Welcome to Kavtania's Blog

Melewati sisi waktu yang tak terhenti, bernaung dalam ruang yang tak terbatas, untuk sebuah pemahaman yang tak berujung ...
Follow Me


Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepadamu
Duhai pemimpin para pejuang, Ya Rasulullah
Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepadamu

Duhai penolong penunjuk Ilahi,
Duhai makhluk Allah yang terbaik,
Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepadamu

Duhai penolong kebenaran, Ya Rasulullah
Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepadamu

Wahai Yang Memperjalankanmu di malam hari
Dialah Yang Maha Melindungi

Engkau memperoleh karunia saat semua manusia masih tertidur
Semua penghuni langit shalat di belakangmu dan engkau menjadi imam
Karena kemuliaanmu engkau diberangkatkan ke Sidratul Muntaha
Di sana engkau mendengar suara: "Salam atasmu"

Duhai yang paling mulia akhlaknya, Ya Rasulullah
Semoga shalawat selalu tercurahkan kepadamu, pada keluargamu dan sahabatmu.



Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Yâ imâmal mujâhidîn yâ Rasûlallâh
Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Yâ nâshiral hudâ yâ khayra khalqillâh
Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Yâ nâshiral haqqi yâ Rasûlallâh
Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Yâ Man asrâ bikal muhayminu laylan nilta mâ nilta wal-anâmu niyâmu
Wa taqaddamta lish-shalâti fashallâ kulu man fis-samâi wa antal imâmu
Wa ilal muntahâ rufi’ta karîman
Wa ilal muntahâ rufi’ta karîman wa sai’tan nidâ ‘alaykas salâm
Yâ karîmal akhlâq yâ Rasûlallâh
Shallallâhu ‘alayka wa ‘alâ âlika wa ashhâbika ajma’în


Zen Noh Koperasi Agrikultur Terbesar di Dunia

Zen Noh Jepang merupakan koperasi terbesar dari 300 koperasi yang diranking ICA. Dengan basis pertanian, jejaring Zen Noh telah merambah ke berbagai bisnis, yang menjangkau banyak negara. Padahal, koperasi ini baru dibentuk pada 1972, jauh lebih muda ketimbang koperasi-koperasi raksasa di Eropa dan Amerika Serikat.

Para petani Jepang, memiliki re­but tawar (bargaining position) yang luar biasa kuat, dalam konste­lasi ekonomi dan politik di negaranya. Sudah menjadi pengetahuan umum, kalau berbagai komoditi pertanian yang dihasilkan petani­nya, jauh lebih mahal ketimbang komoditi sejenis di negara lain. Tapi, pemerintah Jepang tidak bi­sa sembarangan mengimpor komoditi tersebut, tanpa persetujuan petani. Jatuhnya menteri pertanian karena mengabaikan aspirasi peta­ni, bukan hal yang aneh terjadi di Jepang.

Kekuatan luar biasa dimiliki peta­ni Jepang, antara lain karena mereka solid berhimpun dalam koperasi pertanian. Tapi, soliditas itu bukan cuma ditunjukkan untuk menekan (pressure group), melainkan juga da­lam me­ngembangkan jaringan bisnis. Dan, ini yang terpenting, semuanya memungkinkan lantaran para petani Jepang berhimpun dalam koperasi.

Koperasi pertanian Jepang, mem­bentang dalam sebuah jaringan yang kokoh, dari tingkat primer hingga sekunder, yang berpuncak pada Zen Noh sebagai ferederasi koperasi pertanian di tingkat nasional. Dengan perputaran omset mencapai 63.449 dolar AS, atau Rp 583,73 triliun) pertahun, saat ini Zen Noh menem­pati urutan tertinggi dalam ICA Global 300, yang dirilis International Co-operative Alliance (ICA) pada Oktober 2007 lalu.

Zen Noh berdiri pada 30 Maret 1972, hasil penggabungan dua sekunder koperasi pertanian level nasional, yaitu Zenkoren (yang ber­gerak dalam pengadaan kebutuhan pertanian) dan Zenhanren (bergerak di bidang pemasaran pro­duk pertanian). Kedua sekunder ko­perasi ini berdiri pada 1948.

Secara keseluruhan, Zen Noh menghimpun 1.173 koperasi pertanian, 1.010 di antaranya merupakan primer koperasi pertanian. Sisanya merupakan sekunder koperasi pertanian tingkat provinsi, federasi kope­rasi lain yang terkait dengan bidang pertanian dan peternakan. Hampir semua kebutuh­an petani Jepang, dipenuhi melalui koperasi (umumnya disebut JA atau Nohkyo). Mulai dari penga­daan berbagai peralatan dan input pertanian, permodalan, sampai pe­masaran produk pertanian. Bahkan, kebutuhan barang sehari-hari pun, diperoleh lewat koperasi.
Dengan jaringannya, koperasi pertanian Jepang menangani sektor pertanian dari hulu sampai hilir, termasuk sektor pendukungnya se­per­ti keuangan dan asuransi. Pada awalnya, tanaman pertanian yang menjadi perhatian adalah padi. Total produksi beras yang dihasilkan, rata-rata mencapai 1,58 juta ton per tahun.

Namun, pada perkembangan selanjutnya, koperasi juga mengarahkan petani untuk melakukan diversivikasi tanaman. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi over supply beras sehingga harganya jatuh. Koperasi selalu mengupayakan agar harga setiap komoditi di tingkat petani tetap tinggi, sesuai dengan standar hidup di Jepang, yang termasuk paling tinggi di dunia.

Tidak seperti negara berkembang yang pada umumnya mengor­bankan sektor pertanian untuk membangun industri, yaitu de­ngan memperkecil nilai tukar hasil pertanian di hadapan barang produk industri, di Jepang nilai tukar ke­duanya selalu diusahakan setara. Dengan begitu, tingkat kesejahtera­an para petani, tidak ketinggalan dengan masyarakat yang bekerja di sektor industri.

Strategi tersebut, bukan tanpa risiko. Semula, Jepang memang bisa menerapkan kebijakan untuk mela­rang impor komoditi pertanian yang banyak dihasilkan petaninya, kendati harganya jauh lebih mahal di ban­ding pasar dunia. Namun, pada 1993, Jepang dipaksa membuka keran impor, melalui Kese­pakatan Umum tentang Tarif dan Perdagangan (GATT). Berdasarkan kesepakatan itu, mulai 1995 Jepang membuka impor beras, mes­kipun dibatasi hanya 4 persen dari kebutuhan beras dalam negeri. Memasuki tahun 2000, batasan itu diberbesar menjadi 4,8 persen.

Namun, Pemerintah Jepang te­tap melindungi petaninya, antara lain dengan menetapkan bea masuk cukup tinggi, di samping tetap memberikan subsidi pada input pertanian. Melalui koperasi, peta­ni Jepang memang mempunyai lobi yang kuat di pemerintahan. Bahkan di Partai Demokrat Libe­ral (LDP) yang merupakan partai besar, banyak orang koperasi yang berkiprah. Mereka mampu meyakinkan pemerintah, bahwa membatasi impor komoditi pertanian dalam jangka panjang bakal menumbulkan ketergantung­an yang bisa berakibat fatal. Dalam jangka pendek, melindungi pertanian di dalam negeri juga terkait de­ngan stabilitas politik nasional.
Lantas, apakah pertanian Jepang menjadi pasif berlindung di balik proteksi pemerintah? Tentu saja, tidak. Koperasi pertanian Jepang aktif melakukan kampanye yang mengu­sung tema “Produk Lokal untuk Kon­sumen Lokal”. Upaya untuk menjaga loyalitas penduduk Jepang pada produk pertanian dalam negeri ini, tidaklah semata-mata mengandalkan unsur emosional, tapi juga rasional.

Kendati harganya relatif lebih tinggi, koperasi pertanian menjamin bahwa seluruh komoditi pertanian yang dihasilkan anggotanya, memenuhi standar higienis tinggi. De­ngan label dengan system bar-code di setiap kemasan pertanian yang dibeli di toko koperasi, konsu­men dengan jelas mengetahui siapa petani yang menanam produk yang mereka beli. Maka, jika terjadi se­suatu, komplain lebih mudah di lakukan. Agar produk pertanian itu bisa dijual lebih murah, kope­rasi membangun jaringan toko sendiri, sehingga bisa memotong jalur distribusi.

Perkembangan bisnis setiap kope­rasi pertanian di Jepang, pada gilirannya, mendorong Zen Noh untuk terus melebarkan sayap bisnisnya, dengan jaringan yang tersebar di 26 negara, termasuk Indonesia, dan memiliki afiliasi dengan 249 perusahaan. Jumlah karyawannya mencapai 12,5 ribu orang lebih.

Berikut data Top 300 Koperasi di dunia dengan revenue terbesar di seluruh dunia menurut data ICA.

1. 10 Revenue Terbesar


2. Koperasi dengan Revenue Terbesar Berdasarkan Sektor Usaha

3. Distribusi Revenue Berdasar Sektor Usaha




4. 10 Negara dengan Total Revenue Terbesar



Sementara itu Indonesia pada tahun 2014 kemarin baru menargetkan masuk 300 elite koperasi dunia. Mari kita kembali kepada soko guru ekonomi bangsa, yakni koperasi.

Sumber:
http://ica.coop/en/media/resources
http://www.thenews.coop/49090/news/general/view-top-300-co-operatives-around-world/
http://atanitokyo.blogspot.com/2009/02/zen-noh-koperasi-terbesar-di-dunia.html
https://rivaldiligia.wordpress.com/2011/01/08/73/
http://www.depkop.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1370:2014-dua-koperasi-ditargetkan-masuk-300-elite-dunia&catid=50:bind-berita&Itemid=97


Aisyah Kavtania Hanifah

Aisyah,
menantimu hadir bagai menahan rembulan tuk berhenti mengitari bumi
menunggumu pulang seakan menuai bayangan tuk dapat tergenggam

Aisyah,
ketika purnama berulang kali hadir dalam sepinya malam,
rupa indahnya seakan berujar tentang uangkapan penyesalannya yang tak mampu mengajakmu kembali singgah menapak kaki di bumi

Aisyah,
esok hari mentari kembali bersinar menghangatkan bumi,
namun kembali tak mampu mencerahkan kerinduan ini
esok hari sang embun kembali bergulir menyejukkan hamparan tanah,
namun kilatan kristalnya tak jua mampu menghadirkan kesepian hati kami

Aisyah,
masih teringat kuat ketika senyum kerinduan akan kehadiranmu menjadi bukan sekedar mimpi ketika nafas wangimu menjemput dunia
masih terngiang pula ketika tangis indahmu menyeruak menggemakan alam seakan menjadi simponi indah yang mengiringi rasa syukur kami

dan ...
ketika hari-hari menjadi lebih berwarna dengan kehadiranmu,
tiba-tiba engkau memilih mengalah tuk bersegera pamit menemui keindahan surga ...

malam ini ...,
seharusnya kami menemanimu terlelap tuk menanti pagi ketika engkau menggenapkan usiamu
namun ternyata kami hanya mampu menyertaimu dalam mimpi

kami merindukanmu Nak ...
merindukan tangisan indahmu
merindukan senyuman manismu
merindukan memelukmu dalam lelap tidurmu

Aisyah,
malam ini ayah, bunda dan aa hanya bisa berkumpul mengenangmu ...
mengenangmu ketika sempat hadir bersama kami
mengenangmu ketika engkau kembali pulang
dan mengenangmu ketika terakhir kali kami menemanimu kembali ke bumi dalam damai

Aisyah,
walau esok hari engkau tak lagi hadir, namun yakinlah kami kan slalu menyatu dengamu ...
dan walau kami tak mampu lagi menggapaimu kecuali dalam mimpi-mimpi kami,
tetaplah menjadi penyeimbang kehidupan kami dengan selaksa makna kehadiranmu ...

tetaplah menjadi kembang nan indah di surga ya Nak ...
hingga ayah, bunda, aa dan dede kembali menemanimu dalam taman surga itu ... selamanya ...

[dari Ayah buat Aisyah: dalam kerinduan yang mendalam]


Selama tujuh bulan Jokowi menguasai pemerintahan, semakin banyak masyarakat yang berkesimpulan tetap bahwa Jokowi tak laik untuk memimpin negara ini. Salah satu indikatornya adalah Jokowi seringkali Cacat Merencanakan Total (Cacat Mental) dalam mengambil kebijakan.

Kebijakan yang sebenarnya belum matang seringkali terlalu terburu-buru dikeluarkan oleh pemerintah. Kematangan ini bisa menyangkut perencanaan dan koordinasi antar lembaga pemerintahan. Dampak dari Kebijakan Cacat Mental yang prematur ini diantaranya adalah seringkali tidak sinkronnya pernyataan dari antara presiden, wapres atau menteri, dan pelanggaran kebijakan oleh pemerintah itu sendiri.

Mari kita perhatikan beberapa kebijakan berikut:

1. Kebijakan Pembekuan PSSI yang berakibat pemberlakuan sanksi FIFA.
Dampak dari kebijakan ini adalah 'nganggurnya' pemain, pelatih, dan manajemen FC. Bahkan para pecinta bola harus terhenti untuk bisa menikmati tontonan murah persepakbolaan Indonesia yang bisa meringankan kepenatan hidup.

Dan pemerintah sampai saat ini belum memberikan solusi terkait dampak yang telah terjadi tersebut. Siapa yang dirugikan? Tentu saja rakyat sepakbola. Siapa yang diuntungkan? Entahlah.

2. Kebijakan pelarangan rapat di hotel bagi aparat pemerintahan yang kemudian dianulir oleh pemerintah sendiri.
Dampak dari kebijakan ini adalah para aparat pemerintah harus bersusah payah merancang ulang desain teknis pelaksanaan program kegiatan yang berkaitan karena desain anggaran yang sudah dibuat harus disesuaikan dengan adanya kebijakan tersebut. Tentu saja bisa mengurangi kualitas pencapaian program. Dampak lain yang dirugikan adalah para pebisnis hotel dan semua stakeholder yang terkait. Lagi-lagi rakyat dan aparat pemerintah di level bawah yang dirugikan.

Dan pemerintah dengan mudahnya menganulir kebijakan tersebut tanpa rasa bersalah sedikitpun.

3. Kebijakan pelarangan mengundang lebih dari 400 tamu undangan jika ada aparatur negara atau pejabat yang mengadakan resepsi hajatan.
Dapak dari kebijakan ini adalah tidak leluasanya aparatur pemerintah untuk dapat mengundang keluarga, teman, dan relasinya untuk bersama-sama mendoakan dan mensyukuri acara hajatan tersebut. Rakyat yang kebetulan menjadi aparatur pemerintah di level bawah lagi-lagi menjadi korban.

Dan kebijakan ini dilanggar sendiri oleh Jokowi dengan mengundang lebih dari 400 undangan dalam resepsi pernikahan anaknya. Bahkan memanfaatkan sekretariat negara untuk kepentingan pribadinya.

4. Pemblokiran situs Islam.
Dampak dari kebijakan ini adalah agenda dakwah umat Islam melalui media internet menjadi terganggu. Masyarat Indonesia muslim tidak lagi leluasa mengakses informasi keislaman melalui situs-situs yang di blokir tersebut. Siapa yang dirugikan? Tentu saja masyarakat muslim pada umumnya dan pemilik media, karyawan dan stakeholder pemilik media tersebut.

Setelah diprotes keras oleh masyarakat, pemerintah akhirnya mencabut blokir situs-situs Islam tersebut. Terlihat sekali kebijakan yang dikeluarkan sangat grasa-grusu.

5. Kenaikan Harga BBM
Pada awal menjabat, Jokowi menaikan harga BBM tanpa berhitung lebih matang terhadap dampak ekonomi yang diakibatkan.

Dampak kenaikan harga BBM ini yang dirasakan paling berat karena tidak hanya berdimensi persoalan ekonomi yang berat, namun juga sosial dan stabilitas keamanan.

Dan alih-alih harga BBM diserahkan ke mekanisme pasar. Pemerintah menjadi kapitalis dan liberal. Sampai saat ini pemerintah belum mengeluarkan analisis kuantitatif yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat terkait kebijakan BBM ini.

a) Bagaimana pemerintah mengantisipasi gejolak ekonomi yang diakibatkan dari kenaikan harga BBM tersebut?

b) Berapa lama masyarakat harus berhemat akibat kenaikan pendapatan semakin tidak bisa diimbangi oleh pengeluaran rumah tangga yang semakin besar akibat melonjaknya harga barang-barang?

c) Bagaimana pemerintah mengatasi dampak goyahnya keseimbangan rumah tangga produksi dan rumah tangga konsumsi?

d) Bagaimana strategi pemerintah dalam mengontrol proyek-proyek pengalihan dana subsidi BBM tersebut? Belakangan ada perundangan-undangan baru yang memberikan jaminan proteksi hukum untuk pelaksana anggaran proyek infrastruktur dari gugatan masyarakat.

e) Berapa lama efek pengalihan subsisi BBM tersebut? Kapan proyek infrastruktur dinikmati dan apakah ketika infrastruktur tersebut sudah selesai dibangun, sektor rill produksi bisa mengimbanginya? Atau malah sebagian sektor riil sudah keburu terpuruk akibat resesi?

f) Kapan return on iveststment bisa dicapai oleh pemerintah dari dana subsidi BBM yang menjadi hak rakyat pasal kepemilikan sumber daya alam UUD 1945 tersebut? 120 Triliyun yang kata sang presiden 'dibakar habis' akan kembali kapan?

g) Bagaimana cara pemerintah menghitung secara simultan sehingga memunculkan angka-angka alokasi 120 T dana subsidi BBM tersebut diperuntukan 11,7 T Dana Desa, 11,9 T Pmebangunan Kapal dan Pelabuhan, 14,3 T Kartu Keluarga Sejahter dan Keluarga Harapan, 16,9 T Subsidi pertanian, 19,7 Dana Alokasi Khusus, 2,6 T Kartu Indonesia Sehat, 3,3 Armada perbatasan, sistem informasi dan logistik kelautan, 33,2 T Proyek Infrastruktur waduk, air minum, jalan dan jalan tol, dan 6,4 T Kartu Indonesia Pintar? Berapakah indeks atau koefisisen masing-masing variabel pengalihan dana akan memberikan kontribusi bagi sektor ekonomi lain?

h) Dan yang paling penting lagi, bagaimana rakyat bisa memastikan bahwa Jokowi dan rezimnya tidak sedang BERBOHONG mengelabui rakyat atas apa-apa yang disampaikan berkaitan kebijakan kenaikan harga BBM tersbut?

Yang pasti, dampak yang dirasakan oleh rakyat dalam hanya 7 bulan ini sudah begitu hebat. Pencapaian asumsi dan target RAPBN belum nampak. Dollar naik, inflasi meningkat, pengangguran meningkat, sektor produksi menurun, kredit macet, produktivitas bank dan lembaga keuangan semakin lesu, harga-harga barnag melonjak naik dan daya beli menurun.

Selain 5 hal yang disebut di atas, masih banyak lagi kebijakan rezim Jokowi yang memperlihatkan Cacat Mental tadi. Padahal perencanaan amatlah penting. Tanpa perencanaan yang matang, maka pemerintah hanya akan melahirkan kebijakan yang berdampak fatal. Persis seperti apa yang sering disampaikan oleh para filusuf dan praktisi:

"Planning without action is futile, Action without planning is fatal"

Semoga saja Jokowi dan teamnya semakin sadar bahwa mengurus negara dengan slogan "kerja...kerja...kerja..." tersebut bukan berarti tak didampingi oleh sebuah perencanaan yang matang dan total. Jika Jokowi enggan untuk berubah dan masih 'cacat mental' maka Indonesia bisa semakin fatal. Dan prediksi Jusuf Kalla bisa saja menjadi kenyataan: "Indonesia akan hancur jika Jokowi jadi presiden".

Wallahu a'lam
Menurut KBII definisi resesi adalah sebagai berikut:
resesi/re·se·si/ /résési/ n kelesuan dl kegiatan dagang, industri, dsb (seolah-olah terhenti); menurunnya (mundurnya, berkurangnya) kegiatan dagang (industri): -- telah menimbulkan pengangguran di negara-negara industri; -- ekonomi, kelesuan ekonomi

Sementara itu, dalam ekonomi makro, resesi atau kemerosotan adalah kondisi ketika produk domestik bruto (GDP) menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun. Resesi dapat mengakibatkan penurunan secara simultan pada seluruh aktivitas ekonomi seperti lapangan kerja, investasi, dan keuntungan perusahaan. Resesi sering diasosiasikan dengan turunnya harga-harga (deflasi), atau, kebalikannya, meningkatnya harga-harga secara tajam (inflasi) dalam proses yang dikenal sebagai stagflasi. Resesi ekonomi yang berlangsung lama disebut depresi ekonomi. Penurunan drastis tingkat ekonomi (biasanya akibat depresi parah, atau akibat hiperinflasi) disebut kebangkrutan ekonomi (economy collapse). Kolumnis Sidney J. Harris membedakan istilah-istilah atas dengan cara ini: "sebuah resesi adalah ketika tetanggamu kehilangan pekerjaan; depresi adalah ketika kamu yang kehilangan pekerjaan"

Menurut sudut pandang rumah tangga produksi-konsumsi, maka secara sederhana, resesi terjadi ketika kegiatan produksi dan konsumsi dalam suatu ekonomi mengalami penurunan. Orang-orang (konsumen) mengurangi konsumsinya. Akibatnya produsen pun terpaksa mengurangi produksinya. Pengurangan produksi ini biasanya akan menimbulkan rasionaliasi pekerja (alias PHK). Ini sebabnya mengapa biasanya resesi itu selalu terkait dengan tingkat pengangguran yang relatif tinggi.

Asumsi atau target Ekonomi Makro dalam APBNP 2015 adalah sebagai berikut:
1. Pertumbuhan Ekonomi 5,7%
2. Inflasi 5,0%
3. Tingkat Suku Bunga SPN 3 Bulan 6,2%
4. Nilai Tukar Rp 12.500/USD
5. Harga Minyak Mentah Indonesia 60 USD/Barrel
6. Lifting Minyak Indonesia 825 Ribu Barel/hari
7. Lifting Gas Indonesia 1.221 Ribu Barel setara minyak/hari

Sementara itu Indikator Kesejahteraan dan Target Pembangunan adalah:
1. Tingkat Kemiskinan 10,3%
2. Gini Ratio (indeks) 0,40
3. Tingkat Pengangguran 5,6%
4. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 69,4%

Sekarang mari kita lihat update data beberapa indikator tersebut yang bisa kita pantau selama pemerintahan Jokowi:

PERTUMBUHAN EKONOMI (Target 5,7%)
Triwulan I-2015 4,71% -> tidak tercapai 0,99%

Ekonomi Indonesia triwulan I-2015 terhadap triwulan I-2014 tumbuh 4,71 persen (y-on-y) MELAMBAT dibanding periode yang sama pada tahun 2014 sebesar 5,14 persen.
Ekonomi Indonesia triwulan I-2015 terhadap triwulan sebelumnya TURUN sebesar 0,18 persen (q-to-q).

Sumber: Data Pertumbuhan Ekonomi

INFLASI (5,0%)
Jan-15 6,96% -> tidak tercapai 1,96%
Feb-15 6,29% -> tidak tercapai 1,29%
Mar-15 6,38% -> tidak tercapai1,38%
Apr-15 6,79% -> tidak tercapai 1,79%

Sumber: Data Inflasi

NILAI TUKAR (Target Rp 12.500/USD)
30-Jan-15 Rp 12.688 -> tidak tercapai Rp 188
27-Feb-15 Rp 12.927 -> tidak tercapai Rp 427
31-Mar-15 Rp 13.149 -> tidak tercapai Rp 649
30-Apr-15 Rp 13.002 -> tidak tercapai Rp 502

Sumber: Data Nilai Tukar Rupiah

TINGKAT PENGANGGURAN (Target 5,6%)
Februari 2015 5,8% -> tidak tercapai 0,20% (minus 0,20%)

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Februari 2015 sebesar 5,81 persen MENURUN dibanding TPT Agustus 2014 (5,94 persen), dan MENINGKAT dibandingkan TPT Februari 2014 (5,70 persen).

Sumber: Data Tingkat Pengangguran

Data-data tersebut mengindikasikan bahwa pemerintah Jokowi belum mencapai target Asumsi Ekonomi Makro dan Indikator Kesejahteraan dan Target Pembangunan untuk parameter Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi, Nilai Tukar Rupiah, dan Tingkat Pengangguran. Untuk parameter lain, saya belum mendapatkan data update (silakan rekan-rekan membantu menemukan datanya). Namun berita-berita berikut cukup membuat _'sport jantung' masyarakat tentunya:

Potensi krisis ekonomi terulang:
http://finansial.bisnis.com/read/20150527/11/437467/awas-tanda-krisis-moneter-1998-terulang-kembali-kian-nyata

Rupiah anjlok kian dalam, lebih lemah dibandingkan masa kritis saat dihantam krisis global: 
http://finance.detik.com/read/2014/12/16/185646/2779456/6/ahok-kalau-rupiah-terpuruk-artinya-kamu-gagal-berkompetisi

Ekonomi tumbuh lesu:
http://www.tribunnews.com/bisnis/2015/05/08/pertumbuhan-ekonomi-menurun-pemerintah-jangan-salahkan-as

Pengangguran meningkat:
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/05/21/095412926/Ekonomi.Lesu.Ratusan.Ribu.Pekerja.Kena.PHK

Developer terjepit:
http://bisnis.tempo.co/read/news/2015/05/23/090668720/ekonomi-melambat-kuartal-i-bisnis-properti-lesu

Laba bank tergerus:
http://bisnis.tempo.co/read/news/2015/05/23/090668720/ekonomi-melambat-kuartal-i-bisnis-properti-lesu

Daya beli turun, artinya rakyat kian miskin:
http://www.rri.co.id/post/berita/120369/ekonomi/daya_beli_menurun_penjual_lesu_berdagang.html

Seperti yang telah dijelaskan di awal bahwa resesi terjadi ketika produk domestik bruto (GDP) menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun. Pemerintah Jokowi harus punya solusi dan langkah strategis untuk segera mencapai target pembangunan.

Semoga saja belum tercapainya beberapa indikator ekonomi makro, kesejahteraan dan target pembangunan selama kuartal ke-1 ini tidak berlanjut ke kuartal-kuartal berikutnya yang menyebabkan negara ini terpuruk dalam jurang resesi, depresi atau bahkan economy collapse. Aamiin ...

Ayo semangat Pak Jokowi. Kerja ... Kerja ...


Mengikuti perkembangan 'kasus' beras plastik hingga pagi ini saya disuguhi oleh berita perbedaan hasil uji laboratorium antara BPOM dan SUCOFINDO menggelitik saya untuk menulis lagi kisah inspiratif dan rumusan solusi sederhana untuk menemukan kebenaran yang dianggap sangat ilmiah dan bikin njimet bagi orang awam bahkan seorang ilmuwan berpendidikan. Sebelum saya mengulas polemik dan uji sederhana beras plastik, marilah terlebih dahulu kita menyimak 3 (tiga) kisah berikut.

1. Uji Kotak Sabun
Satu perusahaan kosmetik yang terbesar di Jepang menerima keluhan dari pelanggan yang mengatakan bahwa ia telah membeli kotak sabun yang kosong. Dengan segera para pimpinan perusahaan menceritakan masalah tersebut ke bagian pengepakan yang bertugas untuk memindahkan semua kotak sabun yang telah dipak ke departemen pengiriman. Karena suatu alasan, ada satu kotak sabun yang terluput dan mencapai bagian pengepakan dalam keadaan kosong.
Tim manajemen meminta para teknisi untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan segera, para teknisi bekerja keras untuk membuat sebuah mesin sinar-X dengan monitor resolusi tinggi yang dioperasikan oleh dua orang untuk melihat semua kotak sabun yang melewati sinar tersebut dan memastikan bahwa kotak tersebut tidak kosong. Tak diragukan lagi, mereka bekerja keras dan cepat tetapi biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit.

Tetapi saat ada seorang karyawan di sebuah perusahaan kecil dihadapkan pada permasalahan yang sama, ia tidak berpikir tentang hal-hal yang rumit, tetapi ia muncul dengan solusi yang berbeda. Ia membeli sebuah kipas angin listrik untuk industri yang memiliki tenaga cukup besar dan mengarahkannya ke garis pengepakan. Ia menyalakan kipas angin tersebut, dan setiap ada kotak sabun yang melewati kipas angin tersebut, kipas tersebut meniup kotak sabun yang kosong keluar dari jalur pengepakan.

2. Alat Tulis Astronot
Pada saat NASA mulai mengirimkan astronot ke luar angkasa, mereka menemukan bahwa pulpen mereka tidak bisa berfungsi di gravitasi nol, karena tinta pulpen tersebut tidak dapat mengalir ke mata pena. Untuk memecahkan masalah tersebut, mereka menghabiskan waktu satu decade dan 12 juta dolar. Mereka mengembangkan sebuah pulpen yang dapat berfungsi pada keadaan-keadaan seperti gravitasi nol, terbalik, dalam air, dalam berbagai permukaan termasuk kristal dan dalam derajat temperatur mulai dari di bawah titik beku sampai lebih dari 300 derajat Celcius. Space Pen akhirnya ditemukan oleh adalah Paul C. Fishe dang dianggap sebagai penemuan yang luar biasa karena memang dapat dipakai menyamping, terbalik, di bawah air, dan dalam suhu ekstrim. Paul C. Fisher, bukanlah seorang insinyur ruang angkasa tapi produsen alat tulis yang mengembangkan pena tersebut dengan menggunakan uangnya sendiri. Ia mengajukan dan menerima paten untuk idenya, kemudian menjual versi aslinya untuk NASA dan program ruang angkasa Rusia.

Dan apakah yang dilakukan para orang Rusia? Mereka menggunakan pensil!

Kisah yang dikenal dengan Pensil Astronot ini pernah dimuat dalam Film 3 Idiots yang sangat inspiratif.



3. Antrian Lift
Pada suatu hari, seorang pemilik apartemen menerima komplain dari pelanggannya. Para pelanggan mulai merasa bahwa waktu tunggu mereka di pintu lift terasa lama seiring bertambahnya penghuni di apartemen itu. Sang pemilik apartemen mengundang sejumlah pakar untuk memecahkan masalah tersebut. Seorang pakar menyarankan agar menambah sejumlah lift. Pakar yang lain meminta pemilik untuk mengganti lift dengan yang lebih cepat dengan asumsi bahwa semakin cepat lift, orang yang terlayani akan banyak. Kedua saran tersebut tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Dan tentu saja belum tentu bernilai ekonomis dengan kondisi bisnis apartemen yang dimilikinya.

Namun ada seorang biasa yang hanya menyarankan satu hal. Inti dari komplain pelanggan adalah mereka merasa menunggu terlalu lama. Maka dia menyarankan kepada sang pemilik apartemen untuk menginvestasikan sebuah kaca cermin yang cukup besar di depan lift, supaya perhatian para pelanggan teralihkan dari pekerjaan “menunggu” dengan harapan akan beraktivitas di depan cermin sehingga meraka merasa "tidak menunggu lift”. Dan ternyata ide tersebut berhasil.

Moral dari ketiga cerita tersebut adalah sebuah filosofi yang disebut KISS (Keep It Simple Stupid), yaitu selalu mencari solusi yang sederhana, sehingga bahkan orang awam sekali pun dapat melakukannya. Cobalah menyusun solusi yang paling sederhana dan memungkinkan untuk memecahkan masalah yang ada. Maka dari itu, kita harus belajar untuk fokus pada solusi daripada pada berfokus pada masalah. "Bila kita melihat pada apa yang tidak kita punya di dalam hidup kita, kita tidak akan memiliki apa-apa. Tetapi bila kita melihat pada apa yang ada di tangan kita, kita memiliki segalanya".

Uji Beras Plastik
Pemerintah bisa jadi sudah mengeluarkan dana tak sedikit untuk melakukan uji beras plastik ke BPOM. Begitu pula dengan SUCOFINDO yang sudah kita kenal sebagai perusahaan kredibel dalam uji komposisi material juga sudah mengeluarkan dana dan waktu yang tak sedikit. BPOM memberikan hasil negatif pada uji beras plastik, sementara sebaliknya, SUCOFINDO memberikan hasil positif, artinya ditemukan beras dengan komposisi dari plastik. Berikut adalah link beritanya: Hasil Lab Sucofindo dan BPOM soal Beras Plastik Beda

Masyarakat yang hidupnya sudah sulit dan was-was dengan isu beras plastik ini dibuat bingung lagi dengan kenyataan hasil riset yang berbeda dari kedua lembaga uji tersebut. Lalu bagaimana uji beras plastik yang paling mudah, sederhana dan tidak mahal tanpa harus ke laboratorium? Ada banyak rekomendasi dari berbagai kalangan untuk menguji beras plastik. Diantaranya adalah:
1. Memasukan beras ke dalam air (beras asli tenggelam, beras plastik mengambang).
2. Mematahkan beras (beras asli getas, beras plastik lentur).
3. Membakar atau menyeterika beras (beras asli gosong, beras plastik meleleh).
4. Menanak beras menjadi nasi (beras asli enak, beras plastik tak enak).

Ke empat metode itu dijamin sederhana, murah, dan murah. Persis seperti ketiga kisah yang saya angkat di atas. Silakan dipilih metode mana yang paling praktis.

Ada kisah nyata dari kasus beras plastik ini yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah. Karena kesimpangsiuran berita tentang beras plastik ini bisa menimbulkan kegaduhan di masyaarakat. Mahasiswi saya pernah berselisih paham dengan seorang penjual beras gara-gara kasus beras plastik ini. Bahkan sampai mereka meminta ada uji laboratorium. Dia menanyakan ke saya dimana bisa melakukan uji beras plastik. Saya sudah menyarankan untuk melakukan uji sederhana tersebut, tapi dia tetap ingin melakukan uji lab. Akhirnya saya menyarankan untuk ke Saraswati, sebuah perusahaan uji makanan yang menjadi rekanan BPOM. Kebetulan dia tinggal di bogor, maka saya sarankan untuk ke perusahaan tersebut yang alamatnya juga di bogor. Sucofindo terlalu jauh lokasinya dari rumah tinggalnya.

Lalu jika kembali ke SUCOFINDO dan BPOM yang sudah melakukan uji 'lebih' ngilmiah, mana yang lebih saya percaya ketika saya tidak punya dokumen dan data riset kedua lembaga uji tersebut? Jika sampel beras, metode uji, hasil, dan data riset lainnya tidak saya miliki, maka dengan semakin sulitnya pemerintah dipercayai, saya lebih memilih untuk tidak lebih percaya kepada lembaga yang lebih dekat dengan pemerintah.

Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan bahwa penyederhanaan solusi masalah adalah suatu hal yang penting di dalam kehidupan. Hidup menjadi sering terasa berat bagi orang-orang yang tidak terbiasa menyederhanakan hal yang mudah. Karena bisa jadi kesulitan adalah kemudahan yang tidak disederhanakan oleh diri kita sendiri. Begitu pula dengan kebahagiaan. Banyak orang yang sulit bahagia karena tidak mencoba menyederhanakannya.

Semoga kita semua menjadi orang-orang yang selalu berusaha mendapatkan kebahagiaan dari hal yang sederhana di setiap ruang dan waktu hidup kita yang salah satu caranya dengan menyederhanakan persoalan-persoalan hidup yang ada. Aamiin ...

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni`mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur”. (QS. Al Maa-idah/5. 6).

wallahu a'lam


Mahasiswa adalah agen perubahan dengan kemurnian perjuangan. Tulisan berikut memaparkan sejarah singkat pergerakan mahasiswa dari masa ke masa yang dikutip dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.

1.Gerakan Mahasiswa 1908
Lahirnya generasi pertama lapisan pemuda berpendidikan modern, sebenarnya bukanlah produk sosial yang murni berasal dari rakyat Indonesia. Kehadiran mereka merupakan produk situasi atau didorong oleh perubahan sikap politik pemerintahan kolonial Belanda terhadap negeri ini. Melalui kebijakan “Politik Etis” yang diciptakan Belanda setelah menjajah lebih dari tiga ratus tahun di atas bumi persada, kaum pribumi khususnya lapisan pemuda, mendapatkan kesempatan untuk masuk ke lembaga-lembaga pendidikan yang telah didirikan oleh Belanda. Walaupun dengan batasan lapisan masyarakat, lembaga pendidikan, dan keterbatasan fasilitas pendidikan yang ada, sehingga banyak pemuda pribumi yang berhasil lulus baik, atas bantuan pemerintah Belanda, dikirim ke luar negeri (kebanyakan ke negeri Belanda) untuk melanjutkan studi mereka.

Dalam masa yang penuh tantangan dihadapkan dengan suasana kolonialisme, realitas politik berupa berlangsungnya proses pembodohan dan penindasan secara struktural yang dilakukan Belanda, berkat kemajuan pendidikan yang berhasil mereka raih berimplikasi pada peningkatan tingkat kesadaran politik,para pelajar dan mahasiswa merasakan sebagai golongan yang paling beruntung dalam pendidikan sehingga muncul tanggung jawab untuk mengemansipasi bangsa Indonesia.

Boedi Oetomo, merupakan wadah perjuangan yang pertama kali memiliki struktur pengorganisasian modern. Didirikan di Jakarta, 20 Mei 1908 oleh pemuda-pelajar-mahasiswa dari lembaga pendidikan STOVIA, wadah ini merupakan refleksi sikap kritis dan keresahan intelektual terlepas dari primordialisme Jawa yang ditampilkannya.

Pada konggres yang pertama di Yogyakarta, tanggal 5 Oktober 1908 menetapkan tujuan perkumpulan : Kemajuan yang selaras buat negeri dan bangsa, terutama dengan memajukan pengajaran, pertanian, peternakan dan dagang, teknik dan industri, serta kebudayaan.

Dalam 5 tahun permulaan BU sebagai perkumpulan, tempat keinginan-keinginan bergerak maju dapat dikeluarkan, tempat kebaktian terhadap bangsa dinyatakan, mempunyai kedudukan monopoli dan oleh karena itu BU maju pesat, tercatat akhir tahun 1909 telah mempunyai 40 cabang dengan lk.10.000 anggota.

Disamping itu, pada tahun yang sama dengan berdirinya BU oleh para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Belanda, dibentuk pula Indische Vereeninging yang kemudian berubah nama menjadi Indonesische Vereeninging tahun 1922, disesuaikan dengan perkembangan dari pusat kegiatan diskusi menjadi wadah yang berorientasi politik dengan jelas. Dan terakhir untuk lebih mempertegas identitas nasionalisme yang diperjuangkan, organisasi ini kembali berganti nama baru menjadi Perhimpunan Indonesia,tahun 1925.

Berdirinya Indische Vereeninging dan organisasi-organisasi lain,seperti: Indische Partij yang melontarkan propaganda kemerdekaan Indonesia, Sarekat Islam,dan Muhammadiyah yang beraliran nasionalis demokratis dengan dasar agama, Indische Sociaal Democratische Vereeninging (ISDV) yang berhaluan Marxis, dll menambah jumlah haluan dan cita-cita terutama ke arah politik. Hal ini di satu sisi membantu perjuangan rakyat Indonesia, tetapi di sisi lain sangat melemahkan BU karena banyak orang kemudian memandang BU terlalu lembek oleh karena hanya menuju “kemajuan yang selaras” dan /atau terlalu sempit keanggotaannya (hanya untuk daerah yang berkebudayaan Jawa) meninggalkan BU Oleh karena cita-cita dan pemandangan umum berubah ke arah politik, BU juga akhirnya terpaksa terjun ke lapangan politik.

Kehadiran Boedi Oetomo,Indische Vereeninging, dll pada masa itu merupakan suatu episode sejarah yang menandai munculnya sebuah angkatan pembaharu dengan kaum terpelajar dan mahasiswa sebagai aktor terdepannya, yang pertama dalam sejarah Indonesia : generasi 1908, dengan misi utamanya menumbuhkan kesadaran kebangsaan dan hak-hak kemanusiaan dikalangan rakyat Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan, dan mendorong semangat rakyat melalui penerangan-penerangan pendidikan yang mereka berikan, untuk berjuang membebaskan diri dari penindasan kolonialisme.

2. Gerakan Mahasiswa 1928
Pada pertengahan 1923, serombongan mahasiswa yang bergabung dalam Indonesische Vereeninging (nantinya berubah menjadi Perhimpunan Indonesia) kembali ke tanah air. Kecewa dengan perkembangan kekuatan-kekuatan perjuangan di Indonesia, dan melihat situasi politik yang di hadapi, mereka membentuk kelompok studi yang dikenal amat berpengaruh, karena keaktifannya dalam diskursus kebangsaan saat itu. Pertama, adalah Kelompok Studi Indonesia (Indonesische Studie-club) yang dibentuk di Surabaya pada tanggal 29 Oktober 1924 oleh Soetomo. Kedua, Kelompok Studi Umum (Algemeene Studie-club) direalisasikan oleh para nasionalis dan mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik di Bandung yang dimotori oleh Soekarno pada tanggal 11 Juli 1925.

Suatu gejala yang tampak pada gerakan mahasiswa dalam pergolakan politik di masa kolonial hingga menjelang era kemerdekaan adalah maraknya pertumbuhan kelompok-kelompok studi sebagai wadah artikulatif di kalangan pelajar dan mahasiswa. Diinspirasi oleh pembentukan Kelompok Studi Surabaya dan Bandung, menyusul kemudian Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), prototipe organisasi yang menghimpun seluruh elemen gerakan mahasiswa yang bersifat kebangsaan tahun 1926, kelompok Studi St. Bellarmius yang menjadi wadah mahasiswa Katolik, Cristelijke Studenten Vereninging (CSV) bagi mahasiswa Kristen, dan Studenten Islam Studie-club (SIS) bagi mahasiswa Islam pada tahun 1930-an.

Lahirnya pilihan pengorganisasian diri melalui kelompok-kelompok studi tersebut, dipengaruhi kondisi tertentu dengan beberapa pertimbangan rasional yang melatari suasana politis saat itu. Pertama, banyak pemuda yang merasa tidak dapat menyesuaikan diri, bahkan tidak sepaham dan kecewa dengan organisasi-organisasi politik yang ada. Sebagian besar pemuda saat itu, misalnya menolak ideologi Komunis (PKI) maka mereka mencoba bergabung dengan kekuatan organisasi lain seperti Sarekat Islam (SI) dan Boedi Oetomo. Namun, karena kecewa tidak dapat melakukan perubahan dari dalam dan melalui program kelompok-kelompok pergerakan dan organisasi politik tersebut, maka mereka kemudian melakukan pencarian model gerakan baru yang lebih representatif.

Kedua, kelompok studi dianggap sebagai media alternatif yang paling memungkinkan bagi kaum terpelajar dan mahasiswa untuk mengkonsolidasikan potensi kekuatan mereka secara lebih bebas pada masa itu, dimana kekuasaan kolonialisme sudah mulai represif terhadap pembentukan organisasi-organisasi massa maupun politik.

Ketiga, karena melalui kelompok studi pergaulan di antara para mahasiswa tidak dibatasi sekat-sekat kedaerahan, kesukuan,dan keagamaan yang mungkin memperlemah perjuangan mahasiswa.

Ketika itu, disamping organisasi politik memang terdapat beberapa wadah perjuangan pemuda yang bersifat keagamaan, kedaerahan, dan kesukuan yang tumbuh subur, seperti Jong Java, Jong Sumateranen Bond, Jong Celebes, dan lain-lain.

Dari kebangkitan kaum terpelajar, mahasiswa, intelektual, dan aktivis pemuda itulah, munculnya generasi baru pemuda Indonesia: generasi 1928. Maka, tantangan zaman yang dihadapi oleh generasi ini adalah menggalang kesatuan pemuda, yang secara tegas dijawab dengan tercetusnya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Sumpah Pemuda dicetuskan melalui Konggres Pemuda II yang berlangsung di Jakarta pada 26-28 Oktober1928, dimotori oleh PPPI.

3. Gerakan Mahasiswa 1945
Dalam perkembangan berikutnya, dari dinamika pergerakan nasional yang ditandai dengan kehadiran kelompok-kelompok studi, dan akibat pengaruh sikap penguasa Belanda yang menjadi Liberal, muncul kebutuhan baru untuk secara terbuka mentransformasikan eksistensi wadah mereka menjadi partai politik, terutama dengan tujuan memperoleh basis massa yang luas. Kelompok Studi Indonesia berubah menjadi Partai Bangsa Indonesia (PBI), sedangkan Kelompok Studi Umum menjadi Perserikatan Nasional Indonesia (PNI).

Seiring dengan keluarnya Belanda dari tanah air, perjuangan kalangan pelajar dan mahasiswa semakin jelas arahnya pada upaya mempersiapkan lahirnya negara Indonesia di masa pendudukan Jepang. Namun demikian, masih ada perbedaan strategi dalam menghadapi penjajah, yaitu antara kelompok radikal yang anti Jepang dan memilih perjuangan bawah tanah di satu pihak, dan kelompok yang memilih jalur diplomasi namun menunggu peluang tindakan antisipasi politik di pihak lain. Meskipun berbeda kedua strategi tersebut, pada prinsipnya bertujuan sama : Indonesia Merdeka !

Secara umum kondisi pendidikan maupun kehidupan politik pada zaman pemerintahan Jepang jauh lebih represif dibandingkan dengan kolonial Belanda, antara lain dengan melakukan pelarangan terhadap segala kegiatan yang berbau politik; dan hal ini ditindak lanjuti dengan membubarkan segala organisasi pelajar dan mahasiswa, termasuk partai politik, serta insiden kecil di Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta yang mengakibatkan mahasiswa dipecat dan dipenjarakan.

Praktis, akibat kondisi yang vacuum tersebut, maka mahasiswa kebanyakan akhirnya memilih untuk lebih mengarahkan kegiatan dengan berkumpul dan berdiskusi, bersama para pemuda lainnya terutama di asrama-asrama. Tiga asrama yang terkenal dalam sejarah, berperan besar dalam melahirkan sejumlah tokoh, adalah Asrama Menteng Raya, Asrama Cikini, dan Asrama Kebon Sirih. Tokoh-tokoh inilah yang nantinya menjadi cikal bakal generasi 1945, yang menentukan kehidupan bangsa.

Salah satu peran angkatan muda 1945 yang bersejarah, dalam kasus gerakan kelompok “bawah tanah” yang antara lain dipimpin oleh Chairul Saleh dan Soekarni saat itu, yang terpaksa menculik dan mendesak Soekarno dan Hatta agar secepatnya memproklamirkan kemerdekaan, peristiwa ini dikenal kemudian dengan peristiwa Rengasdengklok. Peristiwa Rengasdengklok itu dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan pandangan antar generasi tentang langkah-langkah yang harus ditempuh dalam memproklamasikan kemerdekaan. Saat itu Jepang telah menyerah kepada sekutu, dan pemuda (yang cenderung militan dan non kompromis) menuntut peluang tersebut segera dimanfaatkan, tetapi generasi tua seperti Soekarno dan Hatta cenderung lebih memperhitungkan situasi secara realistis. Tetapi akhirnya kedua tokoh proklamator itu mengabulkan keinginan pemuda, dan memproklamasikan negara Indonesia yang merdeka tanggal 17 Agustus 1945.

Dengan kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan saat itu, maka sekaligus menandai lahirnya generasi 1945 dalam sejarah Indonesia.

4. Gerakan Mahasiswa 1966
Suasana Indonesia pada masa-masa awal kemerdekaan hingga Demokrasi Parlementer,lebih diwarnai perjuangan partai-partai politik yang saling bertarung berebut kekuasaan. Pada saat yang sama mahasiswa sendiri lebih melihat diri mereka sendiri sebagai The Future Man ; artinya, sebagai calon elit yang akan mengisi pos-pos birokrasi pemerintahan yang akan dibangun. Dalam periode ini, pola kegiatan mahasiswa kebanyakan diisi dengan kegiatan sosial seperti piknik, olahraga, pers, dan klub belajar. Hal ini juga sebagian karena dipengaruhi oleh munculnya orientasi pemikiran untuk kembali ke kampus dan slogan kebebasan akademik yang membius semangat mahasiswa saat itu. Hanya sedikit perhatian diantara mereka untuk memikirkan masalah-masalah politik.

Namun demikian, di satu sisi masa itu juga ditandai dengan mulai aktifnya organisasi mahasiswa yang tumbuh berafiliasi partai politik dan aktivis mahasiswa yang memiliki hubungan dekat dengan elit politik nasional yang berperan dalam sistem politik.

Di sisi lain, ada pula perkembangan menarik yang terjadi dengan tumbuhnya aliansi antara kelompok-kelompok mahasiswa, diantaranya Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPMI), yang dibentuk melalui Kongres Mahasiswa yang pertama di Malang tahun 1947.

Selanjutnya, dalam masa Demokrasi Liberal (1950-1959), seiring dengan penerapan sistem kepartaian yang majemuk saat itu, organisasi mahasiswa ekstra kampus kebanyakan lebih bersifat underbouw partai-partai politik. Misalnya, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dekat dengan PNI, Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dekat dengan PKI, Gerakan Mahasiswa Sosialis Indonesia (Gemsos) dengan PSI, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) berafiliasi dengan Partai NU, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dengan Masyumi, dan lain-lain.

Diantara organisasi mahasiswa pada masa itu, CGMI mendapatkan suasana menggembirakan setelah PKI tampil sebagai salah satu partai kuat hasil Pemilu 1955. Sebagai wujud kegembiraan namun sekaligus kepongahan, CGMI secara berani menjalankan politik konfrontasi dengan organisasi mahasiswa lainnya, bahkan lebih jauh berusaha mempengaruhi PPMI, kenyataan ini menyebabkan perseteruan sengit antara CGMI dengan HMI, terutama dipicu karena banyaknya jabatan kepengurusan dalam PPMI yang direbut dan diduduki oleh CGMI dan juga GMNI-khususnya setelah Konggres V tahun 1961. Persaingan ini mencapai puncak nantinya tatkala terjadi G30S/PKI.

Pada masa Demokrasi Terpimpin (1959-1965), seiring dengan upaya pemerintahan Soekarno untuk mengubur partai-partai, maka kebanyakan organisasi mahasiswa pun membebaskan diri dari afiliasi partai dan tampil sebagai aktor kekuatan independen, sebagai kekuatan moral maupun politik yang nyata.

Tragedi nasional pemberontakan G30S/PKI dan kepemimpinan nasional yang mulai otoriter akhirnya menyebabkan Demokrasi Terpimpin mengalami keruntuhan.

Mahasiswa membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) tanggal 25 Oktober 1966 yang merupakan hasil kesepakatan sejumlah organisasi yang berhasil dipertemukan oleh Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pendidikan (PTIP) Mayjen dr. Syarief Thayeb, yakni HMI,PMII,Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Sekretariat Bersama Organisasi-organisasi Lokal (SOMAL), Mahasiswa Pancasila (Mapancas), dan Ikatan Pers Mahasiswa (IPMI). Tujuan pendiriannya, terutama agar para aktivis mahasiswa dalam melancarkan perlawanan terhadap PKI menjadi lebih terkoordinasi dan memiliki kepemimpinan.

Munculnya KAMI diikuti berbagai aksi lainnya, seperti Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI), Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI), dan lain-lain.

5. Gerakan Mahasiswa 1974
Realitas berbeda yang dihadapi antara gerakan mahasiswa 1966 dan 1974, adalah bahwa jika generasi 1966 memiliki hubungan yang erat dengan kekuatan militer, untuk generasi 1974 yang dialami adalah konfrontasi dengan militer yang berposisi sebagai pendukung kemapanan.

Sebelum gerakan mahasiswa 1974 meledak, bahkan sebelum menginjak awal 1970-an, sebenarnya para mahasiswa telah melancarkan berbagai kritik dan koreksi terhadap praktek kekuasaan rezim Orde Baru.namun meskipun demikian pada umumnya kepercayaan terhadap rezim yang berkuasa tetap ada.

Tetapi, kesabaran mahasiswa mulai menuju titik batasnya setelah penantian akan terkabulnya cita-citanya perubahan yang dijanjikan tidak mendapatkan respon yang sewajarnya. Diawali dengan reaksi terhadap kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), aksi protes lainnya yang paling mengemuka disuarakan mahasiswa adalah tuntutan pemberantasan korupsi. Lahirlah, selanjutnya apa yang disebut gerakan “Mahasiswa Menggugat”yang dimotori Arif Budiman,dkk yang progaram utamanya adalah aksi pengecaman terhadap kenaikan BBM, dan korupsi.

Menyusul aksi-aksi lain dalam skala yang lebih luas, pemuda dan mahasiswa kemudian mengambil inisiatif dengan membentuk Komite Anti Korupsi (KAK). Terbentuknya KAK ini dapat dilihat merupakan reaksi kekecewaan mahasiswa terhadap tim-tim khusus yang disponsori pemerintah, mulai dari Tim Pemberantasan Korupsi (TPK), Task Force UI sampai Komisi Empat.

Berbagai borok pembangunan dan demoralisasi perilaku kekuasaan rezim Orde Baru terus mencuat. Menjelang Pemilu 1971, pemerintah Orde Baru telah melakukan berbagai cara dalam bentuk rekayasa politik, untuk mempertahankan dan memapankan status quo dengan mengkooptasi kekuatan-kekuatan politik masyarakat antara lain melalui bentuk perundang-undangan. Misalnya, melalui undang-undang yang mengatur tentang pemilu, partai politik, dan MPR/DPR/DPRD.

Akibat dari permainan rekayasa dan kebijakan kooptasi tersebut, muncul berbagai pernyataan sikap ketidakpercayaan dari kalangan masyarakat maupun mahasiswa terhadap sembilan partai politik dan Golongan Karya sebagai pembawa aspirasi rakyat. Sebagai bentuk protes akibat kekecewaan, mereka mendorang munculnya Deklarasi Golongan Putih (Golput) pada tanggal 28 Mei 1971 yang dimotori oleh Arif Budiman, Adnan Buyung N, Asmara Nababan,dkk.

Dalam tahun 1971, mahasiswa juga telah melancarkan berbagai protes terhadap pemborosan anggaran negara yang digunakan untuk proyek-proyek eksklusif yang dinilai tidak mendesak dalam pembangunan,misalnya terhadap proyek pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di saat Indonesia haus akan bantuan luar negeri.

Protes terus berlanjut. Tahun 1972, dengan isu harga beras naik, berikutnya tahun 1973 selalu diwarnai dengan isu korupsi sampai dengan meletusnya peristiwa Malari tahun 1974. Gerakan mahasiswa di Jakarta mngajukan isu ”ganyang korupsi” sebagai salah satu tuntutan “Tritura Baru” disamping dua tuntutan lainnya Bubarkan Asisten Pribadi dan Turunkan Harga; sebuah versi terakhir Tritura yang muncul setelah versi koran Mahasiswa Indonesia di Bandung sebelumnya.

Terlepas dari semua distorsi mengenai kisah gerakan mahasiswa 1974,antara lain: tidak adanya perubahan monumental yang ditinggalkan, gerakan mahasiswa yang ditunggangi, konflik dan konspirasi elit di pusat kekuasaan versi Jenderal Sumitro versus Ali Moertopo, dll bagaimana pun harus diakui bahwa perjuangan mahasiswa 1974 telah menjadi sebuah episode yang bersejarah.

6. Gerakan Mahasiswa 1978
Setelah peristiwa Malari, hingga tahun 1975 dan 1976, berita tentang aksi protes mahasiswa nyaris sepi. Mahasiswa disibukkan dengan berbagai kegiatan kampus disamping kuliah sebagain kegiatan rutin, dihiasi dengan aktivitas kerja sosial, Kuliah Kerja Nyata (KKN), Dies Natalis, acara penerimaan mahasiswa baru, dan wisuda sarjana. Meskipun disana-sini aksi protes tetap ada namun aksi-aksi itu pada umumnya tidak lagi gaung yang berarti.

Menjelang dan terutama saat-saat antara sebelum dan setelah Pemilu 1977, barulah muncul kembali pergolakan mahasiswa yang berskala masif.Berbagai masalah penyimpangan politik diangkat sebagai burning isu, misalnya soal pemilu mulai dari pelaksanaan kampanye, sampai penusukan tanda gambar, pola rekruitmen anggota legislatif, pemilihan gubernur dan bupati di daerah-daerah, strategi dan hakekat pembangunan, sampai dengan tema-tema kecil lainnya yang bersifat “lokal”.

Awalnya, pemerintah berusaha untuk melakukan pendekatan terhadap mahasiswa, maka pada tanggal 24 Juli 1977 dibentuklah Tim Dialog Pemerintah yang akan “berkampanye”di berbagai perguruan tinggi. Namun demikian , upaya tim ini ditolak oleh mahasiswa.

Mahasiswa bukan tidak memahami ataupun menyadari berbagai risiko buruk yang bakal dialami akibat gerakan protes mereka. Justru karena itulah, untuk menjaga agar dampak gerakan tidak mengulangi kembali malapetaka 1974, mahasiswa mempertahankan gerakan aksi mereka sebagai gerakan moral semata. Artinya, bahwa gerakan mereka lebih menonjolkan perannya sebagai kekuatan moral dan kontrol kritis terhadap berbagai penyimpangan kekuasaan, dan bukan sebagai aksi yang berorientasi politik praktis, serta menghindarkan pengaruh vested interest kelompok politik tertentu yang ingin memperalat atau “mengendarai” gerakan mahasiswa.

Pada titik ini ada yang menarik untuk dicatat yaitu terjadinya pendudukan militer atas kampus-kampus itu; disamping penyebabnya adalah karena mahasiswa dianggap telah melakukan “pembangkangan politik”, penyebab lain sebenarnya adalah karena gerakan mahasiswa 1978 lebih banyak berkonsentrasi dalam melakukan aksi diwilayah kampus.

Jadi, karena gerakan mahasiswa tidak terpancing keluar kampus untuk mennghindari seperti tahun 1974, maka akhirnya mereka diserbu militer,malahan dengan cara yang brutal.

Akhir cerita, Soeharto terpilih untuk ketiga kalinya dan tuntutan mahasiswa pun tidak membuahkan hasil. Meski demikian, perjuangan gerakan mahasiswa 1978 telah meletakkan sebuah dasar sejarah, yakni tumbuhnya keberanian mahasiswa untuk menyatakan sikap terbuka untuk menggugat bahkan menolak kepemimpinan nasional.

7. Gerakan Mahasiswa di Era NKK/BKK
Setelah gerakan mahasiswa 1978, praktis tidak ada gerakan besar yang dilakukan mahasiswa selama beberapa tahun akibat diberlakukannya konsep Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) oleh pemerintah secara paksa.

Kebijakan NKK dilaksanakan berdasarkan SK No.0156/U/1978 sesaat setelah Dooed Yusuf dilantik tahun 1979. Konsep ini mencoba mengarahkan mahasiswa hanya menuju pada jalur kegiatan akademik,dan menjauhkan dari aktivitas politik karena dinilai secara nyata dapat membahayakan posisi rezim. Menyusul pemberlakuan konsep NKK,pemerintah dalam hal ini Pangkopkamtib Soedomo melakukan pembekuan atas lembaga Dewan Mahasiswa, sebagai gantinya pemerintah membentuk struktur keorganisasian baru yang disebut BKK. Berdasarkan SK menteri P&K No.037/U/1979 kebijakan ini membahas tentang Bentuk Susunan Lembaga Organisasi Kemahasiswaan di Lingkungan Perguruan Tinggi, dan dimantapkan dengan penjelasan teknis melalui Instruksi Dirjen Pendidikan Tinggi tahun 1978 tentang pokok-pokok pelaksanaan penataan kembali lembaga kemahasiswaan di Perguruan Tinggi.

Kebijakan BKK itu secara implisif sebenarnya melarang dihidupkannya kembali Dewan Mahasiswa, dan hanya mengijinkan pembentukan organisasi mahasiswa tingkat fakultas (Senat Mahasiswa Fakultas-SMF) dan Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas (BPMF). Namun hal yang terpenting dari SK ini terutama pemberian wewenang kekuasaan kepada rektor dan pembantu rektor untuk menentukan kegiatan mahasiswa, yang menurutnya sebagai wujud tanggung jawab pembentukan,pengarahan,dan pengembangan lembaga kemahasiswaan.

Dengan konsep NKK/BKK ini, maka peranan yang dimainkan organisasi intra dan ekstra kampus dalam melakukan kerjasama dan transaksi komunikasi politik menjadi lumpuh. Ditambah dengan munculnya UU No.8/1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan maka politik praktis semakin tidak diminati oleh mahasiswa, karena sebagian Ormas bahkan menjadi alat pemerintah atau golongan politik tertentu. Kondisi ini menimbulkan generasi kampus yang apatis,sementara posisi rezim semakin kuat.

Sebagai alternatif terhadap suasana birokratis dan apolitis wadah intra kampus, di awal-awal tahun 80-an muncul kelompok-kelompok studi yang dianggap mungkin tidak tersentuh kekuasaan refresif penguasa. Kenyataannya, kelompok studi lebih berfungsi sebagai information actions dengan tujuan the distribution of critical information bagi mahasiswa. Dalam perkembangannya eksistensi kelompok ini mulai digeser oleh kehadiran wadah-wadah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang tumbuh subur pula sebagai alternatif gerakan mahasiswa.

Perbedaan kedua bentuk wadah ini adalah : jika kelompok studi merupakan bentuk pelarian dari kepengapan kampus dengan ciri gerakannya yang bersifat teoritis, maka LSM menjadi tempat pelarian mahasiswa yang memilih jalur praktis.

Dalam perkembangan berikutnya bermunculan pula berbagai wadah-wadah lain berupa komite-komite aksi untuk merawat kesadaran kritis mahasiswa.

Beberapa kasus “lokal” yang disuarakan LSM dan komite aksi mahasiswa antara lain: kasus tanah waduk Kedung Ombo, Kacapiring, korupsi di Bapindo, penghapusan perjudian melalui Porkas/TSSB/SDSB, dsb.

Timbul beberapa pertanyaan mengapa gerakan mahasiswa umumnya hanya mengusung agenda isu lokal dan cenderung marjinal ? mungkin jawabannya adalah :

1. Ketidakberanian untuk menyentuh masalah yang dinilai terlalu sensitif,dan bebannya berat secara politis.

2. Ketidaksanggupan menangkap dan mengungkapkan masalah-masalah fundamental yang lebih signifikan terutama yang bersifat politik nasional sebagai burning issue.

3. Strategi mahasiswa dengan mempertimbangkan kondisi struktural sistem politik Orde Baru yang terlalu mudah bertindak represif.

Jawaban-jawaban tersebut sangat terbuka untuk diperdebatkan, tetapi ada efek lain yang tampaknya harus diperhitungkan,bahwa justru dengan kecenderungan mengangkat isu-isu lokal dan bergerak di wilayah pinggiran itu, disadari atau tidak mahasiswa telah melakukan revitalisasi orientasi model pendekatan dengan membangkitkan kesadaran dan kepercayaan diri rakyat agar mempertahankan dan memperjuangkan hak-hak individu dan sosialnya.

8. Gerakan mahasiswa 1990
Memasuki awal tahun 1990-an, di bawah Mendikbud Fuad Hasan kebijakan NKK/BKK dicabut dan sebagai gantinya keluar Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan (PUOK). Melalui PUOK ini ditetapkan bahwa organisasi kemahasiswaan intra kampus yang diakui adalah Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT), yang didalamnya terdiri dari Senat Mahasiswa Fakultas (SMF) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).

Dikalangan mahasiswa secara kelembagaan dan personal terjadi pro kontra, menamggapi SK tersebut. Oleh mereka yang menerima, diakui konsep ini memiliki sejumlah kelemahan namun dipercaya dapat menjadi basis konsolidasi kekuatan gerakan mahasiswa. Argumen mahasiswa yang menolak mengatakan, bahwa konsep SMPT tidak lain hanya semacam hiden agenda untuk menarik mahasiswa ke kampus dan memotong kemungkinan aliansi mahasiswa dengan kekuatan di luar kampus.

Dalam perkembangan kemudian, banyak timbul kekecewaan di berbagai perguruan tinggi karena kegagalan konsep ini dalam eksperimentasi demokrasi. Mahasiswa menuntut organisasi kampus yang mandiri, bebas dari pengaruh korporatisasi negara termasuk birokrasi kampus. Sehingga, tidaklah mengherankan bila akhirnya berdiri Dewan Mahasiswa di UGM tahun 1994 yang kemudian diikuti oleh berbagai perguruan tinggi di tanah air sebagai landasan bagi pendirian model organisasi kemahasiswaan alternatif yang independen.

Dengan dihidupkannya model-model kelembagaan yang lebih independen, meski tidak persis serupa dengan Dewan Mahasiswa yang pernah berjaya sebelumnya upaya perjuangan mahasiswa untuk membangun kemandirian melalui SMPT, menjadi awal kebangkitan kembali mahasiswa ditahun 1990-an.

9. Gerakan Mahasiswa 1998
Lahirnya gerakan mahasiswa 1998 dengan segala keberhasilannya meruntuhkan kekuasaan rezim orde baru, bagaimanapun merupakan akibat dari akumulasi ketidakpuasan dan kekecewaan politik yang telah bergejolak selama puluhan tahun dan akhirnya “meledak”.

Secara obyektif situasi pada saat itu, sangat kondusif bagi gerakan mahasiswa berperan sebagai agen perubahan. Krisis legitimasi politik yang sudah diambang batas, justru terjadi bersamaan dengan datangnya badai krisis moneter di berbagai sektor. Di sisi lain secara subyektif, gerakan mahasiswa 1998 telah belajar banyak dari gerakan 1966 dengan mengubah pola gerakan dari kekuatan ekslusif ke inklusif dan menjadi bagian dari kekuatan rakyat,

Sasaran dari tuntutan “Reformasi” gerakan mahasiswa dan kelompok-kelompok lain yang beroposisi terhadap rezim Orde Baru, antara lain adalah perubahan kepemimpinan nasional. Soeharto harus diruntuhkan dari kekuasaan, tidak akan ada reformasi selama Soeharto masih berkuasa. Namun demikian, kenyataan menunjukkan suara-suara kritis yang menuntut perubahan, tidak mendapatkan jawaban sebagaimana yang diharapkan dari rezim yang berkuasa, terlebih oleh Golongan Karya (Golkar) yang dengan enteng mencalonkan kembali Soeharto. Menjelang pelaksanaan Sidang Umum MPR 1998, dari kalangan tokoh-tokoh kritis mengajukan calon alternatif Presiden maupun Wakil Presiden, antara lain: Amien Rais, Megawati Soekarnoputri, dan Emil Salim.

Kenyataan menunjukkan, calon-calon tandingan versi masyarakat tidak mendapatkan tanggapan dari kekuatan politik di MPR, Soeharto dipilih kembali sebagai Presiden dan B.J. Habibie sebagai Wakil Presiden. Aksi-aksi mahasiswa yang marak mengajukan protes dan keprihatinan, seolah-olah dianggap angin lalu, sedangkan hasil-hasil dialog dengan berbagai fraksi menuntut agenda Reformasi hanya “ditampung” dalam artian kasar = ditolak.

Berbagai kontroversi kemudian timbul dimasyarakat, berkenaan dengan pengalihan kekuasaan ini. Pertama, pandangan yang melihat hal itu sebagai proses inkonstitusional dan sebaliknya pandangan kedua, yang menganggapnya sudah konstitusional. Sikap ABRI terhadap proses peralihan ini secara formal adalah mendukung, lalu bagaiman dengan mahasiswa ?

Menyambut turunnya Soeharto, sejenak mahasiswa benar-benar diliputi kegembiraan. Perjuangan mereka satu langkah telah berhasil,tetapi kemudian timbul keretakan di antara kelompok-kelompok mahasiswa mengenai sikap mahasiswa terhadap peralihan kekuasaan dari Soeharto ke Habibie. Berhadapan dengan peristiwa peralihan ini mahasiswa tidak siap, mereka hanya dipersatukan oleh isu utama perlunya Soeharto dipaksa untuk mengundurkan diri. Soal yang terjadi kemudian, agaknya jauh dari antisipasi mahasiswa dan pro reformasi.

Tetapi bagaimanapun, mahasiswa 1998 melalui perjuangannya telah memberikan sesuatu hal yang monumental bagi bangsa Indonesia untuk menciptakan tatanan kenegaraan yang lebih baik di masa depan.

Satu hal yang harus diingat, Reformasi Total merupakan sebuah proses yang tidak sekali jadi, tetapi membutuhkan waktu dan political will yang sungguh-sungguh dari pemegang kekuasaan. Karena itu, kontrol kritis dan tekanan politik dari mahasiswa harus tetap ada di masa sekarang dan akan datang.

10. Gerakan Mahasiswa 2015
Gerakan Mahasiswa Tahun 2015 diawali dari kekecewaan masyarakat dan mahasiswa terhadap kepemimpinan Joko Widodo atau yang lebih dikenal dengan Jokowi. Presiden Indonesia ke-7 tersebut dianggap banyak melakukan kebijakan yang tidak pro rakyat dan hanya menguntungkan kepentingan elite dan kelompok tertentu. Pengangkatan kabinet yang tidak profesional, kenaikan harga BBM pada awal pelantikannya, melonjaknya harga barang-barang, melemahnya KPK, terjadinya kegaduhan politik, keberpihakan pada kapitalis asing, dan semakin terpuruknya ekonomi merupakan beberapa catatan mahasiswa dalam menilai kinerja buruk Jokowi selama 6 bulan kepemimpinan. Dan kondisi tersebut tidak sesuai dengan puluhan janji Jokowi semasa kampanye Pilpres.

Berbagai elemen mahasiswa melakukan demonstrasi besar-besaran pada tanggal 20 dan 21 Mei 2015. Tanggal 20 Mei 2015 yang bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, ribuan demonstran yang terdiri dari elemen mahasiswa dan organisasi pemuda termasuk HMI, beberapa BEM, IMM, PII, dan lain-lain unjuk rasa di depan Istana Merdeka, Jakarta. Mereka sebelumnya melakukan 'long march' sepanjang Jalan Merdeka Barat hingga ke depan Istana Merdeka.  Mereka menuntut Rezim Jokowi-JK untuk segera menuntaskan janji-janji reformasi, menjaga stabilitas ekonomi, dan menuntut lengsernya Jokowi.

Sementara itu Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) menuding pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla mengabaikan kesejahteraan masyarakat pribumi. Jokowi-JK dianggap lebih mementingkan kebutuhan kelompok asing. Dalam aksi itu, KAMMI  menyampaikan tiga pesan untuk Jokowi-JK:
1. Jokowi-JK harus berpihak dan melindungi rakyat pribumi Indonesia dari dominasi dan ketamakaN asing. Tidak boleh ada regulasi dan kebijakan pemerintah yang mengebiri kesejahteraan dan usaha ekonomi pribumi. Jokowi JK adalah pemimpin rakyat, bukan pelindung dan pelayan kepentingan asing.
2. Pemerintah Jokowi-JK harus segera membuat kebijakan yang melindungi rakyat pribumi dan memperbaiki kinerja pemerintahan agar kepentingan pribumi terlindungi. Jokowi-JK adalah pihak yang paling bersalah bila kondisi kesejahteraan dan usaha ekonomi pribumi tidak segera membaik. Kesulitan rakyat akibat kegaduhan global harus bisa ditanggulangi Jokowi-JK. Bila itu tidak dilakukan, maka itu merupakan kegagalan besar Jokowi-JK. 
3. KAMMI mengajak masyarakat Indonesia untuk bersama sama melakukan revolusi bila pemerintahan Jokowi-JK terbukti semakin berpihak kepada asing, semakin mengebiri kesejahteraan dan usaha ekonomi pribumi. Membela kepentingan pribumi sebagai tumpah darah Indonesia adalah amanat konstitusi.


Pada tanggal 21 Mei 2015 demonstrasi berlanjut dan semakin meluas. Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) yang sebelumnya mengundang Jokowi untuk melakukan debat terbuka pada tanggal 19 Mei 2015 namun tidak dipenuhi oleh Jokowi, menggerakan lebih dari 2500 mahasiswa lebih dari 39 kampus dari seluruh Indonesia untuk melakukan long march dari Jakarta dan demonstrasi di depan istana presiden. Sayangnya Jokowi tidak dapat menghadapi mahasiswa karena pergi ke Malang. Aksi mahasiswa ini bertag line “Culik Jokowi”. Tuntutan mereka diantaranya adalah 1. Mencabut kebijakan harga bbm dari mekanisme pasar bebas, mengembalikan subsidi bbm, 2. Ambil alih 100% blok Mahakam, lalu mendapat kesepakatan jika kontrak selesai dan dipastikan kontrak tidak akan dilanjutkan, 3. Meminta presiden bertemu hari ini (21/5/2015), dan mendapat kepastian bertemu Senin, 25 Mei 2015

Aksi gabungan BEM seluruh Indonesia ini sudah terkonsolidasi secara nasional jauh-jauh hari. Mereka menjalin solidaritas jejaring antar pulau. Jalinan tersebut mereka bangun atas dasar semangat untuk perubahan. Meski mereka mengakui sebagai mitra pemerintahan, namun mereka akan tetap bertindak kritis. 2500 gabungan massa aksi dari BEM Seluruh Indonesia hari ini berhasil memaksa Pertemuan Terbuka dgn Presiden Jokowi hari Senin 25 Mei 2015. Pertemuan terbuka antara Perwakilan Mahasiswa se Indonesia di Istana Negara nanti akan disiarkan langsung di semua stasiun TV.

Sumber: 


Contact Form

Name

Email *

Message *

Labels

Translate

Revolusi Akal dan Hati

Melewati sisi waktu yang tak terhenti, bernaung dalam ruang yang tak terbatas, untuk sebuah pemahaman yang tak berujung ...

Total Pageviews