Showing posts with label Seni. Show all posts
Showing posts with label Seni. Show all posts
sesaat engkau hadir pada kesunyian hati
sejenak ujarmu menyiratkan kedewasaan jiwa
walau jarak menghalau peraduan pandangan
dan waktu menggenggam hikayat berbeda,
namun bahasa hati seakan berangguk pelan mengiyakan kesamaan makna hidup
lalu ...
tiba-tiba jemari lentikmu melangkah perlahan menyusun huruf dan kata
bait-bait sederhana pun dengan tulus menawarkan cerita indah tentang rindu dan harapan
harapan itu begitu indah bagai kidung syahdu di senyap dunia
harapan itu begitu suci bagai buku takdir tak ternoda
harapan itu begitu tegas bagai tangkai kehidupan di taman surga
dan harapan itu adalah kerinduanmu pada Sang Kekasih hati ...
wahai gadis yang mensucikan dan disucikan,
mohon ampunlah ketika hati mencoba melampaui takdirmu
karena masa depan tak kan lepas dalam genggaman-Nya
karena Dialah kebenaran dan pemilik rahasia sejati
melangkahlah perlahan pada tangga kefahaman tuk menemukan kebenaran hakiki
sisihkan lebih banyak ruang dan waktu tuk mengabaikan suara sumbang tentangmu
... yang membisikkan ringkihnya onggokan bumimu ...
bahkan mungkin kau sering tersadarkan
bahwa mereka tak lebih dari pengumbar keangkuhan keterbatasan akal hati
bukankah kerendahan hatimu lebih kuat mencahayakan tentang arti kehidupan?
dan malam ini ... rindu dan harapanmu kembali terlelap dalam mimpi
ingatkah engkau, siapakah pemegang jiwa ketika mimpi menyelimuti diri?
maka bersegeralah menata akal, hati, rindu dan harapan ...
agar engkau semakin yakin, jiwa-jiwa kecil penyemangat hidupmu menjadi lebih bergairah ...
karena kelak mereka akan menjadi goresan-goresan lukisan indah hidupmu
yang dapat kau saksikan tidak sekedar dalam dongeng rindu dan harapan ...
lalu kuasa-Mu adalah segalanya
lalu air mata pun serentak jatuh ke bumi
lalu tiada kata yang tak menyanjungnya
lalu keteguhan hati terasa sulit menghampiri
lalu simponi kemarin terasa indah
lalu untaian kenangan terasa dekat
lalu harapan seakan sirna
lalu kesedihan menjadi nyata
lalu lidah pun terasa kaku berkata
lalu mata pun nanar memandang
lalu telinga pun tak ingin mendengar
lalu hati pun tak ingin merasa
namun masa lalu pasti tak kan kembali
namun masa lalu pasti sulit kugapai
namun masa lalu hanya sekedar angan
namun masa lalu pun akan terasa dekat, karena aku, kau, dia dan mereka berharap tabir Tuhan menjadi terbuka …
kehendak-Nya adalah segalanya
kuasa-Nya adalah bukan kuasa kita
dan rahasia-Nya adalah kenyataan
barangkali hikmah akan menjadi kebutuhan kita dalam setiap berubahnya waktu …
menembus waktu pada kehampaan langkah
sayap kerinduan mengantarkan pada suatu masa
... malam kesepuluh ramadhan yang agung
ketika suara indah yang slalu menemani hidup perlahan melemah
ketika pesan terakhir meruntuhkan air mata kami ke bumi
ketika belaian lembut tergambar jelas kan menghilang
dan ketika mimpi tentang masa depan pupus sudah
cerita kehidupan terasa terhenti pada nyanyian sunyi
karena lembayung penuh warna tak lagi hadir mengindahkan pandangan
karena para ksatria menjadi lemah tanpa senyum kesahajaannya
karena perannya tak tergantikan oleh siapa pun
dan ketika terik mentari mengakhiri langkah kami
unggukan tanah dan tatapan kehilangan terasa menyatu dalam kekuatan satu jiwa
tak kan ada lagi nasi putih yang membangkitkan semangat di pagi hari
tak kan ada lagi cerita dongeng menjelang tidur
tak kan ada lagi hardikan kasih sayang menyertai kenakalan kami
yang tersisa hanya untaian doa penuh makna untuknya
dan keteguhan hati menjaga pesan-pesan indahnya
yang kan slalu menyertai langkah kami
walau kini air mata berulang menyertai ungkapan kerinduan,
dan kehampaan kebahagiaan slalu menyertai tanpa hadirnya
namun doa kami semoga di suatu masa ...
kami dapat kembali mendekap erat tubuhnya
dalam keindahan surga-Nya
tuk kembali merasakan wangi nafas sang bunda ...
selamanya ...
aku datang karena Engkau ada
aku datang karena Engkau ingin
aku pun datang karena kesucian yang Engkau miliki
lalu mereka pun mengagungkanku dengan sebuah kesucian
padahal … kesucian itu hanyalah milik-Mu
lalu Kau utus aku untuk turun dan melekat pada mereka
kepada jiwa, kepada deru nafas, kepada insan,
kepada langit, kepada awan, kepada bintang
kepada kicauan burung, kepada liarnya ular, kepada anggunnya lebah
kepada harum bunga, kepada kerasnya tanah, kepada hamparan bumi
kepada si kecil, kepada sang bunda, dan kepada kekasih
wahai Pemilik jiwa,
ada apa dengan kesucianku?
mereka menyanjungku dalam kefahamannya
mereka menghempaskanku dalam keangkuhannya
hingga terkadang aku berkembang dalam ladangnya
atau aku sering terpuruk bahkan hangus oleh kerasnya hati …
dan suatu saat …
aku datang menyentuh dua insan
aku larut dalam kehangatan mereka
namun … wahai Yang Menggenggamku,
mengapa aku sering menjadi sebuah alasan?
bukankah mereka juga milik-Mu?
kumohon dengan tulus …
jadikan aku bagai cakrawala dalam hati setiap insan,
cakrawala yang dapat menyatukan bumi dan langit
walau aku bukan langit dan aku pun bukan bumi itu
cakrawala yang hadir tak diundang,
dan hilang pun dalam damai bersama kegelapan malam
tanpa harus ada badai yang memaksaku tuk datang atau tuk kembali
dan wahai Yang Memilikiku
aku ingin mereka tulus mencintaiku
seperti aku yang slalu tulus mencintai mereka
karena cinta itu adalah ... aku
menyapa sepi ketika sedetik pun menjadi kerinduan yang menyengat ...
aku merindu pada keheningan malam ...
ketika angin berhembus lembut tanpa lelah,
gemerlap bintang pun tak pernah usai menyinari jiwa yang sepi ...
aku merindu pada hembusan wangi nafasmu ...
ketika tirai hati membuka diri,
maka kilauan cinta tak hanya menyusup dalam sukma,
namun membelai lembut dengan segenap kehangatannya ...
nyanyian cinta itu bukan tuk mengusik irama hati,
namun dia datang tuk melantunkan simponi romansa tak berbekas ...
agar tatapan tak bertepi perlahan menghilang,
dan agar senyuman kehidupan menjadi lebih berwarna ...
mendawai hidup, mengembangkan gita asmara ... bukan tuk terlarut dalam lamunan,
namun merangkai sulaman awan-awan impian ... agar hati tak lelah dengan kesendirian
tengoklah dia dengan nurani diri,
maka bahasa hatimu kan berujar: "penat kesendirianmu bagai lambaian dedaun cemara yang tersilaukan oleh terik mentari"
lalu seorang dara manis pun terdiam membisu,
kelu lidahnya tak kuasa mengimbangi runtuhnya air mata dalam resah hati yang mengusik keniscayaan diri
kemudian ...
larut dan dinginnya malam tergesa menyelimuti diri
agar lelah hati tak berbekas mengusamkan indah hidupmu
sesaat sajadah panjangmu seolah terangguk tunduk pada pesan-pesan penuh makna yang menyiratkan keinginanmu merajut selarik cerita cintamu dalam kasih dan sayang-Nya ...
sejenak ... bait-bait doa pun terusun rapi memeluk tertundukmu pada Sang Khalik
ketika akhirnya cinta tenggelam dalam keinginan tak pasti, lalu fitrahmu menjagamu tuk slalu melangkahkan diri menuju Sang Pemilik cinta sejati ...
karena bilik hatimu slalu berbisik:
"aku adalah mutiara indah perhiasan dunia, dan dunia selalu ada dalam genggaman-Nya"
sejenak, keseimbangan orkestra alam seakan bagai angin lalu tanpa rasa dan makna
lalu burung-burung dan dedaunan menyiratkan kepada alam tentang keindahan suara-suara merdu nan menentramkan hati
sesaat, tanah-tanah lapang dan ladang membuka diri tuk menggelar panggung kehidupan ...
dan laut pun bersegera mengerdipkan mata biru nakalnya yang mengisyaratkan kerinduannya menyambut mata air turun dari bukit cinta ...
bahkan, awan yang menari di atas langit sana pun tergesa bercerita tentang kesungguhannya menghadirkan hujan ...
tiba-tiba nurani diri berujar: "lalu kepada siapa dikau akan kembali wahai sang khalifah sejati?"
lalu aku beranjak mengadu pada siang ketika malam memeluk lemahku ...
ketika angin mulai menyapa sepi, hembusan lembutnya membangkitkan sadarku.
Karena tiadanya adalah hadirnya, dan karena adanya menyadarkan keniscayaan tentang arti sebuah ketiadaan ...
ketika angin mulai menyapa sepi, hembusan lembutnya membangkitkan sadarku.
Karena tiadanya adalah hadirnya, dan karena adanya menyadarkan keniscayaan tentang arti sebuah ketiadaan ...
Dan ketika jejak perjalanan hidup menyisakan episode berbeda, tanah menghampar selalu menjadi saksi bergetarnya hati dalam indahnya kebersamaan ... segalanya tak lain karena kita menyatu dalam rahim sang bunda ...
lalu, kudengar dia menutup mata mengiringi sahaja hati tuk bercerita dengan bahasa wanitanya ...
kurasakan, dia merebahkan diri pada malam yang menusuknya ... bahkan ketika cahaya hati ramah menyapanya, dia tetap menangis dalam khilafnya ...
lalu aku pun berpesan: "lupakanlah sejenak keangkuhan diri yang slalu menjeratmu, agar gelombang cinta tak menyeretmu menemui jalan buntu tak berarah. Bahkan dalam kesedihanmu kau tak sadarkan diri bahwa air mata yang kau runtuhkan ke bumi menjadi penyejuk hati bagi jiwa yang lain ..."
sesaat pula dia membaca lukisan hati seorang pria yang sedang belajar menggoreskan pena kehidupan, dan dia tertegun ketika pria lemah itu menata gerakan jemarinya tuk menuliskan pesan:
"aku kehausan tak terkira pada malam panjangku, aku merindu pada sesaat hening malammu, dan aku terlelap pada sentuhan tak berarah malam-malamnya ...
engkau mengalihkan wajah pada waktu yang mengacuhkanmu. ketika jingga sang surya berlalu melewati batas sadarmu, sejenak tatap matamu tak berkedip mengimbangi sesal lalu tergesa menembus kerinduanmu pada larutnya kehangatan hidup ...
duhai senja yang menenangkan, aku enggan lambaikan tangan ini tuk melepas mentari yang kau ajak beranjak meninggalkan kehangatan hujan ... aku ingin mencukupkan diri pada siang yang menjagaku, karena kini malam tak terlihat lagi indah pada damai jiwaku ...
aku kembali gemetar menyapa nafasku ... satu sisi jiwanya terasa semakin kuat mengepakkan sayap-sayap sucinya tuk terbang jauh menembus langit-langit keabadian ... sedangkan sisi yang lain masih terdekap erat oleh hamparan bumi yang semakin melemah ..
bahkan keangkuhanku melampaui kehati-hatian langkah-langkah pesan awalmu ... saat itu aku berlari terlalu kencang, seakan kerinduan pada asalmu menjadi tak tertahankan"
seketika ... senyum dan air mata kemudian menari dalam damai hatinya ketika pria itu menyusun kesederhanaan bahasa:
"cinta seharusnya mengenalkan kepada insan tuk belajar memahami perbedaan warna keinginan kemudian bersegera menatanya menjadi sebuah lukisan hidup yang indah dalam kebersamaan ...
Aku mencintaimu karena aku ingin mencintaimu, bukan karena sekedar harapku engkau kan mencintaiku. Karena kebaikan cinta diwujudkan bukan oleh kenyataan harus saling memiliki, namun diwujudkan oleh ketulusan mencintai. Namun aku akan berserah diri pada Tuhan yang menciptakan waktu untukku dan untukmu. Itu saja."
wahai aku, kau dan dia ...
biarlah cakrawala itu tetap suci menyatukan bumi dan langit ... dia kan datang dalam sejuknya pagi, dia tergores tegas ketika siang tiba, dia beranjak ketika senja menjelang, dan dia pergi dalam malam yang menentramkan ... hingga seluruh insan tersadar bahwa dia slalu menyatu bersama langit dan bumi yang penuh dengan kesabaran dan keteguhan menjaga nilai-nilai indahnya ...
tigapuluh satu kali kalimat itu berulang
terkadang menyentuh akal dan hati
namun seringkali lewat begitu saja tanpa makna
tigapuluh satu kali kalimat itu bercerita tentang wujud kasih dan sayang
terkadang membuat jantung mengalir dalam keteraturan
namun seringkali menahannya berdegup kencang karena berdesaknya keinginan
tigapuluh satu kali kalimat itu memperjelas ketiadaan diri
terkadang mampu meluruhkan nafsu menjulang
namun seringkali membiarkannya berlalu menggerogoti jiwa
tigapuluh kali kalimat itu membawa selaksa pesan
tentang bagaimana cara mencintai tanpa pamrih
tentang bagaimana cara mensyukuri nikmat cinta
bukan cinta biasa, tapi cinta tak berbatas ... cinta tanpa jeda
Rating adalah hidup-mati stasiun televisi. Semakin tinggi rating, semakin banyak pemasang iklan. Harga jual slot siaran niaga pun semakin mahal. Ini berarti semakin besar pemasukan. Sebaliknya, jika ratingnya terus-menerus rendah, dapat dipastikan sebuah stasiun televisi takkan bisa bertahan.
Penyelenggaraan survai rating televisi di tanah air dirintis oleh Survai Research Indonesia (SRI) semenjak 1990. Pada tahun 1994 AC Nielsen — perusahaan riset pemasaran terkemuka asal Amerika Serikat — mengakuisisi SRI, sehingga namanya berubah menjadi AC Nielsen-SRI. Selanjutnya beberapa kali perusahaan ini berganti nama. Pertama, AC Nielsen Media International, kemudian Nielsen Media Research. Terakhir pada tahun 2004 ia menjadi AGB Nielsen Media Research.
Sebelum pemeringkatan, Nielsen mengadakan TV Establishment Survey guna mengetahui persentase kepemilikan televisi pada tingkat rukun tetangga. “Tingkat panetrasi TV Indonesia lumayan tinggi,” kata Irawati Pratignyo, Direktur Pelaksana AGB Nielsen Media Research. Ia menyebutkan angka delapan puluh persen.
Pelaksanaan metodologi, jelas Irawati, mengacu Panduan Global Pengukuran Khalayak Televisi (Global Guidelines for TV Audience Meausurement), yaitu prosedur standar pengukuran rating Nielsen di dunia.
Pengukuran kemudian dilakukan di sepuluh kota besar, yaitu Jakarta dan sekitarnya (Bogor, Tangerang, Bekasi), Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya (dan Gerbangkertasila), Denpasar, Makasar, Medan, Palembang, dan Banjarmasin.
Penyebaran sampel tidak sama di setiap kota, yaitu Jakarta 55 persen, Surabaya 20 persen, Bandung 5 persen, Yogyakarta 5 persen, Medan 4 persen, Semarang 3 persen, Palembang 3 persen, Makassar 2 persen, Denpasar 2 persen, dan Banjarmasin 1 persen. Angka ini proporsional berdasarkan populasi kepemilikan televsisi di tiap-tiap kota itu. Kepemilikan televisi di Jakarta, misalnya, 55 persen terhadap total 10 kota, maka jumlah sampelnya 55 persen.
Batasan populasi, kata Irawati, “adalah semua penduduk kota yang terdaftar dalam Kartu Keluarga, berusia berusia lima tahun atau lebih, dan tinggal di rumah tangga yang memiliki pesawat televisi dengan keadaan baik.” Lantas, ujarnya, sampel ditentukan berdasarkan teknik acak berjenjang (stratified random).
“Di televisi responden dipasang peoplemeter,” jelas Irawati. Peoplemeter adalah alat yang mampu mengukur jumlah penonton — paling tidak selama satu menit, atau minimum 17 detik — pada sebuah acara. Alat ini mampu melacak pilihan frekuensi teleivsi sampai 999 saluran dan mendeteksi frekuensi, modulasi gambar, dan modulasi audio-video. “Tapi, ia tidak memperhitungkan preferensi (suka, tidak suka), tidak juga kualitas program (apakah baik atau buruk),” jelas Irawati.
Pada peoplemeter tersambung sebuah gagang (handset) yang terprogram untuk mencatat jati diri setiap anggota keluarga. Bila hendak menonton, sebagai contoh, mereka menekan salah satu tombol pada gagang itu terlebih dahulu. Secara otomatis alat itu mengumpulkan data tentang acara apa saja yang dipirsa setiap anggota keluarga dalam hitungan menit. Jadi, responden tidak perlu lagi mengisi kuesioner semenjak memulai menonton televisi sampai selesai. “Dengan begitu, sistem ini mengurangi kesalahan manusiawi (human error),” kata Irawati.
Jika terdapat dua televisi dalam sebuah rumah, jumlah peoplemeter yang dipasang juga dua. Yang jelas, aktivitas menonton pembantu ataupun satpam — kalau ada — tidak direkam. Begitu juga, televisi khusus untuk pembantu dan satpam tidak dipasang peoplemeter.
Pengukuran oleh peoplemeter berlangsung secara seketika (online) dan tunda (offline). Pada cara tunda, data tentang perilaku menonton direkam terlebih dahulu ke disket yang terletak dalam slot peoplemeter. Disket itu kemudian setiap minggu diambil oleh seorang petugas Nielsen.
Pada cara seketika, data terkumpul pada saat responden menonton. Pada cara ini peoplemeter – yang tersambung dengan telepon rumah — dikoneksi pusat data Nielsen pada sekitar jam dua dini hari. “Persoalannya, Telkom melakukan perbaikan pada jam-jam ini. Jadi, seringkali tidak terhubung,” kata Irawati. Itulah sebab, tambahnya, data peringkat di Indonesia baru dapat dikeluarkan secara mingguan, belum harian.
Irawati mengungkapkan, panjang program televisi ikut mempengaruhi rating. Misalnya, sebuah program berdurasi tiga puluh menit pada awalnya berating sepuluh persen. Ketika diperpanjang menjadi enam puluh menit, ratingnya turun menjadi delapan peratus karena angka pembagi — yaitu jumlah khalayak — semakin besar.
Selain itu, kualitas gambar mempengaruhi rating. Jika kualitas gambar buruk, penonton akan cenderung meninggalkan saluran itu, tak peduli betapa bagusnya program acara.
Pada saat jam-jam puncak (peak hour), penonton memiliki pilihan terbatas karena setiap saluran menyajikan jenis program yang sama. Adapun acara-acara kagetan seperti Piala Dunia, liburan sekolah, bencana alam, bom, dan sejenisnya mampu mendongkrak rating.
Membaca Rating Nielsen
Pemeringkatan dengan peoplemeter juga tidak dilakukan di desa-desa, lantaran, “di desa kehidupan berjalan tidak sedinamis di kota,” kata Irawati. Kalaupun ada, responden di desa hanya membuat catatan harian tentang aktivitas menonton mereka. Itulah sebab, ujar Irawati, “Kami tidak pernah mengklaim hasil rating kami bisa digeneralisasi secara nasional.”
Memang survai rating Nielsen memiliki validitas internal yang baik: ia menggunakan alat ukur canggih yang mampu mengurangi kesalahan masukan data sekecil-kecilnya. Akan tetapi, validitas eksternalnya terlalu lemah untuk sampai bisa megatakan bahwa hasil rating ini mewakili gambaran umum se-Indonesia.
Hasil rating harus dibaca lebih spesifik, hanya berlaku untuk kota besar di barat negeri yang tercakup pengukuran ini. Lagipula, sampel tidak meliputi wilayah pedesaan yang justru didiami delapan puluh persen masyarakat Indonesia.
Selain itu, 55 persen sampel adalah khalayak Jakarta. Jadi, boleh dibilang masyarakat Jakarta “sangat berkuasa” mempengaruhi jenis tayangan televisi, karena hasil rating menjadi acuan siaran stasiun televisi Jakarta, yang daya pancarnya menjangkau hampir seluruh Nusantara.
Sepuluh kota dipilih sebagai sampel berdasarkan riset Nielsen tentang “kebutuhan pengguna data” seperti industri, iklan, biro iklan, dan stasiun televisi. Pertimbangannya, distribusi barang dan jasa terkonsentrasi di kota itu. Jadi, rating sebenarnya melayani kepentingan industri untuk mempromosikan barang dan jasa mereka yang distribusinya terkonsentrasi di kota-kota besar itu, bukan mengungkapkan perilaku-menonton khalayak secara umum.
Fenomena ini mencerminkan ketimpangan penyebaran kemakmuran di tanah air. Sayangnya, ketimpangan ini justru memunculkan dominasi budaya tertentu (misalnya gaya hidup kota besar yang konsumtif), yang berdaya mendiktekan tayangan televisi, dan menyeragamkan budaya Indonesia yang majemuk.
Pada akhirnya, kualitas sebuah acara tetap bergantung pada kebijakan stasiun televisi, bukan rating. Acara berating tinggi tidak benar-benar mengindikasikan bahwa acara itu disukai. Sebab, ada faktor lain semisal pilihan khalayak terbatas (karena homogenisasi acara tadi, atau karena stasiun televisi sering latah ikut-ikutan).
Sekarang berpulang kepada stasiun televisi, apakah kebijakan penayangan mereka sangat mempertimbangkan kualitas, kesusilaan, dan norma-norma masyarakat dengan semangat pencerahan, ataukah asumsi-asumsi tafsiran rating yang sebaliknya.
Sumber:
Junarto Imam Prakoso
Penyelenggaraan survai rating televisi di tanah air dirintis oleh Survai Research Indonesia (SRI) semenjak 1990. Pada tahun 1994 AC Nielsen — perusahaan riset pemasaran terkemuka asal Amerika Serikat — mengakuisisi SRI, sehingga namanya berubah menjadi AC Nielsen-SRI. Selanjutnya beberapa kali perusahaan ini berganti nama. Pertama, AC Nielsen Media International, kemudian Nielsen Media Research. Terakhir pada tahun 2004 ia menjadi AGB Nielsen Media Research.
Sebelum pemeringkatan, Nielsen mengadakan TV Establishment Survey guna mengetahui persentase kepemilikan televisi pada tingkat rukun tetangga. “Tingkat panetrasi TV Indonesia lumayan tinggi,” kata Irawati Pratignyo, Direktur Pelaksana AGB Nielsen Media Research. Ia menyebutkan angka delapan puluh persen.
Pelaksanaan metodologi, jelas Irawati, mengacu Panduan Global Pengukuran Khalayak Televisi (Global Guidelines for TV Audience Meausurement), yaitu prosedur standar pengukuran rating Nielsen di dunia.
Pengukuran kemudian dilakukan di sepuluh kota besar, yaitu Jakarta dan sekitarnya (Bogor, Tangerang, Bekasi), Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya (dan Gerbangkertasila), Denpasar, Makasar, Medan, Palembang, dan Banjarmasin.
Penyebaran sampel tidak sama di setiap kota, yaitu Jakarta 55 persen, Surabaya 20 persen, Bandung 5 persen, Yogyakarta 5 persen, Medan 4 persen, Semarang 3 persen, Palembang 3 persen, Makassar 2 persen, Denpasar 2 persen, dan Banjarmasin 1 persen. Angka ini proporsional berdasarkan populasi kepemilikan televsisi di tiap-tiap kota itu. Kepemilikan televisi di Jakarta, misalnya, 55 persen terhadap total 10 kota, maka jumlah sampelnya 55 persen.
Batasan populasi, kata Irawati, “adalah semua penduduk kota yang terdaftar dalam Kartu Keluarga, berusia berusia lima tahun atau lebih, dan tinggal di rumah tangga yang memiliki pesawat televisi dengan keadaan baik.” Lantas, ujarnya, sampel ditentukan berdasarkan teknik acak berjenjang (stratified random).
![]() |
| Peoplemeter |
“Di televisi responden dipasang peoplemeter,” jelas Irawati. Peoplemeter adalah alat yang mampu mengukur jumlah penonton — paling tidak selama satu menit, atau minimum 17 detik — pada sebuah acara. Alat ini mampu melacak pilihan frekuensi teleivsi sampai 999 saluran dan mendeteksi frekuensi, modulasi gambar, dan modulasi audio-video. “Tapi, ia tidak memperhitungkan preferensi (suka, tidak suka), tidak juga kualitas program (apakah baik atau buruk),” jelas Irawati.
Pada peoplemeter tersambung sebuah gagang (handset) yang terprogram untuk mencatat jati diri setiap anggota keluarga. Bila hendak menonton, sebagai contoh, mereka menekan salah satu tombol pada gagang itu terlebih dahulu. Secara otomatis alat itu mengumpulkan data tentang acara apa saja yang dipirsa setiap anggota keluarga dalam hitungan menit. Jadi, responden tidak perlu lagi mengisi kuesioner semenjak memulai menonton televisi sampai selesai. “Dengan begitu, sistem ini mengurangi kesalahan manusiawi (human error),” kata Irawati.
![]() |
| Teknik Survei rating TV |
Jika terdapat dua televisi dalam sebuah rumah, jumlah peoplemeter yang dipasang juga dua. Yang jelas, aktivitas menonton pembantu ataupun satpam — kalau ada — tidak direkam. Begitu juga, televisi khusus untuk pembantu dan satpam tidak dipasang peoplemeter.
Pengukuran oleh peoplemeter berlangsung secara seketika (online) dan tunda (offline). Pada cara tunda, data tentang perilaku menonton direkam terlebih dahulu ke disket yang terletak dalam slot peoplemeter. Disket itu kemudian setiap minggu diambil oleh seorang petugas Nielsen.
Pada cara seketika, data terkumpul pada saat responden menonton. Pada cara ini peoplemeter – yang tersambung dengan telepon rumah — dikoneksi pusat data Nielsen pada sekitar jam dua dini hari. “Persoalannya, Telkom melakukan perbaikan pada jam-jam ini. Jadi, seringkali tidak terhubung,” kata Irawati. Itulah sebab, tambahnya, data peringkat di Indonesia baru dapat dikeluarkan secara mingguan, belum harian.
Irawati mengungkapkan, panjang program televisi ikut mempengaruhi rating. Misalnya, sebuah program berdurasi tiga puluh menit pada awalnya berating sepuluh persen. Ketika diperpanjang menjadi enam puluh menit, ratingnya turun menjadi delapan peratus karena angka pembagi — yaitu jumlah khalayak — semakin besar.
Selain itu, kualitas gambar mempengaruhi rating. Jika kualitas gambar buruk, penonton akan cenderung meninggalkan saluran itu, tak peduli betapa bagusnya program acara.
Pada saat jam-jam puncak (peak hour), penonton memiliki pilihan terbatas karena setiap saluran menyajikan jenis program yang sama. Adapun acara-acara kagetan seperti Piala Dunia, liburan sekolah, bencana alam, bom, dan sejenisnya mampu mendongkrak rating.
Membaca Rating Nielsen
Pemeringkatan dengan peoplemeter juga tidak dilakukan di desa-desa, lantaran, “di desa kehidupan berjalan tidak sedinamis di kota,” kata Irawati. Kalaupun ada, responden di desa hanya membuat catatan harian tentang aktivitas menonton mereka. Itulah sebab, ujar Irawati, “Kami tidak pernah mengklaim hasil rating kami bisa digeneralisasi secara nasional.”
Memang survai rating Nielsen memiliki validitas internal yang baik: ia menggunakan alat ukur canggih yang mampu mengurangi kesalahan masukan data sekecil-kecilnya. Akan tetapi, validitas eksternalnya terlalu lemah untuk sampai bisa megatakan bahwa hasil rating ini mewakili gambaran umum se-Indonesia.
Hasil rating harus dibaca lebih spesifik, hanya berlaku untuk kota besar di barat negeri yang tercakup pengukuran ini. Lagipula, sampel tidak meliputi wilayah pedesaan yang justru didiami delapan puluh persen masyarakat Indonesia.
Selain itu, 55 persen sampel adalah khalayak Jakarta. Jadi, boleh dibilang masyarakat Jakarta “sangat berkuasa” mempengaruhi jenis tayangan televisi, karena hasil rating menjadi acuan siaran stasiun televisi Jakarta, yang daya pancarnya menjangkau hampir seluruh Nusantara.
Sepuluh kota dipilih sebagai sampel berdasarkan riset Nielsen tentang “kebutuhan pengguna data” seperti industri, iklan, biro iklan, dan stasiun televisi. Pertimbangannya, distribusi barang dan jasa terkonsentrasi di kota itu. Jadi, rating sebenarnya melayani kepentingan industri untuk mempromosikan barang dan jasa mereka yang distribusinya terkonsentrasi di kota-kota besar itu, bukan mengungkapkan perilaku-menonton khalayak secara umum.
Fenomena ini mencerminkan ketimpangan penyebaran kemakmuran di tanah air. Sayangnya, ketimpangan ini justru memunculkan dominasi budaya tertentu (misalnya gaya hidup kota besar yang konsumtif), yang berdaya mendiktekan tayangan televisi, dan menyeragamkan budaya Indonesia yang majemuk.
Pada akhirnya, kualitas sebuah acara tetap bergantung pada kebijakan stasiun televisi, bukan rating. Acara berating tinggi tidak benar-benar mengindikasikan bahwa acara itu disukai. Sebab, ada faktor lain semisal pilihan khalayak terbatas (karena homogenisasi acara tadi, atau karena stasiun televisi sering latah ikut-ikutan).
Sekarang berpulang kepada stasiun televisi, apakah kebijakan penayangan mereka sangat mempertimbangkan kualitas, kesusilaan, dan norma-norma masyarakat dengan semangat pencerahan, ataukah asumsi-asumsi tafsiran rating yang sebaliknya.
Sumber:
Junarto Imam Prakoso
fikirku melaju pada terlewatnya masa pada suatu kisah
ketika itu hati bagai tanpa makna rasa
kepolosannya terlalu menatap lurus kebaikan masa depan
dan nyanyian asmara bagai kereta hati tak bersuara
dan ketika kertas mulai menuntun pena tuk menata bait-bait kehangatan hati,
ketulusannya berulang melangkah perlahan menyisiri jalan yang mungkin terbuka
meski ramahnya jiwa tlah menuntun kertas tuk menyusun buku cinta,
namun lembaran-lembaran kertas dalam buku itu bagai naskah lekang pada cerminan diri
kemudian waktu berarak menelan ingatan hati
ketika layar menyapa guratan garis wajahnya
sesaat bibirpun mencoba tuk menahan keharuan senyuman hati yang menggoda
dan ketika bertegur sapa menjadi kembali terasa indah,
maka kertas dan buku itu menjadi terasa menyatu dalam kekhusyuan masa lalu
namun ketika cahayaNya menyinari kalbu,
serentak buku itu menutup erat kertas-kertas yang mencoba menyatu dalam keusangannya
dan hari ini, biarlah kertas dan buku itu hanya tertulis dalam sebuah prasasti memori,
bahwa ada hati yang sempat saling menyapa,
walau tak sempat menyatu sekedar dalam sebuah bait keindahan cerita asmara ...
3 Idiots termasuk film yang sangat memorial dalam kehidupan saya dan mungkin juga bagi banyak orang. 3 Idiots tidak hanya sekedar tontonan yang menghibur, namun juga sarat dengan pembelajaran tentang hidup, khususnya di bidang pendidikan. Dalam film tersebut banyak pelajaran yang bisa diambil seperti tentang filosofi belajar, tenatang makna bekerja, tentang bagaimana melakukan sesuatu dengan penuh keikhlasan, tentang sikap berbagi terhadap sesama dan tentang bagaimana menyederhanakan masalah. Dalam tulisan saya akan ulas pelajaran dari 3 Idiots tentang bagaimana menyederhanakan masalah.
Ada bagian atau scene yang menjadi sangat memorable bagi yang pernah nonton film terebut yakni ketika Rancho diminta menjelaskan tentang definisi mesin oleh dosen tekniknya. Rancho berupaya menjelaskan dengan bahasa sederhana bahwa mesin adalah sesuatu yang digunakan untuk mengurangi peluang keteledoran manusia. Namun sang dosen tak puas dan meminta Rancho untuk menjelaskan lebih rinci.
Dengan kesabaran, Rancho pun memenuhi keinginan dosen tersebut untuk kembali menjelaskan definisi mesin dengan bahasa sederhana dan disertai contoh-contohnya sebagai berikut:
"Semua yang bisa meringankan kerja manusia adalah mesin, Saat gerah! tekan tombol, angin bertiup, Kipas Angin adalah mesin, Pak!. Anda bisa berbicara dengan teman dari jarak jauh, Telepon adalah mesin, Pak! Menghitung dalam waktu singkat, Kalkulator adalah mesin, Pak"
Kemudian Rancho menegaskan penjelasan tentang pentingnya mesin:
"Sebenarnya kita sudah sangat bergantung pada mesin, Pak. Mulai dari ballpoint sampai resleting, semua adalah mesin, Pak!" sembari memperagakan 'mesin' resletingnya dan berseloroh: "Detik pertama naik, detik kedua turun, naik, turun, naik, turun"
Namun ternyata sang dosen tak puas dengan penjelasan Rancho tersebut. Sampai-sampai sang dosen menegaskan bahwa tak mungkin mahasiswa menjelaskan definisi mesin di saat ujian dengan jawaban: "Ini adalah mesin, naik, turun, naik, turun"
Selanjutnya sang dosen meminta Chatur untuk memberikan definisi mesin. Dan dengan 'gaya hapalan' Chatur menjelaskan bahwa definisi mesin adalah:
"Sebuah kombinasi dari rangka-rangka yang terhubungkan oleh gerakan relatif dan memunculkan tegangan dimana adanya gaya dan gerakan tersebut ditransmisikan dan diubah oleh sebuah sekrup dalam sebuah titik haluan atau suatu titik tumpu pembalikan haluan atau katrol pada porosnya. Lebih khusus lagi adalah sebuah konstruksi dari lebih atau kurang gabungan bagian-bagian yang bergerak atau elemen-elemen mekanik sederhana seperti roda, tuas, kamera dan lain sebagainya."
Mendengar jawaban Chatur, langsung saja sang dosen menjadi puas. Namun Rancho mencoba membela diri bahwa apa yang dijelaskan oleh Chatur sebenarnya sama persis dengan apa yang dijelaskan olehnya, hanya saja dengan bahasa yang sederhana. Dan bisa diduga sang dosen tetap tidak bisa menerima argumentasi Rancho. Sang dosen menginginkan mahasiswa untuk menjelaskan definisi mesin persis seperti apa yang tertulis dibuku atau letterlijk (letterlek). Bahkan sang dosen menyuruh Rancho untuk keluar ruangan karena sudah 'membangkang' dengan prinsip dosen tersebut.
Rancho pun melangkah keluar namun sejurus kemudian dia membalikan badan kembali ke kursi tempat duduknya untuk mengambil bukunya yang ketinggalan di kursi. Sang dosen terheran menanyakan kenapa Rancho balik lagi. Rancho menyampaikan bahwa ia lupa sesuatu. Kemudian sang dosen menyatakan lupa apa? Dan di sesi inilah Rancho memberikan pelajaran kepada sang dosen dengan menjelaskan definisi buku dengan ribet:
"Instrument yang merekam, menganalisis, meringkas, mengorganisasi diskusi dan menjelaskan informasi yang diilustrasikan atau tidak diilustrasikan oleh sampul tebal yang terbungkus atau tidak di awali dengan pengantar dan indeks daftar isi yang mengarahkan pencerahan dan pengayaan pemahaman serta pendidikan otak manusia melalui sensor pandangan ... kadang-kadang perasaan!!"
Kontan saja sang dosen bengong dengan penjelasan Rancho tersebut kemudian bertanya apa yang dimaksud Rancho dengan menjelaskan kalimat yang panjang tersebut. Dan Rancho pun menegaskan bahwa ia sebenarnya ingin mengambil buku, namun karena dosen tidak menyukai bahasa yang sederhana maka ia menjelaskan definisi buku yang lebih rumit.
Apa pelajaran yang bisa kita ambil dari sekuel film 3 Idiots ini?
Mari kita perhatikan bahwa banyak sekali terjadi misunderstanding dalam sebuah kehidupan komunikasi antar manusia hanya karena kita tidak mampu menempatkan bahasa yang pas. Bahasa yang mudah dipahami oleh kedua belah pihak. Bahasa yang rumit untuk orang yang tidak ingin rumit akan menjadi masalah. Begitu pula bahasa terlalu sederhana yang disampaikan dalam sebuah kajian ilmiah yang sistematis juga bisa membuat masalah.
Dalam konteks ini sebenarnya yang menjadi kata kunci dan dibutuhkan adalah kesepemahaman komunikasi antar sesama. Bukan pada persoalan jenis bahasa atau redaksi yang digunakan. Di sinilah pentingnya kita untuk memahami audiens. Ketika kita berbicara dengan seorang anak kecil maka gunakanlah bahasa anak-anak. Ketika kita bertemu dengan seorang yang analitis, maka sebaikny akita pun dapat mengimbangi kemampuan analitis ornag tersebut dengan bahasa yang sesuai pula. Namun ketika kita menghadapi orang yang gak mau ribet, maka kita pun sebaiknya menggunakan bahasa yang gak ribet. Prinsipnya sesuai dengan kebutuhan kedua belah pihak. Bahasa vikinya sih sinkronisasi atau gatukisasi.
Penyederhanaan bahasa yang digunakan dalam berkomunkasi adalah salah satu upaya kita dalam menyelesaikan masalah karena kesederhanaan bahasa yang kita gunakan dalam berkomuikasi adalah juga bagian dari penyederhanaan masalah. Banyak sekali masalah menjadi runcing karena kita tak mampu berkomunikasi secara efektif dengan keseragaman bahasa. Parahnya lagi, kita tidak berani menanyakan pada orang yang bersangkutan tentang apa maksud dari yang disampaikan ketika kita masih belum mengerti.
Dalam kasus rumah tangga misalnya. Bahasa pria dan bahasa wanita tentu saja berbeda. Pria cenderung menggunakan bahasa yang kuat dengan pemahaman pemikiran sementara wanita cenderung menggunakan bahasa yang kuat dengan pemahaman perasaan. Maka dalam berkomunikasi, kita sebaiknya mampu untuk menyesuaikan bahasa yang kita gunakan ketika berbicara dengan suami atau istri kita seusai ruang dan waktu yang dibutuhkan. Hindarilah terlihat dominan dalam memahami masing-masing karena bisa jadi bahasa yang kita gunakan tidak dimengerti oleh pasangan kita.
Saya pernah membuat kutipan bahwa: "Keunggulan potensi pemahaman pemikiran bagi laki-laki dan pemahaman perasaaan bagi perempuan akan menjadi kekuatan luar biasa jika keduanya saling menguatkan satu sama lain. Namun akan menjadi kehancuran yang nyata jika keduanya saling melemahkan untuk terlihat menjadi dominan dan saling menguasai."
Kehidupan akhir zaman sudah semakin kompleks yang memunculkan permasalahan yang kompleks pula. Maka marilah kita terbiasa menyederhanakan masalah dengan mengawalinya melalui penyederhanaan bahasa komunikasi.
Seperti dialog Film 3 Idiots tersebut, manusia bukanlah mesin. Mesin hanya alat bantu untuk meringankan pekerjaan manusia. Yang terpenting adalah bagaimana manusia bisa berkomunikasi tak seperti mesin yang harus bicara A ketika diperintah A atau bicara Z ketika diperintah Z. Namun manusia adalah makhluk yang cerdas yang dapat menguatkan potensi kecerdasan yang dimilikinya untuk mempu menyederhanakan berkomunikasi sesuai dengan kondisi audiens nya.
”Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhannya yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka Qaulan Maysura –ucapan yang mudah” (QS. Al-Isra [17]: 28).
Wallahu a'lam
antara hati, gelang dan teh manis
malam ini ketika sunyi menghampiri
sesaat ada sapa menjelma tak sengaja dari sisi dunia
yang mungkin tlah hilang dalam berapa masa
namun terasa begitu lekat karena pernah ada jiwa yang menghampiri tak sengaja
kerling matanya mengiringi kepolosan alunan gerakan manis raganya
ketika secangkir teh manis menghangatkan hati
senyumnya begitu mengusik sukma yang bahkan tak mampu memendam tanya
dan ketika ia kusapa dengan bahasa kesunyian,
senyumnya meluruh bagai kembang nan harum di pagi hari
lalu,
tiba-tiba isyarat langit membangkitkan pesan agar dapat bersegera menguntai alasan untuk berpisah
karena mewujudkan lukisan hati ternyata tak mesti menyatu
dan jika ada rasa walau sekedar tuk menyematkan prasasti hati,
maka gelang mungil nan menyiratkan kesederhanaan jiwa mencoba mengurai pesan indah tentang sebuah ketulusan
karena warna hati tak mesti menemui sisi indah dalam lukisan kebersamaan,
biarlah warna itu datang sekedar mencukupkan kerinduan di kala musim-musim bergulir
yang perlahan mulai mengkusamkannya, walau tidak dengan ketulusannya ...
karena hati, gelang dan teh manis itu pernah saling menyapa
dan membuatnya indah dalam ketegasan kesunyian hati,
walau hanya hadir pada sedikit masa ...
malam ini ketika sunyi menghampiri
sesaat ada sapa menjelma tak sengaja dari sisi dunia
yang mungkin tlah hilang dalam berapa masa
namun terasa begitu lekat karena pernah ada jiwa yang menghampiri tak sengaja
kerling matanya mengiringi kepolosan alunan gerakan manis raganya
ketika secangkir teh manis menghangatkan hati
senyumnya begitu mengusik sukma yang bahkan tak mampu memendam tanya
dan ketika ia kusapa dengan bahasa kesunyian,
senyumnya meluruh bagai kembang nan harum di pagi hari
lalu,
tiba-tiba isyarat langit membangkitkan pesan agar dapat bersegera menguntai alasan untuk berpisah
karena mewujudkan lukisan hati ternyata tak mesti menyatu
dan jika ada rasa walau sekedar tuk menyematkan prasasti hati,
maka gelang mungil nan menyiratkan kesederhanaan jiwa mencoba mengurai pesan indah tentang sebuah ketulusan
karena warna hati tak mesti menemui sisi indah dalam lukisan kebersamaan,
biarlah warna itu datang sekedar mencukupkan kerinduan di kala musim-musim bergulir
yang perlahan mulai mengkusamkannya, walau tidak dengan ketulusannya ...
karena hati, gelang dan teh manis itu pernah saling menyapa
dan membuatnya indah dalam ketegasan kesunyian hati,
walau hanya hadir pada sedikit masa ...
tentang diam
mungkin aku tak bisa berkata tentang sesuatu yang kau anggap sebuah keindahan
mungkin aku tak bisa bercerita tentang sesuatu yang kau anggap sebuah romansa
mungkin aku tak bisa menyusun kalimat tentang sesuatu yang kau anggap sebuah pengakuan
namun yang kutahu hanya:
aku merasa kehilangan ketika engkau tak ada di sisi,
dan hati yang merasa sepi ketika senyum indahmu beranjak pergi
jika engkau tlah mampu membaca hati,
inginku sekedar engkau setia menemani,
menuai makna hidup bersama,
baik ketika runtuhnya air mata maupun di saat senyuman kebahagiaan menghampiri ...
itu saja
karena cinta tak berwujud
maka mewujudkannya bagai menahan sinar mentari menyapa bumi
karena cinta tak berwujud
maka mewujudkannya bagai menggapai cakrawala yang tak bertepi
karena cinta tak berwujud
maka mewujudkannya bagai merindukan bintang datang di siang hari
karena cinta tak berwujud
maka mewujudkannya bagai memeluk nafas yang tak terhenti
karena cinta tak berwujud
maka mewujudkannya bagai mencari jawaban mengapa hati tak menampakkan diri?
karena cinta tak berwujud
maka mewujudkannya bagai menuai lelah dalam mengejar bayangan
karena cinta tak berwujud
maka mewujudkannya bagai menghadirkan cinta dalam cinta
karena cinta tak berwujud
maka mewujudkannya adalah sekedar menyapa semesta kebaikan dalam cinta
dan karena cinta tak berwujud
maka mewujudkannya adalah membuka jendela hati tuk merasakan kehadiran Sang Pemilik Cinta ....
Tuhan Semesta Alam Yang Maha Wujud ...
tentang ruang rindu dan lima kurva
di atas roda dalam genggaman malam
benakku bergulir ramah menyapa lima kurva
warna dan bentuk lekukannya berujar tentang kerinduan menepiskan sepi
dan titik-titik yang melukiskannya mengisyaratkan banyak makna
sesaat aku terhanyut dengan rona wajah pada sisi kota
semu merahnya bagai keluguan bidadari menjemput secuil rasa,
yang tak mampu mengimbangi kilauan biru langitnya gejolak hidup
hingga warna-warni lukisan kurva itu menepi pada satu titik
... dan lagi ...
titik itu bukanlah singularitas
titik itu bukan pula ledakan dahsyat
titik itu sekedar isyarat makna tanpa kekuatan berbagi dalam keikhlasan
lalu aku terhenti pada sudut kota itu
aku kembali mencoba menghitung hembusan nafas pada lima kurva itu
ketika lingkaran khilaf tak tertembus cahaya
maka menggulirkan butiran air mata terasa menjadi penyejuk hati,
dan tertunduk sunyi kembali menjadi teman sepi ..
Jika di Jepang budaya malu ketika tidak berhasil dalam memimpin pemerintahan masih kuat maka sepertinya tidak demikian halnya di Indonesia. Di Indonesia sangat sulit sekali menemukan pemimpin yang terbiasa meminta maaf atas sebuah kekeliruan untuk kemudian mengundurkan diri jika kesalahan dalam memimpinnya itu sudah sangat besar.
Sepertinya yang dinginkan oleh para pemimpin di Indonesia adalah menjadi penguasa. Parahnya lagi mereka bersikeras ingin melanggengkan kekuasaannya. Saya pikir-pikir mereka sepertinya sangat menguasai Hukum Newton dalam imu Fisika. Mari kita perhatikan.
Hukum Newton I meyebutkan bahwa setiap benda akan memiliki kecepatan yang konstan kecuali ada gaya yang resultannya tidak nol bekerja pada benda tersebut. Berarti jika resultan gaya nol, maka pusat massa dari suatu benda tetap diam, atau bergerak dengan kecepatan konstan (tidak mengalami percepatan). Hal ini berlaku jika dilihat dari kerangka acuan inersial. Dengan bahasa sederhana setiap benda akan mempertahankan kedudukannya kecuali ada gaya lain yang memaksanya berubah dari kondisi diam atau kondisi bergerak lurus beraturan.. Sifat benda yang mempertahankan kedudukan ini dikenal dengan sifat lembam. Oleh karenanya Hukum Newton I ini dikenal pula dengan Hukum Kelembaman dan dinotasikan dengan ∑*F* = 0.
Ilustrasi sederhana dari Hukum Newton I ini adalah ketika kita berada dalam sebuah mobil yang sedang diam kemudian mobil itu tiba-tiba bergerak maka kita akan terdorong ke belakang (ingin tetap ada di posisi awal). Begitu pula ketika kita sedang melaju bersama mobil kemudian tiba-tiba mobil berhenti, maka kita akan terdorong ke depan (ingin tetap bergerak). Agar kita tidak terdorong ke belakang atau ke depan maka biasanya kita berpegangan. Nah, berpegangan itu sebenarnya adalah memberikan gaya luar pada diri kita agar kita tidak mempertahankan kedudukan semula.
"Para Penguasa Karep" bersifat pula sebagai benda yang lembam. Ingin mempertahankan kedudukannnya. Supaya mereka keluar dari kedudukannya maka menurut Hukum Newton I harus ada gaya lluar yang berlaku padanya. Maka jika rakyat yang semakin susah hidupnya tak mampu untuk membuat 'gaya luar' untuk menggoyahkan penguasa-penguasa, jangan berharap banyak mereka akan melepaskan jabatannya,termasuk Jokowi.
Padahal kekuasaan yang semakin mutlak akan cenderung melakukan tindakan korupsi yang semakin mutlak pula.
"Power tend to corrupt, absolute power tends to corrupt absolutely."
Hukum Newton II meyebutkan sebuah benda dengan massa M yang mengalami gaya resultan sebesar Fakan mengalami percepatan a yang arahnya sama dengan arah gaya, dan besarnya berbanding lurus terhadap F dan berbanding terbalik terhadap M. Hukum Newton ini diformulasikan dengan rumus F = M.a atau bisa pula diformulasikan dengan a = F/M artinya besarnya percepatan yang dihasilkan sangat tergantung pada besarnya gaya yang berlaku dan massa yang menjadi beban.
Jika saya perhatikan, Jokowi tidak memiliki kekuatan atau gaya (force) yang memadai dalam memimpin negara, sementara beban negara (M) begitu besarnya. Sehingga wajar saja jika percepatan pembangunan (a) yang dihasilkan jauh dari janji-janjinya. Mungkin saja gaya yang dipakai Jokowi bukan gaya dalam arti kekuatan, tapi 'banyak gaya' alias 'pencitraan'.
Hukum Newton III meyebutkan bahwa gaya aksi dan reaksi dari dua benda memiliki besar yang sama, dengan arah terbalik, dan segaris. Artinya jika ada benda A yang memberi gaya sebesar F pada benda B, maka benda B akan memberi gaya sebesar –F kepada benda A. F dan –F memiliki besar yang sama namun arahnya berbeda. Hukum ini juga terkenal sebagai hukum aksi-reaksi, dengan F disebut sebagai aksi dan –F adalah reaksinya dinotasikan dengan ∑F (aksi) = - ∑F (reaksi).
Ketika Jokowi mendapatkan perlawanan yang luar biasa dari masyarakat yang sekarang lebih obyektif menilai kemampuannya, Jokowi (dan pendukung militan) nya malah melakukan 'jurus' aksi reaksi. Memberikan reaksi negatif yang besarnya sama dengan aksi yang diberikan oleh masyarakat atau dengan kata lain Jokowi melakukan ngeyelisasi dan ngelesisasi. Tengok saja berapa banyak alasan-alasan yang sangat tidak argumentatif bahkan tidak masuk akal ketika menjelaskan tentang kebijakan kenaikan harga BBM, TDL, Bahan Pokok, atau hingga pencalonan BG sebagai Kapolri dan pemblokiran situs Islam serta kebijakan pemberian fasilitas uang muka mobil pejabat.
Maka dengan melihat kenyataan itu, kunci dan solusi dari semua carut marut rezim sekarang itu ada pada rakyat banyak dan Jokowi itu sendiri. Jika Jokowi mau belajar banyak dari negara jepang yang baru saja dikunjunginya, maka mengundurkan diri akan jauh lebih kstaria. Namun jika itu tak dilakukan, maka rakyat harus belajar dari Hukum Newton tadi agar perubahan menjadi bisa terwujud. Rakyat harus memberikan gaya untuk 'memaksa' pada penguasa yang lembam agar mau melepaskan diri dari kenikmatan semu menjadi penguasa.
Jika kita semua sayang pada Jokowi dan seluruh rakyat Indonesia mari kembalikan Jokowi pada daerah kelahirannnya. Seperti lagu yag dinyanyikan oleh Didi Kempot ini, banyak yang kangen pada Jokowi untuk melanjutkan membangun kota kelahirannya yang ditinggalkan. Tunggulah Jokowi di Stasiun Balapan Solo.
Setelah meluncurkan Font Fatinistic Sosmed, hari ini diluncurkan kembali font yang saya desain khusus buat Fatinistic dengan corak gambar atau foto-foto Fatin. Seperti halnya font Fatinistic Sosmed, gont ini juga masih versi 1.0, dan akan disempurnakan kembali.
Berikut contoh tampilan dari Font Fatinistic Fatin:
Penampakan huruf per huruf dari Font Fatinistic Fatin ditampilkan secara indah dalam video berikut:
Dan berikut adalah link download Font Fatinistic Fatin: Download Font Fatinistic Fatin.
Semoga bermanfaat,
Bagi rekan-rekan Fatinisic seluruh dunia, setelah Fatinistic meluncurkan Website www.fatinsl.com, ada persembahan lagi dari Fatinistic yakni Font Fatinistic. Font ini didesain berbasis Font Arial yang diberikan corak Logo Fatinistic.Font ini juga memuat Logo Fatinistic dan Gambar Fatin Shidqia Lubis.
Font ini masih versi 1.0 dan diperuntukan Sistem Operasi berbasis Windows. Masih dikembangkan untuk memperkaya karakter, simbol dan gambar yang biasanya diperlukan dalam aktivitas pengetikan dan berkaitan dengan Fatinistic tentunya. Juga tak tertutup kemungkinan untuk membuatnya bisa berjalan di sistem operasi lain.
Bagi rekan-rekan yang berminat, silakan bisa didonwload pada link berikut: Download Font Fatinistic
Setelah rekan-rekan selesai mendownload, selanjutnya silakan install di komputer masing-masing.
Video berikut memberikan tutorial singkat bagaimana menggunakan Font Fatinistic tersebut.
Semoga bermanfaat.
Font ini masih versi 1.0 dan diperuntukan Sistem Operasi berbasis Windows. Masih dikembangkan untuk memperkaya karakter, simbol dan gambar yang biasanya diperlukan dalam aktivitas pengetikan dan berkaitan dengan Fatinistic tentunya. Juga tak tertutup kemungkinan untuk membuatnya bisa berjalan di sistem operasi lain.
Bagi rekan-rekan yang berminat, silakan bisa didonwload pada link berikut: Download Font Fatinistic
Setelah rekan-rekan selesai mendownload, selanjutnya silakan install di komputer masing-masing.
Video berikut memberikan tutorial singkat bagaimana menggunakan Font Fatinistic tersebut.
Semoga bermanfaat.
FATIN SHIDQIA LUBIS...
Setelah 2 tahun menjuarai ajang kompetisi menyanyi X-Factor Indonesia, namanya semakin banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia. 'Aku Memilih Setia' sebagai Single pertamanya tidak hanya menjadi lagu yang menjuarai Top Chart iTunes, namun juga menjadi lagu sejuta umat. Jadwal Fatin sudah begitu padat. Untuk mengundangnya mungkin butuh waktu 3 bulan lebih awal untuk melakukan 'booking' tempat. Banyak fenomena yang ada akibat kehadirannya. Selain penyanyi pendatang baru yang sangat sarat dengan prestasi dan penghargaan, keberadaan Fatin dalam perjalanan ajang kompetisi pencarian bakat khususnya menyanyi, sekarang sudah menjadi acuan atau standar bagi penyelenggaran ajang pencarian bakat yang lain. Realtif sulit bagi jebolan ajang pencarian bakat berikutnya yang bisa mengimbangi prestasi dan penghargaan seorang Fatin. Bagaimana tidak, mungkin amat sulit bagi seorang penyanyi baru apalagi produk kompetisi bernyanyi yang bisa melampui deretan prestasi dan penghargaan Fatin. Sebut saja misalnya salah satu penghargaan yang sulit dilampaui adalah mampu meraih multiplatinum hanya dalam jangka waktu 3 minggu untuk album Fatin For You yang dirilis 11 November 2013 silam. Tempo dulu mungkin saja masih bisa, namun sekarang dengan maraknya pembajakan akan sulit tercapai oleh seorang penyanyi atau label.
Dua tahun setelah menjuarai X-Factor Indonesia atau tepatnya 622 hari setelah tanggal 25 Mei 2013, sepak terjang Fatin dalam dunia entertainment menjadi 'sulit terkendali'. Kabar terbarunya Fatin sedang menyiapkan Film Layar Lebar dimana dia menjadi pemeran utama sekaligus menyiapkan Album Keduanya (album ke-6 jika kompilasi dihitung). Dukungan Fatinistic yang tidak hanya memposisikan sebagai Fan Base namun juga sebagai keluarga juga amat besar. Militansinya luar biasa. Tengoklah, Fan Base mana yang setia menanti berita-berita tentang fans nya atau setia mengikuti acara off air atau on air baik di studio TV atau media lainnya.
Salah satu yang membuat Fatin menjadi 'cepat besar' tumbuh dan berkembang adalah kontribusi Fatinistic dalam aktivitas mempopulerkannya melalui internet, khususnya Youtube. Hingga tulisan ini dibuat pada hari ini, Tanggal 5 Februari 2014 sekitar pukul 16.00, kata kunci 'Fatin Shidqia Lubis' sudah menghasilkan 115.000 video hasil pencarian. Artinya ada 115.000 video yang telah diunggah oleh masyarakat penggemar Fatin atau yang berkaitan dengan aktivitas Fatin. Sudah puluhan juta kali masyarakat melihat video-video Fatin di Youtube. Dan berikut adalah 10 besar video yang paling banyak dilihat oleh masyarakat:
10. Fatin Shidqia Lubis X Factor - Pumped Up Kicks
Video berdurasi 4 menit 58 detik ini diunggah oleh Fajar Shodiq pada tanggal 1 Februari 2013, dan sudah dilihat sebanyak 2.139.835 kali.
9. Fatin Shidqia Lubis - Diamonds | X Factor Indonesia Showcase [HQ]
8. FATIN SHIDQIA - PUMPED UP KICKS (Foster The People) BOOTCAMP 2 - X Factor Indonesia
7. Fatin Shidqia Lubis Diamonds (Rihanna) On X Factor Indonesia (Gala Show) [Full HD]
6. GRENADE Bruno Mars - ft. Fatin Shidqia - X Factor (Indonesia) Audition
5. Fatin Shidqia Lubis - AKU MEMILIH SETIA - X Factor Indonesia - 17 MEI 2013 HDTV
4. FATIN SHIDQIA - Aku Memilih Setia
2. Fatin Shidqia Lubis - Aku Memilih Setia Lirik
1. The best X Factor audition ever innocent girl (Grenade - Fatin Shidqia Lubis )
Setelah 2 tahun menjuarai ajang kompetisi menyanyi X-Factor Indonesia, namanya semakin banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia. 'Aku Memilih Setia' sebagai Single pertamanya tidak hanya menjadi lagu yang menjuarai Top Chart iTunes, namun juga menjadi lagu sejuta umat. Jadwal Fatin sudah begitu padat. Untuk mengundangnya mungkin butuh waktu 3 bulan lebih awal untuk melakukan 'booking' tempat. Banyak fenomena yang ada akibat kehadirannya. Selain penyanyi pendatang baru yang sangat sarat dengan prestasi dan penghargaan, keberadaan Fatin dalam perjalanan ajang kompetisi pencarian bakat khususnya menyanyi, sekarang sudah menjadi acuan atau standar bagi penyelenggaran ajang pencarian bakat yang lain. Realtif sulit bagi jebolan ajang pencarian bakat berikutnya yang bisa mengimbangi prestasi dan penghargaan seorang Fatin. Bagaimana tidak, mungkin amat sulit bagi seorang penyanyi baru apalagi produk kompetisi bernyanyi yang bisa melampui deretan prestasi dan penghargaan Fatin. Sebut saja misalnya salah satu penghargaan yang sulit dilampaui adalah mampu meraih multiplatinum hanya dalam jangka waktu 3 minggu untuk album Fatin For You yang dirilis 11 November 2013 silam. Tempo dulu mungkin saja masih bisa, namun sekarang dengan maraknya pembajakan akan sulit tercapai oleh seorang penyanyi atau label.
Dua tahun setelah menjuarai X-Factor Indonesia atau tepatnya 622 hari setelah tanggal 25 Mei 2013, sepak terjang Fatin dalam dunia entertainment menjadi 'sulit terkendali'. Kabar terbarunya Fatin sedang menyiapkan Film Layar Lebar dimana dia menjadi pemeran utama sekaligus menyiapkan Album Keduanya (album ke-6 jika kompilasi dihitung). Dukungan Fatinistic yang tidak hanya memposisikan sebagai Fan Base namun juga sebagai keluarga juga amat besar. Militansinya luar biasa. Tengoklah, Fan Base mana yang setia menanti berita-berita tentang fans nya atau setia mengikuti acara off air atau on air baik di studio TV atau media lainnya.
Salah satu yang membuat Fatin menjadi 'cepat besar' tumbuh dan berkembang adalah kontribusi Fatinistic dalam aktivitas mempopulerkannya melalui internet, khususnya Youtube. Hingga tulisan ini dibuat pada hari ini, Tanggal 5 Februari 2014 sekitar pukul 16.00, kata kunci 'Fatin Shidqia Lubis' sudah menghasilkan 115.000 video hasil pencarian. Artinya ada 115.000 video yang telah diunggah oleh masyarakat penggemar Fatin atau yang berkaitan dengan aktivitas Fatin. Sudah puluhan juta kali masyarakat melihat video-video Fatin di Youtube. Dan berikut adalah 10 besar video yang paling banyak dilihat oleh masyarakat:
10. Fatin Shidqia Lubis X Factor - Pumped Up Kicks
Video berdurasi 4 menit 58 detik ini diunggah oleh Fajar Shodiq pada tanggal 1 Februari 2013, dan sudah dilihat sebanyak 2.139.835 kali.
9. Fatin Shidqia Lubis - Diamonds | X Factor Indonesia Showcase [HQ]
Video berdurasi 7 menit 51 detik ini diunggah oleh StyOfficial pada tanggal 15 Februari 2013, dan sudah dilihat sebanyak 2.454.566 kali.
8. FATIN SHIDQIA - PUMPED UP KICKS (Foster The People) BOOTCAMP 2 - X Factor Indonesia
Video berdurasi 2 menit 33 detik ini diunggah oleh X Factor Indonesia pada tanggal 2 Februari 2013, dan sudah dilihat sebanyak
2.701.772
kali.7. Fatin Shidqia Lubis Diamonds (Rihanna) On X Factor Indonesia (Gala Show) [Full HD]
Video berdurasi 10 menit 6 detik ini diunggah oleh FatinShidqiaLubis pada tanggal 15 Februari 2013, dan sudah dilihat sebanyak
kali.
2.755.174
6. GRENADE Bruno Mars - ft. Fatin Shidqia - X Factor (Indonesia) Audition
Video berdurasi 3 menit 27 detik ini diunggah oleh skak ster pada tanggal 31 Januari 2013, dan sudah dilihat sebanyak
kali.
3.072.242
5. Fatin Shidqia Lubis - AKU MEMILIH SETIA - X Factor Indonesia - 17 MEI 2013 HDTV
Video berdurasi 9 menit 25 detik ini diunggah oleh TheNurcell pada tanggal 17 Mei 2013, dan sudah dilihat sebanyak
kali.
3.469.380
4. FATIN SHIDQIA - Aku Memilih Setia
Video berdurasi 4 menit 35 detik ini diunggah oleh Sony Music Entertainment Indonesia pada tanggal 3 Juli 2013, dan sudah dilihat sebanyak
kali.
3.802.724
3. Fatin Shidqia Lubis audition on X Factor Indonesia
Video berdurasi 7 menit 11 detik ini diunggah oleh timoelido pada tanggal 18 Januari 2013, dan sudah dilihat sebanyak
kali.
5.725.369
2. Fatin Shidqia Lubis - Aku Memilih Setia Lirik
Video berdurasi 4 menit 41 detik ini diunggah oleh adriyanto prasetyo pada tanggal 17 Mei 2013, dan sudah dilihat sebanyak
kali.
6.562.832
1. The best X Factor audition ever innocent girl (Grenade - Fatin Shidqia Lubis )
Video berdurasi 7 menit 11 detik ini diunggah oleh Bintang Feriando pada tanggal 20 Januari 2013, dan sudah dilihat sebanyak
kali.
8.128.944
Total untuk Top Ten video Fatin di Youtube tersebut adalah 40.812.838 viewers. Sungguh jumlah yang sangat luar biasa untuk seorang penyanyi pemula. Fatin begitu dicintai oleh Fatinistic. Militansi Fatinistic dalam mendukung Fatin amatlah luar biasa. Sehingga untuk kategori jumlah video yang diupload di Youtube saja mungkin akan sulit bisa terlampaui oleh penyanyi bahkan artis pendatang baru yang lain.
Semoga Fatin dan Fatinistic semakin tumbuh dan berkembang. Fatin terus meningkatkan kualitasnya dan tetap rendah hati dan santun dengan segala prestasi dan penghargaannya. Aamiin ...



















