What is a sufi in your mind, my dear friend?
Coba saya tebak. Orang yang menghitung tasbih setiap langkahnya? Orang yang berpakaian lusuh dari bulu domba? Orang aneh yang senantiasa berpuisi dan berfilsafat tentang Tuhan dan malaikat? Orang yang mencoba mengambil jarak sejauh-jauhnya pada kehidupan dunia, berkata “haram!” pada dunia? Well, my friend, it’s a jadoel stereotype! Prasangka jaman dulu tentang para sufi.
Kini coba bayangkan, apa jawaban seorang sufi ketika ditanya oleh seorang anak muda tentang bisnis, yang akan mengambil kelas di sebuah business school. Berikut ini lagi-lagi dari Bawa Muhaiyaddeen (nggak ada yang lain, Tung?), seorang sufi kontemporer asal Srilanka, diterjemahkan secara bebas dan kurang beradab dari sebuah online pamphlet milik BMF.
Don’t be surprised. ;-)
* * * *
Banyak orang berputar-putar pada satu pikiran ini, “Bisnis itu menyakiti orang lain. Bisnis itu merampok harta dan memperbudak mereka. Aku tak ingin seperti itu. Lalu bagaimana aku menjadi seorang pebisnis?” Apa yang tak disadarinya adalah bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah bisnis pada dasarnya. Petani melakukan bisnis. Penceramah, imam dan para pemimpin agama pun berbisnis. Para dokter mengutip biaya dari para pasiennya, bukankah begitu? Coba tunjukkan padaku seseorang yang tidak berbisnis di dunia ini. Selama kita memerlukan sandang, pangan dan papan, kita melakukan suatu bisnis.
Hanya mereka yang lalai dan bodoh lah yang jatuh pada penyiksaan dan perbudakan terhadap orang lain. Orang yang bijak, melalui hikmah dan rahmat-Nya, akan memperoleh hasil yang cukup bagi diri dan keluarganya. Mereka memiliki kendali pada dunia ini.
Jangan terpikir untuk berhenti belajar bisnis. Pelajaran ini sangat bermanfaat bagimu dan kehidupanmu. Orang yang mampu menjalani kehidupan di dunia ini tanpa menjadikan dunia itu hidup di dalam dirinya adalah orang yang sangat cakap. Sangatlah mudah untuk memperoleh keuntungan yang banyak dari menipu pelanggan, atau memotong setengah gaji pekerja dan memaksa mereka bekerja dua kali lebih keras, memperbudak mereka. Sangat mudah. Namun seseorang yang bijak akan menemukan jalan untuk memenuhi sang pemilik perusahaan dengan apa yang diinginkannya, karyawan dengan apa yang diinginkannya, pelanggan dengan harga yang pantas, juga dirinya dengan apa yang diperlukan tubuh dan pikirannya.
Bila tak ada yang berbisnis, maka tak seorang pun akan memperoleh sandang pangan bagi kebutuhan hidupnya. Bila bisnis dapat dijalankan dengan cinta, keadilan, kebijaksanaan, dan kecakapan, beriman pada Tuhan semata — bukan pada dunia, maka bisnis itu akan berujung pada kesuksesan baik di dunia ini maupun di akhir nanti. Dengan cara inilah engkau harus menjalankan suatu bisnis, sehingga menjadi rahmat yang besar bagi seluruh umat manusia.
Engkau harus belajar bagaimana berbisnis dengan baik. Jadilah yang pertama dan terdepan di bidang bisnis yang engkau geluti, lalu jalanilah dengan cinta dan keadilan. Jika engkau melakukan yang demikian, maka itu akan menguntungkan bagimu dan semua orang. Jangan malas. Belajarlah dengan benar. Agar mampu menjalankan suatu bisnis dengan adil, engkau musti tahu lebih banyak dibandingkan mereka yang belajar hanya demi memenuhi nafsu dan keserakahannya pada kekuasaan, sex, kepemilikan, dan titel. Engkau harus mengasah pikiranmu dua kali lebih tajam dari mereka, sehingga engkau mampu memiliki kendali terhadap mereka, menahan mereka agar tak menyakiti diri mereka sendiri dan orang lain.
Engkau harus menyerahkan segala hasil dan tanggungjawab kepada Allah, lalu lakukan apa yang menjadi tugasmu. Dengan kebijaksanaan, cinta, keadilan, dan kecakapan yang terasah dengan baik, jalankan bisnis yang adil. Janganlah malas. Orang yang mampu menjalankan bisnis dengan cara seperti ini akan sungguh-sungguh menjadi pebisnis yang tangguh dan luarbiasa. Ia akan menjadi wali dan ulama bagi dunia ini.
Jangan terpikir bahwa bisnis yang dijalankan dengan adil akan menyakiti orang lain. Engkau harus belajar tentang bisnis, dan engkau pun harus belajar tentang Tuhan, sifat-sifat-Nya, dan kasih sayang-Nya. Belajarlah dengan benar, juga lakukan tugasmu kepada-Nya. Itu akan sangat baik. Engkau musti memberikan usahamu yang terbaik dan serahkan hasil serta tanggungjawabnya kepada Allah semata. Maka semuanya akan berjalan baik.
Saudara-saudaraku, permata hatiku, kalian hadir sebagai cinta di dalam cintaku, sebagai kehidupan di dalam kehidupanku. Semoga Allah menganugerahkan bagimu hikmah dan apa yang terbaik bagimu di dunia ini dan akhir nanti. Semoga Ia mengaruniaimu keimanan yang kokoh, kesucian, sifat-sifat kasih sayang-Nya, kehendak-Nya, dan melindungimu serta memelihara dirimu dan keluargamu dan teman-teman, selama-lamanya. Semoga Ia menganugerahkanmu dengan kebijaksanaan yang tinggi. Sampaikan cinta dan salamku bagi semua. Semoga Allah melindungi dan memelihara kita semua. Amin.
* * * *
P.S.: Ada satu point penting, tentang para sufi, kaum Muslim yang penuh semangat ini (yang sebentar tampak “anti-duniawi”, sebentar tidak):
Orang yang mampu menjalani kehidupan di dunia ini tanpa menjadikan dunia itu hidup di dalam dirinya adalah orang yang sangat cakap. - Bawa Muhaiyaddeen
Thanks to Mas Watung, Guru Spiritual Dumay
menembus waktu pada kehampaan langkah
sayap kerinduan mengantarkan pada suatu masa
... malam kesepuluh ramadhan yang agung
ketika suara indah yang slalu menemani hidup perlahan melemah
ketika pesan terakhir meruntuhkan air mata kami ke bumi
ketika belaian lembut tergambar jelas kan menghilang
dan ketika mimpi tentang masa depan pupus sudah
cerita kehidupan terasa terhenti pada nyanyian sunyi
karena lembayung penuh warna tak lagi hadir mengindahkan pandangan
karena para ksatria menjadi lemah tanpa senyum kesahajaannya
karena perannya tak tergantikan oleh siapa pun
dan ketika terik mentari mengakhiri langkah kami
unggukan tanah dan tatapan kehilangan terasa menyatu dalam kekuatan satu jiwa
tak kan ada lagi nasi putih yang membangkitkan semangat di pagi hari
tak kan ada lagi cerita dongeng menjelang tidur
tak kan ada lagi hardikan kasih sayang menyertai kenakalan kami
yang tersisa hanya untaian doa penuh makna untuknya
dan keteguhan hati menjaga pesan-pesan indahnya
yang kan slalu menyertai langkah kami
walau kini air mata berulang menyertai ungkapan kerinduan,
dan kehampaan kebahagiaan slalu menyertai tanpa hadirnya
namun doa kami semoga di suatu masa ...
kami dapat kembali mendekap erat tubuhnya
dalam keindahan surga-Nya
tuk kembali merasakan wangi nafas sang bunda ...
selamanya ...
Tidak jarang dalam setiap episode kehidupan, kita menemui persoalan hidup yang dapat memhuat kecewa atau patah hati. Ada situasi dimana kita merasa gagal karena keinginan tak terpemuhi.
Tatkala menemui kondisi seperti itu, pilihan hidup tetap ada dua, menjadi seorang yang tidak berselera menikmati hidup, atau tetap menikmati dan melanjutkan hidup dengan mengambil pelajaran dari kejadian tersebut.
Cangkir yang gagangnya patah, akan masih tetap bisa berfungsi. Kita hanya perlu sedikit kreatif menggunakannya tanpa harus kehilangan sedikit pun kenikmatan menikmati rasa kopi tersebut.
Yuk selalu fokus menikmati kopinya, bukan cangkirnya. Cinta dan ibadah adalah kopi kehidupan, sementara pekerjaan, harta, dan jabatan adalah cangkir-cangkir tersebut yang kadang bisa patah.
Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, (QS Al Mulk [67]: 1-2)
Selamat menjalani aktivitas hari ini. Semoga kita semua dapat menikmati 'rasa kopi' di pagi ini dan pagi-pagi selanjutnya. Aamiin....
Fokus dan Prioritas adalah dua sisi yang memiliki kesamaan namun juga ada perberbedaan. Keduanya adalah bentuk kesungguhan dalam menjalankan segala aktivitas hidup.
Membangun skala prioritas bukan berarti mengabaikan aktivitas yang lain. Namun sekadar upaya untuk memahami keterbatasan diri bahwa kita sebagai manusia belum mampu untuk mengerjakan tugas-tugas hidup secara simultan. Ada kegiatan yang harus kita fokuskan terlebih dahulu karena kita yakini kegiatan tersebut memiliki kemashlahatan yang lebih banyak dibandingkan kegiatan lain yang kita tunda untuk sementara.
Semoga kita semua mampu secara apik membuat skala prioritas hidup dan tidak kehilangan fokus dalam setiap aktivitas yang dijalankan, walau harus dikerjakan secara simultan atau mutitasking.
Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (QS 94: 7)
Kita mungkin seringkali mengalami persoalan hidup yang terasa amat sangat berat untuk diselesaikan. Bahkan kita sering pula tergesa-gesa menyimpulkan bahwa kita 'merasa' sudah maksimal dalam menghadapinya namun selalu saja menemui kebuntuan jalan.
Dan tidak sedikit dari manusia malah menempuh solusi yang mengenaskan dengan berputus asa atau bahkan membunuh diri. Padahal, membunuh jiwa atau membunuh raga hanya akan menyisakan kesengsaraan baru.
Banyak orang putus asa hanya karena tidak sering mencoba menyederhanakan kebahagiaan. Padahal Tuhan telah mengajarkan kita untuk hidup sederhana dengan penuh rasa syukur dan tetap bersabar dengan cara lebih mendekatkan diri kepada-Nya.
Kesabaran bukan berarti tanpa ikhtiar dengan perilaku kepasrahan yang keliru. Kesabaran juga bukan hanya sekadar menyikapi hasil. Namun lebih dari itu, kesabaran dimulai dari keteraturan berfikir dengan mengambil referensi yang memadai, tepat dalam mengambil kesimpulan dan keputusan, serta memahami relatifitas dunia jika ada target atau keinginan yang tak terpenuhi.
Maka, jika Tuhan yang Maha Mengetahui seluruh kehidupan sudah memberikan petunjuk dengan menjadikan sabar dan shalat sebagai solusi terbaik, masihkah kita tertarik mempersulit diri dengan mengambil solusi lain yang menistakan kehidupan?
Mari meyakini dengan keteraturan berfikir akal dan hati kita bahwa tidak ada beban apapun dalam hidup yang tak dapat kita tangani, namun yang sering ada hanyalah beban hidup yang tergesa-gesa kita menyerah karenanya.
Semoga kita semua menjadi orang-orang yang slalu berusaha mendapatkan kebahagiaan dari hal yang sederhana di setiap ruang dan waktu hidup kita. Sebab bisa jadi putus asa itu adalah bagian dari upaya tidak mengakui kekuasaan Tuhan.
Selamat mengawali karunia kehidupan di hari ini. Semoga kita semua dimudahkan oleh Allah SWT untuk menjalani kehidupan yang optimis dengan kondisi jiwa yang dipenuhi nilai-nilai kesabaran dan keikhlasan yang tinggi. Aamiin ...
wallahu a'lam ...
Dan tidak sedikit dari manusia malah menempuh solusi yang mengenaskan dengan berputus asa atau bahkan membunuh diri. Padahal, membunuh jiwa atau membunuh raga hanya akan menyisakan kesengsaraan baru.
Banyak orang putus asa hanya karena tidak sering mencoba menyederhanakan kebahagiaan. Padahal Tuhan telah mengajarkan kita untuk hidup sederhana dengan penuh rasa syukur dan tetap bersabar dengan cara lebih mendekatkan diri kepada-Nya.
Kesabaran bukan berarti tanpa ikhtiar dengan perilaku kepasrahan yang keliru. Kesabaran juga bukan hanya sekadar menyikapi hasil. Namun lebih dari itu, kesabaran dimulai dari keteraturan berfikir dengan mengambil referensi yang memadai, tepat dalam mengambil kesimpulan dan keputusan, serta memahami relatifitas dunia jika ada target atau keinginan yang tak terpenuhi.
Maka, jika Tuhan yang Maha Mengetahui seluruh kehidupan sudah memberikan petunjuk dengan menjadikan sabar dan shalat sebagai solusi terbaik, masihkah kita tertarik mempersulit diri dengan mengambil solusi lain yang menistakan kehidupan?
Mari meyakini dengan keteraturan berfikir akal dan hati kita bahwa tidak ada beban apapun dalam hidup yang tak dapat kita tangani, namun yang sering ada hanyalah beban hidup yang tergesa-gesa kita menyerah karenanya.
Semoga kita semua menjadi orang-orang yang slalu berusaha mendapatkan kebahagiaan dari hal yang sederhana di setiap ruang dan waktu hidup kita. Sebab bisa jadi putus asa itu adalah bagian dari upaya tidak mengakui kekuasaan Tuhan.
Selamat mengawali karunia kehidupan di hari ini. Semoga kita semua dimudahkan oleh Allah SWT untuk menjalani kehidupan yang optimis dengan kondisi jiwa yang dipenuhi nilai-nilai kesabaran dan keikhlasan yang tinggi. Aamiin ...
wallahu a'lam ...
aku datang karena Engkau ada
aku datang karena Engkau ingin
aku pun datang karena kesucian yang Engkau miliki
lalu mereka pun mengagungkanku dengan sebuah kesucian
padahal … kesucian itu hanyalah milik-Mu
lalu Kau utus aku untuk turun dan melekat pada mereka
kepada jiwa, kepada deru nafas, kepada insan,
kepada langit, kepada awan, kepada bintang
kepada kicauan burung, kepada liarnya ular, kepada anggunnya lebah
kepada harum bunga, kepada kerasnya tanah, kepada hamparan bumi
kepada si kecil, kepada sang bunda, dan kepada kekasih
wahai Pemilik jiwa,
ada apa dengan kesucianku?
mereka menyanjungku dalam kefahamannya
mereka menghempaskanku dalam keangkuhannya
hingga terkadang aku berkembang dalam ladangnya
atau aku sering terpuruk bahkan hangus oleh kerasnya hati …
dan suatu saat …
aku datang menyentuh dua insan
aku larut dalam kehangatan mereka
namun … wahai Yang Menggenggamku,
mengapa aku sering menjadi sebuah alasan?
bukankah mereka juga milik-Mu?
kumohon dengan tulus …
jadikan aku bagai cakrawala dalam hati setiap insan,
cakrawala yang dapat menyatukan bumi dan langit
walau aku bukan langit dan aku pun bukan bumi itu
cakrawala yang hadir tak diundang,
dan hilang pun dalam damai bersama kegelapan malam
tanpa harus ada badai yang memaksaku tuk datang atau tuk kembali
dan wahai Yang Memilikiku
aku ingin mereka tulus mencintaiku
seperti aku yang slalu tulus mencintai mereka
karena cinta itu adalah ... aku
menyapa sepi ketika sedetik pun menjadi kerinduan yang menyengat ...
aku merindu pada keheningan malam ...
ketika angin berhembus lembut tanpa lelah,
gemerlap bintang pun tak pernah usai menyinari jiwa yang sepi ...
aku merindu pada hembusan wangi nafasmu ...
ketika tirai hati membuka diri,
maka kilauan cinta tak hanya menyusup dalam sukma,
namun membelai lembut dengan segenap kehangatannya ...
nyanyian cinta itu bukan tuk mengusik irama hati,
namun dia datang tuk melantunkan simponi romansa tak berbekas ...
agar tatapan tak bertepi perlahan menghilang,
dan agar senyuman kehidupan menjadi lebih berwarna ...
mendawai hidup, mengembangkan gita asmara ... bukan tuk terlarut dalam lamunan,
namun merangkai sulaman awan-awan impian ... agar hati tak lelah dengan kesendirian
tengoklah dia dengan nurani diri,
maka bahasa hatimu kan berujar: "penat kesendirianmu bagai lambaian dedaun cemara yang tersilaukan oleh terik mentari"
lalu seorang dara manis pun terdiam membisu,
kelu lidahnya tak kuasa mengimbangi runtuhnya air mata dalam resah hati yang mengusik keniscayaan diri
kemudian ...
larut dan dinginnya malam tergesa menyelimuti diri
agar lelah hati tak berbekas mengusamkan indah hidupmu
sesaat sajadah panjangmu seolah terangguk tunduk pada pesan-pesan penuh makna yang menyiratkan keinginanmu merajut selarik cerita cintamu dalam kasih dan sayang-Nya ...
sejenak ... bait-bait doa pun terusun rapi memeluk tertundukmu pada Sang Khalik
ketika akhirnya cinta tenggelam dalam keinginan tak pasti, lalu fitrahmu menjagamu tuk slalu melangkahkan diri menuju Sang Pemilik cinta sejati ...
karena bilik hatimu slalu berbisik:
"aku adalah mutiara indah perhiasan dunia, dan dunia selalu ada dalam genggaman-Nya"





