untuk menentu-kan letak mangsanya.
3. Elang merupakan hewan pemakan daging. Makanan utamanya hewan mamalia kecil seperti tikus, tupai, kadal, ikan dan ayam, juga jenis-jenis serangga tergantung ukuran tubuhnya. Terdapat sebagian elang yang menangkap ikan sebagai makanan utama mereka. Namun elang tidak memakan bangkai.
4. Elang mempunyai sepasang kaki yang kuat dan kuku yang tajam dan melengkung untuk mencengkeram mangsa serta daya penglihatan yang tajam untuk memburu mangsa dari jarak jauh tak terkira.
5. Elang mempunyai sistem pernapasan yang baik dan mampu untuk membekali jumlah oksigen yang banyak yang diperlukan ketika terbang. Jantung burung elang terdiri dari empat bilik seperti manusia. Bilik atas dikenal sebagai atrium, sementara bilik bawah dikenali sebagai ventrikel.
sesaat engkau hadir pada kesunyian hati
sejenak ujarmu menyiratkan kedewasaan jiwa
walau jarak menghalau peraduan pandangan
dan waktu menggenggam hikayat berbeda,
namun bahasa hati seakan berangguk pelan mengiyakan kesamaan makna hidup
lalu ...
tiba-tiba jemari lentikmu melangkah perlahan menyusun huruf dan kata
bait-bait sederhana pun dengan tulus menawarkan cerita indah tentang rindu dan harapan
harapan itu begitu indah bagai kidung syahdu di senyap dunia
harapan itu begitu suci bagai buku takdir tak ternoda
harapan itu begitu tegas bagai tangkai kehidupan di taman surga
dan harapan itu adalah kerinduanmu pada Sang Kekasih hati ...
wahai gadis yang mensucikan dan disucikan,
mohon ampunlah ketika hati mencoba melampaui takdirmu
karena masa depan tak kan lepas dalam genggaman-Nya
karena Dialah kebenaran dan pemilik rahasia sejati
melangkahlah perlahan pada tangga kefahaman tuk menemukan kebenaran hakiki
sisihkan lebih banyak ruang dan waktu tuk mengabaikan suara sumbang tentangmu
... yang membisikkan ringkihnya onggokan bumimu ...
bahkan mungkin kau sering tersadarkan
bahwa mereka tak lebih dari pengumbar keangkuhan keterbatasan akal hati
bukankah kerendahan hatimu lebih kuat mencahayakan tentang arti kehidupan?
dan malam ini ... rindu dan harapanmu kembali terlelap dalam mimpi
ingatkah engkau, siapakah pemegang jiwa ketika mimpi menyelimuti diri?
maka bersegeralah menata akal, hati, rindu dan harapan ...
agar engkau semakin yakin, jiwa-jiwa kecil penyemangat hidupmu menjadi lebih bergairah ...
karena kelak mereka akan menjadi goresan-goresan lukisan indah hidupmu
yang dapat kau saksikan tidak sekedar dalam dongeng rindu dan harapan ...
Masih banyak umat Islam yang belum memahami sumber-sumber hukum Islam, hiearkinya dan kaidah pengambilan keputusan melalui ijtihad.
Sehingga amat wajar jika dalam pengambilan keputusan berpolitik pun masih banyak dari umat Islam yang akhirnya keliru dalam mengambil keputusan atau memahami sikap seseorang yang telah menggunakan kaidah tersebut.
Semoga tulisan ini bisa memberikan tambahan pencerahan buat kita semua untuk memahami lebih mendalam tentang sumber hukum Islam dan kaidah pengambilan keputusan yang benar.
MEMAHAMI SUMBER-SUMBER HUKUM ISLAM
1. AL-QUR’AN
A. Pengertian Al-Qur’an
Menurut bahasa, Al-Qur’an berasal dari kata dasar Qara-Yaqra’u, Qira’atan-Wa qur’anan, yang artinya bacaan. Sedangkan meurut istilah, Al-Qur’an adalah firman Allah swt. Yang merupakan mukjizat, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. dengan perantara Malaikat Jibril yang tertulis dalam mushaf-mushaf dan disampaikan kepada manusia secara mutawatir yang diperintahkan untuk mempelajarinya. Al-Qur’an tediri dari 114 surat dan 30 juz.
Ada dua cara turun Al Qur’an, pertama secara mujmal (30 juz sekaligus) yaitu diturunkannya Al Qur’an dari ‘Arsy ke Lauh Mahfudh, kedua secara bertahap (Tadriij) sesuai dengan peristiwa / masalah yang dihadapi Nabi yaitu dari Lauh Mahfudh ke dunia yang disampaikan oleh Malaikat Jibril.
B. Kedudukan Al-Qur’an
Sebagai kitab suci, Al-Qur’an merupakan pedoman hidup kaum muslimin. Sebab di dalamnya terkandung aturan dan kaidah-kaidah kehidupan yang harus dijalankan oleh umat manusia. Allah swt. Menetapkan Al-Qur’an sebagai sumber pertama dan utama bagi hukum Islam. Sebagaimana firman-Nya :
“Sungguh, Kami telah menurunkan Kitab )Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad), membawa kebenaran agar engkau mengadili antara manusia dengan apa yang telah diajarkan Allah kepadamu, dan janganlah engkau menjadi penantang (orang-orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang bekhianat. (QS. An Nisa’ : 105).”
C. Fungsi Al-Qur’an
1) Sebagai pedoman hidup manusia
2) Sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa
3) Sebagai mukjizat atas kebenaran risalah Nabi Muhammad saw.
4) Sebagai sumber hidayah dan syari’ah
5) Sebagai pembeda antara yang hak dan yang bathil
2. AL HADITS
A. Pengertian Hadits
Menurut bahasa, hadits artinya baru, dekat dan berita. Sedangkan menurut istilah, hadits adalah perkataan (qaul), perbuatan (fi’il) dan ketetapan (taqrir) Nabi Muhammad saw. yang berkaitan dengan hukum. Hadits disebut juga Sunnah, yang menurut bahasa artinya jalan yang terpuji atau cara yang dibiasakan. Menurut istilah, sunnah sama dengan pengertian hadits, yaitu segala ucapan, perbuatan dan ketetapan Nabi Muhammad saw. yang harus diterima sebagai ketentuan hukum oleh kaum muslimin dan segala yang bertentangan dengannya harus ditolak.
B. Kedudukan Hadits
Sebagaimana Al-Qur’an, hadits juga merupakan sumber hukum Islam. Derajatnya menduduki urutan kedua setelah Al-Qur’an. Hal ini merupakan ketentuan Allah swt. Sebagaimana firman-Nya :
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. (QS. Al Hasyr : 7)”
C. Fungsi Hadits
Sebagai sumber hukum Islam yang kedua, Al-Hadits mempunyai beberapa fungsi yang sangat penting bagi ditegakkannya hukum Islam, diantaranya sebagai berikut :
1) Sebagai penguat hukum yang sudah ada di dalam Al-Qur’an/Bayan At Tauhid
2) Sebagai penjelas atas hukum-hukum yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Dalam hal ini tiga fungsi yang diperankan Al Hadits adalah sebagai berikut :
- Menjelaskan dan merinci hukum-hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an secara global (ijmali).
- Memberi batasan atas hukum-hukum dalam Al-Qur’an yang belum jelas batasannya.
- Mengkhususkan hukum-hukum dalam AL-Qur’an yang masih bersifat umum.
3) Menetapkan hukum-hukum tambahan atas hukum-hukum yang belum terdapat di dalam Al-Qur’an.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Al Hadits sebagai sumber hukum Islam yang kedua tidak dapat dipisahkan dari Al-Qur’an. Barangsiapa yang mengakui Al-Qur’an sebagai sumber hukum Islam dan mengingkari Hadits sebagai sumber hukum Islam kedua, berarti ia termasuk golongan ingkar Sunnah, golongan orang-orang yang sesat. Sebab, hakikatnya ia juga mengingkari isi kandungan Al- Qur’an itu sendiri.
D. Macam-macam Hadits
1) Hadits Qauliyah: Hadits yang didasarkan atas segenap perkataan dan ucapan Nabi Muhammad saw.
2) Hadits Fi’liyah: Hadits yang didasarkan atas segenap perilaku dan perbuatan Nabi Muhammad saw.
3) Hadits Taqririyah : hadits yang didasarkan pada persetujuan Nabi Muhammad saw. terhadap apa yang dilakukan sahabatnya.
Selain itu dikenal hadits lain yang disebut Hadits Hammiyah yaitu hadits yang berupa keinginan Rasulullah saw. yang belum terlaksana.
3. IJTIHAD
Al-Qur’an dan hadits tidak akan berubah dan mengalami penambahan isi bersama dengan berakhirnya wahyu, sementara permasalahan dan problematika kehidupan senantiasa muncul sejalan dengan perkembangan peradaban manusia. Untuk menjawab permasalahan tersebut, Islam menggariskan ijtihad sebagai sumber hukum yang ketiga.
A. Pengertian
1) Menurut arti bahasa Ijtihad berarti : memeras pikiran/berusaha dengan giat dan sungguh-sungguh, mencurahkan tenaga maksimal atau berusaha dengan giat dan sungguh-sungguh.
2) Menurut istilah Ijtihad berarti : berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memecahkan suatu masalah yang tidak ada ketetapan hukumnya, baik dalam Al-Qur’an maupun Hadits, dengan menggunakan akal pikiran serta berpedoman kepada ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan. Dalam Al-Qur’an dan Hadits tersebut orang yang melakukan ijtihad disebut Mujtahid.
Adapun dasar keharusan ijtihad antara lain terdapat di dalam Al-Qur’an surat An Nisa’ [4] : 59 dan sabda Rasulullah saw. kepada Abdullah bin Mas’ud :
Berhukumlah engkau dengan Al-Qur’an dan As Sunnah apabila persoalan itu kau temukan dua sumber tersebut, tapi apabila engkau tidak menemukannya pada dua sumber tersebut maka berijtihadlah!.
B. Syarat-syarat melakukan ijtihad
1) Mengetahui isi dan kandungan Al-Qur’an dan Al Hadits
2) Mengetahui seluk beluk bahasa Arab dengan segala kelengkapannya
3) Mengetahui ilmu ushul dan kaidah-kaidah fiqh secara mendalam
4) Mengetahui soal-soal Ijma’
Adapun hal-hal yang bisa diijtihadkan adalah hal-hal yang di dalam Al-Qur’an dan Al Hadits tidak diketemukan hukumnya secara pasti.
C. Kedudukan dan Dalil Ijtihad
Ijtihad sangat diperlukan dalam kehidupan umat Islam untuk mencari kepastian hukum (Islam) terhadap berbagai persoalan yang muncul yang tidak ditemukan sumber hukumnya secara jelas dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Selain itu, nas Al-Qur’an dan Al-Hadits sendiri juga mengharuskan kaum muslimin yang memiliki kemampuan pengetahuan dan pikiran untuk berijtihad. Perhatikan firman Allah swt. Berikut ini:
"Maka ambilah (kejadian) itu menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan. (QS. Al Hasyr : 2)”
Juga hadits Rasulullah saw. yang dikutip oleh Ibnu Umar berikut :
“Kamu lebih mengerti mengenai urusan kehidupan duniamu. (HR. Muslim)”
D. Metode-metode Ijtihad
Ada beberapa cara atau metode yang telah dirumuskan oleh para mujtahid dalam melakukan ijtihad yang juga merupakan bentuk dari ijtihad itu sendiri, antara lain adalah :
1) Ijma’
Menggunakan bahasa Ijma’ berarti menghimpun, mengumpulkan dan menyatukan pendapat. Menurut istilah ijma’ adalah kesepakatan para ulama tentang hukum suatu masalah yang tidak tercantum di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits.
2) Qiyas
Menurut bahasa Qiyas berarti mengukur sesuatu dengan contoh yang lain, kemudian menyamakannya. Menurut istilah, Qiyas adalah menentukan hukum suatu maslaah yang tidak ditentukan hukumnya dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits dengan cara menganalogikan suatu masalah dengan masalah yang lain karena terdapat kesamaan ‘illat (alasan).
3) Istihsan
Menurut bahasa, Istihsan berarti menganggap/mengambil yang terbaik dari suatu hal. Menurut istilah, Istihsan adalah meninggalkan qiyas yang jelas (jali) untuk menjalankan qiyas yang tidak jelas (khafi), atau meninggalkan hukum umum (universal/kulli) untuk menjalankan hukum khusus (pengecualian/istitsna’), karena adanya alasan yang menurut pertimbangan logika menguatkannya. Contoh: menurut istihsan sisa minuman dari burung-burung yang buas seperti elang, gagak, rajawali dan lain-lain itu tetap suci berbeda dengan sisa minuman dari binatang-binatang buas seperti harimau, singa, serigala dan lain-lain yang haram dagingnya karena sisa makanan binatang-binatnag buas ini mengikuti hukum dagingnya, maka sisa minumannya juga haram (najis). Alasan kesucian dari sisa minuman burung-burung buas tadi : meskipun haram dagingnya, karena burung-burung itu mengambil air minumnya dengan paruh yang berupa tulang (dimanan hukum tulang itu sendiri suci) dan tidak dimungkinkan air liur / ludah yang keluar dari perutnya (dagingnya) itu bercampur dengan sisa minuman tadi. Sedangkan binatang-binatang buas mengambil air minum dengan mulutnya yang sejenis daging sehingga dimungkinkan sekali sisa minumannya bercampur dengan ludahnya.
4) Masalihul Mursalah
Menurut bahasa, Masalihul Mursalah berarti pertimbangan untuk mengambil kebaikan. Menurut istilah, Masalihul Mursalah yaitu penetapan hukum yang didasarkan atas kemaslahatan umum atau kepentingan bersama dimana hokum pasti dari maslah tersebut tidak ditetapkan oleh oleh syar’I (al Qur’an dan Hadits) dan tidak ada perintah memperhatikan atau mengabaikannya. Contoh penggunaan masalihul mursalah kebijaksanaan yang diambil sahabat Abu Bakar shiddiq mengenai pengumpulan al Qur’an dalam suatu mush-haf, penggunaan ‘ijazah, surat-surat berharga dsb.
Dengan perkembangan zaman yang terus semakin maju, muncul berbagai masalah baru yang belum dijumpai ketetapan hukumnya di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Masalah-masalah baru tersebut membutuhkan ijtihad, sehingga menjadi hukum bagi kaum muslimin. Hal ini menuntut kita semua untuk selalu memperdalam ilmu pengetahuan dan wawasan keagamaan kita, sehingga kita mampu menjadi para mujtahid yang memiliki syarat-syarat ijtihad dengan benar. Pintu ijtihad masih terbuka lebar bagi setiap umat muslim yang memiliki syarat-syarat ijtihad. Islam sangat mendorong kaum muslimin untuk melakukan ijtihad. Hal ini ditegaskan Rasulullah saw. dalam haditsnya yag diriwayatkan Mu’az bin Jabal:
"Apabila seorang hakim memutuskan masalah dengan jalan ijtihad kemudian benar, maka ia mendapat dua pahala, dan apabila dia memutuskan dengan jalan ijtihad kemudian keliru, maka dia memperoleh satu pahala. (HR. Bukhari Muslim).”
5) Istish-hab
Melanjutkan berlakunya hukum yang telah ada dan telah diterapkan karena adanya suatu dalil sampai datangnya dalil lain yang mengubah kedudukan hukum tersebut. Misalnya apa yang diyakini ada, tidak akan hilang oleh adanya keragu-raguan, contoh : orang yang telah berwudlu, lalu dia ragu-ragu apakah sudah batal atau belum, maka yang dipakai adalah dia tetap dalam keadaan wudlu dalam pengertian wudlunya tetap sah. Seperti itu juga dalam hal menentukan suatu masalah yang hukum pokoknya mubah (boleh), maka hukumnya tetap mubah sampai dating dalil yang mnegharuskan meninggalkan hokum tersebut.
6) ‘Urf
yaitu berlakunya adat / kebiasaan seseorang atau sekelompok orang / masyarakat baik dalam kata-kata maupun perbuatan yang bisa menjadi dasar hukum dalam menetapkan suatu hukum, misalnya : kebiasaan jual beli dengan serah terima barang dengan uang tanpa harus memerincikan dalam kata-kata secara detail, peringatan mauled Nabi dsb.
7) Madhab Shahabi
yaitu fatwa sahabat secara perorangan, kesepakatan seluruh sahabat atau sahabat lainya (ijma’ sahabat), contoh Ijtihad sahabat Umar secara pribadi/perorangan.
8) Syar’u man qablana
yaitu berlakunya hukum-hukum syari’at pada umat yang telah diajarkan oleh para Nabi dan Rasul Allah terdahulu sebelum adanya syari’at nabi Muhammad SAW. Contoh ; berlakunya syari’at Nabi Dawud, Nabi Musa dan Nabi-Nabi lainnya yang disebutkan dalam Al Qur’an.
9) Saddu az Zara’iyah
yaitu menutup jalan yang menuju kepada kesesatan atau perbuatan terlarang. Contoh : berjudi haram, maka mempelajari cara-cara agar mahir dalam berjudi juga dilarang, berzina itu dosa besar dan jelas dilarang, maka melakukan hal-hal yang bisa mengarah kepada perzinaan juga dilarang (haram).
4. HUKUM TAKLIFI
A. Pengertian Hukum Taklifi
Hukum taklifi ialah hukum yang menghendaki dilakukannya suatu pekerjaan oleh mukallaf (orang dewasa dan berakal sehat), atau melarang mengerjakannya, atau melakukan pilihan antara melakukan dan meninggalkannya. Para ulama ilmu fiqh membedakan hukum taklifi ke dalam lima macam, yaitu Wajib, Haram, Sunat, Makruh dan Mubah.
Untuk dapat membedakan kelima hukum taklifi tersebut, para ulama telah menjelaskannya sebagai berikut :
1) Wajib (Al Ijab)
Menurut bahasa, wajib berarti harus. Menurut istilah ilmu fiqh, wajib ialah suatu perbuatan yang apabila dilaksanakan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan mendapat dosa.
2) Haram (At Tahrim)
Menurut bahasa berarti larangan. Menurut istilah, haram ialah suatu perbuatan yang apabila dilaksanakan mendapat dosa dan apabila ditinggalkan mendapat pahala. Setiap orang yang beriman wajib meninggalkan hal-hal yang diharamkan, agar tidak mendapat dosa dari apa yang dilakukannya. Allah swt. Mengharamkan sesuatu, karena sesuatu tersebut mengandung bahaya, kerusakan, bencana, bahkan kehancuran bagi dirinya maupun orang lain.
3) Sunat (An Nadbu)
Menurut bahasa, sunat berarti kebiasaan. Menurut istilah ilmu fiqh, sunat ialah perbuatan yang apabila dilaksanakan mendapat pahala, dan apabila ditinggalkan tidak mendapat dosa. Allah menyariatkan hal-hal yang bersifat sunat ini untuk menambah amal baik kita kepada Allah swt., dan juga untuk menyempurnakan ibadah-ibadah kita yang kurang sempurna.
4) Mubah (Al Ibaahah)
Menurut bahasa, mubah berarti boleh. Menurut istilah, mubah yaitu suatu perbuatan yang apabila dilaksanakan atau ditinggalkan tidak memperoleh dosa atau pahala.
5) Makruh (al Karaahah)
Menurut bahasa, makruh berarti tidak disenangi. Menurut istilah, makruh ialah suatu perbuatan yang apabila dilaksanakan tidak mendapat dosa dan apabila ditinggalkan memperoleh pahala.
B. Kedudukan Hukum Taklifi
Kedudukan hukum taklifi sangat penting sebagai pokok dalam kerangka penegakan hukum Islam, sesuai dengan tuntutan nash. Sebab, setiap perbuatan seorang mukallaf dalam pandangan Islam mengandung konsekuensi mendatangkan pahala atau dosa tergantung kepada hukum perbuatan tersebut, apakah melaksanakan perintah, melanggar aturan atau memilih anjuran si pembuat hukum, Allah swt.
C. Mempraktikan Contoh-contoh Perilaku yang Sesuai dengan Hukum Taklifi
Untuk dapat membiasakan menerapkan hukum taklifi, hendaknya kamu perhatikan terlebih dahulu beberapa hal sebagai berikut :
1) Tanamkan iman yang kuat dalam hati sanubari, sehingga tidak mudah terbawa arus sesat dalam pergaulan.
2) Tanamkan keyakinan bahwa tugas utama manusia di muka bumi ini adalah beribadah kepada Allah swt., berbuat baik sesama, dan senantiasa taat kepada hukum-hukum Allah swt.
3) Tanamkan keyakinan bahwa hukum taklifi adalah hukum Allah swt. Yang harus dijalankan oleh setiap umat muslim yang beriman, agar dalam menjalani kehidupannya selalu dalam kedamaian dan kebahagiaan.
4) Pahami dengan benar pengertian dan kaidah-kaidah hukum taklifi,agar kita tidak keliru atau salah mengamalkannya.
5) Niatkan ibadah karena Allah, agar dalam menerapkan hukum taklifi kita tidak keliru atau salah mengamalkannya.
6) Mulailah menerapkan hukum taklifi sekarang juga,dari yang paling rendah dan mudah, misalnya menjalankan hukum yang wajib seperti shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan dan sebagainya. Baru setelah terbiasa, tingganlkan yang haram dan laksanakan anjuran atau sunnah.
5. PENGERTIAN DAN HIKMAH IBADAH, SHALAT DAN PUASA
A. Pengertian Ibadah
Ibadah berasal dari kata dasar :”Abada, Ya’budu-‘Ibadan-Wa’ibaadatan” artinya menyembah, mengabdi, dan menghambakan diri. Menurut istilah, ibadah ialah melakukan suatu pekerjaan tertentu yang sesuai dengan ajaran agama dan tidak mengharapkan suatu imbalan apapun selain mengharap ridha Allah swt.
B. Pembagian Ibadah dari segi tata cara dan bentuknya
1) Ibadah murni/ritual/khusus
2) Ibadah umum/luas/mu’amalah
3) Pengertian Shalat
Shalat adalah ibadah yang terdiri atas ucapan dan perbuatan-perbuatan tertentu yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam dengan syarat-syarat tertentu.
4) Pengertian Puasa
Puasa adalah salah satu bentuk ibadah dalam Islam yang berarti menahan diri dari segala perbuatan yang membatalkan yang dilakukan oleh mukallaf pada siang hari, sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
5) Hikmah Ibadah
- Memahami bahwa dirinya adalah makhluk Allah swt. Yang mempunyai kewajiban untuk beribadah, menyembah, mengabdi dan menyerahkan diri kepada-Nya.
- Menyadari bahwa ia akan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di akhirat.
- Memahami bahwa semua tujuan akhir semua aktivitasnya adalah pengabdiannya kepada Allah swt.
- Memahami bahwa dirinya adalah pusat ala mini dan kehidupannya tidak hanya menjadi pelengkap.
6) Hikmah shalat
- Mendatangkan ketentraman dan ketenangan jiwa.
- Dilapangkan rizkinya dalam kehidupan.
- Terhindar dari penyakit hati dan kotoran jiwa.
- Terhapus dosa-dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil kecuali dosa syirik.
- Terhindar dari perbuatan keji dan mungkar.
7) Hikmah puasa
- Meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt. Bagi orang yang menjalankannya.
- Mengendalikan hawa nafsu, khususnya nafsu syetaniyah yang dapat menjerumuskan manusia ke jurang kebinasaan.
- Membiasakan orang yang berpuasa bersabar dan tabah menghadapi berbagai kesukaran dan ujian.
- Mendidik jiwa agar senantiasa amanah, sebab puasa pada hakikatnya melaksanakan amanah tidak makan dan minum.
- Melatih kedisiplinan yang tinggi, sebab dalam puasa terdapat disiplin tidak makan dan minum pada waktu yang telah ditentukan.
- Meningkatkan kesehatan, sebab dalam tenggang waktu satu tahun organ pencerna kita diberi istirahat beberapa hari ketika melaksanakan ibadah puasa wajib maupun sunat.
Semoga bermanfaat ...
Pada malam hari dalam suatu perjalanan yang panjang, seorang Pencari-Kebenaran resah dalam mencari Tuhan. Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang lalu dia berkata: “Inilah Tuhanku“, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam“. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.” Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Maka tatkala matahari itu terbenam, dia sadar lagi bahwa Tuhan harusnya tidak demikian. Cerita indah tersebut seperti diabadikan dalam Al-Quran (Al-An’am: 75-78), dan Pencari Kebenaran tersebut adalah yang mulia Nabi Ibrahim as. dalam perjalanan hijrahnya ke Palestina.
Semua itu memberikan pelajaran bahwa dalam menemukan Tuhan bisa jadi melewati proses yang panjang, namun akal sehat haruslah tetap menjadi panduan. Karena secara rasional Tuhan haruslah berkuasa mutlak, tidak tergantung pada apapun.
Akal adalah modal Awal
Tuhan melengkapi manusia dengan akal, dibandingkan dengan mahkluk lain akal manusia adalah yang paling sempurna. Tentunya dengan akal tersebut manusia mampu berpikir untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah, bahkan yang lebih utama tujuan Tuhan memberi akal pada manusia adalah agar manusia bisa mengenal Tuhan yang menciptakannya. Akal adalah modal awal untuk menemukan Tuhan secara rasional.
Akal manusia memang terbatas, namun bukan berarti dengan keterbatasan itu menjadikan kita buta untuk menemukan Tuhan secara rasional. Ada pendapat yang mengatakan bahwa manusia tidak mungkin bisa menemukan Tuhan dengan akalnya karena ilmu mengenai Tuhan itu sangat rumit, abstrak dan di luar akal manusia, ini adalah pendapat yang tidak benar, karena yang perlu kita fikirkan bukanlah mengenai Dzat Tuhan tetapi hanya untuk mengenal bagaimana sifat-sifat Tuhan yang seharusnya ada, untuk memilah mana Tuhan sejati diantara tuhan-tuhan yang lain..
Percaya bahwa Tuhan itu ada dan mengenal sifat-sifatnya tidak bisa hanya diterima secara dogmatis begitu saja, namun harus dikritisi secara rasional, karena Tuhan melengkapi manusia dengan akal yang cukup.
Untuk menghindari kerancuan logika dalam berfikir kita harus bisa membedakan tiga kondisi logis berikut:
Rasional – Jika fenomena tersebut dengan mudah dapat diterima akal sehat, sesuatu yang memang masuk akal.
Irasional – Jika suatu fenomena yang dengan akal sehat menunjukkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi, dengan kata lain adalah sesuatu yang jelas tidak masuk akal atau mustahil.
Out of Rasio – Jika suatu fenomena tidak dapat di terangkan secara rasional karena keterbatasan pikiran kita, sesuatu yang tidak pernah dialami manusia, tidak bisa dipikirkan, bahkan tidak mampu untuk dibayangkan. Salah satu contoh Out of Rasio adalah kondisi atau keadaan ‘diluar’ Ruang-Waktu.
Kesalahan yang sering terjadi saat berfikir dalam menemukan Tuhan adalah menganggap fenomena yang sebenarnya jelas-jelas irasional namun dipaksakan sebagai Out of Rasio atau dengan dalih dogma atau itu sudah terberikan (given) sehingga tidak perlu dikritisi.
Berikut adalah beberapa sifat-sifat Tuhan yang wajib ada, tanpa sifat-sifat yang wajib ini adalah tidak layak jika tuhan tersebut kita puja sebagai Tuhan.
1. Tuhan itu Ada
Adanya Jagat Raya ini, beserta Ruang-Waktu yang melingkupinya tidaklah mungkin ada dengan sendirinya tanpa Grand Design yang detail dan akurat. Bahkan seperti telah dibahas panjang lebar pada posting sebelumnya, bahwa tidak mungkin peristiwa Big-bang dan terjadinya beberapa tetapan Alam yang akurat dan harmonis seperti sekarang ini tanpa campur tangan kekuatan supernatural dengan inteligensi yang sangat sangat tinggi.
Berkaitan dengan terciptanya Jagat Raya yang akurat dan harmonis ini, seorang profesor astronomi Amerika, George Greenstein menulis dalam bukunya The Symbiotic Universe: “Ketika kita mengkaji semua bukti yang ada, pemikiran yang senantiasa muncul adalah bahwa kekuatan supernatural pasti terlibat.”
“Yang bersifat demikian ialah Allah, Tuhan kamu yang mencipta tiap-tiap sesuatu dari tiada menjadi ada; tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan daripada menyembah Nya?” (QS: Ghafir, Ayat: 62)
Tuhan tidak ada yang menjadikan-Nya dan tidak pula Tuhan menjadikan diri-Nya sendiri. Adanya Tuhan tidak diduhului dengan tiada dan tidak diakhiiri dengan tiada pula. Eksistensi Tuhan adalah mutlak, tidak dibatasi Ruang-Waktu, juga tidak dibatasi dimensi-dimensi yang lain jika ada.
2. Tuhan yang Awal dan Yang Akhir
Jagat Raya kita mempunyai usia sekitar 15 miliar tahun, setua Ruang-Waktu yang melingkupinya dan akan berakhir dalam waktu dekat atau beberapa miliar tahun kedepan. Sain modern telah mengkonfirmasikan hal ini. Artinya Jagat Raya kita ini adalah fana, demikian juga Ruang-Waktu. Tuhan sebagai Pencipta Jagat Raya haruslah abadi. Bahkan secara rasional Dia haruslah ada sebelum semuanya ada dan akan tetap ada setelah semuanya berakhir. Hal ini dimungkinkan jika eksistensi Tuhan tidak didalam Ruang-Waktu, karena Ruang-Waktu hanyalah media yang diperlukan oleh materi dan mahkluk-Nya yang lain untuk eksis. Tuhan bisa tetap eksis tanpa perlu Rang-Waktu.
Karena Tuhan diluar Ruang-Waktu maka baginya adalah sama saja mengenai yang dulu, yang sekarang atau yang akan datang, yang disana, yang disini, yang jauh atau yang dekat semuanya telah diketahui Nya, dan semua dalam gengam kekuasaan Nya, Subhanallah.
“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS: Al-Hadiid, Ayat: 3)
3. Tuhan yang Kekal Abadi
EternalClockSegala sesuatu yang eksis didalam Rang-Waktu, akan berlaku sifat Waktu seperti Sebelum, Sesudah, Lama atau Baru, dan akhirnya akan binasa dan lenyap, karena Ruang-Waktu sendiri nantinya juga akan lenyap, Sedangkan Tuhan yang eksistensinya tidak didalam Ruang-Waktu, secara rasional tidak akan berlaku hukum Waktu karenaya Tuhan akan abadi.
“Segala sesuatu akan binasa (lenyap) kecuali Dzat-nya.” (QS. Qoshos, Ayat:88)
Dengan ini secara rasional bisa dipahami bahwa segala sesuatu yang diaggap tuhan oleh manusia namun eksistensinya di Bumi, di langit, atau dimanapun di sudut Jagat Raya ini maka pasti akan binasa. Adalah irasional jika tuhan-tuhan tersebut bisa abadi, karena tuhan-tuhan tersebut pasti akan mati paling lama akan mati bersamaan dengan hancurnya Jagat Raya atau runtuhnya Ruang-Waktu, sehingga akan menjadi kebodohan jika kita bersikukuh tetap menyebut mereka sebagai Tuhan. Tuhan harusnya abadi, tidak pernah tidur, dan tidak akan mati ..
4. Tuhan yang tidak sama dengan ciptaan Nya
Secara rasional tentu pencipta berbeda dengan semua ciptaan Nya, berbeda dalam hal Dzat Nya, berbeda sifat-sifat Nya dan juga berbeda dalam perbuatan. Kita dan Jagat Raya ini adalah fana, terkungkung dalam media Ruang-Waktu, dibatasi dengan hukum-hukum Alam yang berlaku.
Tuhan adalah sang Pencipta, eksistensi Tuhan tidak memerlukan Ruang dan tidak didalam Waktu, bersifat Mutlak, tidak dibatasi apapun, tentu wujud Nya tidak bisa kita fikirkan, atau kita bayangkan, Out of Rasio.
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura, Ayat:11)
5. Tuhan yang Independent
Tuhan harusnya mandiri bebas dapat melakukan apapun, tidak tergantung atau berkepentingan pada apapun yang lain, sebaliknya kalau dia masih tergantung pada sesuatu yang lain berarti tuhan mempunyai kelemahan.
“Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak berkepentingan apa-apa pun) pada sekalian alam.” (QS. al Ankabut, Ayat:6)
Kekuasaan Tuhan juga tidak akan bertambah atau berkurang karena perbuatan mahkluk ciptaan Nya. Misalnya jika semua manusia dibumi ini tidak ada yang patuh pada Tuhan, maka kekuasaan Tuhan tidak akan berkurang sedikitpun, begitupula sebaliknya.
6. Tuhan yang Esa
Kalau kita perhatikan kertalaan Jagat Raya yang harmonis ini, Tetapan-tetapan fisika yang sangat akurat, kekuatan Gaya-gaya fundamental alam yang seimbang, semua mengarah pada satu Grand Design yang canggih, satu rencana yang sangat-sangat matang. Maka tampaklah bahwa semua itu berasal dari satu sumber yang sama, yaitu satu pencipta supernatural yang sempurna, Dia adalah Allah, Tuhan sekalian alam.
“Dan Tuhan kamu ialah Tuhan yang Esa, tiada tuhan selain Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih”. (QS al Baqarah, Ayat: 163)
Seadainya tuhan itu ada dua, maka ada kalanya mereka bekerjasama dan adakalanya mereka tidak bekerjasama. Jika bekerjasama, maka tampaklah sifat lemah pada kedua tuhan tersebut karena mereka perlu untuk saling tolong menolong dalam mengerjakan sesuatu, juga tolong menolong menunjukkan jika tuhan-tuhan tersebut tidak ada yang berkuasa mutlak. Sebaliknya jika mereka tidak bekerjasama, tentu Jagat Raya ini akan kacau balau, karena banyak tetapan-tetapan Alam yang tidak sinkron, hukum-hukum alam yang saling bertentangan, maka kacaulah Jagat Raya.
“Seandainya di langit dan dibumi ada tuhan-tuhan selain Allah, niscaya langit dan bumi akan rusak.”. (QS. Al Anbiya, Ayat:22)
7. Tuhan yang berkuasa Mutlak
Tuhan harus mempunyai kekuasaan yang mutlak dan tak terbatas, baik kekuasaan di Jagat Raya ini maupun kekuasan di ‘luar’ Ruang-Waktu. tidak ada sesuatupun yang lebih berkuasa diatas Dia, karena jika ada sesuatu yang lebih berkuasa diatas Nya, secara rasional tentu sesuatu itulah yang lebih pantas disebut Tuhan.
Berkuasa mutlak juga berarti tidak ada sesuatupun yang dapat membatasinya. Dimensi Ruang-Waktu adalah salah satu batas buat Materi di Jagat Raya ini, tidak ada Materi yang bisa lolos dari Ruang-Waktu. Jadi secara rasional eksistensi Tuhan haruslah diluar Ruang-Waktu
“Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.”. (QS. Al-Baqarah, Ayat:20)
Adalah suatu hal yang irasional jika ada yang berpendapat bahwa tuhan dapat hadir di Jagat Raya ini sebagai manusia atau apapun wujudnya, bahkan Jagat Raya yang diameternya sekitar 30 miliar tahun perjalanan cahaya inipun tidak akan mampu untuk menghadirkan Tuhan yang tak terbatas..
Demikianlah beberapa sifat-sifat Wajib Tuhan yang utama, sifat yang satu secara logis diperkuat dan disempurnakan dengan sifat Wajib yang lain. Dengan mengetahui sifat-sifat Wajib Tuhan secara logis seperti diatas, diharapkan kita bisa menentukan dan memilah mana tuhan-tuhan yang irasional dan mana Tuhan yang rasional.
Kalau di telaah lebih dalam, sebenarnya masih banyak sifat-sifat wajib Tuhan yang lain namun demikian dengan sifat-sifat Tuhan yang diuraikan di atas telah cukup kiranya digunakan sebagai penuntun untuk menemukan Tuhan yang hakiki, yang kita wajib tunduk, beribadah, dan mengabdikan hidup dan mati kita kepada Nya..
Wallahu a'lam bishowab
Sumber: Ardian Abu Hanifah
Pada suatu saat saya berkesempatan berdiskusi dengan seorang atheis, bukan agnostik. Dia menanyakan rasionalisasi peristiwa Isra' Mi'raj. Menganggapnya sebagai peristiwa yang tidak mungkin, tidak masuk akal. Meminta untuk menunjukkan secara ilmiah disertai dengan pembuktiannya.
Lalu saya memberikan soal matematika yang terlihat sederhana untuk dia selesaikan, sebagai berikut:
Jika p salah satu akar dari persamaan x²- 2x + 3 = 0, berapa nilai dari p³ - p = ...
Dia menanyakan apa hubungannya peristiwa Isra' Mi'raj dengan soal matematika tersebut. Saya katakan, "Selesaikan saja.". Lalu dia mencoba menyelesaikan soalnya.
Selang beberapa jam, dia bilang soalnya tidak bisa diselesaikan. Dia bertanya: "Akarnya kan ada 2, yang anda maksud p³ - p untuk akar yang mana?"
"Selesaikan menurut perhitungan anda. Terserah anda", jawab saya.
Beberapa jam kemudian dia kembali dengan mengatakan:
"Soalnya sulit untuk diselesaikan bahkan menurut saya tidak mungkin bisa diselesaikan karena di samping akarnya imajiner, hasilnya pasti ada dua karena x₁ dan x₂ berbeda".
"Sepertinya anda salah memberikan soal. Persamaan kuadrat yang anda maksud mungkin x² - 2x - 3 = 0, bukan x² - 2x + 3 = 0", dia mulai menyalahkan soalnya.
Saya bilang, "Soalnya sudah benar". Lalu saya berikan waktu sehari untuk menyelesaikan soal tersebut ke dia, dan dia menanggapi nya.
Esok harinya dia kembali menghubungi dan mengatakan masih belum bisa menyelesaikan soal tersebut. Bahkan dia semakin yakin bahwa soalnya salah sehingga tidak didapatkan jawaban nya. Sebab sudah berlembar-lembar kertas coretan dia habiskan untuk menyelesaikan soal tersebut.
Akhirnya saya berikan jawabannya yang hanya memuat 3 baris penyelesaian.
Setelah melihat penyelesaian jawabannya, dia berguman: "Iya ya, koq saya gak kepikiran seperti itu menyelesaikannya."
Sejenak kemudian dia bilang, "Oke mas, saya akui saya keliru. Anda benar. Bukan soalnya yang salah tapi saya belum menemukan cara menyelesaikannya dengan benar."
"Lalu apa hubungannya dengan pertanyaan saya kemarin terkait peristiwa Isra' Mi'raj?", tanya dia selanjutnya.
"Seperti halnya saya sudah yakin bisa menyelesaikan soal matematika tersebut karena sudah memahami ilmu nya, maka untuk memahami kebenaran peristiwa Isra' Mi'raj, anda mesti paham ilmu nya terlebih dahulu. Anda 'belum nyampe' ilmu Isra' Mi'raj nya sehingga anda berkesimpulan peristiwa tersebut tidak masuk akal, bahkan tidak mungkin terjadi", jelas saya.
Kemudian saya lanjutkan penjelasannya, "Seperti halnya penjelasan ilmiah bagaimana cara Rakib dan Atid mencatat amalan kita, sebenarnya bisa saja saya menjelaskan secara ilmiah pula menggunakan ilmu fisika kuantum dan pendekatan sains lainnya atas peristiwa Isra' Mi'raj tersebut. Namun tanpa KEYAKINAN dari anda bahwa peristiwa itu benar-benar terjadi, maka anda akan cenderung menyanggah bahkan menolak lebih awal penjelasannya".
"Jika anda ingin membuktikan kebenarannya, maka anda harus yakin terlebih dahulu bahwa kebenaran itu ada. Seorang Nikola Tesla mampu menemukan Wireless Electricity setelah Tesla begitu yakin bahwa listrik bisa dialirkan tanpa kabel meski Tesla harus mengalami berkali-kali kegagalan eksperimen tersebut," lanjut saya.
"Keyakinan tak mesti mencegah kebebasan pada kita untuk berpikir, menggunakan potensi akal yang luar biasa. Namun keyakinan seharusnya justru membawa kita pada suasana akal yang mudah dibawa menuju nilai-nilai kebenaran dengan metode yang benar pula. Keyakinan akan membawa kita pada cara berpikir yang teratur, sistematis dan ilmiah. Bukankah dalam sains juga hipotesis yang dulu dianggap sebagai sebuah kemustahilan pada waktu kemudian menjadi sebuah kenyataan?" saya menutup penjelasan.
Setelah mendapatkan penjelasan, dia akhirnya bisa menyadari pola pikirnya yang selama ini keliru. Sebab selama ini dia menganggap keyakinan justru menghambat kebebasan berpikir.
Dia malah meminta kepada saya untuk tidak perlu lagi menjelaskan secara ilmiah tentang peristiwa Isra' Mi'raj tersebut. Dia ingin membuktikan nya sendiri. Tentunya dengan KEYAKINAN BARU.
“Allah akan mengangkat kedudukan orang-orang yang beriman dan diberikan ilmu di antara kalian beberapa derajat. Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al Mujadilah [58]: 11)
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Aali ‘Imraan [3]: 190-191).
[Seperti yang diceritakan oleh Nukes]
Obyektifitas dapat terukur dari ketidakenakan dan keengganan kita mengkritisi diri sendiri dan orang-orang yang secara emosional dekat dengan kita.
Jika ketidakobyektifan ini menjadi kebiasaan dan diwajarkan, maka kecenderungan untuk berlaku adil semakin memudar.
Perilaku adil yang dilandasi persatuan dan kemauan yang tinggi pada nilai-nilai musyawarah menjadi gerbang utama mencapai kemakmuran.
Memahami konsep keadilan pada manusia diawali dari pemahaman yang mendalam pada nilai-nilai keadilan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Tuhan pula yang mengajarkan manusia untuk tidak berpecah belah walau dalam suasana perbedaan dengan cara mengedepankan musyawarah.
Jika ketidakadilan berlaku pada sebuah bangsa, maka kreatifitas hampir dipastikan akan terbunuh. Dan jika kemakmuran mensyaratkan kreatifitas, maka kemakmuran tidak akan terwujud tanpa keadilan.
Sehingga dapat disimpulkan sementara bahwa ketidakobyektifan berfikir sangat dipengaruhi oleh suasana hati. Ketidakobyektifan ini mengakibatkan ketidakadilan kemudian menyebabkan terjadinya perpecahan dan pemaksaan kehendak yang berujung pada kehancuran dan ketidakmamuran.
Mungkin para pendiri negeri ini sudah amat memahami konsep ini sehingga Pancasila memberikan 5 dasar yang dimulai dengan sila "Ketuhanan Yang Maha Esa" kemudian diikuti dengan "Kemanusiaan yang adil dan beradab", "Persatuan Indonesia", "Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan", dan diakhiri dengan "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia".
Para pendiri bangsa Yang dominan muslim amat memahami bahwa perilaku mentauhidkan Tuhan, perilaku adil, persatuan, dan musyawarah untuk mewujudkan kemakmuran adalah esensi dari ajaran Islam dalam konteks hubungan kemanusiaan.
Apakah nilai-nilai ini masih ada pada diri kita semua?
Sebelum berbagi pemahaman kepada yang lain, yuk memulai target kemakmuran dengan mengawalinya dari perilaku obyektif pada diri sendiri dan orang tercinta sekitar kita.
Berdamailah pada diri sendiri atas segala kekeliruan yang telah dan selalu diingatkan oleh hati nurani.
Untuk dapat menciptakan kesejahteraan dan keadilan sosial harus mengutamakan musyawarah. Untuk terbiasa musyawarah harus tercipta persatuan. Untuk bisa bersatu harus memiliki sikap adil dan beradab. Dan pada akhirnya sikap adil dan beradab akan terwujud jika kita berketuhanan kepada Yang Esa dengan menjalankan ajaran agama dengan benar.
Wallahu a'lam...
Sependek ingatan saya, pada tahun 90-an dulu frasa gamis syar’i belum ada. Gamis ya syar’i lah. Apalagi? Frasa gamis syar’i waktu itu mungkin setara dengan frasa jomblo ngenes sekarang. Jomblo ya sudah tentu ngenes. Mau bagaimana lagi? Jadi, kata ‘syar’i’ itu inheren dalam kata gamis, seperti halnya kata ‘ngenes’ dalam jomblo. Semacam oksimoron.
Pada tahun 90-an itu, jilbab dan gamis itu pasti panjang, tebal, warna kalem atau gelap, longgar dengan model sederhana. Itu-itu saja. Rasanya ada aura ruhiyah tertentu saat mengenakannya. Rasanya lho, ya. Namun, belakangan ini perasaaan itu lebih mirip seperti ilusi saja.
Masa itu jilbab dan gamis adalah ekspresi dari ketundukan dalam hati pada titah Sang Pencipta. Simbol lahiriah dari esensi batiniah. Mengenakannya adalah ibadah, menetapi perintah menutup aurat. Tak lain tak bukan, tak lebih tak kurang. Hingga kemudian, sampailah kini kita di zaman yang sedemikian rupa berbeda.
Inilah zaman di mana mengenakan jilbab dan gamis tak jauh berbeda seperti soal memilih menu makanan. Mana yang disuka dimakan, mana yang bosan ditinggalkan. Tak ada bobot ruhiyah atau nuansa spiritualitas apapun di sana. Tak ada urusan hidayah di situ. Apa lagi getaran hati yang menggoncang-goncang jiwa ketika memutuskannya. Tak ada.
Pakai gamis tak lebih dari ganti koleksi isi lemari. Hal yang bisa dilakukan tanpa perlu menjemput hidayah datang. Hal yang sama yang akan dilakukan oleh para korban kebakaran dan banjir bandang, mengganti isi lemari. Yang pertama dilakukan penuh sukacita karena terpuaskan nafsu belanja, yang kedua dilakukan dengan terpaksa karena baju hangus dan hanyut di kali.
Hari gini, memakai gamis dan jilbab, juga bisa terjadi hanya karena tak enak pada tetangga dan teman sejawat. Peer pressure. Terpesona pada artis-artis dan model peraga busana muslim di sebuah fashion show. Ngiler pada manekin-manekin butik-butik nan mahal di mal-mal. Apa sajalah pemantik nafsu konsumtif. Tak ada pergumulan batin apapun di sana. Pergumulan isi dompet, iya. Urusannya seenteng ganti sepatu, tas, menu makanan bahkan pacar, karena bosan saja. Impulsif.
Tentu saja, tetaplah ada jilbaber dan gamis user yang melalui proses panjang dan mengharu biru ketika mengenakannya. Hal seperti itu selalu akan ada. Sebab hidayah tak pernah bosan menjemput orang-orang yang berhijrah di tiap zaman.
Tak seperti Hayati, hidayah tak pernah lelah, Bang.
Setelah potensi bisnis gamis syar’i terendus oleh kapitalis industri mode, situasi tak lagi sama. Segala sesuatu jika sudah tersentuh industrialisasi, biasanya memang bakal berganti dimensi. Film sebagai karya seni dan film sebagai industri, logikanya berbeda. Beternak ayam sebagai kegiatan pendukung kehidupan dan beternak sebagai industri, filosofinya berbeda. Menulis sebagai hobi dan menulis karena tuntutan industri, output-nya berbeda. Begitu juga gamis syar’i saat tercelup industri, auranya pun menjadi berbeda.
Yang tadinya bersimpel-simpel, jadi berimpel-rimpel. Yang tadinya tebal menutup bisa jadi tipis menerawang. Yang tadinya longgar semriwing jadi ketat membentuk. Pendeknya yang tadinya dimaksudkan untuk menutupi pesona, jadi menebar pesona.
Duhai ukhti, kemana gerangan engkau mengambil teladan?
Esensi gamis syar’i sebagai ekspresi penghambaan auranya itu kesunyian. Sedangkan konsekuensi gamis syar’i sebagai industri, auranya adalah kemeriahan dan tepuk tangan. Menjadi paradoks yang begitu banal jika kedua hal itu dikawinkan. Yang terjadi kemudian adalah kawin paksa dengan banyak KDRT di dalamnya.
Hedonisme sebagai suplier energi industri mode adalah sesuatu yang bersebrangan dengan nilai-nilai kesederhanaan sebagai salah satu esensi ajaran Islam paling sublim. Enggak nyambung di level substansi, tapi di level permukaan, bisa disulap jadi serasi. Ini dampak dahsyat ketika jargon bisnis akhirat telah tersemat. Logika dan nalar sehat dipersilakan beristirahat.
Mari kita lihat.
Ketika ingin mewarnai industri mode, muslimah diprovokasi untuk terbiasa berhias, tabarruj, menebar pesona demi layak dilihat publik mode. Tampak memalukan, norak, dan ndeso jika datang–apalagi berpartisipasi–dalam sebuah fashion show dengan muka polos, pucat dan berkilat-kilat karena muka berminyak kena cahaya lampu. Itu wajah apa wajan, sih, sebenarnya?
Riasan yang sudah susah payah ditempel-tempel ke wajah, bisa sayang dihapus waktu berwudlu. Ikhtilat, campur baur laki-laki dan perempuan yang wangi-wangi bukan muhrim dalam fashion show adalah hal biasa. Fashion show busana muslim sekalipun. Substansi ajaran Islam yang mengatur gaya hidup, diperkosa oleh misi kapitalis yang mempromosikan hidup gaya.
Inilah salah satu KDRT dalam perkawinan Islam dan kapitalis. Sebuah kekalahan telak yang malah ditepuktangani si pecundang dengan meriah.
Sebuah label besar bahkan menjadikan salah satu oknum terindikasi LGBT sebagai ikon dan desainernya. Dia tampil percaya diri dan advis-advis modenya diamini oleh para penganut keyakinan yang menentang keras orientasi seksual si idola. Para pemuja brand tertentu konon ada yang nangis-nangis karena kalah cepat rebutan koleksi limited yang diincarnya. Ieu teh kumaha, Iteung?
Bagi industri mode sendiri, istilah gamis gaul dan gamis syar’i tak ada beda substansi. Masalahnya hanya perbedaan lini dan segmentasi. Keduanya sama-sama pengumpul pundi-pundi. Satu pabrikan bisa membuat beberapa label untuk masing-masing lini, dan semua laris manis diserap pasar nan hedonis dan gigantis. Urusan menginventarisasi nama-nama label dan share pasarnya, serahkan saja pada Kalis Mardiasih.
Tapi tentu saja, selalu ada pengecualian atas segala sesuatu. Tetap ada para pengusaha gamis dan busana muslim yang rela menempuh jalan sunyi memproduksi perlengkapan muslim tanpa memprovokasi orang untuk berlebihan berkonsumsi. Saya sangat percaya itu dan respek sepenuh hati pada mereka ini. Semoga bisnisnya senantiasa diberkahi. Aamin.
Akhirul kalam wahai para keponakan, dengarkan Tante Gober bersabda :
Jika gamismu lebaran nanti adalah gamismu sepuluh tahun lalu, hidupmu akan baik-baik saja. Lebaran akan tetap jatuh pada 1 Syawal dan takbirnya tetap Allahu Akbar. Sadarlah, tak ada tim hisab dan rukyat ormas manapun yang memperhitungkan keberadaan gamis barumu sebagai dasar pengambilan keputusan.
Tak ada yang berani mengganti bunyi takbir jadi Innalillahi hanya karena kau tak punya gamis OSD pujaan para ukhti.
Ditulis oleh: Siti Maryamah
Sumber Tulisan
























