Kejadian seperti ini bagi sebagian umat Islam terasa sangat membahagiakan karena mendapatkan saudara muslim yang berniat tulus secara kaafah menjalani Islam. Sebagian lain bersikap apatis karena berfikir bahwa peristiwa ini tak mempengaruhi kehidupannya. Dan tidak sedikit pula yang malah membenci karena merasa kebutuhan dirinya terhadapat kenikmatan dunia menjadi terkurangi karena kehilangan aktivitas Reza di dunia infotainment.
Banyak artis yang mereka lebih total 'meluruskan' kehidupannya justru ketika mereka berada di puncak popularitas dan bergelimang nikmat dunia. Sebuat saja Harry Mukti, Sakti SO7, Dik Doang, Gito Rollies, Tengku Whisnu, dan sekarang Reza Noah.
Semoga mas Reza bisa istiqomah dan orang-orang sepertinya bisa menjadi contoh yang baik buat kita semua bahwa kenikmatan dunia pada akhirnya hanyalah semu belaka yang membosankan. Bahwa dunia hanyalah alat untuk mendapatkan kebahagiaan di akhirat yang lebih kekal.
Mari bersyukur atas nikmat Iman dan Islam yang telah kita dapatkan sejak lahir. Dan mari mendoakan siapapun yang masih kafir agar berkesempatan mendapatkan nikmat Iman dan Islam sebelum ajal menjelang. Aamiin ...
Berita Reza mengundurkan diri dari Noah
Banyak artis yang mereka lebih total 'meluruskan' kehidupannya justru ketika mereka berada di puncak popularitas dan bergelimang nikmat dunia. Sebuat saja Harry Mukti, Sakti SO7, Dik Doang, Gito Rollies, Tengku Whisnu, dan sekarang Reza Noah.
Semoga mas Reza bisa istiqomah dan orang-orang sepertinya bisa menjadi contoh yang baik buat kita semua bahwa kenikmatan dunia pada akhirnya hanyalah semu belaka yang membosankan. Bahwa dunia hanyalah alat untuk mendapatkan kebahagiaan di akhirat yang lebih kekal.
Mari bersyukur atas nikmat Iman dan Islam yang telah kita dapatkan sejak lahir. Dan mari mendoakan siapapun yang masih kafir agar berkesempatan mendapatkan nikmat Iman dan Islam sebelum ajal menjelang. Aamiin ...
Berita Reza mengundurkan diri dari Noah
Kita semua mungkin pernah mendengar riwayat atau sejarah kejadian masa lampau, khususnya pada zaman nabi-nabi yang banyak memberikan hikmah dalam perjalanan hidup kita. Ada kejadian yang menyenangkan, ada kejadian yang memilukan dan ada kejadian yang berlaku baik bagi para nabi, umatnya, dan para penguasa atau tokoh masyarakat saat itu.
Tengok saja riwayat Musa as dan Fira'un, Ibrahim as dan ayahnya, Nuh as dan anaknya, Luth as dan istrinya, atau Muhammad saw dan para paman-pamannya seperti Abu Lahab. Banyak pelajaran yang sesungguhnya bisa kita petik dari setiap riwayat tersebut.
Mari kita ulas misalnya riwayat Musa as dan Fir'aun.
Kita tahu bahwa Musa as adalah anak angkat dari Fir'aun atas usulan istrinya yang ingin membesarkan Musa kecil karena khawatir akan dibunuh oleh Fir'aun yang saat itu memerintahkan pembunuhan terhadap setiap anak laki-laki yang baru lahir akibat dari tafsir mimpinya. Tentu saja, sebagai anak angkat seorang raja, banyak kemudahan dalam hidup Musa yang didapatkan di dalam istana megah.
Namun setelah Musa tumbuh besar dan mulai memperhatikan kedzaliman Fir'aun dan dinastinya, nurani beliau mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Fir'aun ayah angkatnya adalah tidak benar. Selama dalam istana beliau tak henti-hentinya mencegah prajurit Fir'aun yang berbuat aniaya pada rakyat Mesir. Hingga pada suatu saat beliau harus memilih keluar dari istana, kemudian diangkat menjadi nabi, dan akhirnya melakukan perlawanan terhadap kelaliman Fir'aun dan sekutunya.
Jika kita ulas dari budi dan kemanusiaan, maka seharusnya dalam hati Musa ada keengganan melakukan kritik bahkan perlawanan terhadap Fir'aun. Bagaimana tidak, banyak fasilitas yang pernah beliau dapatkan selama hidup di istana yang tidak didapatkan oleh rakyat banyak di Mesir saat itu. Namun Musa as tidak bergeming. Hati nuraninya mengatakan bahwa Fir'aun salah dan banyak manusia tertindas. Dan beliau harus 'berbuat' untuk merubah keadaan itu.
Cerita ini similar dengan budi (kebaikan) yang diterima oleh Ibrahim as dari ayahnya atau Muhammad saw dari Abu Lahab. Mereka adalah anggota keluarga sendiri yang banyak menyokong kehidupan para nabi. Dan sejarah mencatat bahwa mereka berakhir dengan pertentangan terhadap nilai-nilai kebenaran.
Kesemua riwayat tersebut seharusnya memberikan hikmah dalam buat kita semua bahwa berbalas budi tak mesti harus membenarkan kesalahan atau kekeliruan. Kita bisa menjaga berbuat baik kepada siapapun orang yang pernah berbuat kebaikan untuk kita dan itu wajib, namun kita tak harus membenarkan kekeliruan mereka. Terlebih lagi kekeliruannya sudah masuk ke wilayah akidah.
Baik Fir'aun, ayah Ibrahim, dan paman Rasulullah Muhammad saw kesemuanya mengungkit-ungkit budi baik mereka pada masing-masing nabi. Mereka berprinsip bahwa karena para nabi sudah mendapatkan budi baik dari mereka, maka para nabi harus taat pada mereka untuk segala hal yang mereka lakukan, walau bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan ketauhidan.
Maka dalam hal melakukan budi baik pada orang lain, ada baiknya kita belajar dari nilai-nilai 'keikhlasan' sendal jepit dan matahari.
Sendal jepit walaupun dibuat dengan apik oleh manusia, namun hidupnya selalu diinjak-injak oleh sang pembuat atau penggunanya. Sendal jepit tak pernah protes selama 'dianiaya' tersebut. Sendal jepit sudah 'merasa' berterima kasih pada sang pembuat dan 'bersyukur' sudah memberikan manfaat pada manusia dari tusukan duri atau kotoran jalanan. Bahkan walau ia harus diganti lagi dengan sendal jepit baru dan dibuang ke tong sampah, sendal jepit tak pernah protes.
Matahari ..., ia bukan buatan manusia. Diciptakan oleh Tuhan hanya untuk 'berbuat baik' demi manfaat yang diperoleh manusia dan makhluk lain. Sinarnya setiap pagi selalu memapari bumi agar kita tidak kegelapan bahkan ketika manusia menyangka ia tidak ada ketika malam. Matahari memberikan energi kehidupan melalui hijau daun dan melalui kehangatan sinarnya. Banyak manfaat yang kita terima dari matahari yang bukan buatan kita.
Apakah matahari protes ketika manusia Fir'aun, ayah Ibrahim, dan Abu Lahab ternyata banyak berbuat dzalim pada manusia yang lain? Mereka memanfaatkan energi matahari melalui makanan yang dimakan untuk berbuat aniaya pada sesama. Ternyata matahari tak pernah 'ngambek'. Seandainya matahari melakukan perlawanan untuk menjunjung kebenaran seperti Musa as kepaa Fir'aun, Ibrahim as kepada ayahnya, dan Muhammad saw kepada Abu Lahab dengan cara tidak 'nongol' barang sebulan saja, maka habislah sudah umat manusia.
Maka, mari belajar budi kebaikan dari sendal jepit dan matahari, dan belajar berani menyuarakan dan membela kebenaran dari riwayat para nabi kepada orang-orang yang pernah berbuat baik pada kita namun dzalim kepada sesama.
Janganlah pula kita menungkit-ungkit budi baik pada orang lain apalagi meminta mereka mengikuti kekeliruan dan kesalahan kita. Karena itu sama saja mengurangi nilai keikhlasan, bahkan bisa menghilangkannya dan menjemerumuskan bersama-sama pada jurang kebatilan.
"Balas budi adalah berbuat baik kembali tanpa harus mengabaikan nilai-nilai kebenaran".
Fir'aun menjawab: "Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas guna. (QS. as-Syu’ara [26]: 18-19).
Berkata Musa: "Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf. Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu serta Dia menjadikanku salah seorang di antara rasul-rasul. Budi yang kamu limpahkan kepadaku itu adalah (disebabkan) kamu telah memperbudak Bani Israil". (QS. as-Syu’ara [26]: 20-22).
Wallahu a'lam
Tengok saja riwayat Musa as dan Fira'un, Ibrahim as dan ayahnya, Nuh as dan anaknya, Luth as dan istrinya, atau Muhammad saw dan para paman-pamannya seperti Abu Lahab. Banyak pelajaran yang sesungguhnya bisa kita petik dari setiap riwayat tersebut.
Mari kita ulas misalnya riwayat Musa as dan Fir'aun.
Kita tahu bahwa Musa as adalah anak angkat dari Fir'aun atas usulan istrinya yang ingin membesarkan Musa kecil karena khawatir akan dibunuh oleh Fir'aun yang saat itu memerintahkan pembunuhan terhadap setiap anak laki-laki yang baru lahir akibat dari tafsir mimpinya. Tentu saja, sebagai anak angkat seorang raja, banyak kemudahan dalam hidup Musa yang didapatkan di dalam istana megah.
Namun setelah Musa tumbuh besar dan mulai memperhatikan kedzaliman Fir'aun dan dinastinya, nurani beliau mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Fir'aun ayah angkatnya adalah tidak benar. Selama dalam istana beliau tak henti-hentinya mencegah prajurit Fir'aun yang berbuat aniaya pada rakyat Mesir. Hingga pada suatu saat beliau harus memilih keluar dari istana, kemudian diangkat menjadi nabi, dan akhirnya melakukan perlawanan terhadap kelaliman Fir'aun dan sekutunya.
Jika kita ulas dari budi dan kemanusiaan, maka seharusnya dalam hati Musa ada keengganan melakukan kritik bahkan perlawanan terhadap Fir'aun. Bagaimana tidak, banyak fasilitas yang pernah beliau dapatkan selama hidup di istana yang tidak didapatkan oleh rakyat banyak di Mesir saat itu. Namun Musa as tidak bergeming. Hati nuraninya mengatakan bahwa Fir'aun salah dan banyak manusia tertindas. Dan beliau harus 'berbuat' untuk merubah keadaan itu.
Cerita ini similar dengan budi (kebaikan) yang diterima oleh Ibrahim as dari ayahnya atau Muhammad saw dari Abu Lahab. Mereka adalah anggota keluarga sendiri yang banyak menyokong kehidupan para nabi. Dan sejarah mencatat bahwa mereka berakhir dengan pertentangan terhadap nilai-nilai kebenaran.
Kesemua riwayat tersebut seharusnya memberikan hikmah dalam buat kita semua bahwa berbalas budi tak mesti harus membenarkan kesalahan atau kekeliruan. Kita bisa menjaga berbuat baik kepada siapapun orang yang pernah berbuat kebaikan untuk kita dan itu wajib, namun kita tak harus membenarkan kekeliruan mereka. Terlebih lagi kekeliruannya sudah masuk ke wilayah akidah.
Baik Fir'aun, ayah Ibrahim, dan paman Rasulullah Muhammad saw kesemuanya mengungkit-ungkit budi baik mereka pada masing-masing nabi. Mereka berprinsip bahwa karena para nabi sudah mendapatkan budi baik dari mereka, maka para nabi harus taat pada mereka untuk segala hal yang mereka lakukan, walau bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan ketauhidan.
Maka dalam hal melakukan budi baik pada orang lain, ada baiknya kita belajar dari nilai-nilai 'keikhlasan' sendal jepit dan matahari.
Sendal jepit walaupun dibuat dengan apik oleh manusia, namun hidupnya selalu diinjak-injak oleh sang pembuat atau penggunanya. Sendal jepit tak pernah protes selama 'dianiaya' tersebut. Sendal jepit sudah 'merasa' berterima kasih pada sang pembuat dan 'bersyukur' sudah memberikan manfaat pada manusia dari tusukan duri atau kotoran jalanan. Bahkan walau ia harus diganti lagi dengan sendal jepit baru dan dibuang ke tong sampah, sendal jepit tak pernah protes.
Matahari ..., ia bukan buatan manusia. Diciptakan oleh Tuhan hanya untuk 'berbuat baik' demi manfaat yang diperoleh manusia dan makhluk lain. Sinarnya setiap pagi selalu memapari bumi agar kita tidak kegelapan bahkan ketika manusia menyangka ia tidak ada ketika malam. Matahari memberikan energi kehidupan melalui hijau daun dan melalui kehangatan sinarnya. Banyak manfaat yang kita terima dari matahari yang bukan buatan kita.
Apakah matahari protes ketika manusia Fir'aun, ayah Ibrahim, dan Abu Lahab ternyata banyak berbuat dzalim pada manusia yang lain? Mereka memanfaatkan energi matahari melalui makanan yang dimakan untuk berbuat aniaya pada sesama. Ternyata matahari tak pernah 'ngambek'. Seandainya matahari melakukan perlawanan untuk menjunjung kebenaran seperti Musa as kepaa Fir'aun, Ibrahim as kepada ayahnya, dan Muhammad saw kepada Abu Lahab dengan cara tidak 'nongol' barang sebulan saja, maka habislah sudah umat manusia.
Maka, mari belajar budi kebaikan dari sendal jepit dan matahari, dan belajar berani menyuarakan dan membela kebenaran dari riwayat para nabi kepada orang-orang yang pernah berbuat baik pada kita namun dzalim kepada sesama.
Janganlah pula kita menungkit-ungkit budi baik pada orang lain apalagi meminta mereka mengikuti kekeliruan dan kesalahan kita. Karena itu sama saja mengurangi nilai keikhlasan, bahkan bisa menghilangkannya dan menjemerumuskan bersama-sama pada jurang kebatilan.
"Balas budi adalah berbuat baik kembali tanpa harus mengabaikan nilai-nilai kebenaran".
Fir'aun menjawab: "Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas guna. (QS. as-Syu’ara [26]: 18-19).
Berkata Musa: "Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf. Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu serta Dia menjadikanku salah seorang di antara rasul-rasul. Budi yang kamu limpahkan kepadaku itu adalah (disebabkan) kamu telah memperbudak Bani Israil". (QS. as-Syu’ara [26]: 20-22).
Wallahu a'lam
Salah satu hukum alam yang merupakan anugerah dari Allah SWT adalah paparan energi yang kita terima dari sebuah sumber energi akan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak terhadap sumber tersebut. Dalam Ilmu Fisika dikenal dengan Inverse Square Law atau Hukum Kuadrat Terbalik.
Sebagai misal paparan bunyi yang kita terima dari sebuah sumber bunyi akan semakin mengecil ketika kita menjauh dari sumber bunyi tersebut. Sebaliknya, ketika kita mendekat pada sumber bunyi maka paparan yang kita terima pun semakin besar pula.
Begitu pula suhu, radiasi nuklir, cahaya, elektrostatik, dan semua besaran atau fenomena alam yang memiliki energi akan memenuhi hukum tersebut. Semakin jauh sebuah posisi dari sumbernya, maka akan semakin rendah paparannya.
Jika ditulis dalam formulasi Fisika, maka: I (r) ~ 1/r^2 . I (0) dimana I (r) adalah intensitas atau paparan yang diterima pada jarak r, dan I (0) adalah besar intensitas atau paparan sumber.
Pernahkah kita membayangkan jika hukum alam itu dibalik oleh Tuhan menjadi paparan yang diterima akan berbanding lurus dengan kuadrat jarak. Tentu akan terasa 'aneh' karena semua manusia akan mendekat kepada sumber energi. Musik akan terdengar semakin kencang jika kita menjauh.
Dalam kehidupan sosial, fenomena fisika ini bisa diterjemahkan dalam sebuah kasus terjadinya pergesekan antar manusia, yakni hubungan antara respon emosi dan jarak. Semakin kita jauh dengan seseorang, maka respon emosi kita semakin kecil. Beda halnya ketika kita masih dekat dengan orang tersebut, maka respon emosi kita akan semakin besar pula.
Maka sesungguhnya, ketika kita bermasalah dengan siapapun, secara alami masalah itu akan selesai dengan sendirinya jika kita menata jarak dengan orang yang bermasalah. Tinggalkan orang bermasalah itu dengan tidak bertemu atau menjauhkan jarak (bukan untuk membenci), maka otomatis kita akan berangsur memaafkan atau mengabaikan masalah tersebut demi perbaikan ke depan.
Atau dalam kasus masa 'iddah misalnya, seorang istri yang ditinggal meninggal oleh suaminya 'hanya' diberikan kesempatan 4 bulan 10 hari untuk berkabung. Setelahnya silakan mencari lagi pendamping yang baru.
Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber'iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis 'iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. (QS Al-Baqarah [2] : 234)
Ketika kita mendapati kejadian menyedihkan, maka tidak ada alasan buat kita untuk larut dalam kesedihan yang mendalam, larut dalam penyesalan yang tak berujung, dan larut dalam kekecewaan yang tak menyelesaikan.
Jika seorang istri yang ditinggal meninggal suaminya saja 'cukup' diberikan waktu 4 bulan 10 hari untuk berkabung, maka apatah lagi para remaja yang ditinggal kekasih sesaatnya (pacar). Mungkin cukup 4 hari 10 jam saja bersedihnya. Buatlah jarak sesegara mungkin, hilangkan perlahan pikiran tentang 'dia' yang tidak konstruktif, dan mulailah membangun kurva kehidupan yang baru.
Hidup sudah memberikan cara tersendiri secara alami untuk membaikan umat manusia dan seluruh makhluk menuju recovery ketika menerima paparan negatif dengan cara membuat jarak dengan sumber paparan negatif tersebut, maka janganlah mencoba-coba membuat entropi (ketidakteraturan) hidup dengan tetap bernostalgia dengan sumber masalah yang justru akan mengganggu keteraturan hukum alam yang sudah dianugerahkan oleh Yang Maha Memiliki Hukum, Allah SWT.
Buat para pecinta dan yang dicintai, mungkin salah satu makna bersyukur dalam hidup adalah menerapkan prinsip:
"Jika tidak mendapatkan apa yang dicintai, maka cintailah apa yang sudah didapatkan."
wallahu a'lam
Sebagai misal paparan bunyi yang kita terima dari sebuah sumber bunyi akan semakin mengecil ketika kita menjauh dari sumber bunyi tersebut. Sebaliknya, ketika kita mendekat pada sumber bunyi maka paparan yang kita terima pun semakin besar pula.
Begitu pula suhu, radiasi nuklir, cahaya, elektrostatik, dan semua besaran atau fenomena alam yang memiliki energi akan memenuhi hukum tersebut. Semakin jauh sebuah posisi dari sumbernya, maka akan semakin rendah paparannya.
Jika ditulis dalam formulasi Fisika, maka: I (r) ~ 1/r^2 . I (0) dimana I (r) adalah intensitas atau paparan yang diterima pada jarak r, dan I (0) adalah besar intensitas atau paparan sumber.
Pernahkah kita membayangkan jika hukum alam itu dibalik oleh Tuhan menjadi paparan yang diterima akan berbanding lurus dengan kuadrat jarak. Tentu akan terasa 'aneh' karena semua manusia akan mendekat kepada sumber energi. Musik akan terdengar semakin kencang jika kita menjauh.
Dalam kehidupan sosial, fenomena fisika ini bisa diterjemahkan dalam sebuah kasus terjadinya pergesekan antar manusia, yakni hubungan antara respon emosi dan jarak. Semakin kita jauh dengan seseorang, maka respon emosi kita semakin kecil. Beda halnya ketika kita masih dekat dengan orang tersebut, maka respon emosi kita akan semakin besar pula.
Maka sesungguhnya, ketika kita bermasalah dengan siapapun, secara alami masalah itu akan selesai dengan sendirinya jika kita menata jarak dengan orang yang bermasalah. Tinggalkan orang bermasalah itu dengan tidak bertemu atau menjauhkan jarak (bukan untuk membenci), maka otomatis kita akan berangsur memaafkan atau mengabaikan masalah tersebut demi perbaikan ke depan.
Atau dalam kasus masa 'iddah misalnya, seorang istri yang ditinggal meninggal oleh suaminya 'hanya' diberikan kesempatan 4 bulan 10 hari untuk berkabung. Setelahnya silakan mencari lagi pendamping yang baru.
Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber'iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis 'iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. (QS Al-Baqarah [2] : 234)
Ketika kita mendapati kejadian menyedihkan, maka tidak ada alasan buat kita untuk larut dalam kesedihan yang mendalam, larut dalam penyesalan yang tak berujung, dan larut dalam kekecewaan yang tak menyelesaikan.
Jika seorang istri yang ditinggal meninggal suaminya saja 'cukup' diberikan waktu 4 bulan 10 hari untuk berkabung, maka apatah lagi para remaja yang ditinggal kekasih sesaatnya (pacar). Mungkin cukup 4 hari 10 jam saja bersedihnya. Buatlah jarak sesegara mungkin, hilangkan perlahan pikiran tentang 'dia' yang tidak konstruktif, dan mulailah membangun kurva kehidupan yang baru.
Hidup sudah memberikan cara tersendiri secara alami untuk membaikan umat manusia dan seluruh makhluk menuju recovery ketika menerima paparan negatif dengan cara membuat jarak dengan sumber paparan negatif tersebut, maka janganlah mencoba-coba membuat entropi (ketidakteraturan) hidup dengan tetap bernostalgia dengan sumber masalah yang justru akan mengganggu keteraturan hukum alam yang sudah dianugerahkan oleh Yang Maha Memiliki Hukum, Allah SWT.
Buat para pecinta dan yang dicintai, mungkin salah satu makna bersyukur dalam hidup adalah menerapkan prinsip:
"Jika tidak mendapatkan apa yang dicintai, maka cintailah apa yang sudah didapatkan."
wallahu a'lam
Suatu sore, ditahun 1525. Penjara tempat tahanan orang-orang di situ serasa hening mencengkam. Jendral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan.
Setiap sipir penjara membungkukkan badannya rendah-rendah ketika ‘algojo penjara’ itu berlalu di hadapan mereka. Karena kalau tidak, sepatu ‘jenggel’ milik tuan Roberto yang fanatik Kristen itu akan mendarat di wajah mereka.
Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci.
“Hai…hentikan suara jelekmu! Hentikan…! ” Teriak Roberto sekeras-kerasnya sembari membelalakan mata. Namun, apa yang terjadi?
Laki-laki di kamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dengan khusyu’nya. Roberto bertambah berang.
‘Algojo penjara’ itu menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu orang. Dengan congkak ia menyemburkan ludahnya ke wajah renta sang tahanan yang keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyulut wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang menyala.
Sungguh ajaib… Tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Bibir yang pucat kering milik sang tahanan amat gengsi untuk meneriakkan kata, “Rabbi, waana’abduka. ..” Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata, “Bersabarlah wahai ustadz…Insya Allah tempatmu di Syurga.”
Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustadz oleh sesama tahanan, ‘algojo penjara’ itu bertambah memuncak amarahnya. Ia memerintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras-keras hingga terjerembab di lantai. “Hai orang tua busuk! Bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa jelekmu itu?! Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu! Ketahuilah orang tua dungu, bumi Spanyol ini kini telah berada dalam kekuasaan bapak kami, Tuhan Yesus. Anda telah membuat aku benci dan geram dengan ‘suara-suara’ yang seharusnya tak pernah terdengar lagi di sini. Sebagai balasannya engkau akan kubunuh. Kecuali, kalau engkau mau minta maaf dan masuk agama kami.”
Mendengar “khutbah” itu orang tua itu mendongakkan kepala, menatap Roberto dengan tatapan tajam dan dingin. Ia lalu berucap, “Sungguh…aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang amat kucintai, Allah. Bila kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk? Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku termasuk manusia yang amat bodoh.”
Baru saja kata-kata itu terhenti, sepatu lars Roberto sudah mendarat diwajahnya. Laki-laki itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dengan wajah bersimbah darah. Ketika itulah dari saku baju penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah ‘buku kecil’. Adolf Roberto bermaksud memungutnya. Namun,tangan sang Ustadz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat-erat. “Berikan buku itu, hai laki-laki dungu!” bentak Roberto. “Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini!” ucap sang ustadz dengan tatapan menghina pada Roberto. Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto, mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu.
Sepatu lars berbobot dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustadz yang telah lemah. Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto. Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus. Bahkan ‘algojo penjara’itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur.
Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang membuatnya penasaran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh. Mendadak algojo itu termenung. “Ah…sepertinya aku pernah mengenal buku ini. Tapi kapan? Ya, aku pernah mengenal buku ini.” suara hati Roberto bertanya-tanya.
Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu. Pemuda berumur tiga puluh tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan “aneh” dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu.
Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Spanyol. Akhirnya, Roberto duduk disamping sang ustadz yang telah melepas nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam. Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak.
Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto. Pemuda itu teringat ketika suatu sore di masa kanak-kanaknya terjadi kericuhan besar di negeri tempat kelahirannya ini.
********** ******* ******* ******* ******* ****
Sore itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa berjatuhan di bumi Andalusia. Di hujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab)digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yang kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di udara. Sementara, ditengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang dibawa oleh para rahib.
Seorang bocah laki-laki mungil tampan, berumur tujuh tahunan, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap. Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua. Bocah mungil itu mencucurkan air matanya menatap sang ibu yang terkulai lemah ditiang gantungan. Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang ummi yang sudah tak bernyawa, sembari menggayuti ibunya. Sang bocah berkata dengan suara parau, “Ummi, ummi, mari kita pulang. Hari telah malam, bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa….? Ummi,cepat pulang ke rumah ummi…” Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu harus berbuat apa. Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah.
Akhirnya bocah itu berteriak memanggil bapaknya ” Abi…Abi… Abi…”
Namun, ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapak ketika teringat kemarin sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.
“Hai…siapa kamu?!” teriak segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati sang bocah. “Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi…” jawab sang bocah memohon belas kasih. “Hah…siapa namamu bocah, coba ulangi!” bentak salah seorang dari mereka. “Saya Ahmad Izzah…” sang bocah kembali menjawab dengan agak grogi. Tiba-tiba plak! sebuah tamparan mendarat dipipi sang bocah. “Hai bocah…! Wajahmu bagus tapi namamu jelek. Aku benci namamu. Sekarang kuganti namamu dengan nama yang bagus. Namamu sekarang ‘Adolf Roberto’ ..Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yang jelek itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!” ancam laki2 itu. Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata. Anak laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama mereka.
********** ******* ******* ******* ******* *****
Roberto sedar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada tubuh sang ustadz. Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu. Ketika ia menemukan sebuah ‘tanda hitam’ ia berteriak histeris, “Abi…Abi.. .Abi…” Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu.
Fikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang ada di dalam menggamannya adalah Kitab Suci milik bapaknya, yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya. Ia jua ingat betul ayahnya mempunyai 'tanda hitam’ pada bahagian pusar. Pemuda beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas ulahnya selama ini.Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun alpa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, “Abi.. aku masih ingat alif, ba, ta, tsa…” Hanya sebatas kata itu yang masih terekam dalam benaknya.
Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yang tadi menyiksanya habis-habisan kini tengah memeluknya.
“Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuhi Abi,tunjukkan aku pada jalan itu…” Terdengar suara Roberto memelas. Sang ustadz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, ia lalu memejamkan matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika sekian puluh tahun kemudian, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, di tempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran Allah.
Sang Abi dengan susah payah masih bisa berucap.” Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Disana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu,” Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal kalimah indah “Asyahadu anla Illaaha ilallah,waasyhadu anna Muhammad Rasullullah. .” Beliau pergi dengan menemui Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang dibumi yang fana ini.
Kini Ahmad Izzah telah menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk agamanya, ‘Islam’, sebagai ganti kekafiran yang di masa muda sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru berguru dengannya… ” Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy.
Benarlah firman Allah…
”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama yang lurus,tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS Ar Rum [30]:30)
Setiap sipir penjara membungkukkan badannya rendah-rendah ketika ‘algojo penjara’ itu berlalu di hadapan mereka. Karena kalau tidak, sepatu ‘jenggel’ milik tuan Roberto yang fanatik Kristen itu akan mendarat di wajah mereka.
Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci.
“Hai…hentikan suara jelekmu! Hentikan…! ” Teriak Roberto sekeras-kerasnya sembari membelalakan mata. Namun, apa yang terjadi?
Laki-laki di kamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dengan khusyu’nya. Roberto bertambah berang.
‘Algojo penjara’ itu menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu orang. Dengan congkak ia menyemburkan ludahnya ke wajah renta sang tahanan yang keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyulut wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang menyala.
Sungguh ajaib… Tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Bibir yang pucat kering milik sang tahanan amat gengsi untuk meneriakkan kata, “Rabbi, waana’abduka. ..” Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata, “Bersabarlah wahai ustadz…Insya Allah tempatmu di Syurga.”
Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustadz oleh sesama tahanan, ‘algojo penjara’ itu bertambah memuncak amarahnya. Ia memerintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras-keras hingga terjerembab di lantai. “Hai orang tua busuk! Bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa jelekmu itu?! Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu! Ketahuilah orang tua dungu, bumi Spanyol ini kini telah berada dalam kekuasaan bapak kami, Tuhan Yesus. Anda telah membuat aku benci dan geram dengan ‘suara-suara’ yang seharusnya tak pernah terdengar lagi di sini. Sebagai balasannya engkau akan kubunuh. Kecuali, kalau engkau mau minta maaf dan masuk agama kami.”
Mendengar “khutbah” itu orang tua itu mendongakkan kepala, menatap Roberto dengan tatapan tajam dan dingin. Ia lalu berucap, “Sungguh…aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang amat kucintai, Allah. Bila kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk? Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku termasuk manusia yang amat bodoh.”
Baru saja kata-kata itu terhenti, sepatu lars Roberto sudah mendarat diwajahnya. Laki-laki itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dengan wajah bersimbah darah. Ketika itulah dari saku baju penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah ‘buku kecil’. Adolf Roberto bermaksud memungutnya. Namun,tangan sang Ustadz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat-erat. “Berikan buku itu, hai laki-laki dungu!” bentak Roberto. “Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini!” ucap sang ustadz dengan tatapan menghina pada Roberto. Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto, mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu.
Sepatu lars berbobot dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustadz yang telah lemah. Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto. Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus. Bahkan ‘algojo penjara’itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur.
Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang membuatnya penasaran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh. Mendadak algojo itu termenung. “Ah…sepertinya aku pernah mengenal buku ini. Tapi kapan? Ya, aku pernah mengenal buku ini.” suara hati Roberto bertanya-tanya.
Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu. Pemuda berumur tiga puluh tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan “aneh” dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu.
Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Spanyol. Akhirnya, Roberto duduk disamping sang ustadz yang telah melepas nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam. Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak.
Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto. Pemuda itu teringat ketika suatu sore di masa kanak-kanaknya terjadi kericuhan besar di negeri tempat kelahirannya ini.
********** ******* ******* ******* ******* ****
Sore itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa berjatuhan di bumi Andalusia. Di hujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab)digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yang kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di udara. Sementara, ditengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang dibawa oleh para rahib.
Seorang bocah laki-laki mungil tampan, berumur tujuh tahunan, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap. Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua. Bocah mungil itu mencucurkan air matanya menatap sang ibu yang terkulai lemah ditiang gantungan. Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang ummi yang sudah tak bernyawa, sembari menggayuti ibunya. Sang bocah berkata dengan suara parau, “Ummi, ummi, mari kita pulang. Hari telah malam, bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa….? Ummi,cepat pulang ke rumah ummi…” Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu harus berbuat apa. Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah.
Akhirnya bocah itu berteriak memanggil bapaknya ” Abi…Abi… Abi…”
Namun, ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapak ketika teringat kemarin sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.
“Hai…siapa kamu?!” teriak segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati sang bocah. “Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi…” jawab sang bocah memohon belas kasih. “Hah…siapa namamu bocah, coba ulangi!” bentak salah seorang dari mereka. “Saya Ahmad Izzah…” sang bocah kembali menjawab dengan agak grogi. Tiba-tiba plak! sebuah tamparan mendarat dipipi sang bocah. “Hai bocah…! Wajahmu bagus tapi namamu jelek. Aku benci namamu. Sekarang kuganti namamu dengan nama yang bagus. Namamu sekarang ‘Adolf Roberto’ ..Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yang jelek itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!” ancam laki2 itu. Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata. Anak laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama mereka.
********** ******* ******* ******* ******* *****
Roberto sedar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada tubuh sang ustadz. Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu. Ketika ia menemukan sebuah ‘tanda hitam’ ia berteriak histeris, “Abi…Abi.. .Abi…” Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu.
Fikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang ada di dalam menggamannya adalah Kitab Suci milik bapaknya, yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya. Ia jua ingat betul ayahnya mempunyai 'tanda hitam’ pada bahagian pusar. Pemuda beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas ulahnya selama ini.Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun alpa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, “Abi.. aku masih ingat alif, ba, ta, tsa…” Hanya sebatas kata itu yang masih terekam dalam benaknya.
Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yang tadi menyiksanya habis-habisan kini tengah memeluknya.
“Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuhi Abi,tunjukkan aku pada jalan itu…” Terdengar suara Roberto memelas. Sang ustadz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, ia lalu memejamkan matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika sekian puluh tahun kemudian, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, di tempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran Allah.
Sang Abi dengan susah payah masih bisa berucap.” Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Disana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu,” Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal kalimah indah “Asyahadu anla Illaaha ilallah,waasyhadu anna Muhammad Rasullullah. .” Beliau pergi dengan menemui Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang dibumi yang fana ini.
Kini Ahmad Izzah telah menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk agamanya, ‘Islam’, sebagai ganti kekafiran yang di masa muda sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru berguru dengannya… ” Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy.
Benarlah firman Allah…
”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama yang lurus,tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS Ar Rum [30]:30)
“Hidup ini permainan,” kira-kira begitu kata Kitab Suci. Ini ide yang nggak terlalu nyandak buat sebagian orang sebenarnya. Lha gimana, wong sudah lintang pukang dibombardir deadline seperti ini, pagi sampai petang, kok dibilang cuma dolanan? Dan kalau kita baca koran, betapa seratusan orang mati tragis di Sinabung, Banjarnegara, dan barusan Air Asia, trilyunan duit beredar di pemilu kemarin, peluh dan depresi, tragedi dan nestapa dunia, semua riil terasa… dan sama sekali nggak kelihatan seperti main-main. Kelihatannya.
Rumi punya tamsil yang kalau dipikir-pikir, dimat-matke, bisa memberi sedikit insight. Begini beliau bilang:
"This world is a playground where children pretend to have shops. They exchange imaginary money. Night comes, and they go home tired with nothing in their hands".
Persis. Kita seharian nguber-nguber (dan diuber-uber) kerjaan, pemilu, rumah, iPhone, Playstation, bonus tahunan, deposito, job-grade, golden shakehand (apaan sih?)… sementara nanti pas saatnya kita dikubur berkalang tanah, nggak satu pun dibawa, kecuali selembar kafan. Semuanya ditinggal, termasuk anak dan istri. Semuanya goodbye.
Dan ngomong-ngomong soal ‘imaginary money’ di puisinya Rumi, itu persis permainan monopoli waktu kecil dulu. Ada duit-duitan, ada bank-bankan. Kita bisa beli tanah, rumah, sampai hotel dan mengutip pajak dari lawan. Kita sorak sorai begitu dapat “rejeki” kartu dana umum atau si lawan mendarat di tanah kita. Kita depresi kalau disuruh bayar atau kena kartu masuk penjara (dan paling sebel kalau nggak keluar-keluar). Sedih, murung, riang, excited, bahkan keributan, otot-ototan dengan lawan, namanya juga permainan: kadang kita terbawa suasana.
Tapi begitu maghrib tiba, ibunda tercinta memanggil di bawah, kita pun sadar: permainan musti selesai. Duit-duitan yang terkumpul dengan “jerih payah” itu, rumah, hotel, semua properti musti masuk lagi ke kotaknya. Papan ditutup. Nggak ada yang dibawa. “… and they go home tired with nothing in their hands.”
Terus apa maksudnya ini semua kalau cuma buat dolanan?
Mari kita minggir barang sebentar, merenung sejenak. Kita main monopoli, kita having fun, kita nyari rumah sebanyak-banyaknya, hotel sebanyak-banyaknya, bikin lawan sebangkrut-bangkrutnya, dan begitu papan ditutup, semuanya selesai, wusss… bak kapas ditiup angin. Ada refleksi menarik sebenarnya di sana: apa sebenarnya tujuan permainan monopoli ini?
Flashback ke abad 19. Permainan monopoli ini tercipta di sebuah lingkungan pergolakan politik dan ekonomi yang ruwet di masa itu di Virginia, Amrik sono, yang panjang kalau diceritakan (jadi detilnya baca sendiri).
Tapi intinya begini. Permainan yang dulu bernama Landlord’s Game (atau Dolanan Tuan Tanah) ini didesain oleh seorang wanita Quaker bernama Elizabeth Magie dengan satu tujuan: memudahkan orang mengerti tentang single-tax theory, tentang bagaimana tuan-tuan tanah memperkaya dirinya dan mempermiskin para penyewa.
Nah, itu. Itu tujuan awalnya: supaya para pemain belajar sesuatu. Tapi kemudian apa yang terjadi sekarang, berabad-abad kemudian? Landlord’s Game ini jadi permainan monopoli, dolanan yang pure entertainment, yang masing-masing pemain berusaha menjadi sekaya-kayanya dengan memiskinkan lawan semiskin-miskinnya. The richer, the winner. Kita main, beli sana-sini, menang atau kalah, selesai. Sementara tujuan asalinya? Tentang single-tax theory? Kebanyakan anak-anak kita, mungkin juga kita, nggak lagi tahu.
And sadly, it happens also with our life… don’t you think? What is this life? What is the purpose of this game of life?
Elizabeth Magie, sang pencipta monopoli, telah mendesain sedemikian rupa agar para pemain memperoleh sesuatu yang tentu lebih berharga dari pernak-pernik aksesori permainan itu sendiri, sesuatu yang mungkin akan senantiasa tinggal bahkan setelah papan permainan ditutup: sebuah pelajaran.
Dan hidup ini tentulah lebih kompleks, lebih warna-warni dari permainan monopoli. But again, what have we learned from this “game of life”, sesuatu yang akan senantiasa melekat bahkan ketika papan kehidupan kita ditutup? What do you think The Creator has in mind? Telling us to collect imaginary money, lands and houses… as much as you can?
What is the life of this world but play and amusement?
But best is the home in the hereafter, for those who are righteous.
Will you not then understand?
(Quran 6:32)
Rumi punya tamsil yang kalau dipikir-pikir, dimat-matke, bisa memberi sedikit insight. Begini beliau bilang:
"This world is a playground where children pretend to have shops. They exchange imaginary money. Night comes, and they go home tired with nothing in their hands".
Persis. Kita seharian nguber-nguber (dan diuber-uber) kerjaan, pemilu, rumah, iPhone, Playstation, bonus tahunan, deposito, job-grade, golden shakehand (apaan sih?)… sementara nanti pas saatnya kita dikubur berkalang tanah, nggak satu pun dibawa, kecuali selembar kafan. Semuanya ditinggal, termasuk anak dan istri. Semuanya goodbye.
Dan ngomong-ngomong soal ‘imaginary money’ di puisinya Rumi, itu persis permainan monopoli waktu kecil dulu. Ada duit-duitan, ada bank-bankan. Kita bisa beli tanah, rumah, sampai hotel dan mengutip pajak dari lawan. Kita sorak sorai begitu dapat “rejeki” kartu dana umum atau si lawan mendarat di tanah kita. Kita depresi kalau disuruh bayar atau kena kartu masuk penjara (dan paling sebel kalau nggak keluar-keluar). Sedih, murung, riang, excited, bahkan keributan, otot-ototan dengan lawan, namanya juga permainan: kadang kita terbawa suasana.
Tapi begitu maghrib tiba, ibunda tercinta memanggil di bawah, kita pun sadar: permainan musti selesai. Duit-duitan yang terkumpul dengan “jerih payah” itu, rumah, hotel, semua properti musti masuk lagi ke kotaknya. Papan ditutup. Nggak ada yang dibawa. “… and they go home tired with nothing in their hands.”
Terus apa maksudnya ini semua kalau cuma buat dolanan?
Mari kita minggir barang sebentar, merenung sejenak. Kita main monopoli, kita having fun, kita nyari rumah sebanyak-banyaknya, hotel sebanyak-banyaknya, bikin lawan sebangkrut-bangkrutnya, dan begitu papan ditutup, semuanya selesai, wusss… bak kapas ditiup angin. Ada refleksi menarik sebenarnya di sana: apa sebenarnya tujuan permainan monopoli ini?
Flashback ke abad 19. Permainan monopoli ini tercipta di sebuah lingkungan pergolakan politik dan ekonomi yang ruwet di masa itu di Virginia, Amrik sono, yang panjang kalau diceritakan (jadi detilnya baca sendiri).
Tapi intinya begini. Permainan yang dulu bernama Landlord’s Game (atau Dolanan Tuan Tanah) ini didesain oleh seorang wanita Quaker bernama Elizabeth Magie dengan satu tujuan: memudahkan orang mengerti tentang single-tax theory, tentang bagaimana tuan-tuan tanah memperkaya dirinya dan mempermiskin para penyewa.
Nah, itu. Itu tujuan awalnya: supaya para pemain belajar sesuatu. Tapi kemudian apa yang terjadi sekarang, berabad-abad kemudian? Landlord’s Game ini jadi permainan monopoli, dolanan yang pure entertainment, yang masing-masing pemain berusaha menjadi sekaya-kayanya dengan memiskinkan lawan semiskin-miskinnya. The richer, the winner. Kita main, beli sana-sini, menang atau kalah, selesai. Sementara tujuan asalinya? Tentang single-tax theory? Kebanyakan anak-anak kita, mungkin juga kita, nggak lagi tahu.
And sadly, it happens also with our life… don’t you think? What is this life? What is the purpose of this game of life?
Elizabeth Magie, sang pencipta monopoli, telah mendesain sedemikian rupa agar para pemain memperoleh sesuatu yang tentu lebih berharga dari pernak-pernik aksesori permainan itu sendiri, sesuatu yang mungkin akan senantiasa tinggal bahkan setelah papan permainan ditutup: sebuah pelajaran.
Dan hidup ini tentulah lebih kompleks, lebih warna-warni dari permainan monopoli. But again, what have we learned from this “game of life”, sesuatu yang akan senantiasa melekat bahkan ketika papan kehidupan kita ditutup? What do you think The Creator has in mind? Telling us to collect imaginary money, lands and houses… as much as you can?
What is the life of this world but play and amusement?
But best is the home in the hereafter, for those who are righteous.
Will you not then understand?
(Quran 6:32)
Thanks to Mas Watung, Guru Saya
Mari sini, teman-teman yang baik, mari sini. Sembari mengukur jalan ini, membuang kembali ingatan ke masa kecil, yang kata orang, masa paling indah. Ingatkah ruang itu, ketika kita menyusuri kebun tebu dan melempari danau bersama kawan-kawan sebaya, tanpa tuntutan, tanpa prasyarat? Dan jejak-jejak gairah itu, luka itu, rasanya baru kemarin, bukankah demikian?
Dan sungguh, waktu meluncur begitu cepat. Hal-hal yang tak terbayangkan di masa kecil, kini kita hadapi. Maka sampailah kita di sini, para penyusur jalanan dan gedung-gedung kota yang suram. Pergi pagi pulang petang. Lalu untuk apa? Mengisi lambung yang hanya seukuran setengah bantal ini? Menunggu maut?
Ah, sudahlah… ;-)
Ijinkan saya bercerita tentang bab-bab kehidupan, perjalanan sebagian besar kita, yang bermula dari suatu masa jauh sebelum kita dilahirkan, dan berakhir dengan… entahlah, saya ingin membiarkan jari-jari ini jatuh kemana pun yang disuka. Hanya dengan memahami bab-bab awal itu, kita akan beroleh clue dimana kita sekarang, untuk apa, dan kemana semuanya ini menuju.
* * * *
CHAPTER 1: Bersama Tuhan
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul, kami menjadi saksi”. (QS [7]:172)
| Chapter 1 |
Kita, teman-teman yang baik. Itu kita. Saya, anda, masing-masing, semuanya! Jiwa yang ada di sana itu, adalah juga yang ada di sini. Sosok yang bercakap-cakap dengan Sang Raja Diraja Semesta Raya itu, adalah juga sosok yang ini. Bukan siapa-siapa, bukan para tokoh di dongeng dan kisah pahlawan, tapi kita.
Kita adalah saksi tentang keesaan Tuhan, bukankah demikian? Kita lah, makhluk mulia yang diciptakan dengan sebaik-baiknya ini, yang akan angkat suara atas segala keraguan tentang keberadaan Tuhan. Karena bukankah kita telah melihat Dia, teman-teman yang baik? Berbicara dengan-Nya? Kita lah yang paham benar, kita yang tahu. Siapapun itu: presiden dan tukang cukur, guru dan para murid, sarjana dan kaum awam, laki-laki dan perempuan, kaya dan miskin, tak satu pun terkecuali. Kita berasal dari sana, kita semua bersaksi, dan akan dituntut tentang persaksian itu.
… agar di hari kiamat engkau tak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini.” (QS [7]:172)
Akan tetapi, lihatlah diri ini kini. Ingatkah kita tentang semua kejadian itu? Ingatkah kita akan sosok “wajah” yang kepada-Nya kita menghadap dahulu?
Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami, dan dia lupa kepada kejadiannya… (QS [36]:78)
Kebanyakan kita, tak sedikit pun mampu mengingatnya. Mengapa? Coba kita teruskan, barang sebentar.
CHAPTER 2: Di Dalam Rahim
Di rahim ibu, lumbung kokoh nan penuh kasih sayang, sebuah “kendaraan” pun hati-hati disiapkan, ditumbuhkan dari segumpal tanah.
Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya. (QS [71]:17)
Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. (QS [39]:6)
Empat bulan lamanya (atau 120 hari, atau 3 kali 40 hari) adalah usia janin ketika terjadi apa yang di dunia kedokteran disebut sebagai quickening, ketika sang ibu mulai merasakan gerak-gerik yang kuat di rahimnya, ketika seluruh bagian tubuh mengalami perkembangan cepat — yang oleh sebagian tafsir disebut sebagai saat ketika jiwa dan ruh mulai ditiupkan.
| Chapter 2 |
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya ruh-Nya… (QS [32]:9)
Dia-lah yang menciptakan kamu dari turaab, kemudian dari nuthfah, sesudah itu dari ‘alaqah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak… (QS [40]:67)
Jiwa anak-anak adalah jiwa yang bersih nan suci, begitu kata Rasulullah s.a.w.
Lihatlah bayi-bayi itu, teman-teman yang baik. Mereka tersenyum kepada setiap orang, walau tetap sensitif pada setiap bersitan niat buruk yang hadir, bukankah begitu? Mereka bercakap-cakap dengan hewan dan tumbuhan, bahkan bercanda memandang ke arah sesuatu yang kita tak mampu melihatnya. Mereka menyentuh sana dan sini, memasukkan apa saja ke mulutnya, belajar tentang dunia barunya, dunia yang asing yang kini musti dijalani, bumi beserta seluruh penghuninya, juga tubuh — kendaraan barunya ini, yang memungkinkannya merambah belantara, samudra dan angkasa, di sini.
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menjadi abdi-Ku. (QS [51]:56)
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi.” (QS [2]:30)
Dan babak baru pun dimulai…
CHAPTER 3: Dunia, Tempat Persinggahan
Tubuh, kata Al-Ghazali, adalah kendaraan bagi jiwa, kendaraan kita. Tubuh dengan kepala dan kaki, tangan dan punggung yang kita sentuh ini, adalah bak kereta kuda bagi kita kusirnya, sang pengendali kuda. Namun semenjak hari pertama itu pun, kita menumbuhkan “aku” yang lain, egoisme, dan melakukan apa saja demi keakuan yang baru ini. Kita bercermin, dan menyangka bayangan itulah diri kita. Kita mengambil foto dan meyakinkan semua orang, lihatlah diriku, betapa ayu dan gagah sungguh.
Teman-teman yang baik, adakah sama, kusir dengan keretanya? Adakah sama, “aku” dengan “tubuhku”? Pernahkah kita bertanya, di manakah diri kita yang sebenarnya, kini? Di manakah kita yang dulu berhadap-hadapan dengan Sang Penguasa Semesta? Kapan terakhir kita sanggup melihat-Nya?
Dan keserakahan, hawa nafsu, syahwat pun kian mewabah. Sang bayi yang telah tumbuh besar itu pun kini tak lagi mudah tersenyum pada orang-orang, atau berbicara pada pohon dan kupu-kupu. Kita jadi mudah marah, dan merasa diri telah bersikap tegas. Kita mengurangi timbangan pelanggan dan karyawan, dan merasa diri telah melakukan hal yang cerdik. Kita pergi haji, dan merasa lengkaplah sudah satu set kapling di dunia dan villa di surga. Padahal kepada Tuhan dan kisah para nabi, diam-diam kita menepisnya “Dongengan jaman dulu! Berbicara dengan Tuhan? Ah, hari gini?”, sembari mengangkat cawan selamat hari raya, demi koneksi dan relasi.
… seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. (QS [59]:19)
Teman-teman yang baik, jiwa ini telah lumpuh! Digerogoti oleh prahara dosa, nafsu dan amarah. Lumpuh, dalam arti sebenarnya, pingsan dan tak sadarkan diri, tak bisa bangkit, terpuruk!
| Chapter 3 |
Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS [91]:10)
Maka siapakah kini yang tengah berjalan-jalan ini?
Teman-teman yang baik, kereta kuda itu telah melalang buana tanpa kendali, pergi kemanapun yang disuka: kepada harta, kekuasaan, dan senggama. Terbangun di pagi hari, sampai terkulai di malam hari, tubuh kita menjalankan berbagai hal, tanpa tahu untuk apa semua itu.
Mari pikirkan baik-baik persaksian itu. Adakah tubuh ini turut bersaksi di sana?
Tentu tidak! Tubuh terbentuk di dalam rahim, dan tak tahu menahu tentang persaksian yang kita alami. Tubuh tak punya “acara” di bumi ini, selain sebagai kendaraan bagi jiwa, bagi kita. Tubuh tak peduli soal kita yang musti menjadi abdi-Nya, yang musti menjadi wakil-Nya, khalifah-Nya di muka bumi. Teman-teman yang baik, kita lah yang merekam peristiwa persaksian itu, tubuh tak ingat apa-apa. Hati yang bersih yang akan sanggup mengingatnya, otak tak tahu apa-apa. Tubuh tak ada di sana! Namun bila bahkan jiwa dan hati ini tak mengingat apapun… wahai, tidakkah itu berarti jiwa ini tengah sekarat, teman-teman yang baik?
Tanpa sang kusir, bukankah tubuh akan bak kereta kuda yang pergi kemana pun yang disuka, melakukan apapun yang dimauinya?
Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya… Mereka itu tak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya. (QS [25]:43-44)
Dan hal ini pun berlangsung, sampai senja menyadarkan kita… tatkala jiwa dilepaskan, dicabut dari tubuhnya, maka kita akan paham. Kita akan tahu, teman-teman yang baik, kita akan melihat semuanya!
Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam. (QS [50]:22)
* * * *
dan CHAPTER 4, 5…
Dan chapter 4 adalah sebuah perjalanan di alam yang berbeda, alam barzakh. Sebuah kehidupan yang jauh lebih panjang, jauuuuhh lebih lama dari yang kita jalani di dunia sekarang ini. Sebuah masa yang berawal ketika jiwa dan ruh “dicabut” dari tubuh, ketika tubuh menyelesaikan tugasnya dan kembali ke tanah dan kita (jiwa) meneruskan perjalanannya, dan berakhir tatkala sangkakala mulai ditiup, yang menandai awal dari qiyamah ketika semesta raya ditutup dan seluruh makhluk dikumpulkan di sebuah padang, Chapter akhir dari kehidupan.
Maka, bila kita (jiwa ini) dalam keadaan lumpuh, bagaimana kita akan melanjutkan perjalanan yang jauh nan panjang nanti?
Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat ia akan lebih buta dan lebih tersesat dari jalan. (QS [17]:72)
Teman-teman yang baik, kita masing-masing di sini, di tempat persinggahan ini, ditugaskan untuk mengambil sesuatu, dan kita diberi fasilitas yang berbeda-beda.
Tiap-tiap diri dimudahkan sesuai dengan untuk apa ia diciptakan. (Rasulullah SAW — HR Bukhari)
Dan Al Quran adalah sebuah peta rahasia, yang menceritakan tentang seluruh alam ini, kehidupan ini, apa yang akan dihadapi, dan bagaimana melewatinya dengan baik, dari awal sampai akhir, bukankah begitu? Al Quran pada dasarnya berkisah tentang diri kita, ketika berbicara tentang orang-orang kafir dan para pencinta dunia. Al Quran menunjuk diri kita, ketika berbicara tentang penyembah berhala yang menuhankan hawa nafsunya. Al Quran tidak menunjuk siapa-siapa, ketika berkisah tentang Bani Israil. Kita, teman-teman yang baik. Kita yang ditunjuk.
* * * *
Semoga sebuah kehendak yang sungguh-sungguh untuk kembali… barangkali itu sebuah awal yang baik.
Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (QS [7]:23)
Allah menarik orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada-Nya orang yang kembali. (QS [42]:13)
Kembali, teman-teman yang baik. Dan jika kita kembali berjalan menuju-Nya, Dia akan berlari menjemput. Itu pasti. Insya Allah.
Thanks to Mas Watung
Selama dan pasca pilpres intensitas saya membuat postingan di sosial media lumayan meningkat. Dan salah satu postingan tersebut berkaitan dengan karakteristik pendukung capres. Gareth Smith dan Andy Hirst (2001) berpendapat bahwa karakteristik konstituen bisa terbagi dalam 3 (tiga) segmentasi, yakni Attitude and Psychographic Segmentation,Demographic and Geographic Segmentation, danBehavioral Segmentation. Dan saat itu saya memberikan kategori pada masing-masing segmentasi seperti yang terlihat pada gambar.
Saat itu tidak banyak uraian dari saya berkaitan dengan latar belakang motivasi atau basis dukungan dari masing-masing pendukung pada keseluruhan segmentasi yang ada. Dan akan saya coba ulas di sini.
Secara garis besar, basis dukungan memiliki 4 (empat) latar belakang yang khas, yakni:
1. Pendukung Berbasis Kedekatan Ideologi
2. Pendukung Berbasis Kepentingan Pragmatis
3. Pendukung Berbasis Kecukupan Berfikir
4. Pendukung Berbasis Kealamian Berfikir
Masing-masing pribadi atau kelompok pendukung bisa jadi memenuhi satu, dua tiga atau bahkan empat kategori tersebut. Namun salah satu dari keempatnya pasti ada yang paling kuat menjadi pertimbangan dalam mendukung Jokowi.
1. Pendukung Berbasis Kedekatan Ideologi
Jika melihat peta segmentasi pendukung, maka pendukung yang berbasis ideologi berasal dari Kaum Sekuler seperti Fasis, Ateis, dan Komunis (FAK), Islam Tradisional dan Dogmatis, Kelompok Syiah dan sebagian NU, Islam Liberal, dan sebagian besar Non Muslim Militan. Kelompok ideologi adalah kelompok yang paling sulit berubah, apalagi jika militansinya kuat. Kelompok pendukung ini bisa berasal dari berbagai partai, berbagai profesi, dan berbagai komunitas lain. Beberapa diantara mereka termasuk kaum pemikir. Di kalangan elit, tokoh masyarakat ataupublic figure, mereka adalah ibarat para ‘menteri’ dan ‘panglima’ yang menggerakan pendukung di keempat kategori tersebut.
Maka tidak heran pada banyak media mainstream, elit dan tokoh tersebut khususnya yang berlatar belakang akademisi, peneliti, atau pun seniman populer, dijadikan sebagai trigger (pemicu) melajunyasnowball sebuah opini.
Pendukung kategori ini relatif lebih sulit untuk berubah pendirian karena kekuatan kesamaan ideologi tadi. Walaupun ada kekecewaan terhadap beberapa sikap Jokowi, mereka masih menyimpan harapan secara umum bahwa Jokowi bersa KIH lebih mampu memfasilitasi tumbuh kembangnya ideologi mereka. Dan ini terbukti terjadi pasca Jokowi menjadi Presiden, seperti pada kasus fasilitasi kemudahan gerakan syiah, terbukanya kristenisasi, pengosongan kolom agama di KTP, dan sebagainya.
2. Pendukung Berbasis Kepentingan Pragmatis
Pendukung Kategori Kedua ini tak mesti harus sama ideologi. Bahkan dari partai-partai yang berbasis religius (baca: Islam) atau ormas Islam pun sangat memungkinkan menjadi pendukung tipe kategori ini. Sodorkan kesamaan kepentingan jabatan (untuk dunia), harta (untuk dunia), bisnis (untuk dunia), latar belakang kadaerahan, dan aspek primodialisme yang lain (atas nama dunia) maka akan sepenuh hati dan otot untuk mendukung Jokowi.
Maka tidak heran selepas Jokowi terpilih, dalam rangka menggoda iman mereka, yang disodorkan sebagai umpan kepada partai-partai Islam adalah kursi menteri (lagi-lagi dengan tujuan dunia). Secara komunitas partai mungkin akan sulit didapatkan, tetapi elit-elit partai akan mudah digoyang ideologi keislamannya dengan virus wahn (cinta dunia dan takut mati). Dan komentar dari para elite di kategori ini lagi-lagi dijadikan sebagai snowball trigger kepada masyarakat melalui media mainstream suporter KIH.
Berbeda halnya dengan pendukung berbasis ideologi, maka pendukung kategori ini akan mudah pindah haluan. Syaratnya cukup mudah, kepentingan pragmatis mereka tidak terfasilitasi oleh Jokowi dan KIH. Fenomena beralihnya sebagian elite atau organisasi relawan atau bahkan media mainstream dalam pendukung tipe ini bisa dijadikan sebagai gambaran nyata betapa mudahnya mereka berubah haluan jika tidak mendapatkan ‘buah’ dukungannya.
3. Pendukung Berbasis Kecukupan Berfikir
Pendukung Kategori Ketiga adalah pendukung dengan persentase paling banyak, saya perkirakan lebih dari 70% total pendukung yang mencoblos (akun siluman tidak termasuk). Pendukung tipe ini seringkali ngototnya lebih hebat dari para pendukung tipe pertama dan kedua yang justru sebenarnya adalahthink maker. Dan pendukung kategori ini banyak berkeliaran di sosial media.
Walau didominasi oleh latar belakang pendidikan dasar dan menengah, tidak sedikit pula pendukung kategori ini termasuk berlatar belakang pendidikan tinggi namun awam persoalan ilmu politik, ekonomi, sosial, filsafat, dan sejenisnya. Mereka belum atau tidak berfikir secara komprehensif atau holistik dalam menganalisis sesuatu. Dan tidak sedikit pula pendukung kategori ini adalah tokoh-tokoh terkenal. Mereka para tokoh tersebut mengenal dan menilai Jokowi hanya dari satu atau dua sisi tanpa melakukan observasi lebih lanjut dengan memperbanyak variabel ukur dan meninjaunya dari banyak aspek.
Salah satu ciri dari pendukung ini yang aktif di sosial media adalah kalau sedang diajak berdiskusi akan berujung debat. Dan kalau kalah argumentasi atau pun uji data dalam berdebat, mereka menggunakan jurus OOT alias Out of Topics atau bahkan tinggal pergi tanpa pesan. Tidak ada case closed dalam proses diskusi apalagi debat.
Ciri lain dari mereka adalah selalu melakukan generalisasi pada pendukung Koalisi Merah Putih (KMP). Membuat asumsi bahwa seluruh pendukung KMP sama saja atau bahkan seperti perilaku mereka. Postingannya juga lebih banyak kampanye dibandingkan membuka ruang diskusi atau ilmu pengetahuan. Bahkan sebagian dari tipe pendukung ini adalah kelompok yang sejak awal sudah tidak respek dengan KMP atau Prabowo secara personal.
Karakteristik lainnya lagi adalah jika berdebat dalam media sosial biasanya tidak berani untuk berargumentasi dulu dengan mengerahkan seluruh potensi akalnya. Namun mereka harus menunggu dulu argumentasi dari Jokowi atau think maker dari elite Pendukung Kategori 1 dan Kategori 2 di atas. Bahkan mereka yang berjenis kelamin pria lebih menyukai ‘aktivitas kewanitaan’ seperti gosip menggosip, sindir menyindir, olok mengolok, atau puji memuji ‘idolanya’.
Maka tidak heran jika seringkali ditemui, manakala ada perilaku Jokowi yang dianggap tidak sesuai dengan hati nurani mereka, maka mereka menunggu dulu ada penjelasan yang bisa ‘dimasukkan akal’ sebagai bahan adu argumentasi. Proses pembenaran akhirnya tumbuh di sini. Sebab mereka berargumentasi bukan karena produk fikir mereka sendiri, namun ‘asal comot’ argumentasi orang lain.
Mungkin pendukung seperti inilah yang sebagian masyarakat mengistilahkan dengan pendukung cinta buta atau para fans club. Mereka menganggap Jokowi seperti artis idola. Setiap kesempatan selalu mencari pesona Jokowi dan langsung merepublikasikan di media sosial kesayangannya dan diberikan sedikit komentar seperti 'I Love You Jokowi', 'Satrio Paningit yang ditunggu-tunggu', 'Semakin Cinta', dan ungkapan ‘keremajaan’ sejenisnya. Contoh sederhananya, Jokowi dipasang di cover Times dipujinya lebih selangit dibandingkan prestasi Habibie di dunia internasional misalnya.
Saya pribadi lebih menyukai menyebutnya denganRobot Supporter. Mudah dikendalikan oleh 'sang remote' tapi amat mudah kongslet dan terbakar kalau sirkuitnya kena air atau hubungan singkat. Pemegang remotenya tentunya adalah Jokowi itu sendiri dan para think maker yang melemparkan bola salju untuk mengendalikan opini publik melalu media mainstream nya.
Ketika menemui banyak kekeliruan Jokowi dan dibenarkan oleh hati nurani, kategori pendukung berbasis kecukupan berfikir ini sebagian ada yang langsung berubah menjadi tidak mendukung, dan sebagian lain tetap menjalankan romansa kecintaannya pada sang idola. Bahkan ada sebagian lagi yang mengambil sikap ‘diam tanpa pesan’ karena malu-malu mengungkapkan kebenaran atau perubahan dukungannya.
Jangan banyak berharap bisa menemukan kritikan konstruktif kepada Jokowi dari pendukung kategori ini. Sebab amat jarang yang melakukannya. Yang mereka lakukan malah sebaliknya, meminta orang lain untuk berlaku seperti mereka, memberikan dukungan dan memuji Jokowi. Bagi mereka, semua hal yang dilakukan Jokowi diupayakan harus benar terlebih dahulu. Atau bahkan segala sesuatu yang berkaitan dengan Jokowi juga harus dipanadang benar pula seperti misalnya perilaku menterinya, perilaku KIH, dan aktivitas turunan lainnya, bahkan pada hal yang sekecil mungkin. Pembelaan lebih didahulukan daripada penelusuran kebenaran.
Tentu masih ingat bagaimana pembelaan serampangan pada kasus seperti Mbak Susi merokok, ketidakseragaman informasi sumber dana Program Kartu atau KIH membuat DPR Tandingan.
4. Pendukung Berbasis Kealamian Berfikir
Pendukung Kategori Keempat ini adalah pendukung yang memiliki tingkat rasionalitas paling tinggi. Mereka mendukung karena benar-benar dari produk fikir mereka. Melalui penelusuran yang mendalam terhadap referensi yang berkaitan dengan Jokowi, dan melakukan analisis komparasi atau pengambilan keputusan dengan menggunakan variabel yang sekomprehensif mungkin. Jumlahnya relatif sedikit, dan amat jarang ditemui ekplorasi pemikiran mereka di sosial media. Namun sekali menulis, kemampuan analisisnya cenderung bagus.
Ciri pendukung ini adalah mudah untuk diajak diskusi. Selalu mengedepankan argumentasi yang ilmiah, dan jarang sekali atau bahkan tidak pernah menggunakan kosa kata yang tidak santun apalagi kosa kata hewani. Bahkan mereka terkadang memilih diam jika sudah menemui suasana yang tidak kondusif.
Pendukung berbasis kealamian realistis ini akan mudah sekali melakukan kritik pada pak Jokowi jika dipandang tidak sesuai dengan pemikirannnya. Dan akan mudah pula untuk menarik dukungannnya dengan alasan yang lebih logis. Sebab bagi mereka, selama Jokowi bisa mengedepankan kepentingan masyarakat yang lebih banyak, maka akan tetap didukung.
Sikap Kita
Dalam menyikapi keempat tipe pendukung ini tentunya berbeda. Disesuaikan dengan kondisi ruang dan waktu serta persoalan yang ada. Pendekatannya bisa dilakukan dengan manajemen kalbu atau bisa pula dilakukan dengan manajemen akal atau mengkombinasikannya. Tergantung pada kesiapan masing-masing, diri kita dan diri mereka. Terkhusus untuk pendukung kategori yang berbasis kecukupan berfikir.
Namun apapun kondisinya, mereka adalah saudara sebangsa dan setanah air. Jangan pernah melakukan hal-hal yang tidak konstruktif dalam mengkritisi mereka. Sebab bisa jadi ketika mereka melakukan kekeliruan apapun, adalah karena ketidaktahuan. Lagi pula, bisa jadi perilaku keliru pada mereka juga ada pada KITA.
Satu hal yang mesti kita ingat bahwa supporter selalu ada di luar pertandingan. Dan sehebat apapun seorang supporter, tidak akan pernah menjadi pemain sesungguhnya selama pertandingan berlangsung.
Semoga bangsa ini tetap menjadikan santun dan budaya gotong royong dalam kebaikan sebagai nilai-nilai yang indah dalam aturan-aturan yang sudah digariskan oleh Tuhan Yang Maha Esa dan konstitusi negara. Aamiin …
Saat itu tidak banyak uraian dari saya berkaitan dengan latar belakang motivasi atau basis dukungan dari masing-masing pendukung pada keseluruhan segmentasi yang ada. Dan akan saya coba ulas di sini.
Secara garis besar, basis dukungan memiliki 4 (empat) latar belakang yang khas, yakni:
1. Pendukung Berbasis Kedekatan Ideologi
2. Pendukung Berbasis Kepentingan Pragmatis
3. Pendukung Berbasis Kecukupan Berfikir
4. Pendukung Berbasis Kealamian Berfikir
Masing-masing pribadi atau kelompok pendukung bisa jadi memenuhi satu, dua tiga atau bahkan empat kategori tersebut. Namun salah satu dari keempatnya pasti ada yang paling kuat menjadi pertimbangan dalam mendukung Jokowi.
1. Pendukung Berbasis Kedekatan Ideologi
Jika melihat peta segmentasi pendukung, maka pendukung yang berbasis ideologi berasal dari Kaum Sekuler seperti Fasis, Ateis, dan Komunis (FAK), Islam Tradisional dan Dogmatis, Kelompok Syiah dan sebagian NU, Islam Liberal, dan sebagian besar Non Muslim Militan. Kelompok ideologi adalah kelompok yang paling sulit berubah, apalagi jika militansinya kuat. Kelompok pendukung ini bisa berasal dari berbagai partai, berbagai profesi, dan berbagai komunitas lain. Beberapa diantara mereka termasuk kaum pemikir. Di kalangan elit, tokoh masyarakat ataupublic figure, mereka adalah ibarat para ‘menteri’ dan ‘panglima’ yang menggerakan pendukung di keempat kategori tersebut.
Maka tidak heran pada banyak media mainstream, elit dan tokoh tersebut khususnya yang berlatar belakang akademisi, peneliti, atau pun seniman populer, dijadikan sebagai trigger (pemicu) melajunyasnowball sebuah opini.
Pendukung kategori ini relatif lebih sulit untuk berubah pendirian karena kekuatan kesamaan ideologi tadi. Walaupun ada kekecewaan terhadap beberapa sikap Jokowi, mereka masih menyimpan harapan secara umum bahwa Jokowi bersa KIH lebih mampu memfasilitasi tumbuh kembangnya ideologi mereka. Dan ini terbukti terjadi pasca Jokowi menjadi Presiden, seperti pada kasus fasilitasi kemudahan gerakan syiah, terbukanya kristenisasi, pengosongan kolom agama di KTP, dan sebagainya.
2. Pendukung Berbasis Kepentingan Pragmatis
Pendukung Kategori Kedua ini tak mesti harus sama ideologi. Bahkan dari partai-partai yang berbasis religius (baca: Islam) atau ormas Islam pun sangat memungkinkan menjadi pendukung tipe kategori ini. Sodorkan kesamaan kepentingan jabatan (untuk dunia), harta (untuk dunia), bisnis (untuk dunia), latar belakang kadaerahan, dan aspek primodialisme yang lain (atas nama dunia) maka akan sepenuh hati dan otot untuk mendukung Jokowi.
Maka tidak heran selepas Jokowi terpilih, dalam rangka menggoda iman mereka, yang disodorkan sebagai umpan kepada partai-partai Islam adalah kursi menteri (lagi-lagi dengan tujuan dunia). Secara komunitas partai mungkin akan sulit didapatkan, tetapi elit-elit partai akan mudah digoyang ideologi keislamannya dengan virus wahn (cinta dunia dan takut mati). Dan komentar dari para elite di kategori ini lagi-lagi dijadikan sebagai snowball trigger kepada masyarakat melalui media mainstream suporter KIH.
Berbeda halnya dengan pendukung berbasis ideologi, maka pendukung kategori ini akan mudah pindah haluan. Syaratnya cukup mudah, kepentingan pragmatis mereka tidak terfasilitasi oleh Jokowi dan KIH. Fenomena beralihnya sebagian elite atau organisasi relawan atau bahkan media mainstream dalam pendukung tipe ini bisa dijadikan sebagai gambaran nyata betapa mudahnya mereka berubah haluan jika tidak mendapatkan ‘buah’ dukungannya.
3. Pendukung Berbasis Kecukupan Berfikir
Pendukung Kategori Ketiga adalah pendukung dengan persentase paling banyak, saya perkirakan lebih dari 70% total pendukung yang mencoblos (akun siluman tidak termasuk). Pendukung tipe ini seringkali ngototnya lebih hebat dari para pendukung tipe pertama dan kedua yang justru sebenarnya adalahthink maker. Dan pendukung kategori ini banyak berkeliaran di sosial media.
Walau didominasi oleh latar belakang pendidikan dasar dan menengah, tidak sedikit pula pendukung kategori ini termasuk berlatar belakang pendidikan tinggi namun awam persoalan ilmu politik, ekonomi, sosial, filsafat, dan sejenisnya. Mereka belum atau tidak berfikir secara komprehensif atau holistik dalam menganalisis sesuatu. Dan tidak sedikit pula pendukung kategori ini adalah tokoh-tokoh terkenal. Mereka para tokoh tersebut mengenal dan menilai Jokowi hanya dari satu atau dua sisi tanpa melakukan observasi lebih lanjut dengan memperbanyak variabel ukur dan meninjaunya dari banyak aspek.
Salah satu ciri dari pendukung ini yang aktif di sosial media adalah kalau sedang diajak berdiskusi akan berujung debat. Dan kalau kalah argumentasi atau pun uji data dalam berdebat, mereka menggunakan jurus OOT alias Out of Topics atau bahkan tinggal pergi tanpa pesan. Tidak ada case closed dalam proses diskusi apalagi debat.
Ciri lain dari mereka adalah selalu melakukan generalisasi pada pendukung Koalisi Merah Putih (KMP). Membuat asumsi bahwa seluruh pendukung KMP sama saja atau bahkan seperti perilaku mereka. Postingannya juga lebih banyak kampanye dibandingkan membuka ruang diskusi atau ilmu pengetahuan. Bahkan sebagian dari tipe pendukung ini adalah kelompok yang sejak awal sudah tidak respek dengan KMP atau Prabowo secara personal.
Karakteristik lainnya lagi adalah jika berdebat dalam media sosial biasanya tidak berani untuk berargumentasi dulu dengan mengerahkan seluruh potensi akalnya. Namun mereka harus menunggu dulu argumentasi dari Jokowi atau think maker dari elite Pendukung Kategori 1 dan Kategori 2 di atas. Bahkan mereka yang berjenis kelamin pria lebih menyukai ‘aktivitas kewanitaan’ seperti gosip menggosip, sindir menyindir, olok mengolok, atau puji memuji ‘idolanya’.
Maka tidak heran jika seringkali ditemui, manakala ada perilaku Jokowi yang dianggap tidak sesuai dengan hati nurani mereka, maka mereka menunggu dulu ada penjelasan yang bisa ‘dimasukkan akal’ sebagai bahan adu argumentasi. Proses pembenaran akhirnya tumbuh di sini. Sebab mereka berargumentasi bukan karena produk fikir mereka sendiri, namun ‘asal comot’ argumentasi orang lain.
Mungkin pendukung seperti inilah yang sebagian masyarakat mengistilahkan dengan pendukung cinta buta atau para fans club. Mereka menganggap Jokowi seperti artis idola. Setiap kesempatan selalu mencari pesona Jokowi dan langsung merepublikasikan di media sosial kesayangannya dan diberikan sedikit komentar seperti 'I Love You Jokowi', 'Satrio Paningit yang ditunggu-tunggu', 'Semakin Cinta', dan ungkapan ‘keremajaan’ sejenisnya. Contoh sederhananya, Jokowi dipasang di cover Times dipujinya lebih selangit dibandingkan prestasi Habibie di dunia internasional misalnya.
Saya pribadi lebih menyukai menyebutnya denganRobot Supporter. Mudah dikendalikan oleh 'sang remote' tapi amat mudah kongslet dan terbakar kalau sirkuitnya kena air atau hubungan singkat. Pemegang remotenya tentunya adalah Jokowi itu sendiri dan para think maker yang melemparkan bola salju untuk mengendalikan opini publik melalu media mainstream nya.
Ketika menemui banyak kekeliruan Jokowi dan dibenarkan oleh hati nurani, kategori pendukung berbasis kecukupan berfikir ini sebagian ada yang langsung berubah menjadi tidak mendukung, dan sebagian lain tetap menjalankan romansa kecintaannya pada sang idola. Bahkan ada sebagian lagi yang mengambil sikap ‘diam tanpa pesan’ karena malu-malu mengungkapkan kebenaran atau perubahan dukungannya.
Jangan banyak berharap bisa menemukan kritikan konstruktif kepada Jokowi dari pendukung kategori ini. Sebab amat jarang yang melakukannya. Yang mereka lakukan malah sebaliknya, meminta orang lain untuk berlaku seperti mereka, memberikan dukungan dan memuji Jokowi. Bagi mereka, semua hal yang dilakukan Jokowi diupayakan harus benar terlebih dahulu. Atau bahkan segala sesuatu yang berkaitan dengan Jokowi juga harus dipanadang benar pula seperti misalnya perilaku menterinya, perilaku KIH, dan aktivitas turunan lainnya, bahkan pada hal yang sekecil mungkin. Pembelaan lebih didahulukan daripada penelusuran kebenaran.
Tentu masih ingat bagaimana pembelaan serampangan pada kasus seperti Mbak Susi merokok, ketidakseragaman informasi sumber dana Program Kartu atau KIH membuat DPR Tandingan.
4. Pendukung Berbasis Kealamian Berfikir
Pendukung Kategori Keempat ini adalah pendukung yang memiliki tingkat rasionalitas paling tinggi. Mereka mendukung karena benar-benar dari produk fikir mereka. Melalui penelusuran yang mendalam terhadap referensi yang berkaitan dengan Jokowi, dan melakukan analisis komparasi atau pengambilan keputusan dengan menggunakan variabel yang sekomprehensif mungkin. Jumlahnya relatif sedikit, dan amat jarang ditemui ekplorasi pemikiran mereka di sosial media. Namun sekali menulis, kemampuan analisisnya cenderung bagus.
Ciri pendukung ini adalah mudah untuk diajak diskusi. Selalu mengedepankan argumentasi yang ilmiah, dan jarang sekali atau bahkan tidak pernah menggunakan kosa kata yang tidak santun apalagi kosa kata hewani. Bahkan mereka terkadang memilih diam jika sudah menemui suasana yang tidak kondusif.
Pendukung berbasis kealamian realistis ini akan mudah sekali melakukan kritik pada pak Jokowi jika dipandang tidak sesuai dengan pemikirannnya. Dan akan mudah pula untuk menarik dukungannnya dengan alasan yang lebih logis. Sebab bagi mereka, selama Jokowi bisa mengedepankan kepentingan masyarakat yang lebih banyak, maka akan tetap didukung.
Sikap Kita
Dalam menyikapi keempat tipe pendukung ini tentunya berbeda. Disesuaikan dengan kondisi ruang dan waktu serta persoalan yang ada. Pendekatannya bisa dilakukan dengan manajemen kalbu atau bisa pula dilakukan dengan manajemen akal atau mengkombinasikannya. Tergantung pada kesiapan masing-masing, diri kita dan diri mereka. Terkhusus untuk pendukung kategori yang berbasis kecukupan berfikir.
Namun apapun kondisinya, mereka adalah saudara sebangsa dan setanah air. Jangan pernah melakukan hal-hal yang tidak konstruktif dalam mengkritisi mereka. Sebab bisa jadi ketika mereka melakukan kekeliruan apapun, adalah karena ketidaktahuan. Lagi pula, bisa jadi perilaku keliru pada mereka juga ada pada KITA.
Satu hal yang mesti kita ingat bahwa supporter selalu ada di luar pertandingan. Dan sehebat apapun seorang supporter, tidak akan pernah menjadi pemain sesungguhnya selama pertandingan berlangsung.
Semoga bangsa ini tetap menjadikan santun dan budaya gotong royong dalam kebaikan sebagai nilai-nilai yang indah dalam aturan-aturan yang sudah digariskan oleh Tuhan Yang Maha Esa dan konstitusi negara. Aamiin …






