Welcome to Kavtania's Blog

Melewati sisi waktu yang tak terhenti, bernaung dalam ruang yang tak terbatas, untuk sebuah pemahaman yang tak berujung ...
Follow Me

NEWTON SAYS: "PAK JOKOWI, KEMBALI LAH"?



By  Rudi B. Rosidi     08:43    Labels:,, 
Jika di Jepang budaya malu ketika tidak berhasil dalam memimpin pemerintahan masih kuat maka sepertinya tidak demikian halnya di Indonesia. Di Indonesia sangat sulit sekali menemukan pemimpin yang terbiasa meminta maaf atas sebuah kekeliruan untuk kemudian mengundurkan diri jika kesalahan dalam memimpinnya itu sudah sangat besar.

Sepertinya yang dinginkan oleh para pemimpin di Indonesia adalah menjadi penguasa. Parahnya lagi mereka bersikeras ingin melanggengkan kekuasaannya. Saya pikir-pikir mereka sepertinya sangat menguasai Hukum Newton dalam imu Fisika.  Mari kita perhatikan.

Hukum Newton I meyebutkan bahwa setiap benda akan memiliki kecepatan yang konstan kecuali ada gaya yang resultannya tidak nol bekerja pada benda tersebut. Berarti jika resultan gaya nol, maka pusat massa dari suatu benda tetap diam, atau bergerak dengan kecepatan konstan (tidak mengalami percepatan). Hal ini berlaku jika dilihat dari kerangka acuan inersial. Dengan bahasa sederhana setiap benda akan mempertahankan kedudukannya kecuali ada gaya lain yang memaksanya berubah dari kondisi diam atau kondisi bergerak lurus beraturan.. Sifat benda yang mempertahankan kedudukan ini dikenal dengan sifat lembam. Oleh karenanya Hukum Newton I ini dikenal pula dengan Hukum Kelembaman dan dinotasikan dengan ∑*F* = 0.

Ilustrasi sederhana dari Hukum Newton I ini adalah ketika kita berada dalam sebuah mobil yang sedang diam kemudian mobil itu tiba-tiba bergerak maka kita akan terdorong ke belakang (ingin tetap ada di posisi awal). Begitu pula ketika kita sedang melaju bersama mobil kemudian tiba-tiba mobil berhenti, maka kita akan terdorong ke depan (ingin tetap bergerak). Agar kita tidak terdorong ke belakang atau ke depan maka biasanya kita berpegangan. Nah, berpegangan itu sebenarnya adalah memberikan gaya luar pada diri kita agar kita tidak mempertahankan kedudukan semula.

"Para Penguasa Karep" bersifat pula sebagai benda yang lembam. Ingin mempertahankan kedudukannnya. Supaya mereka keluar dari kedudukannya maka menurut Hukum Newton I harus ada gaya lluar yang berlaku padanya. Maka jika rakyat yang semakin susah hidupnya tak mampu untuk membuat 'gaya luar' untuk menggoyahkan penguasa-penguasa, jangan berharap banyak mereka akan melepaskan jabatannya,termasuk Jokowi.

Padahal kekuasaan yang semakin mutlak akan cenderung melakukan tindakan korupsi yang semakin mutlak pula.

"Power tend to corrupt, absolute power tends to corrupt absolutely."

Hukum Newton II meyebutkan sebuah benda dengan massa M yang mengalami gaya resultan sebesar Fakan mengalami percepatan a yang arahnya sama dengan arah gaya, dan besarnya berbanding lurus terhadap F dan berbanding terbalik terhadap M.  Hukum Newton ini diformulasikan dengan rumus F = M.a atau bisa pula diformulasikan dengan a = F/M artinya besarnya percepatan yang dihasilkan sangat tergantung pada besarnya gaya yang berlaku dan massa yang menjadi beban.

Jika saya perhatikan, Jokowi tidak memiliki kekuatan atau gaya (force) yang memadai dalam memimpin negara, sementara beban negara (M) begitu besarnya. Sehingga wajar saja jika percepatan pembangunan (a) yang dihasilkan jauh dari janji-janjinya. Mungkin saja gaya yang dipakai Jokowi bukan gaya dalam arti kekuatan, tapi 'banyak gaya' alias 'pencitraan'.

Hukum Newton III meyebutkan bahwa gaya aksi dan reaksi dari dua benda memiliki besar yang sama, dengan arah terbalik, dan segaris. Artinya jika ada benda A yang memberi gaya sebesar F pada benda B, maka benda B akan memberi gaya sebesar –F kepada benda A. F dan –F memiliki besar yang sama namun arahnya berbeda. Hukum ini juga terkenal sebagai hukum aksi-reaksi, dengan F disebut sebagai aksi dan –F adalah reaksinya dinotasikan dengan ∑F (aksi) = - ∑F (reaksi).

Ketika Jokowi mendapatkan perlawanan yang luar biasa dari masyarakat yang sekarang lebih obyektif menilai kemampuannya, Jokowi (dan pendukung militan) nya malah melakukan 'jurus' aksi reaksi. Memberikan reaksi negatif yang besarnya sama dengan aksi yang diberikan oleh masyarakat atau dengan kata lain Jokowi melakukan ngeyelisasi dan ngelesisasi. Tengok saja berapa banyak alasan-alasan yang sangat tidak argumentatif bahkan tidak masuk akal ketika menjelaskan tentang kebijakan kenaikan harga BBM, TDL, Bahan Pokok, atau hingga pencalonan BG sebagai Kapolri dan pemblokiran situs Islam serta kebijakan pemberian fasilitas uang muka mobil pejabat.

Maka dengan melihat kenyataan itu, kunci dan solusi dari semua carut marut rezim sekarang itu ada pada rakyat banyak dan Jokowi itu sendiri. Jika Jokowi mau belajar banyak dari negara  jepang yang baru saja dikunjunginya, maka mengundurkan diri akan jauh lebih kstaria. Namun jika itu tak dilakukan, maka rakyat harus belajar dari Hukum Newton tadi agar perubahan menjadi bisa terwujud. Rakyat harus memberikan gaya untuk 'memaksa' pada penguasa yang lembam agar mau melepaskan diri dari kenikmatan semu menjadi penguasa.

Jika kita semua sayang pada Jokowi dan seluruh rakyat Indonesia mari kembalikan Jokowi pada daerah kelahirannnya. Seperti lagu yag dinyanyikan oleh Didi Kempot ini, banyak yang kangen pada Jokowi untuk melanjutkan membangun kota kelahirannya yang ditinggalkan. Tunggulah Jokowi di Stasiun Balapan Solo.

About Rudi B. Rosidi

Skills: Multimedia Learning, Information Technology, Numerical Analysis. - Occupation: Business, Lecturer. - Employment: PT Softchip Computama Indonesia, CEO. - Official Website: www.kliksci.com. - Communities: IT Development, Midwifery Industries, Fatinistic.

No comments:

Post a Comment


Contact Form

Name

Email *

Message *

Follow by Email

Labels

Translate

Revolusi Akal dan Hati

Melewati sisi waktu yang tak terhenti, bernaung dalam ruang yang tak terbatas, untuk sebuah pemahaman yang tak berujung ...

Total Pageviews