Welcome to Kavtania's Blog

Melewati sisi waktu yang tak terhenti, bernaung dalam ruang yang tak terbatas, untuk sebuah pemahaman yang tak berujung ...
Follow Me
Dalam sebuah kesempatan diskusi selepas mengikuti mata kuliah Fisika Atom semasa kuliah dulu, saya mencoba mengawali pembicaraan dengan melontarkan ide filosofi isotop dalam kehidupan sosial.

Kita tahu bahwa atom terdiri dari elektron (muatan negatif) dan inti atom. Inti atom sendiri terdiri dari proton (muatan positif) dan neutron (tak bermuatan). Neutron diciptakan oleh Tuhan agar kumpulan proton yang saling bermuatan positif tersebut tidak saling tolak menolak dalam inti atom.

Pada inti atom yang stabil, jumlah proton dan neutron akan sama. Namun ada atom yang memiliki kelebihan neutron, dan isotop diistilahkan dengan inti atom (nuklida) yang mempunyai jumlah proton sama tetapi jumlah neutron berbeda.  

Contoh isotop adalah Karbon-12 dan Karbon-14. Karbon-12 adalah isotop stabil karena memiliki jumlah proton dan neutron yang sama, masing-masing 6 partikel. Sedangkan Karbon-14 merupakan isotop tidak stabil karena memiki kelebihan neutron (8 neutron dan 6 proton).
Ilustrasi Isotop Karbon

Isotop yang tidak stabil akan memancarkan radiasi dan dinamakan dengan radioisotop. Secara alamiah, isotop yang tidak stabil akan menuju kestabilan dengan melakukan peluruhan dengan memancarkan sinar radiasi tersebut. Untuk mencapai kestabilan tersebut ada yang membutuhkan waktu hanya beberapa menit saja, namun ada yang membutuhkan waktu sampai beratus-ratus tahun lamanya.
Radiasi Isotop


Saat itu saya mengilustrasikan bahwa jika proton diumpamakan sebagai seorang pria dan neutron adalah seorang wanita, maka dalam sebuah komunitas masyarakat akan mencapai kestabilan jika jumlah pria dan wanita adalah sama. Seorang wanita (neutron) akan dijaga seorang pria (proton) sebagai penyeimbang. Maka jika kita ilustrasikan seperti Karbon-12, akan ada 6 orang wanita (6 neutron) yang masing-masing berpasangan dengan 6 orang pria (6 proton).

Namun tidak demikian jika jumlah wanita menjadi lebih banyak. Hampir dipastikan masyarakat menjadi tidak stabil. Banyak pemicu kejahatan yang muncul dari meluapnya jumlah wanita dibandingkan pria. Jika kita ilustrasikan dengan radioisotop Karbon-14 tadi, maka ada 2 neutron yang akan memancarkan radiasi karena tidak memiliki pasangan proton. Dengan kata lain akan ada 2 wanita yang berpotensi 'liar' memancarkan 'pesona' nya karena tidak mendapatkan pasangan pria.

Jika demikian adanya, apakah radioisotop menjadi berbahaya? Jika tidak dikendalikan maka radiasi dari radioisotop akan sangat berbahaya. Sinar alfa, beta dan gamma bisa merusak jaringan tubuh misalnya. Namun tidak demikian jika jika radioisotop tersebut mampu 'dikendalikan' oleh manusia untuk sesuatu yang bermanfaat. Sebagai misal, Karbon-14 sangat berguna untuk membantu arkeolog dalam menghitung usia fosil. Maka radioisotop justru menjadi sangat berguna bagi kehidupan.

Jika kembali dikaitkan dengan filosofi kehidupan tadi, apakah kelebihan wanita dalam sebuah komunitas akan menjadi sangat berbahaya? Tentu saja iya jika wanita tersebut tidak mampu 'dikendalikan' oleh para pria dan sesama wanita tentunya. Apa bentuk aktivitas pria dan wanita dalam mengendalikan 'kelebihan' wanita tadi? Atau adakah Tuhan memberikan solusi terhadap kenyataan kelebihan jumlah populasi wanita dalam dunia?

Tentu saja ada. Salah satunya adalah dengan mengamalkan anjuran kepada pria untuk bisa menikahi lebih dari seorang wanita: dua, tiga atau empat. Dalam mengamalkan anjuran tentunya harus ada syarat yang dipenuhi, yakni TA'DILU atau berlaku adil.

Dalam pemahaman saya, keadilan hakiki hanya milik Allah SWT. Manusia hanya mampu mendekati nilai-nilai keadilan tersebut. Keadilan antar manusia bisa terwujud jika dan hanya jika obyek yang mendapatkan perlakuan dapat menerima dengan ikhlas apapun yang ditetapkan oleh subyek yang memberikan keputusan. Tidak akan tercapai sebuah keadilan jika salah satu dari obyek yang diperlakukan merasa tidak adil dengan menerimanya ikhlas. Empat orang istri yang menerima apapun perlakuan kebijakan dari seorang suami maka akan tercapailah keadilan tersebut. Namun jika ada salh satu istri saja yang menolak perlakuan sang suami, maka keadilan menjadi tidak terwujud.

Keadilan bagi rata (komutatif) atau keadilan bagi kebutuhan (distributif) hanyalah sebuah pendekatan untuk memudahkan sang subyek atau pelaku kebijakan untuk mendekati nilai-nilai keadilan hakiki. Itulah mungkin mengapa Allah SWT dalam Surat An-Nisa memberikan dua istilah keadilan, yakni TUQSITU dan TA'DILU. Tu'situ bisa saja dicapai oleh manusia dengan melakukan perlakuan komutatif dan distributif tadi, namun ta'dilu bisa jadi akan sulit dipenuhi karena hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui mana dari manusia di dunia yang bisa berlaku adil.

Maka, bukan pada jumlah pembagian hari yang membuat keadilan terwujud diantara pada istri, namun pada kemauan istri untuk berbaik sangka dan menerima dengan ikhlas pada kebijakan suami lah yang dapat menjadikan suasana keadilan bisa terwujud. Dan tentu saja kebijakan itu harus muncul dari seorang suami yang memiliki syarat-syarat dasar dalam memahami dan terbiasa mengamalkan nilai-nilai keadilan dalam perjalanan hidupnya.

“Dan jika kamu khawatir tidak dapat berbuat adil (TUQSITU) terhadap anak-anak atau perempuan yatim (jika kamu mengawininya), maka kawinlah dengan perempuan lain yang menyenangkan hatimu; dua, tiga, atau empat. Jika kamu khawatir tidak dapat berbuat adil (TA’DILU) (terhadap istri yang terbilang), maka kawinilah seorang saja, atau ambillah budak perempuan kamu. Demikian ini agar kamu lebih dekat untuk tidak berbuat aniaya”  (TQS An-Nisa [4]: 3)

wallahu a'lam


Keluarga Poligami di Malaysia




Sebuah kisah dari kampung nelayan, tentang ayah yang berjuang sendiri untuk anaknya.

Ayahku bukan seorang berpendidikan. Sejak lahir hanya menjadi seorang nelayan. Beliau tak seperti kebanyakan seorang ayah.

Seorang ayah yang terlalu unik, serius dan totalitas.
Seorang ayah yang sangat sayang pada anaknya.

Suaranya tak pernah keras. Senyumnya lembut dan sering membelai kepalaku. Itu kebiasaannya.

Jika aku membuat kesalahan, kemarahan beliau akan mudah reda.
Seingatku, hanya sekali beliau memukulku, yakni ketika beliau mendapatiku mencuri. Saat itu aku menangis dan membuat beliau sangat bersedih.

Malam itu, ayah memasuki kamarku dan mengobatiku dengan penuh kasih sayang. Aku pura-pura tertidur. Aku tak berani bangun. Aku tahu ayah sangat menyayangiku.

Kehidupan ekonomi kami begitu berat, namun ayah selalu bekerja keras. Ayah punya cita-cita untuk memiliki rumah sendiri buat kami berdua. Tak jarang beliau menerima pekerjaan apapun untuk cita-cita itu. Hingga pada tahun baru, akhirnya kami punya rumah sendiri. Di hari itu ayah sangat bahagia, begitu juga aku.

Dan tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Aku akhirnya menyelesaikan pendidikanku.

Ayah sakit pada usia 58 tahun dan mulai pikun. Kadang ketika ayah keluar rumah, beliau tak mau pulang. Ayah seringkali kencing di kursi dan selalu mengotori kursi setiap hari.

Sementara itu aku baru mulai kerja dan membangun karir. Namun tak jarang aku harus terburu-buru balik ke rumah untuk menemui ayah Pada kondisi terburuk beliau kadang lupa siapa aku. Kadang pula beliau tidak stabil, dan seringkali membuatku cemas akan keselamatannya.

Akhirnya aku tak mampu untuk merawatnya. Aku ingin beliau mendapatkan perawatan lebih baik, sementara aku melanjutkan pekerjaan dan karirku.

Dan pada suatu hari ayah menelpon ingin bertemu aku. Saat aku tiba di Panti Jompo dan memasuki ruangan ayah, aku mendengar hardikan perawat pada ayah: "Saya membersihkan kasurmu tiap hari, karena anakmu tak mau menjagamu"

"Kamu bohong!" kataku.  
Perawat bersikeras: "Loh bukannya benar kamu tak mau mengurusi ayahmu!"

Aku marah dan berteriak: "Keluar kamu, Keluaaaar!". Perawat pun akhirnya keluar ruangan: "Ok, saya keluar"

Dalam suasana hening di kamar kecuali bunyi tetesan air seni beliau di lantai, aku mendapati sebuah surat di meja. Ketika ku buka, isinya ternyata tulisan tangan ayah disekitar foto kami yang warnanya sudah kuning memudar.

Surat itu tertulis:

"Nak, maafkan ayah yang sudah membuatmu sakit. Ayah tak bermaksud menyakitimu. Ayah sayang kamu. Ayah hanya ingin kamu menjadi anak yang baik, sebab kelak kamu harus mampu menjaga diri kamu sendiri, tanpa ayah lagi"

Dibelakang surat ada dokumen rekening bank. Isinya tabungan ayah sepanjang hidup dari hasil kerja kerasnya, yang diperuntukan buat masa depanku.

Aku terharu dan menyadari segala kekeliruanku. Sejak saat itu aku berjanji akan totalitas mengurus ayah.

"Yah... Maafkan aku..."



Nak,
maafkan ayah yang belum mampu menghadirkan kedamaian
maafkan ayah yang belum mampu menghadirkan kebahagiaan
maafkan ayah yang belum mampu menghadirkan canda tawa dalam masa kecilmu
maafkan ayah juga ya nak, yang belum mampu hadir sepenuhnya dalam hari-harimu

Nak,
ayah sekedar ingin, kamu bisa menata masa depan yang lebih baik dari ayah ketika sesusiamu dulu
ayah tak ingin kamu menggenapkan masa-masa hidupmu dengan penuh kesusahan
ayah ingin kamu bisa lebih mudah menjalani hidup ...
tak disibukkan oleh hari-hari yang bukan tugasmu saat ini ...

kamu cukup belajar, menemukan ilmu-ilmu yang akan menjaga hidupmu
walau demi kamu, ayah seringkali tak dapat membedakan matahari dan bulan
malam seringkali menjadi siang dan ayah tak sempat menikmati siang untuk menjadikannya malam

Nak,
jika suatu saat nanti ayah tutup usia,
ayah ingin kamu mencukupkan mengambil sisi baik dari ayah
bencilah sisi buruk ayah yang dapat mencelakakan hidupmu

ayah titip, belajarlah untuk selalu bersabar ...
lekatkan nilai-nilai keikhlasan dalam hidup ...
tetaplah berbagi untuk sesama walau mereka sering mengabaikan dan menyakitimu
sebab ayah dan kamu diberi kesempatan hadir di dunia, bukan untuk sendiri, namun ditemani sekelilingmu yang mewarnai keindahan hidup ...

jadilah prasasti ayah yang mencerahkan sebanyak mungkin sesama ya nak ...

[Auran, 30 Januari 2015, The Ninth]



dalam diam, sayap-sayap hidupku semakin menipis …
aku memandangi berseraknya tanpa air mata

dalam diam, lurus tatapku terbias oleh siluet dunia …
dan aku tak berdaya dalam setiap heningku

dalam diam,bundaku slalu berbisik dalam setiap butiran-butiran khilafku …
dan hembusan angin malam slalu menusuk jantung hingga membuatku terlelap

dan dalam diam,Engkau slalu membuka jendela hati ini

agar nyanyian dara leluasa memutihkan pagiku
agar sang surya tak lelah menyusup menghangatkanku
agar biru laut leluasa mengimbangi penatku

hingga aku tersenyum dalam gita senja yang damai
hingga gugusan bintang menjagaku kembali dalam lelapku

karena aku ingin kembali …
melepas kerinduan di hati
dalam air mata yang suci
dalam kilauan cinta-cinta yang menentramkan
dan dalam naungan cahaya yang tak kan pernah padam

Kidung indah penyempurna ibadah

hari ini kami hadir karena memaknai kasih dan sayang-Mu
hari ini kami hadir tuk menjalin keseimbangan kekuatan pemikiran dan perasaan
hari ini kami hadir tuk memaknai senyum kebahagiaan dan keharuan air mata ayah dan bunda

seperti dalam firman indah-Mu,
pernikahan ini bagai pakaian suci yang kan saling manjaga kami berdua
pakaian yang tak menghadirkan celah ketidakbaikan,
namun slalu menjaga hati tuk merajut keindahan dan kebahagiaan buat kami dan sesama
pernikahan ini adalah ruang bagi kami tuk menghadirkan ikatan sakinah yang penuh rahmah

karena akad yang kami ucapkan hari ini lebih dari sekedar ucap janji dua insan yang ingin berbagi,
namum sebuah kekhusyuan memaknai hidup baru,
dalam sebuah kidung indah penyempurna ibadah ...

~ Selamat buat Linda dan Hartanto yang akan melangsungkan akad nikah pada Hari Ahad, Tanggal 18 Rabiul Akhir 1436 H / 8 Februari 2015 M ~


bundaku dan bundamu: sajak agung untuk bunda

tiba-tiba aku melangkah dalam langkahmu
karena sejarah dan keinginan berpadu dalam harmoni lagu
tiba-tiba kesucian harapan tak terbendung
karena dua insan bergairah saling menyapa masa lalu

dan untaian waktu hanyalah sekedar pendamping
agar hati menjadi tak terbatas oleh sempitnya keinginan
agar kebersamaan leluasa menyambut berkas-berkas cahaya

karena bundaku dan bundamu adalah bunda yang indah
karena bundaku dan bundamu adalah bunda yang agung
bunda yang penuh dengan keikhlasan
merelakan buah kasihnya untuk melanjutkan curahan kasihnya
meneruskan harapannya, melanjutkan cita-citanya,
dan menjaga nasehat-nasehat indahnya
agar nafasnya slalu ada dalam setiap detak jantung kita
karena kita adalah prasasti buat bunda-bunda kita

hingga kita bertemu di suatu masa,
dimana kita kembali leluasa mendekap erat hangat dan wanginya nafas sang bunda

~ Nusaloka BSD, Februari 2009 ~


tentang sesuatu ...

aku mendayung hati pada ketulusan jiwa
teriknya mentari membakar tubuh kuanggap hanya kehangatan hati tuk menjagamu
dan malam yang gelap bahkan mengabaikan rasa tuk mampu menahan rindu ini

wahai wanita terindah,
kelembutan dan ramah hatimu tak hanya meluluhkan keangkuhan masa
namun jua mendamaikan gundahnya nafas ketika memburu kelelahan dunia

jika dalam hatimu engkau berulang menyembunyikan tanya pada jasad ini
yakinlah bahwa akal dan hati ini melampaui kearifan diammu
karena cinta ini begitu kuat hadir tanpa wujudnya

biarlah tanda tanya itu berulang membentuk titik,
agar kelak bersama waktu mampu membentuk garis-garis indah pelangi hati
hingga aku memelukmu dalam kehangatan nafas bersama-Nya
dan saat itu aku akan begitu lega mengurai pesan terakhirku,
bahwa sayangku amat melampaui cinta tulus yang tlah lama hadir untukmu

- dalam bisingnya BSD, 8 Oktober 2011 -


Contact Form

Name

Email *

Message *

Labels

Translate

Revolusi Akal dan Hati

Melewati sisi waktu yang tak terhenti, bernaung dalam ruang yang tak terbatas, untuk sebuah pemahaman yang tak berujung ...

Total Pageviews